Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Jendela?


__ADS_3

Aku kembali mendapatkan tamparan di pipiku. Tempatnya kali ini dia benar-benar murka karena aku tidak membuka mulutku sama sekali. Setelah menamparku dengan cukup keras sampai aku bisa melihat bintang-bintang, Dewa pergi dengan gusar. Langkah kakinya cukup tergesa dan aku bahkan sampai bisa mendengar dia menutup pintu dengan bantengan keras. Aku tidak lagi meringkuk seperti sebelumnya, Hari ini aku memutuskan untuk bangun dan meregangkan otot-ototku yang kaku. Dan seperti sebelumnya, kali ini pun aku harus berjalan dengan cara meraba untuk menuju tempat yang aku inginkan.


Aku menggunakan ingatan yang aku dapatkan ketika sinar matahari berhasil masuk. Tujuanku adalah jendela yang sudah ditutupi kertas-kertas. Tanganku terulur dan bersentuhan dengan permukaan dinding yang kasar dan agak lembab. Aku menggeser ke kiri dan ke kanan untuk mencari letak jendela. Tanganku merasakan sesuatu yang kasar dan menonjol. Aku memutuskan untuk maju dan menyentuh lebih lama. Itu adalah jendela kaca, karena aku berhasil mengetuknya pelan agar tidak menimbulkan suara yang bisa membuat Dewa datang ke ruangan ini. Tampaknya kali ini aku berhasil mendapatkan jackpot.


Jari-jariku mulai menjelajahi permukaan kertas yang menutupi jendela. Ternyata pria itu lebih pintar dari dugaanku. Dia benar-benar membuat kertas yang menutupi jendela tidak dapat dibuka dengan mudah. Aku sampai harus mencari ujung jendela untuk menemukan sudut yang bisa kertas. Aku sangat butuh cahaya, walaupun sedikit. Karena dengan cara itu aku bisa berpikir jernih dan memutuskan apa yang harus aku lakukan untuk langkah selanjutnya.


Aku mencoba lagi dan lagi sampai kuku jariku tersangkut di sudut kecil selotip. Aku menggunakan ujung jariku untuk menarik selotip yang menempel di jendela dan berharap tidak akan menimbulkan kerusakan fatal sehingga dapat kembali dipasang jika Dewa datang secara tiba-tiba. Kertas hitam yang menempel di jendela mulai terlepas. Aku bahkan sampai harus menyipitkan mataku karena sinar matahari yang cerah itu mulai membanjiri ruangan basement ini. Aku kini dapat melihat tanganku sendiri dan sama-sama aku juga bisa melihat seisi ruangan.


Kali ini aku dapat bernafas dengan lega. Aku menang. Aku juga memiliki kesempatan untuk kabur. Aku berusaha menarik lagi kertas yang menempel, hanya separuh karena nanti aku harus mengembalikan bentuknya ke posisi semula. Pria itu sudah berusaha mati-matian untuk memanipulasi ruangan tapi tampaknya idenya kali ini kurang berhasil.


Aku mengetuk pelan jendela kaca tersebut untuk mengukur seberapa tebal kaca yang digunakan. Tuhan berpihak lagi padaku. Itu hanya jendela kaca normal pada umumnya.


Apa jika jendelanya pecah aku bisa keluar dari sini? Namun jendela ini berukuran kecil. Entah bisa aku lewati atau tidak. Aku mengintip lagi suasana di luaraan. Ada sebuah pot bunga dengan bunga yang mulai bermekaran.


Aku mendongak. Kali ini pemandangan jalanan bisa terlihat. Aku melihat lagi ke sekeliling yang aku bisa. Ada rumah-rumah bagus yang berdiri di sebereng jalan, tapi aku masih tidak tahu tempat ini berada di daerah mana.

__ADS_1


Ada seseorang yang berjalan melewati trotoar dengan anjing berbulu tebal yang di tali. Aku tidak tahu apa yang merasukiku karena saat itu aku sontak berteriak sambil menggedor jendela dengan keras. Aku juga sambil berpikir akan menghancurkan jendela itu tapi sayang orang itu sudah melewati itu lebih dulu.


Aku mendesah kalah tapi tetap berpikir positif untuk mencari cara lain agar bisa melarikan diri dari tempat ini. Tiba-tiba aku mendengar suara pintu yang dibanting dari atas. Sontak saja aku langsung menutup kembali jendela yang diselimuti kertas hitam. Kalau aku bergegas menjauh agar terlihat tidak terlalu mencurigakan. Aku juga berinisiatif Kembali ke tempat yang sama di mana dia meninggalkanku.


Aku mendengar suara kunci diputar dan ruangan basement itu kembali dipenuhi cahaya. Dewa menuruni tangga sambil membawa tas belanjaan dan sekotak jus yang sudutnya tergencet, pertanda jika benda itu jatuh. Pria itu menyeringai dan tampak mengerikan.


"Waktunya sarapan sayang!" Dia bersorak Dan meletakkan kantong plastik yang dia bawa di kasur di sebelah kakiku. Aku menata barang yang dia berikan dan menatap dia secara bergantian.


"Kenapa? Kamu mau aku suapin? Maaf sayang buat hari ini aku nggak bisa. Aku sibuk banget jadi aku harus buru-buru ke atas."


"Jangan khawatir sayang kamu bisa pergi ke kamar mandi kok. Aku nggak bakal biarin kamu tersekap di sini kayak hewan peliharaan. Kita harus menikah dan nggak mungkin dong nyonya rumah tinggal di sini selamanya." Dia berkata dengan sangat riang yang malah membuat semakin takut.


Berapa lama lagi dia akan memintaku untuk tinggal di sini? Menikah? Aku masih 17 tahun.


Dewa terkekeh melihat ekspresiku.

__ADS_1


"Nggak usah khawatir sayang. Selama kamu nurut sama aku dan nggak ngelawan, nggak bakal ada masalah harusnya."


Aku menelan ludah kasar, bahkan hampir menggigit lidahku sendiri. Dewa berdiri di depanku sambil mencoba membongkar belanjaan yang dia bawa tadi. Pria itu mengeluarkan roti isi selai lalu menyodorkan satu padakh. Aku menolak untuk menerima pada awalnya, namun melihat bagaimana tatapan tajam itu menatapku seolah akan melumatku habis-habis, nyaliku menciut. Aku meraihnya menggunakan tanganku yang tidak terluka.


Belum sempat aku menarik tanganku menjauh. Dia sudah lebih dulu membalikan telapak tanganku untuk menghadapnya.


"Kira-kira apa yang kamu lakuin tadi?" Dia bertanya sambil menatap tanganku. Kenapa aku juga langsung mengikuti Ke mana arah dia memandang dan aku melihat ujung jariku berwarna kehitaman. Ekspresi Dewa mengeras dan dia menarik keras pergelangan tanganku hingga membuat tubuh kami saling menempel di ruangan sempit dan lembab ini. Wajah Dewa terlalu dekat dengan wajahku sampai aku bisa mencium aroma nafasnya ketika dia menghembuskan napas padaku.


"Kamu kabur mau kabur, kan?" Pria itu mengintrogasiku. Dia bahkan sampai menarik tubuhku untuk semakin menempel dengan tubuhnya. Tangannya yang melingkari pergelangan tanganku yang sehat menekan kencang. Aku berusaha melepaskannya karena cengkraman Dewa sangat menyakiti pergelangan tanganku.


"Kamu bisu? Ngomong!" Dewa berteriak dengan sekuat tenaga dan aku sampai bisa merasakan semburan ludahnya yang mengenai wajahku. Aku hanya bisa meringkuk dan mencoba melepaskan tanganku dari cengkramannya. Aku mencoba melawab. Naluri ingin bebasku mengalahkan rasa takut dan aku berhasil menendang tulang keringnya.


Aku tidak mengantisipasi bahwa dia masih memegang pergelangan tanganku. Jadi ketika aku mencoba melarikan diri dia langsung menarik bundaku dalam melempar tubuhku ke kasur yang berlumuran darah.


"Brengsek!" Dia kembali berteriak, "jangan pernah berpikiran buat kabur lagi karena kamu punya aku. Kamu itu punya aku sekarang!"

__ADS_1


__ADS_2