
Dokter itu menghela nafas pelan dan memintaku untuk melakukan x-ray sekedar untuk memastikan kondisi tulangku dan Aidan terpaksa harus menunggu di luar karena permintaanku. Dia bukan keluarga maupun waliku dan dia juga tidak berhak untuk tahu lebih lanjut tentang kondisiku. Kalaupun ada keluargaku di sini, aku juga tetap tidak akan membiarkan mereka masuk.
"Jadi bisa cerita ke saya kamu kenapa?" Dokter Damar bertanya. Itu memang pertanyaan biasa yang sering diajukan dokter ketika mendapati pasiennya terluka dengan sangat fatal, melihat ekspresi wajahnya yang serius membuatku tidak nyaman.
"Ehm ... Saya jatuh dari tangga tadi pagi pas mau berangkat kerja dok," jelaskan.
Dokter itu terlihat sedang menghela nafas lega. Dia tampak menerima penjelasan dariku dan dia juga menasehatiku agar aku lebih berhati-hati untuk kedepannya. Dokter Damar juga memerintahkanku untuk beristirahat selama 3 minggu agar keadaanku kembali stabil. Dia memberikanku resep obat penghilang rasa sakit yang dosisnya lebih tinggi dibandingkan obat sakit kepala biasa.
Pemeriksaan selesai dan aku keluar dari ruangan, dan langsung berjalan menghampiri Aidan. Aku menunjukkan resep obatku padanya. Kami berdua langsung berjalan beriringan menuju apotek yang ada di samping gedung utama untuk menebus obatnya. Harusnya aku bergerak lebih cepat untuk membayar obatku, tapi gerakanku keduluan oleh Aidan. Dia membayar obatku sebagai hadiah agar aku lekas sembuh, katanya
"Aku bakal bayar kamu lagi nanti," ucapku meyakinkan saat kami berjalan kembali menuju mobilnya yang ada di parkiran.
Perjalanan kali ini lebih nyaman dibandingkan sebelumnya. Karena efek dari obat penghilang rasa sakit yang sudah aku minum. Begitu tubuhku menempel di kursi mataku pun langsung otomatis tertutup. Aku tidur sampai kami tiba di rumahku.
***.
__ADS_1
Aidan POV
Sabtu pertama ketika kami bekerja sama aku kira itu akan menjadi saat tercanggung untuk kami berdua. Kupikir Aretta akan sulit mencoba melupakan fakta jika aku adalah gurunya, Bahkan aku juga mengira dia akan memasang tampang datar andalannya, karena selama aku mendekat padanya dia tidak pernah benar-benar menerima keberadaanku. Aretta memang tidak menganggapku aneh, tapi rasanya tidak nyaman saja saat aku ditolak secara tidak langsung oleh muridku sendiri.
Aku kini memiliki kebiasaan baru yang anehnya sangat aku nikmati. Biasanya aku hanya akan memesan kopi dan meminumnya di sekolah, tapi semenjak bertemu dengan Aretta dan berbincang beberapa hal aku merasa kami itu cocok. Dan otomatis kebiasaan minum kopi ku pun ikut berubah. Aku tidak lagi take away dan lebih memilih untuk meminum di sana sambil menunggu kemunculan gadis itu.
Kini aku tengah membaca koran dan Sebenarnya aku tahu jika Aretta sudah memasuki cafe. Aku tidak mau dia berpikir jika aku terlalu memperhatikannya jadi aku memutuskan untuk menghanyutkan diri dengan membaca koran yang tersedia di cafe.
"Mau olahraga?" itu suaranya yang tiba-tiba datang dan membuatku sedikit tersentak.
Aku menoleh dan menemukan wajahnya yang tengah menatapku, "Aretta! Bikin kaget," seruku yang tanpa sengaja sampai menjatuhkan koran. Aku tidak sedang berakting karena sekarang aku benar-benar merasa terkejut. Aku tersenyum padanya sebelum melanjutkan kalimatku. Aku hanya tidak ingin dia menilaiku sebagai orang yang kasar, "kayaknya enggak. Hari ini terlalu indah kalau dipakai untuk olahraga," sambungku sambil memberikan isyarat kepadanya untuk menatap keluar jendela di mana matahari tampak sudah bersinar terang.
"Sayang banget," jawabnya sambil berjalan meninggalkanku untuk menuju kontak dan memesan minuman.
"Kenapa sayang banget?" tanyaku, ketika dia sudah ada di dekatku.
__ADS_1
"Larikan membakar kalori, menambah semangat di saat bersamaan dan menghasilkan hormon endorfin yang berperan sebagai pemicu kebahagiaan," jelas Aretta panjang lebar. Dari cara dia berbicara dan bergerak aku dapat menyimpulkan jika sekarang dia sudah sedikit lebih santai berada di sekitarku. Dari sini aku jadi mengetahui bagaimana sifat aslinya. Dia suka bercanda dan menyenangkan.
"Oke oke! Aku bakal lari tapi nggak sekarang. Karena kita harus mulai bekerja dalam waktu 1 jam," jelasku. Aku menatapnya yang sedikit heran. Oma memang melimpahkan tugas berjaga toko pada weekend padaku dan karena ada Aretta kini kami menjadi partner. Awalnya Oma memang menolak bantuanku tapi karena kondisinya yang sudah sepuh dan tidak memungkinkan untuk terus berjaga di toko akhirnya dia menyerah setelah beberapa kali aku paksa. Lagian weekend merupakan hari yang selalu ramai dan padat dan aku tidak ingin dia kelelahan di saat dia sudah memiliki pegawai.
"Lho waktunya maju ya? Bukannya jam 09.00? Terus kamu juga bakalan ikut kerja bareng aku?" tanyanya beruntun.
Aku terkekeh mendengar rentetan pertanyaan yang diajukan. Aku ingin menggodanya sedikit, "Kenapa Aretta? Kamu nggak mau kerja bareng aku?" ledekku.
Dia mengedipkan matanya beberapa kali seraya memasang ekspresi bingung, "Ehm ... Nggak gitu. Soalnya Oma Dewi bilang beliau nggak bakal minta tolong lagi sama cucunya. Lagian aku juga udah ngerti gimana cara kerjanya."
Sepertinya dia belum tahu apa yang akan dihadapi nanti. Meskipun kecil toko buku milik Oma terbilang kecil, tapi tempat itu merupakan satu-satunya tokoh terlengkap di daerah ini. Semua buku berbagai genre dan macam ada di sini. Belum lagi beberapa stationary seperti pensil, spidol, notebook, dan beberapa macam alat lainnya juga tersedia di sini. Semua orang mendatangi toko bukan hanya untuk membeli buku tapi mereka juga membeli berbagai peralatan semacam itu. Jika mendengar dari para siswi, stationary bisa menambah semangat dalam belajar. Ah dan juga Oma pun menyediakan buku langkah yang hanya dicari oleh para langganannya. Yang pastinya buku yang aku maksud bukan buku-buku aneh. Hanya buku-buku zaman dulu yang sudah tidak diproduksi lagi.
"Oma bilang aku harus temenin kamu. Yang harus kamu tahu Sabtu dan Minggu adalah puncak waktu di mana toko ramai. Toko buku punya Oma itu satu-satunya yang terlengkap di daerah sini," kataku, "sebenarnya hari ini bakalan ada buku yang datang, makanya toko buka lebih awal. Karena kamu udah ada di sini kenapa nggak langsung aja kamu datang ke sana kan."
Dia mengangguk paham dan mengiyakan kalimatku.
__ADS_1
Kami memutuskan untuk duduk bersama dan entah kenapa kali ini waktu terasa bergulir dengan sangat cepat. Tiba-tiba saja dia sudah mengajakku untuk segera ke toko yang tentunya tidak bisa untuk aku tolak.
Ketika sampai kami sudah menemukan Oma yang telah duduk di konter sambil membaca buku. Pemandangan yang sering aku lihat sejak aku kecil. Saat kami masuk lonceng yang ada di atas pintu berbunyi. Suara itu membuat Oma meletakkan bukunya dan menoleh ke arah kami.