
Apa yang dia katakan dan bagaimana cara dia mengatakannya terdengar sangat cabul, apalagi dia sampai harus menambah seringaian yang menyebalkan itu.
"Semuanya silahkan maju dan ambil kertas yang tersedia di meja saya," umumnya dan membuat semua orang langsung bergerak maju. Dan aku pun mengikuti ritme yang ada.
Ketika saya sudah berada di depannya, dia menyerahkan kertasnya dengan nada mencibir dan berhasil membuatku muak. Aku segera menerima kertas bagianku dan langsung mengerjakannya. Sedang Pak Dewa, dia mempersilahkankuutuk duduk di depan dan itu malah tidak nyaman. Aku berusaha tetap fokus dan mengerjakan soal yang dia berikan dengan baik. waktu terus bergulir dan aku sudah menyelesaikan setengah soalnya ketika dia tiba-tiba berteriak.
"Jangan lupa buat mengerjakan soal bareng-bareng, saya tidak akan menerima kertasnya jika kalian hanya membebankan tugas itu pada satu orang." Pak Dewa mencondongkan tubuhnya dan merebut kertas milikku dengan kencang hingga menimbulkan bunyi yang kencang, namun anehnya perbuatannya robek itu tidak membuat kertasku , "kalau saya menemukan kalian melimpahkan tugas itu ke satu orang saja, saya tidak akan membiarkan orang itu keluar dari kelas saya," tambahnya kejam.
"Biar saya periksa dulu punya kamu." Dia bertingkah seolah dia sedang banyak berpikir padahal aku tahu jika dia mengetahui jawaban dari semua pertanyaan yang dia buat.Aku sudah bertekad untuk berubah dan Aretta versi baru tidak menyukai keadaan ketika dia ditindas.
"Bisa cepat nggak Pak?" protesku. Aku tidak mau terjebak berduaan dengan dia di sini.
"Saya bakal sita waktu kamu Aretta. Saya juga bakal buat kamu terjebak sama saya. Berdua di sini," bisiknya pelan langsung ke telingaku.Itu kelas ancaman.
Bel langsung dibunyikan begitu dia selesai berbicara dan sudah memasuki jam makan siang.Semua siswa bersiap untuk keluar dan aku juga melakukan hal yang sama. Aku beranjak dari kursiku untuk kembali dan mengambil tas ketika tangan Pak Dewa mencengkramku erat.
"Mau kemana kamu? Bukannya tadi saya sudah bilang. Siapapun yang mengerjakan ini sendiri akan tinggal lebih lama di sini, dengan saya," katanya tekanan kalimatnya sambil mencengkram erat lenganku, "lagian masih ada 4 pertanyaan lagi yang harus kamu jawab."
__ADS_1
Kelas langsung kosong begitu bel berbunyi panjang, menyisakan aku dan Pak Dewa di sini. Aku langsung mengambil kesempatan untuk mengisi kertasku jadi dia beralih. Kukerjakan dengan tergesa gesa karena aku ingin melarikan diri.
Tapi sepertinya Pak Dewa tidak akan membiarkanku tenang. Dia mencondongkan suara untuk bisikan di telingaku dan malah membuatku merinding. Demi apapun pria ini sangat mengerikan.
"Kenapa Aretta? Kamu takut?" Aku harus bertahan agar aku bisa menyelesaikan soal ini dengan baik.
"Selesai," seruku, sambil membanting kertas dan langsung berdiri tiba-tiba utuk bergerak keluar dari kelas. Aku langsung memegang tugasku dan melangkah ke pintu tapi kembali tertahan saat dia menarik tugasku dan mencegahku pergi.
“Kenapa kamu buru-buru banget?” Dia bertanya dan aku malah merasa takut karena di sini hanya tinggal aku dan dia. Rupanya pria ini benar-benar sudah tidak waras.
"Bapak kenapa sih? Saya nggak pernah melakukan kesalahan dan saya juga nggak berniat buat menghancurkan karir Bapak, jadi nggak bisa Bapak berhenti mendiskriminasi saya," teriakku.
Kesempatkan itu aku gunakan untuk melarikan diri darinya. Saat berhasil keluar aku hanya menemukan kesunyian, semua orang tengah menghabiskan waktunya untuk makan siang dan aku menggunakan kesempatan itu untuk berlari menghindar dari Pak Dewa. Aku marah dan merasa kotor karena dia berani melecehkanku. Itu ciuman pertamaku dan dia dengan kurang ajarnya mencurinya. Pria brengsek itu tidak akan pernah aku maafkan.
Kesunyian itu aku gunakan untuk melampiaskan amarahku. Kutendang loker yang ada di koridor itu berkali-kali hingga amarahku menyurut. Aku masih tidak terima.
"Ngapain lo nendang-nendang loker? Emang dia punya salah apa sama lo?" Aku memutar tubuhku dan menemukan Rendi berdiri di belakangku. Jantungku masih berdetak kencang, rasa takut itu masih menghantuiku, untungnya ini Rendi bukan Pak Dewa.
__ADS_1
"Ah, bukan apa-apa. Gue cuma kesel aja karena gue keluar dari kelas paling akhir." Aku mengabaikan ketakutanku tadi dan berniat menyimpan semua itu untuk diriku sendiri. Akan menjadi masalah jika Rendi juga sampai tahu sampah seperti apa Pak Dewa itu sebenarnya. Untungnya pria itu percaya. Dia tersenyum dan menarikku agar aku mengikutinya.
"Gue harus keliling buat cari lo karena lo nggak ada di taman. Untungnya tadi Jessica kasih tau gue kalo lo masih ditahan di kelas." Dia menyeretku ke tempat di mana kami menghabiskan makan siang bersama.
"Udah ketemu nih anaknya." Rendi berseru pada Aidan. Pria yang selalu siap siaga di tempat ini.
Raut wajahnya tampak tidak baik, Dia terlihat khawatir dan begitu dia melihat ku masuk dan mengekor dengan Rendi dia langsung bangkit dari tempatnya untuk melangkah mendekatiku.
"Aku minta maaf," itu kalimat pertama yang keluar dari bibirnya ketika dia berdiri di depanku, "Oma jatuh dan aku harus pergi ke rumah sakit, Karena aku tahu kamu berada di tangan yang aman jadi aku mutusin buat ninggalin kamu. Maaf ya Aretta." Aku mengangguk-anggukan kepalaku bertingkah seolah-olah aku marah karena dia tidak meninggalkanku, Tapi saat aku melihat raut wajahnya yang tampak memohon sontak aku tertawa karena dia terlihat sangat menggemaskan dengan ekspresi yang seperti itu.
"It's okay. Aku nggak papa." Aku lega mendengar penjelasan dari Aidan karena ternyata dia pergi bukan karena sengaja. Padahal aku sempat mencaci maki dirinya dan sekarang aku menyesal karena sosok Aidan itu ternyata sangat luar biasa. Dia bahkan begitu berbakti pada Omanya
"Apa menu makan siang hari ini?" tanyaku. Dia tampak terkejut tapi sedetik kemudian dia berhasil mengendalikan ekspresinya.
"Uhm... Hari ini sandwich lagi," katanya sambil menyodorkan bungkus coklat ke arahku. Aku mengucapkan terima kasih dan langsung menyantap makan siang darinya.
"Punya gue mana?" Rendi protes. Dari semua adegan yang aku dan ayah dan tampilkan di depannya dia malah hanya mengkhawatirkan sandwich bagiannya.
__ADS_1
"Tangkap," seru Aidan dan dia melemparkan bungkusan lainnya pada Rendi.
"Thank you," jawab Rendi setelah berhasil menangkap bagiannya. Dia bahkan langsung pergi mencari tempat untuk makan tanpa mempedulikan kami.