
"Aretta," desaknya.
Aku menghela nafas pelan dan mencoba memilih kalimat agar apa yang aku ceritakan tidak membuat Papa terpancing emosi. Aku belum pernah menceritakan hal buruk yang menimpaku pada orang lain karena aku merasa tidak akan ada yang akan mengulurkan tangan untuk membantuku. Ketakutan itu yang makin membuatku menutup diri hingga sulit rasanya menerima kebaikan dari orang lain. Tapi sekarang hal itu tidak berlaku karena yang akan mendengar ceritaku adalah Papa. Aku yakin Papa tidak akan menutup mata seperti yang lainnya.
"Pada dasarnya Mama benar-benar nyalahin aku karena Papa pergi. Dari semua cerita yang aku dengar dari Papa barusan, aku menyimpulkan itu memang karena dia cemburu sama aku. Papa terlalu banyak menghabiskan waktu buat aku dan Mama nggak terima. Setelah Papa pergi Mama terus-terusan gangguin aku. Awalnya emang cuma omongan yang isinya penyebab kepergian Papa itu ya karena aku, tapi semakin lama semakin parah. Mama udah nggak siapin makanan dan sampai pada akhirnya Mama nggak ngebolehin aku makan makanan yang ada di rumah. Mama suruh aku buat cari makan sendiri karena kata Mama, dia benci sama aku dan dia muak lihat aku yang ikut makan dari uang hasil dia kerja. Puncaknya waktu aku udah masuk SMP, Mama udah nggak segan lagi main fisik." Aku berhenti sejenak. Aku kira aku sudah terbiasa dan bisa menceritakan hal itu dengan lugas, tapi nyatanya perasaan kecewa itu masih memupuk tinggi di relung hatiku. Aku masih menangis ketika mengingat kejadian buruk itu dan ketika aku beralih, aku melihat mata Papaku yang sudah digenangi air mata.
"Ya Tuhan, Aretta." Papa bahkan menangis, dia sampai sulit berkata-kata, "Papa nggak bakal sudi ninggalin kamu sama dia kalau tahu akhirnya bakal kayak gini Nak. Berarti selama ini dia bohongi Papa," geramnya. Aku tidak suka ketika melihat Papaku ikutan terluka.
"Aretta nggak kenapa-napa Pa," ucapku mencoba menenangkannya, "Gio juga selalu bantuin Aretta," mendengar nama Gio disebutkan membuat perhatian Papa teralihkan. Dia menatapku dan memasang wajah penuh antisipasi, "Gio nggak pernah disalahkan Papa," helaan nafas Papa terdengar. Aku mengerti apa yang Papa rasakan. Gio sudah kehilangan Papanya dan dia hanya memiliki Mama, jika dia juga menjadi korban entah bagaimana mental anak itu nantinya. Pasti itu yang dipikirkan Papaku.
Keheningan kembali datang, tapi Papa tidak membiarkan situasi itu mengambil alih perhatianku.
"Aretta. Papa nggak bakal ninggalin kamu lagi jadi kamu harus cepat-cepat keluar dari rumah itu sekarang juga. Kamu boleh ikut Papa atau kamu boleh cari tempat tinggal sendiri. Papa bakal bantu dan akan selalu bantu kamu yang penting kamu harus keluar dari neraka itu." Aku mengangguk dan memang setelah Gio berbicara soal kami yang harus meninggalkan rumah, aku memang sudah memikirkannya. Jika Gio berubah pikiran, aku masih memiliki Papa, kan?
__ADS_1
"Terima kasih, Pa. Tapi bisa kan kalau kita bahas soal ini lain kali aja. Aretta harus balik ke sekolah dan Aretta nggak boleh bolos," kataku dan itu berhasil membuat Papa sedikit tergagap. Tampaknya dia baru sadar jika aku kemari bersama dengan rombongan.
"Sebentar, Nak," katanya, lalu beranjak dari kursinya. Papa kembali ke meja kerjanya dan mengambil kartu nama lalu menyerahkan padaku, "ini kartu nama Papa kamu bisa telepon Papa ke nomer ini. Dan..." Dia juga mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan lalu menyerahkannya padaku, "mungkin emang telat tapi Papa mau kasih kamu uang saku. Mulai sekarang kalau kamu butuh sesuatu kamu bisa minta ke Papa. Kamu harus segera telepon Papa Aretta," ucapnya sekali lagi sebelum aku benar-benar pergi.
Aku mengangguk kemudian memeluknya sekali lagi sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruangannya. Aku kembali ke labolatorium dimana terakhir kali aku meninggalkan Aidan dan ternyata pria itu sudah tidak ada di sana. Awalnya aku ragu ketika memikirkan jika dia meninggalkanku, Aidan tidak pernah mengingkari janjinya tapi tampaknya aku sendiri yang harus mencarinya karena bagaimanapun dia di sini untuk acara outing class.
"Aretta pergi, Pa," kataku untuk terakhir kalinya sambil memeluk erat Papa. Pria itu membalasku dengan mengecup sayang kepalaku seperti yang selalu dia lakukan selama ini sebelum aku benar-benar melangkah menjauh.
"Iya, Pa," seruku dan mulai berjalan pergi. Siapa yang akan mengira jika di pertemuan kali aku yang akan meninggalkannya.
Selama ini aku marah padanya karena Mama mengatakan jika Papa pergi karena dia sudah tidak menginginkanku. Ternyata bukan Papa yang ingin pergi tapi dia dipaksa untuk pergi. Mengetahui kebenaran dibalik semua keanehan ini membuatku lega. sekarang aku bisa memulai merencanakan apa yang akan aku lakukan di masa mendatang karena aku memiliki pelindung lagi.
Aku memutuskan untuk singgah ke toilet, tempat dimana aku dan Aidan tadi pergi. Aku menatap wajahku di cermin dan terkekeh pelan ketika menyadari jika penampilanku tampak kacau. Wajahku penuh bekas air mata yang membuatku tampak lusuh belum lagi beberapa anak rambut yang tidak berada pada tempatnya membuat penampilanku tampak berantakan.
__ADS_1
Aku membasuh wajahku untuk menghilangkan bekas menangis dan membuat wajahku tampak lebih segar. Dan usaha itu tidak sia-sia karena kini aku sudah tak lebih baik.
Aku menyelesaikan urusanku dengan cepat dan segera menatap jam di tanganku. Pukul 14.00 dan sudah dipastikan acara dari sekolah sudah selesai. Rencana awal memang kami hanya akan menghabiskan waktu hingga pukul 13.00 karena kami juga diberikan waktu untuk beristirahat tapi sekarang sudah lewat dan pastinya mereka juga sudah bersiap-siap pulang.
Aku kembali ke lobby gedung dan berharap Aidan akan menghampiriku karena hanya dia satu-satunya orang yang mengetahui jika aku masih berada di sini ketika aku pisah dari rombongan. Aku menunggu dia di sini hampir dua puluh menit tapi tanda-tanda kemunculan Aidan tetap tidak terdeteksi, hingga seorang satpam datang mendekat.
"Permisi mbak. Apa mbak salah satu siswa SMA Maru?" tanyanya. Aku mengangguk dengan cepat.
"Iya Bapak. Apa Bapak lihat rombongan saya?" tanyaku balik. Dia seorang penjaga gerbang dan pastinya dia sudah stand by di sini sejak tadi.
"Rombongan SMA Maru udah keluar satu jam yang lalu mbak," ucap satpam tersebut dan itu membuatku terdiam. Ternyata aku memang ditinggalkan. Tapi kenapa? Apakah Aidan sengaja?
Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih sambil melangkah meninggalkan gedung. Ketika sampai di luar terik panas matahari menyambutku dan aku juga sudah tidak melihat bus yang tadinya terparkir di sana.
__ADS_1