Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Pulang


__ADS_3

Aku segera keluar dari rumah dengan cepat begitu menyelesaikan semua urursanku. Ancaman Aidan masih terngiang dan aku tidak mau dia mendatangiku. Setelah mengunci pagar aku langsung berlari ke arahnya. Jendela pengemudi tempatnya duduk terbuka dan itu memudahkanku untuk berbicara tanpa harus mengetuk pintu.


"Aku bisa jalan mulai dari sini soalnya aku mau mampir ke Daia," ucapku.


"Aku tahu kamu nggak pernah absen buat mampir ke sana. Cepat masuk aku juga mau ke sana." Dia tidak menggubrisku dan malah memintaku untuk segera masuk.


Aku menurut dan dia langsung menghidupkan mesinnya begitu aku duduk nyaman di sana. Perjalan singkat kami hanya diisi oleh keheningan yang mencekam.


Aidan sudah tampak tenang, bahkan kini pria itu bisa bersenandung pelan. Jalanan sudah mulai ramai dan Daia sudah tampak siap seperti biasanya. Aidan memarkirkan mobilnya di tempat biasa dan kami pun mulai keluar untuk menuju kafe.


"Duduk. Biar aku yang pesan kopinya," kataku tegas. Aidan menoleh dan mengernyit tidak setuju tapi langsungku balas dengan kalimat lain, "kamu udah lakuin banyak hal buat aku dan cuma ini yang bisa aku lakuin buat kamu." Dia menurut dan langsung melangkah menuju spot favorit kami. Setelah melihatnya duduk aku segera berbalik menuju konter untuk memesan.


Aku menemukan Rafa yang sudah siap di sana. Wanita itu sepertinya sangat bahagia dapat bertemu lagi denganku karena senyumnya tampak sangat lebar ketika mata kami bertemu.


"Gue pesan kopi hitamnya dua," kataku kepadanya.


"Siap." Rafa langsung menerima pesananku dan berbalik untuk menyiapkan. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan membawa dua cangkir yang memiliki model berbeda. Aku menerima nampan dari Rafa.


"Nanti kita jadi makan siang bareng, kan?" tanyaku memastikan. Aku takut dia membatalkan acara kami.


"Jadi dong. Taman dekat perpus gimana?"

__ADS_1


Aku mengangguk dan tersenyum, kemudian melangkah pergi menuju meja yang sudah diisi Aidan. Aku menyerahkan salah satu cangkir ke depannya.


Aku menatapnya sejenak sebelum berbicara, "Terima kasih Aidan karena udah ngebiarin aku nginap di rumah kamu semalam. Aku nggak tahu apa yang bakal terjadi sama aku kalau aku pulang. Sekali lagi terima kasih, tapi aku mohon kamu jangan ikut campur sama masalah aku. Aku nggak yakin aku masih bisa tetap kuat kalau kamu tiba-tiba peduli kayak gini lAgi. Dan satu lagi, aku mohon jangan sampai ada orang lain lagi yang tahu selain kamu." Aku sudah tidak akan menyembunyikan apa-apa lagi darinya. Pria ini sudah tahu apa yang terjadi padaku dan jika aku memutuskan untuk mengelak, yang ada Aidan malah akan semakin curiga dan dia pasti malah akan mengorek lebih jauh informasi yang seharusnya tidak dia ketahui.


Aku memberi pembatas yang jelas agar dia tidak membuatku berharap. Aku tidak mau ketergantungan yang pada akhirnya malah akan menyulitkan diriku ssendiri dan membuat kehidupanku bertambah buruk.


Meski sekarang aku berada di titik terendah, tapi aku tetap tidak mau menjadikan dia sandaran. Aku hanya akan menjalani kehidupanku seperti biasa.


"It's okay. Aku nggak bakal ngomong ke siapa-siapa, tapi kamu harus ingat aku bakal selalu ada di sini kalau kamu butuh seseorang buat cerita. Oke? Kamu cuma harus membiasakan diri dan berpikir kalau aku itu temanmu, teman yang bisa kamu ajak curhat dan cerita. Jangan anggap aku guru." Aidan memang ahlinya merubah suasana dan aku sangat berterima kasih karena dia tidak keras kepala. Aku tidak terbiasa menerima bantuan dan uluran tangan Aidan tidak bisa aku raih semudah itu.


Masing-masing dari kami langsung menyesap kopi milik kami sendiri. Waktu masih cukup lama hingga bel sekolah masuk dan kesempatan itu kami gunakan untuk mengobrol lebih banyak. Aku bertanya soal genre film favoritnya dan aku mendelik ketika dia berkata jika dia tidak menyukai genre komedi.


Aidan terkekeh melihatku yang sangat tidak mempercayai fakta itu.


"Aku lebih suka genre petualangan," ucapnya. Mendengar itu aku hanya memutar mataku dan tersenyum tipis tanpa dia sadari.


"Kamu kayak cowok aja," ucapku, pada akhirnya aku menyerah mengorek alasan kenapa dia sangat tidak menyukai komedi.


Tawanya berderai, "Aku emang cowok Aretta," katanya setelah berhasil memenangkan diri, "dan kamu pasti kayak cewek pada umumnya yang suka genre komedi. Nggak usah menyangkal karena tebakanku pasti tepat," katanya dengan nada menggoda.


"Benar! Aku emang suka genre romantis juga. Aku suka melihat bagaimana cara mereka mengekspresikan pada cinta pada satu sama lain dan juga cara mereka memperlakukan pasangan mereka dengan perlakuan yang penuh cinta. Kalau lihat film kayak gitu aku jadi pingin di masa depan nanti punya pasangan yang kayak gitu. Walaupun mustahil tapi nggak ada salahnya berharap, kan? Lagian kebanyakan film itu tidak seindah realita."

__ADS_1


Ekspresi wajah Aidan berubah seketika dan ekspresi menggodanya berubah menjadi lebih serius. Aku segera menundukkan kepalaku kebawah dan menggigit tipis bibirku. Rasanya malu karena tanpa sadar aku sudah curhat pada Aidan, guruku sendiri.


"Nggak ada salahnya jatuh cinta Aretta. Kamu pasti bakal temuin pasangan yang akan terima kamu apa adanya nanti. Aku jamin itu."


Aku tersenyum kecil mendengar kalimat dari Aidan. Pria itu bisa saja menenangkanku hanya dengan kalimat tidak pasti seperti itu.


"Sekali lagi terima kasih ya. Aku bakal ke sekolah jalan sama Rafa. Sampai ketemu lagi nanti di jam pertama."


Sebelum benar-benar pergi, aku meninggalkan senyuman ceriaku agar Aidan percaya jika aku sudah baik-baik saja. Aku tidak bisa berdiam lama di sini yang ada pasti aku akan membuka mulutku dan banyak menceritakan tentang diriku yang harusnya tidak diketahui orang lain.


Langkah kakiku membawaku menuju konter. Aku berusaha mencari Rafa dan untungnya wanita itu juga sudah keluar dari ruangan khusus staffnya sambil membawa ranselnya.


"Hai! Mau berangkat sekolah bareng?" tanyaku, saat dia melangkah keluar dari konter yang memisahkan jarak antara kami.


"Boleh. Gue bawa motor lo mau gue bonceng?" ujarnya pelan.


"Kalau nggak ngerepotin lo gue ikut." Dia langsung tersenyum cerah dan membawaku ke parkiran motor. Honda Scoopy berwarna coklat menjadi pilihannya.


Rafa tampak sangat lihat mengendarai motornya, gadis itu bahkan tidak terlihat gugup ketika ada mobil besar yang melaju kencang di samping.


"Gue boleh tanya sesuatu nggak," katanya tiba-tiba dan membuatku harus siaga memasang telinga agar dapat mendengar apa yang dia katakan.

__ADS_1


__ADS_2