
Aku merasa sangat pusing saat aku membuka mata, tapi Aidan bersikeras untuk membuatku sadar. Aku terus-terusan melihat ke bawah semenjak aku bangun. Aku melihat ke arah tangan kami yang saling menggenggam.
"Aretta," panggilnya sambil menatap mataku. Dia memiliki bekas air mata dan tampaknya itu karena dia melihatku yang sangat mengenaskan sekarang.
"Kalau aku nggak bicara soal ini sekarang mungkin untuk kedepannya aku juga nggak bakal berani buat buka suara." Dia mengatakan itu dengan suara yang hampir terasa seperti berbisik. Aidan tampak menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Dia menatapku lekat, teramat lekat.
"Aku cinta sama kamu."
Aku agak terkejut dengan pengakuan cintanya yang sangat tiba-tiba ini. Aku juga bisa merasakan detak jantungku berpacu cepat. Bunyi bip dari mesin yang ditempelkan ke jariku terdengar sangat liar dan aku langsung memblokirnya dengan melepaskan alat tersebut dari jariku. Satu-satunya yang boleh tahu tentang bagaimana perasaanku sekarang itu hanya aku.
Aku melepaskan tautan tangan kami dan aku bisa melihat sorot mata Aidan yang tampak hancur. Sebelum dia mengira aku akan meninggalkannya, dengan segera aku meraihnya menggunakan tanganku yang bebas dan menempelkan bibirku ke bibirnya.
Bunyi bip dari monitorku terlupakan dan aku mulai mencium Aidan dalam. Setelah berhasil meluapkan perasaanku lewat ciuman, aku melepaskan diri.
"Aku juga cinta sama kamu," gumamku pelan.
Suara batuk dari belakang membuatku terlonjak. Aku menundukkan kepalaku karena dokter dan seorang perawat sudah berdiri di ambang pintu.
"Saya senang karena kamu sudah sadar. Selama penanganan pacar kamu udah kayak anak anjing yang kehilangan induknya. Mondar-mandir di koridor," jelas dokter jaga yang perlahan masuk untuk memeriksaku. Dokter itu juga mengutak-atik mesin dan memeriksa infusku sebelum pergi. Dia memberikan kami privasi lagi setelah sebelumnya tertangkap basah.
"Aku nggak bakal biarin kamu pergi lagi," kataku. Dia tersenyum sambil mengecup tangan kami yang kembali saling bertautan.
Kehadiran Aidan benar-benar membuatku teralihkan. Rasa sakit yang harusnya menyerangku terasa biasa saja karena kini aku tengah diliputi kebahagiaan. Dan ketika waktu makan tiba, dia bersikeras untuk mengambilkan makanan meski tahu nanti ada perawat yang mengantarkan bagianku ke sini.
"Aku bakal balik ke sini lagi," ucapnya. Aku hanya bisa mendesah pelan karena tidak ingin melepaskannya.
Ketika dia pergi, rasa sakit itu mulai menyerangku perlahan dan kini aku baru bisa merasakan rasa sakit yabg sesungguhnya. Aku bergerak perlahan dari sisi kanan dan kiri untuk menguji rasa sakit yang aku derita. Dan saat aku melihat ke bawah, ke pergelangan tanganku aku baru sadar jika bagian itu kini dibalut dengan gips putih tebal. Dimulai dari pangkal siku sampai ke pergelangan tangan. Aku juga mengenakan pakaian rumah sakit. Perlahan namun pasti aku mulai mengangkat bagian atasnya dan aku bisa melihat seluruh perutku tertutup perban. Bintik-bintik merah kecil yang mengeluarkan darah juga terlihat dan aku tahu itu karena pukulan dari sabuk yang aku dapatkan dari Dewa. Aku kembali merasakan mataku berkaca-kaca dan aku merasa sulit untuk menahan air mata yang tumpah karena aku kembali teringat kejadian mengerikan itu. Aku juga melihat bekas luka besar yang menjalar dari leher hingga ke dada. Saat itu juga air mataku benar-benar merembes deras mengaliri pipiku.
Aku merasa jijik dengan diriku sendiri karena ingatan terakhir soal Dewa yang hampir menyetubuhiku mulai memenuhi benakku. Pikiranku mulai berputar-putar dan kilasan balik tentang Ingatanku mulai menghantuiku. Aku meraih kepalaku dan menarik rambutku, berharap jika aku menariknya cukup keras, bayangan itu akan pergi meninggalkan kepalaku.
Ketika aku sedang berada di dalam kondisi yang tidak stabil, sebuah tangan yang hangat mengusap pelan punggungku. Ternyata aku sudah mulai berteriak kencang untungnya Aidan datang lebih cepat dan berhasil menenangkanku.
__ADS_1
"Semua sudah baik-baik saja." Dia berusaha menenangkanku menggunakan tangannya dengan usapan lembut di pundakku. Aku juga mulai menyadari pernapasanku mulai stabil dan gambaran-gambaran itu perlahan mulai memudar.
Bayangan tentang darah yang merembes keluar dari tubuhku, kasur yang dibasahi darahku dan darah korban sebelumnya, pemandangan Dewa yang tengah murka sambil mengangkat tinjunya yang dilapisi sabuk, perlahan mulai menghilang. Mereka mulai tampak memudar sampai aku bisa mendengar kembali suara monitor detak jantungku yang perlahan stabil. Aku mengusap rambutku yang menutupi wajah, bahkan aku sampai menolak untuk membuka mata karena aku takut aku kembali berada di basemant lagi.
Aku menemukan tanganku yang gemetaran parah saat orang itu masih mengusap pelan pundakku.
"Nggak apa-apa Aretta. Aku ada di sini. Aku nggak bakal biarin kamu pergi lagi." Aku membuka mataku saat mendengar suara Aidan. Aku menoleh dan menemukan pria itu yang tengah menatapku dengan pandangan penuh cinta. Aku menyeka air mata dari pipiku meski masih belum bisa berhenti bergetar.
Aidan mendekatiku dan membantuku untuk duduk. Dia melakukan dengan pelan karena tidak mau aku merasa sakit yang sebenarnya tidak dia tahu bahwa aku tidak merasakan sakit jika berada di sekitarnya.
Aidan memeluk tubuhku yang lemah dan masih setia mengusap pundakku pelan. Dia menenangkanku sampai ketenangan perlahan mengambil alih tubuhku, "Semuanya bakal baik-baik saja," katanya meyakinkan.
Setelah keberadaanku ditemukan,aku langsung dibombardir dengan banyaknya pengunjung sekaligus. Ada Gio, Ana, Rafa, Rendi, juga Aidan yang selalu setia menemaniku. Mereka semua berkumpul di kamar inapku yang kecil itu dengan canggung sambil menatap tubuhku yang babak belur. Yang bahkan aku sendiri pun tidak bisa melihatnya, jadi pasti sulit juga bagi mereka untuk melihat keadaanku yang seperti ini. Aku banyak dibawakan hadiah, tapi tidak ada satupun yang menyebutkan bagaimana tentang Dewa dan ke mana dia pergi.
Aku menjadi sangat marah pada mereka semua saat mereka hanya terus bercanda dan beranggapan seolah-olah tidak ada yang terjadi. Seolah aku tidak terluka yang bahkan mungkin kejadian itu hampir membuatku gila. Bahkan disisa hari itu, tidak ada yang aku sampaikan pada mereka. Aku memilih untuk diam karena tampaknya mereka juga lebih nyaman seperti itu. Di sini hanya aku yang menjadi korban dan mereka tidak tahu efek apa yang dihasilkan dari kasus tersebut padaku.
Hari itu aku mengalami serangan panik lagi. Ini yang ketiga kalinya sejak aku rawat inap pertama kali. Setiap kali aku mengalami kejadian itu, Aidan akan otomatis memelukku dan memberitahuku bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Namun saat Aidan pergi, sebuah berita dari TV menayangkan soal kasusku. Pria itu ternyata didakwa telah melakukan penculikan, percobaan pemerkosaan, dan penyerangan dengan maksud untuk menyakiti. Tapi yang terburuk dari semua kasus tersebut adalah pembunuhan. Ternyata darah di kasur yang ada di basemant rumahnya itu cocok dengan DNA seorang gadis yang pernah dia jemput. Korban ditemukan di dasar tebing dengan dugaan bunuh diri, namun hasil darah dari kasur di basemant menunjukkan hal yang berbeda.
Mengetahui kabar ini malah membuatku terkena serangan panik lagi. Bagaimana jika hal itu terjadi padaku? Bagaimana jika apa yang terjadi diberita itu juga terjadi padaku? Mati mengenaskan terjatuh di dasar tebing tanpa tahu bagaimana dan dimana sebenarnya aku mati. Aku masih memikirkan banyak keburukan jika aku masih diculik saat Aidan datang lagi dan kembali menenangkanku.
Para dokter ternyata juga mengkhawatirkan kesehatan mentalku dan akhirnya aku dirujuk untuk mendapat pengobatan dari psikiater. Aku melakukannya, tetapi ternyata tidak ada gunanya sama sekali. Aku malah disuruh mengingat kembali kenangan paling menyakitkan itu, hal yang paling aku benci. Aku akhirnya memutuskan untuk hanya ingin fokus untuk keluar dari rumah sakit.
Konselor yang aku datangi juga sudah menyarankan berbagai solusi pengobatan. Dengan yoga bahkan sampai dengan metode kelompok seperti story telling, dan yang paling disarankan adalah pindah ke kota lain jika memang memungkinkan. Tapi sayangnya aku masih harus menyelesaikan sekolah dan lagi aku tidak mau meninggalkan Gio apalagi Aidan.
Aku akhirnya dipulangkan dengan banyak obat untuk menyembuhkan infeksi, tapi aku tidak dibawa ke rumah melainkan ke rumahnya Aidan. Aku bahkan sampai bertanya pada Gio dan pria itu hanya meminta agar kami tidak pernah berpisah lagi.
"Gue tahu lo bakal jagain adik gue." Hatiku menghangat seketika melihat betapa perhatiannya Gio. Rasanya pun aku enggan untuk meninggalkan dia.
"Ayo pulang," kata Aidan seolah kepergianku dari tempat ini untuk menuju ke rumahnya adalah satu hal yang wajar. Pria itu membawaku keluar menuju tempat mobilnya diparkir begitu perpisahan antara aku dengan Gio selesai. Dia mempersilahkanku masuk dan dia mulai mengemudi mobilnya dalam diam.
__ADS_1
Aku yang tidak betah berada dalam keheningan sontak mengatakan hal cukup agresif, "Aku cinta sama kamu," kataku lagi. Dia yang sudah sering mendengar aku mengatakan kalimat itu hanya tersenyum lebar sambil melirik ke arahku.
"Kamu mau sampai kapan bilang kayak gitu terus," ucapnya sambil meraih tanganku untuk dikecupnya.
"Sampai maut memisahkan."
"Kenapa ngomongnya begitu?" Sejak aku ditemukan pria itu menjadi orang yang paling anti dengan kata-kata yang berhubungan dengan kematian. Menurutnya hal itu tidak boleh dijadikan topik pembicaraan. Aku sendiri hanya mengedikkan bahu karena tidak mempunyai penjelasan lagi. Aku hanya ingin mengatakan hal yang sebenarnya karena kini aku sudah terlalu jauh jatuh ke dalam pesonanya.
Dia menuntunku masuk ke rumahnya. Proses penyembuhanku pasti membutuhkan waktu lama, aku harap pria ini betah dan memiliki kesabaran yang luar biasa dalam menghadapiku nanti. Apalagi aku sudah dalam tahap trauma yang parah, pastinya cukup memakan banyak waktu dan tenaga untuk menyembuhkanku.
-Epilog-
Aku terbangun dengan tubuh yang sudah dipenuhi keringat pada tengah malam. Jantungku berdegup sangat kencang dan air mata juga sudah menghiasi wajahku saat aku menyeka wajah. Aku kambuh.
Banyak hal yang bisa memicu serangan kecemasanku. Bisa dengan hanya melihat pasangan kekasih atau hanya dengan membaca berita soal tindak kriminal pemerkosaan.
Aku mulai menggigil, bahkan di udara panas yang sangat hangat. Aku tidak bisa menghilangkan begitu saja pikiran tentang kejadian itu karena semuanya seolah mengalir di kepalaku dan membuat laju jantungku berpacu lebih cepat. Sebuah jeritan hampir saja keluar dari bibirku, tetapi sosok itu tiba di sana tepat pada waktunya.
Aku merasakan lengan yang kuat dan hangat itu menarikku ke arahnya. Ketika dia membalikkan tubuhku agar kami saling berhadapan. Aku menatap mata cokelat itu sambil mengingat kembali ke hari pertemuan pertama setelah kasus penculikan itu.
Saat kami berbaring bersama, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya memberiku tatapan pengertian yang dalam. Melalui tatapan itu aku bisa mendapatkan kekuatan, aku juga mulai bisa melupakan kekambuhanku dan fokus pada tatapannya yang memandangku penuh cinta yang memuja. Pria itu selalu mencintaiku seperti yang dia janjikan. Perasaanya dan perlakuannya masih sama setiap harinya meski dua tahun sudah berlalu.
Setiap waktu dia selalu membantuku menghadapi kecemasanku dan selalu membantuku untuk sadar bahwa aku adalah sosok yang berharga. Dia pernah mengalami hal buruk juga, jadi dia tampak sangat berpengalaman ketika membantuku. Bahkan setelah dua tahun juga jantungku masih selalu berdebar saat dia ada di sekitarku. Ketika dia pulang kerja, atau menemuiku untuk makan siang, Aidan berhasil membuatku merasa seperti menjadi sosok yang paling istimewa di dunia. Setiap hari dia tidak pernah lupa mengatakan bahwa dia mencintaiku. Setiap pagi saat kami bangun dia juga selalu memastikan aku masih di sana, tidak pergi kemana-mana. Tampaknya dia juga mengalami mimpi buruk yang sama dan selalu berulang, tapi untungnya itu hanya mimpi.
Mungkin kedengarannya terlalu berlebihan, tapi keadaan kami memang seluar biasa itu karena kami berdua bukanlah pasangan normal. Aku yang mengalami kekejaman dan dia yang menyaksikan kekejaman.
Tidak peduli seberapa besar kami mencintai satu sama lain tapi tatapan yang dilontarkan orang lain itu selalu penuh dengan rasa kasihan atau terkadang tatapan yang dipenuhi rasa jijik seolah kami memang tidak boleh bersama. Awalnya terasa berat, setelah menyelesaikan sekolah Aidan membawaku pindah ke kota lain karena ternyata kondisiku sangat parah ketika aku harus berjalan di pertokoan atau bertemu dengan orang asing.
Aidan menjual bagiannya di Breeze kepada Gio. Dia bersikeras bahwa dia tidak menginginkannya atau membutuhkannya lagi, dan sekarang toko itu sudah menjadi milik dia ketika Oma juga meninggal. Aku tidak menghadiri pemakaman Oma karena saat ity aku masih belum pulih dan terpaksa untuk harus dikurung di lantai atas. Kejadian itu kembali menguji perasaan kami, tapi aku berusaha tetap berada di sisi Aidan untuk menguatkannya. Hal itu juga yang menjadikan Aidan mantap untuk pindah.
Hambatan yang kami hadapi malah membuat hubungan kami lebih kuat. Kami juga berhasil menghadapi semua masalah bersama-sama. Awalnya kami juga tidak yakin dengan kepindahan kami, bahkan saat itu kami tidak sempat memikirkan soal apakah aku berhasil lulus masuk universitas atau apakah dia akan mendapatkan kerjaan di sini dan juga soal tempat tinggal untuk kami berdua. Yang kami lakukan hanya kami ingin mencari tempat baru.
__ADS_1
Dan di sinilah kami. Hidup sebagai pasangan suami istri di rumah dengan halaman luas. Aku tidak berpikir kami akan bahagia dan kami ternyata berhasil bahagia. Aidan memiliki pekerjaan tetap dan aku berhasil masuk universitas negri dan memiliki toko bunga kecil-kecilan di depan rumah. Rasanya sangat sempurna.