Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Bertamu


__ADS_3

Satu langkah awal yang akan menjadi perubahan terbesar sudah siap di hadapanku. Aku percaya Gio akan tetap di sisiku dan tidak akan membiarkanku sendiri lagi.


"Jadi.... Ayo kita tour ke tempat tinggal baru kita," bisiknya sambil mendorongku masuk.


Aku dan Gio mulai mengelilingi bangunan dan juga mulai merencanakan apa saja yang ingin kami lakukan. Sejujurnya, aku banyak menemukan kerusakan yang harus segera diperbaiki dan dia hanya melihat tangga yang rusak. Banyak hal yang harus kami persiapkan karena bangunan ini yang sudah dan butuh perawatan ekstra.


Kami pulang ke rumah di jam 8 malam dan aku tidak langsung istirahat karena masih ada jadwal yang harus aku lakukan. Aku harus berlari dan kali jni aku membawa ponselku karena takut kejadian dimana aku bertemu dengan Oak Dewa akan terulang lagi.


Aku berlari melewati rute yang biasanya tapi ketika melewati persimpangan aku sengaja untuk memutar arah agar dapat melihat Aidan.


Aku berlari ke pinggiran kota yang tampak masih ramai, melewati pohon-pohon yang berjejer rapi dan tiba di sebuah rumah yang aku kenal. Aku membuka gerbang kayu dan masuk ke dalam tapi tidak langsung mengetuk pintu karena aku masih berdebat dengan akal sehatku tentang apakah aku harus mampir atau tidak.


Aku dan dia baru saja berbaikan dan sku tidak mau lagi melewati batas yang mana akan semakin memperunyam kembali hubungan kami. Pikiran negatif itu menggangguku dan aku memantapkan diri untuk mengetuk. Aku merindukannya dan hanya ingin menyapanya jadi untuk mengantisipasi ketakutanku aku akan bersikap seperti biasanya..


Aku mengetuk pintu rumahnya dan ketika pintu itu terbuka senyuman lebar dari bibirnya langsung menyambutku .


"Malam. Aku boleh masuk?" tanyaku.

__ADS_1


"Boleh." Aidan membuka pintunya lebih lebar supaya aku bisa masuk. Dia membimbingku menuju ruang tamu dan mempersilahkan aku untuk duduk.


"Ada apa?"" tanyanya begitu kami sudah duduk di tempat dimana dia menciumku beberapa waktu yang lalu.


"Aku cuma pingin tahu keadaan Oma Dewi karena udah lama aku nggak ketemu sama Oma. Oma pasti udah pergi pas akau sampai toko." Memang benar, aku sangat khawatir dengan keadaan Oma, tapi sesungguhnya itu adalah topik pembicaraan yang baik untuk memulai percakapan natural dengan Aidan.


Pria itu berkata jika Oma Dewi baik-baik saja, tapi tampaknya hanya untuk sementara dan dia tidak tahu akan sampai kapan keadaan Oma seperti itu karena bisa saja Oma mendadak tumbang sewaktu-waktu. Aku mencoba menghibur Aidan karena pria itu tampak putus asa dengan keadaan Oma. Mau bagaimana lagi, Oma sudah sepuh dan penyakitnya bukan penyakit yang bisa disembuhkan karena penyakit tua hanya harus berpasrah pada kesempatan hidup.


"Soal toko," ucapku setelah dia tenang dan bisa diajak bicara.


Aidan tiba-tiba berdiri dari duduknya, "Ah ya! Ayo ikut aku." Dia menuntun dan memberi isyarat agar aku mengikutinya. Dia membawaku ke ruang kerjanya tapi tidak masuk. Dia memiliki laci penyimpanan yang dia letakkan di depan pintu ruang kerjanya. Aidan menarik laci paling atas dan mengernyit ketika melihat kumpulan kertas yang sangat berantakan ada di salam zana.


"Cuma nyari file tapi di bawah banget makannya berantakan "


Dia mulai mengambil sesuatu dan menuntunku untuk masuk ke ruang kerjanya. Di dalam sana pun sama berantakannya, memang apa sih yang dia lakukan hingga semua tempat seakan habis terkena bencana. Aidan sampai membantu memindahkan beberapa barang agar aku bisa melangkah masuk.


Aku berhasil duduk di sofa yang terdapat dir uang kerjanya. Mataku menatap awas ke kertas yang berserakan yang ternyata itu semua laporan penelitian, dokumen resmi, dan sebuah kontrak. Aidan mengambil kontrak yang tadi aku lihat dan menyodorkannya padaku. Isinya tentang klausal hukum yang akan melindungi aku dan Gio jika sesuatu terjadi. Apa itu aku tidak mengeri sama sekali. Lagian untuk apa ini semua? Apa memang diperlukan?

__ADS_1


"Aidan!" panggilku dan dia menoleh, "apa ini?"


"Ini surat perlindungan pemindahan wali ke Papa kamu dan kamu sama Gio harus tanda tangan juga."


Aku mengangguk mulai paham. Jadi dia akan membantuku keluar dari rumah.


"Apa menurut kamu ini ide yang bagus? Maksudnya apa ini bakal berhasil?"


"Pasti berhasil. Nanti kita mengajukan banding soal Mama kamu yang nggak biarin kalian berdua ketemu sama Papa kamu. Kita juga bisa buktiin soal KDRT yang kamu alami. Aku punya hasil visum kamu kemarin." Dia kembali sibuk dan mengeluarkan sebuah kertas lagi untuk diberikan padaku, "sama ini. Tadi kita bahas soal toko kan? Aku udah buat kontrak juga yang nggak memberatkan satu pihak." Aidan ternyata melakukan apa yang ingin aku lakukan. Dia sangat mensupport impian Oma dan itu membuatku keraguanku sirna dalam sekejap.


"Terima kasih buat kerja keras kamu," balasku, "tapi ada hal yang nggak bisa diselesaikan oleh seorang siswi, guru, atau pemain sepak bola." Aku sudah memikirkan hal ini sejak lama karena Kami bertiga memang sangat awam soal bisnis, "kita butuh seseorang yang menguasai soal bisnis."


Aidan tampak berfikir sampai akhirnya dia mengangguk, "Benar sih, tapi kita nggak mungkin bawa orang yang nggak kita kenal atau kita percaya buat ngebantu bisnis kita." Aku juga setuju dengan itu. Aku juga tipikal orang yang sangat berhati-hati karena aku hidup dengan orang yang sering melakukan kekerasan kepadaku, dan dampaknya aku jadi sulit untuk percaya dengan orang lain.


"Hal pertama yang harus kita lakukan sebelum memulai bisnis adalah mengeluarkan kamu dari rumah dan membuat ruko yang baru kamu beli itu menjadi tempat yang layak dihuni. Jadi kita harus memperbaiki beberapa bagian, mengecat, dan membeli furniture."


"Aidan! Itu biar aku sama Gio yang mikirin kamu nggak perlu susah-susah." Aku menyela, karena ada hal-hal yang tidak boleh dikerjakan bersama dengan Aidan karena itu kebutuhan pribadi untukku dan Gio, "aku sama Gio bakal renovasi mulai besok setelah pulang sekolah jadi kami berdua bisa pindah di akhir pekan," itu harapanku. Aidan masih kekeh menawarkan bantuan tapi aku tidak bisa menerima bantuan yang dia berikan secara gratis ketika kami masih memiliki dana untuk memperbaiki bangunan tersebut.

__ADS_1


"Ehm tapi kayaknya kamu masih bisa bantu buat cari tahu di mana bisa menemukan tempat penjualan furniture khusus barang bekas. Tapi aku minta tolong jangan sampai Gio tahu karena aku pingin sedikit bantu dia dengan beli barang pakai uang aku sendiri." Itu adalah keputusan yang tidak mudah. Aku sudah memikirkan dan untuk membalas aku hanya bisa membantu sedikit saja. Lagipula tabunganku tidak akan berkurang drastis meski aku mengeluarkan seperempatnya. Untungnya Aidan setuju untuk membantu.


Aku dan dia kembali pindah ke depan komputer dan kami menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencari jenis barang yang aku inginkan. Aku terlalu asyik mencari sampai tidak sadar jika aku sudah terlalu lama keluar hingga dengungan ponselku mengacaukan segalanya.


__ADS_2