
Aku terbangun. Tidak seperti biasanya, kali ini aku bangun tanpa ada pemicunya. Tanpa suara berisik, alarm, atau kicauan burung. Aku terbangun di tempat tidur. Meski rasanya berbeda tapi tetap nyaman dan entah kenapa terasa amat akrab, seolah-olah aku pernah berada di tempat ini sebelumnya. Aku menatap langit-langit dan menemukan dekor lampu gantung yang mewah. Pikiranku bercabang dan langsung menerka-nerka, tentang bagaimana caranya aku bisa berada di tempat ini. Ingatanku kembali ke kejadian tadi, tapi aku enggan bertanya karena ruangan ini sangat sepi dan lagi, aku merasa sangat aman berada di sini.
Tirai kamar terbuka dan angin sepoi-sepoi yang hanhat bertiup melalui jendela yang terbuka. Meski begitu suasana di sini masih sangat sunyi. Beberapa siluet sinar matahari terpancar ke karpet dan memberikan cahaya di ruangan ini. Aku tahu ini sudah masuk jam siang karena suara kendaraan yabg saling bersautan.
"Aretta." Suara yang dalam dan jantan itu menarik perhatianku. Aku menoleh, lalu meringis ketika leherku sedikit berderit.
"Pelan-pelan." Suara itu berucap kembali. Pandanganku masih sedikit kabur karena sinar matahari yang teramat terik itu, tapi aku mengenali sang pemilik suara. Sudah dapat kutebak, itu pasti Aidan. Sosok itu menjulang dan berdiri di ambang pintu. Aidan bersandar di dinding dengan santai. Dia mengenakan celana pendek berwarna khaki dengan kaos santai dan sandal jepit. Aku mengenali rambut hitam yang berbelah samping miliknya, juga aroma cologne yang dia gunakan.
Aidan berdiri dengan sangat percaya diri, tapi raut wajahnya tidak sesuai dengan kepercayaan dirinta. Dia tampak khawatir saat menatapku yang masih terbaring di tempat tidur.
"Jangan banyak gerak," sarannya sambil melangkah masuk untuk berlutut di dekatku. Aku tetap berada di posisiku, berbaring telentang dengan nyaman dan dibantu topangan dengan beberapa bantal di belakang kepala dan pundakku sebagai alat bantu topang.
"Kamu ingat apa yang udah terjadi?" tanyanya. Dia tampak tengah memeriksa keadaanku dan mencoba mencari tanda-tanda cidera atau hilang ingatan dariku. Tapi sayangnya aku mengingat dengan sangat jelas kejadian yang tadi aku alami.
Aku menganggukkan kepala dan leherku berderit lagi. Insiden dimana aku mendapat penyiksaan adalah hal yang tidak mungkin bisa aku lupakan, tapi tidak apa karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika ini terakhir kalinya.
Aku tersenyum seraya menggenggam tangannya, "Aku merasa sangat bahagia," kataku meyakinkannya sambil menenangkan dia jika aku baik-baik saja.
__ADS_1
"Gimana kamu bisa baik-baik aja?" Aidan melepaskan tangannya dari genggamanku. Dia berjalan mondar-mandir dengan canggung di sampingku.
"Mama kamu sendiri aja tega mukul kamu sampai pingsan dan berdarah. Harusnya aku nggak percaya gitu aja waktu kamu bilang kalau kamu baik-baik aja. Kamu harus lapor polisi kalau nggak ke KPAI. Ah benar, KPAI-"
"Jangan!" Aku memotong kalimatnya dengan cepat, "kamu harus tahu kalau ini masalah aku, terus kalau kamu lapor ke KPAI, aku bakal tinggal dipanti asuhan karena aku belum cukup umur buat tinggal sendiri ditambah kondisi Gio yang belum stabil dan Papa yang nggak mungkin aku kasih tahu tentang hal ini. Aku juga nggak mau Mama balas dendam." Aidan tampak menghela napas berat tapi dia tetap diam. Mungkin mendengar kalimatku membuatnya berpikir ulang, "aku berharap itu terakhir kalinha aku lihat Mama," kataku sambil mengusap pelan bahunya, "aku bebas sekarang."
Aku tinggal di tempat tidur yang nyamn itu sepanjang hari tapi setelah mendapatkan ceramah yang cukup panjang dari Aidan, aku harus rela untuk kembali tidur dan tidak bergerak. Tentunya aku akan melakukan hal itu dengan senang hati, lalu setelahnya aku langsung tertidur dalam kenyamanan di kamar tidurnya sambil menghirup aroma dirinya yang tersisa di ruangan ini. Aku tertidur cukup lama dan bangun ketika jam makan siang. Pria itu sudah menyambutku seraya duduk di kursi dekar jendela. Dia sudah menyiapkan makananku di atas nampan dan di letakannya di meja.
Ketika dia mengetahui jika aku sudah terbangun, refleks Aidan bekerja dengan cepar. Dia beranjak untuk membantuku dan juga meletakkan nampan di pangkuanku agar memudahkanku untuk makan.
"Aku punya beberapa pertanyaan buat kamu," ucapku seketika. Aku sangat ingin tahu apa yang terjadi meski sebenarnya hal itu sangat mudah untuk ditebak. Namun, menanyakan langsung pada orang yang tahu juga lebih memuaskan.
"Gimana caranya aku bisa ada di sini?" tanyaku lagi, belum sempat Aidan membuka mulutnya untuk berbicara, aku sudah lebih dulu memotong, "mungkin lebih baik kalau kamu ceritain aja apa yang udah terjadi sejak aku pingsan." Aidan mengangguk perlahan, aku bisa melihat bahunya yang sedikit menegang. Apa jangan-jangan kejadian tadi malam sangat parah hingga dia ingin melupakannya? Tapi aku tidak bisa berhenti di sini karena aku sangat ingin tahu apa yang terjadi.
"Oke. Tapi aku nggak bakal cerita secara detail," bukanya, "malam itu, Gio telepon aku dan dia minta tolong ke aku dengan suara panik. Aku langsung datang ke rumah kamu dan di sana aku sudah lihat kamu terkapar di lantai dengan Gio yang ada di samping kamu. Mama kamu udah diikat di kaki ranjang, tapi yang bikin aku marah itu adalah, darah yang berceceran di lantai. Karena sudah dipastikan itu punya kamu soalnya Gio nggak kelihatan luka sama sekali. Aku takut, tapi aku berusaha kuat supaya aku bisa datangi kamu.
"Gio jelasin semua yang terjadi malam itu, walaupun nggak jelas tapi aku bisa tangkap maksud dia apa. Aku nggak buang waktu dan langsung bawa kamu ke tempat yang jauh dari jangkauan Mama kamu. Awalnya aku sama Gio bawa kamu ke lantai bawah rumah kalian.
__ADS_1
"Mungkin emang kedengarannya konyol karena sekarang kamu sendiri udah dalam kondisi yang luar biasa fit. Aku sangat bersyukur soal itu, tapi kejadian itu memang benar terjadi. Kamu sama Gio yang paling tahu. Jadi karena kejadian itu, Gio mutusin buat langsung keluar dari rumah tanpa berpikir panjang lagi. Setelah aku kompres luka dan bersihin kamu, kami berdua juga sambil mengeluarkan barang-barang kalian dari rumah. Untungnya barang-barang kalian muat di mobil aku sama Gio, jadi kita nggak perlu panggil jasa pengangkut barang. Terus setelah diskusi sebentar, kami memutuskan untuk dia yang bertanggung jawab buat beresin barang kalian di rumah baru sedangkan aku bertugas buat urusin kamu. Jadi aku mutusin bawa kamu ke rumah aku."
Penjelasan dari Aidan bebar-benar panjang dan jelas, aku tidak mengira satu pertanyaanku akan berbuntut sepanjang ini. Tapi ada satu lagi yang mengganjal.
"Terus Mama gimana?" Dia terkekeh sinis. Mungkin sedikit tidak menyangkan aku menanyakan orang yang membuatku terkapar mengenaskan seperti ini.
"Kami melepaskan ikatannya dan meninggalkan dia di lantai. Gio juga bawa tali pinggangnya itu karena itu benda favoritnya." Aku terkekeh mendengarnya. Khas Gio sekali. Pria itu tidak mau barang miliknya digunakan untuk sesuatu yang tidak penting.
Aidan memintaku untuk kembali makan dan aku mengangguk, tapi tetap saja masih banyak yang ingin aku tanyakan pada pria itu. Ini lebih berkaitan dengan, kenapa aku dibawa kesini dibandingkan ke kamar yang biasanya aku gunakan.
"Kenapa aku ada di kamarmu?" dia menarik napas kecil dengan gugup, tapi dengan cepat langsung menjawab. Aidan mengatakan jika kamarnya adalah tempat yang paking dekat dengan pintu masuk dan lagi tempat tidurnya juga tidak terlalu tinggi. Soal tempat tidur memabg benar, tapi sayangnya posisi kamarnya tidak benar.
Aku hanya mengangguk saja tidak mau berekspetasi banyak, lagian dengan seperti ini aku jadi bisa menikmati aroma Aidan yang tertinggal di sini.
Aku kembali melanjutkan makanku dan dia juga menyodorkan obat pereda nyeri dan air putih untukku. Setelah menandaskan semuanya, Aidan kembali memintaku untuk tidur kembali. Aku mengangguk karena dia juga masih setia menungguku di sini.
Aku sudah nyaman dengan posisiku ketika aku tiba-tiba mendengar dua suara pria lagi. Aku langsung menatap Aidan tapi pria itu hanya mengedikkan bahunya tidak peduli.
__ADS_1
Disaat yang sama juga, aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat lalu memasuki ruangan. Ternyata itu Gio, aku tersenyum sebagai sapaan untuknya. Dia berjalan mendekat dan duduk di kursi kosong. Masih ada bekas air mata di wajagnya. Rasa sesal juga tidak dia sembunyikan. Sama seperti sebelumnya, dia kini juga terlihat ingin menangis tapi tetap berusaha mempertahankan kewarasannya.
"Maafin gue Aretta! Harusnya gue ngeluarin lo dari sana lebih cepar. Harusnya gue mengerahkan semua kekuatan gue. Gue-"