Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Amukan Mama


__ADS_3

Aku melirik jam yang ada di sudut bawah komputer.


"Aku pulang dulu. Terima kasih karena kamu udah bantu buat nambahin musik ke sini," kataku. Dia mengangguk dan akhirnya membawaku kembali keluar. Kami berlari bersama lagi untuk pulang ke rumahku. Kali ini Aidan yang memimpin karena aku tidak familiar dengan area ini. Aku tidak pernah berlari sampai sini.


Setelah setengah jam, akhirnya kami sampai di tempat Aidan memarkirkan mobilnya. Kami berdua sama-sama terengah-engah.


"Terima kasih," ucapku lagi saat aku berhasil mengatur nafasku.


"Sama-sama. Besok mau lari lagi?"


Aku menoleh cepat ke arahnya. Aku kira hanya sekali ini saja tapi dia malah meminta lagi. Jika aku menolak aku pun tetap harus berolahraga setiap harinya, aku memutuskan untuk mengiyakan dan mengangguk. Hal itu membuat dia tersenyum.


"Kalau gitu sampai ketemu besok di toko," katanya sebelum mengambil kunci mobil dari saku celananya dan mulai membuka pintu mobilnya.


"Bye Aidan!" teriakku, sambil berlari ke depan pintu rumah dan masuk ke dalam. Aku mengintip dia melalui jendela dan ikut tersenyum saat dia terlihat tengah terkekeh.


Ketika aku berbalik, aku langsung terlonjak kaget.


Ada Mama di sana.


Dia berdiri dengan tangan bersedekap dan mata yang memerah. Sepertinya Mama minum lagi karena aku dapat mencium aroma alkohol dari tubuhnya di tempatku berdiri. Ekspresi wajah Mama tidak tampak bahagia.


"Siapa cowok itu?" tuntutnya dengan nada tajam.

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa," jawabku pelan.


Mama langsung maju dan menatapku penuh intimidasi. Dia menarik kencang rambutku hingga kepalaku mendongak.


"Jangan bohong! Mama udah lihat orangnya."


"Aretta nggak ngerti apa yang-" ucapanku terpotong ketika Mama menonjok mata kiriku. Rasa sakit langsung menyebar ke seluruh kepalaku. Aku sampai harus menahan kepalaku agar tidak berantakan dengan dinding dan juga menahan keseimbanganku agar tidak roboh.


Saat aku fokus pada kepalaku, Mama menggunakan kesempatan ini untuk menendang tulang kering ku yang mengakibatkan aku jatuh dan tersungkur di lantai. Aku mulai menangis saat Mama terus-menerus menendang perut ku dan dia malah berteriak kencang untuk mengumpatiku.


"Jawab Mama Siapa dia! Kamu mau jadi ****** ya?"


Mama masih menuntutku menjawab dengan posisinya yang terus-menerus mengirimiku tendangan. Dalam posisi seperti itu aku tidak akan membuka mulutku. Aku lebih memilih untuk melindungi diriku terlebih dahulu.


"Lihat apa yang udah kamu lakuin! Beresin!" katanya sambil melangkah pergi. Dia tidak peduli dengan keadaanku dan terus berjalan dengan sempoyongan ke dalam kamarnya.


Aku ditinggalkan sendiri di lantai dan berusaha keras sendiri untuk bernafas yang setiap tarikannya terasa seperti ada pisau yang ditancapkan di rusukku. Aku pikir bagian itu mengalami keretakan.


Di lantai yang dingin aku berbaring. Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku dan akhirnya aku berada di posisi itu sepanjang malam. Aku sendiri Bahkan tidak ingat bagaimana bisa aku sampai tertidur.


"Lo kenapa?" Seseorang membangunkanku dan saat aku membuka mataku, aku masih berada di posisi yang sama saat aku terjatuh tadi malam. Aku mendongak untuk melihat ke atas dan menemukan Gio yang berdiri menjulang di sana.


Aku menggulingkan tubuhku dan berusaha mencoba mengabaikan rasa sakit yang teramat dahsyat.

__ADS_1


"Uggh." Aku mendesis spontan karena tidak kuat dengan rasa sakit yang menyerang. Aku dapat merasakan Gio yang memegang siku ku untuk membantuku berdiri. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi. Biasanya jika melihatku dalam kondisi yang seperti itu dia akan membiarkan saja dan bersikap seolah tidak melihat. Apa jangan-jangan semalam dia menyaksikan sendiri bagaimana kejamnya Mama saat memukuli dan menendangku.


"Lo keliatan berantakan banget," ucapnya sinis.


"Terima kasih," gumangku dan berjalan terhuyung-huyung perlahan menuju kamar mandi. Aku memaksakan diri untuk mandi dengan hati-hati. Membersihkan tubuhku dari keringat yang aku hasilkan berkat lari semalam. Aku mandi dengan duduk di atas kloset karena aku tidak mampu berdiri. Aku merasa rasa sakit itu seperti ditusuk pisau. Sebenarnya aku tidak pernah mengalami kejadian seperti it dan ini hanya asumsiku semata.


Aku bergerak dengan cepat karena aku masih harus pergi bekerja. Usai mandi, berpakaian, dan bersiap-siap untuk pergi, aku segera melangkah pelan untuk keluar. Aku tahu dia masih memperhatikanku hanya saja Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Aku merasa beruntung karena dia tidak menggangguku pagi ini. Aku sudah tidak memiliki banyak waktu dan jika dia menggangguku dengan pertanyaan-pertanyaan anehnya aku tidak yakin akan tiba di tempat kerja tepat waktu.


Aku mencoba berjalan senormal dan senyaman mungkin, tapi itu malah semakin menekan lukaku. Aku masih bisa menahannya karena pukulan-pukulan seperti itu bukan kali pertama aku terima tapi tidak dengan rasa sakit yang ada di bagian rusukku.


Dulu aku pernah mengalami hal serupa. Jatuh dari ketinggian karena aksi jahil anak-anak lain. Saat itu mereka juga meninggalkanku sama seperti yang Mama lakukan semalam. Aku kecil berusaha kuat menyeret diriku sendiri untuk pulang. Saat itu Mama masih peduli kepadaku dan dia langsung membawaku ke rumah sakit untuk diperiksa. Vonis dokter mengatakan jika dua rusukku patah.


Rasa sakit ini sama seperti rasa sakit kala itu, tapi yang kali ini lebih parah. Aku berusaha mensugesti diriku sendiri agar rasa sakit itu tidak mengganggu dan itu malah membuatku tidak bisa menikmati semua pemandangan indah yang aku lewati.


Minggu pagiku hancur dalam sekejap.


Langkahku terseok-seok.


Aku bahkan sampai takut mengambil langkah yang lebar. Aku melirik jamku. Sudah terlambat 20 menit dan aku berharap masih belum ada pengunjung yang datang ke toko.


Ternyata dugaanku salah. Aku langsung bergegas masuk, bahkan aku sampai kesulitan untuk melangkah maju menuju counter karena penuhnya toko ini. Tubuhku terdorong dan itu menyebabkan rasa sakit itu kembali datang karena ada tangan-tangan yang tidak sengaja menyentuh rusukku. Aku sampai harus menghela nafas perlahan yang malah semakin membuatku meringis. Aku mendongakkan kepalaku, menghalau air mataku agar tidak jatuh.


"Aretta! Kamu dari mana aja?!" Aku mendengar suara Aidan yang berteriak dari balik konter. Sepertinya dia menggunakan tangga mini untuk mencari keberadaanku di dalam kerumunan.

__ADS_1


Antrian terbentang dari konter hingga pintu dan sampai berbelok memenuhi space kosong di sekitar rak buku. Aku segera berjalan lagi ke counter mengabaikan rasa sakitku, karena yang paling utama sekarang adalah bekerja. Aku berdoa dalam hati agar aku tidak dipecat. Ini baru hari kedua dan aku sudah berani datang terlambat. Jika saja aku tidak mendapat musibah pasti aku akan datang tepat waktu seperti sebelumnya.


__ADS_2