Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Pertemuan dengan Pak Dewa


__ADS_3

Aku mengaduk-aduk makan malamku. Rasanya masih tidak percaya soal apa yang sudah terjadi. Soal Jess yang mengirimkan pesan di akunku yang terdaftar di situs sekolah. Soal ini aku sudah bisa menerka karena kami tidak pernah bertukar kontak jadi wajar. Juga soal dia yang memberitahu agar aku berhati-hati. Aku kira dia hanya gadis yang bisanya mencari masalah dan aku juga berpikir jika pesan darinya berupa ancaman. Tampaknya aku memang sudah salah paham dengan wanita itu.


"Aretta!" Gio memanggilku dan membuatku menjatuhkan sendok di meja, "kenapa?" Dia melambaikan tangannya ke depan wajahku untuk mencoba membuatku sadar.


"Huh?" jawabku linglung. Aku mencoba bersikap normal dan kembali melanjutkan makanku.


"Dari tadi ditanya kenapa  kok masih diam aja," kini Ana yang berbicara. Aku mencoba mengenyahkan pikiran yang menggangguku dan menoleh padanya sambil tersenyum.


"Gue cuma mikirin soal gue yang baru adaptasi buat pakai barang yang kalian berdua kasih." Kedua orang itu mengangguk paham. Mungkin alasanku memang terdengar tidak masuk akal, hanya saja mereka berdua tahu jika aku memang sangat perlu beradaptasi menggunakan kedua barang elektronik itu.


Kami kembali melanjutkan makan tapi kali ini aku sudah berhasil fokus dan ikut masuk ke dalam percakapan. Sana menceritakan jika dia tidak bisa menyelesaikan persiapan untuk acara besok jika sendiri.


"Lo butuh bantuan? Bilang aja kalau perlu, gue bakal langsung berangkat."


Tawaranku tentu saja langsung ditolak tegas oleh Gio.


Dia bersikeras agar aku tidak melakukan apapun untuk pestaku sendiri tapi aku juga tetap bersikeras karena aku tidak mau menjadi satu-satunya orang yang tidak melakukan apa-apa. Akhirnya perdebatan alot itu berakhir dengan kemenangan ku dan dia memintaku untuk berbelanja beberapa barang dan snack setelah makan malam.


Aku mencoba untuk tetap fokus selama sisa makan malam dan aku selalu berbohong setiap kali mereka menanyakan kenapa aku tampak tidak konsen.


Aku sudah beranjak untuk mencuci bekas makanku tapi dihentikan oleh Gio. Dia memberikan kertas yang berisi list belanja dan memintaku untuk segera pergi.


"Snacknya terserah lo yang penting masuk akal dan dapat diterima sama kita-kita. Bakal ada sekitar 10 orang yang datang jadi pastiin lo beli makanan yang banyak ya!" Aku segera meraih catatan dan bergegas mengambil hoodie di kamar kemudian berlari dengan penuh semangat untuk berbelanja. Ini akan jadi pengalaman pertama dimana aku berbelanja untuk merayakan pesta ulang tahunku.


Aku berhasil keluar dan udara malam langsung menyergapku. Rasanya segar terutama untuk musim hujan seperti ini. Saat itu hampir musim kemarau dan bertepatan dengan munculnya kuncup-kuncup bunga gaillardia dan aster yang sengaja di tanam di taman kecil depan gedung ini.


Aku tersenyum kecil dan kembali melanjutkan perjalanku sambil menyusuri jalanan setapak untuk menuju mini market di ujung jalan. Aku bahkan tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di tempat itu. Sangat luar biasa bisa tinggal di daerah yang  dekat dengan tempat berbelanja.


Aku melangkah masuk mengitari toko sambil membawa keranjang belanja. Tampaknya kali ini aku akan kalap karena tugas yang diberikan Gio. Mataku memindai segala macam makanan yabg terpajang di rak. Aku mengambil beberapa keripik, stik cokelat, dan minuman. Aku juga mengambil beberapa macam kacang-kacangan untuk menperlengkap pesta. Sulit untuk mengetahui apa-apa saja yang ada di dalam pesta karena aku sendiri belum pernah menghadiri pesta. Aku habya bergerak sesuai insting dan juga berkat referensi dari acara yang aku tonton di TV.


Setelah memutuskan semuanya, aku segera berjalan menuju kasir dan membayar semua barang-barang yang aku beli menggunakan uang yang diberikan oleh Gio. Pandangan kasir tampak tidak ramah saat melihat belanjaanku, mungkin dia berpikir jika aku tidak sanggup membayarnya, tapi apakah harus sampai seperti itu? Meski aku tidak mampu, dia juga tidak berhak menghakimi.

__ADS_1


Begitu dia menerima uang dariku, semua tatapan curiganya perlahan menghilang. Aku tidak marah, hanya kesal dengan oknum-oknum seperti ini. Orang-orang yang membuat pelanggan tidak nyaman hanya dengan tatapan mereka. Setelah semua selesai, aku langsung meraup lima plastik besar belanjaanku dan bergerak keluar. Tapi beban dari plastik itu membebani bahuku dan membuatku meringis. Aku memutuskan untuk mengirimkan chat pada Gio dan memintanya menjemputku. Pria itu sangat responsif dan menjawab ya sambil memintaku untuk menunggunya di bangku yang tersedia di depan toko. Dengan bersusah payah, akhirnya aku berhasil membawa barang ku ke sana. Aku duduk dan menunggu sambil menatap jalanan. Udara masih terasa sangat segar dan di atas sana aku dapat melihat bulan yang tertutupi awan berkabut.


Pikiranku kembali melayang lagi mengingat peringatan dari Jessica Aku masih tidak habis pikir soal dia yang tiba-tiba bersikap baik seperti itu. Pak Dewa adalah guru di sekolah dan tidak mungkin pihak sekolah akan diam saja ketika mereka mengetahui jika salah satu guru yang mengampu adalah kelompok mafia. Aku kembali bergidik saat pikiranku mengembara ke pertemuanku dengan Pak Dewa. Hanya membayangkan saja sudah membuatku bergidik dan pemikiran untuk membersihkan diri kembali menyerangku.


Aku masih menunduk ketika bayangan bulan di atas sana mulai berubah menggelap dan sebuah bayangan juga menyelimutiku, "Malam Aretta. Ternyata kamu emang nggak bisa lakukan apapun sendiri, ya?" Atmosfer di sekitarku perlahan berubah. Leherku langsung otomatis mendongak dan menemukan pria itu sudah berdiri di depanku. Aku berniat berdiri dan berlari menuju rumah. Aku juga sudah meraih semua belanjaanku dan berpikir semua beban ini akan sangat mudah aku bawa jika aku berada di posisi terdesak macam ini. Aku sedang mengumpulkan barangku ketika merasa sesuatu mendorongku dan itu adalah Pak Dewa yang memaksaku untuk duduk kembali di tempatku. Aku terduduk dan dia masih berdiri menjulang di depanku. Siluetnya yang menutupi sinar bulan tampak menakutkan.


"Mau kemana? Kamu nggak mau ngobrol dulu? Saya udah nggak lihat karnu dua hari ini!" Dia menekankan kata mengobrol dan aku tahu bukan obrolan seperti biasa yang ingin dia lakukan. Dia pasti ingin melakukan hal lain. Dia memenjarakanku dan memastikan agar aku tidak kabur. Sedangkan aku sendiri masih memeluk erat barang-barangku karena tahu jika ada celah aku akan langsung berlari Dia duduk di sampingku dan memastikan jika jarak kami cukup dekat sampai dia bisa menempelkan pahanya ke pahaku Aku merasa diriku kotor. Sedangkan dia merasa tidak berdosa sama sekali.


"Mau lo apa sih?" Aku berkata lantang dan dia tampak terkejut dengan tindakan tidak sopanku.


"Aretta. Kamu nggak boleh kasar kayak gitu "Dia meletakan lengannya ke lenganku yang malah membuatku semakin jijik. Lengan kemejannya sedikit ketarik dan memperlihatkan tatonya yang seolah memang sengaja dia tunjukan untuk memberitahuku jika dia bukan orang biasa.


Aku sudah tidak mau melirik tangan kotornya itu "Kamu yang paling tahu apa yang saya mau, Aretta." Dia berbicara dengan nada pelan dan lembut tapi sayang itu tidak akan berhasil untukku yang sudah kelewat jijik dengannya.


Aku langsung berdiri dengan cepat dan menatapnya tajam. "Gue nggak tahu apa yang lo mau! Gue nggak pernah


ganggu lo jadi lo juga nggak berhak buat ganggu gue. Gue nggak suka sama lo dan gue ngerasa keganggu sama sikap lo. Lo emang guru gue dan harusnya lo bisa bertingkah selayaknya guru. Kalaupun lo butuh sesuatu dari gue, lo bisa bilang tanpa harus bersikap menjijikan kayak gini?"


Tampaknya nasib baik masih berpihak padaku karena saat aku benar-benar merasa tidak sanggup lagi menghadapi Pak Dewa, Gio muncul sambil membawa mobilnya kemudian berhenti di dekat kami. Dia menurunkan kaca jendelanya dan melongokkan kepalanya keluar untuk melihat apa yang terjadi.


"Aretta! Cepat masuk, Ana udah nunggu di rumah." Aku memandang Pak Dewa ketika dia melirik padaku dan Gio. Kesempatan itu aku gunakan untuk melipir dan memasukkan baranh-barangku ke dalam mobil lalu melompat masuk ke kursi penumpang.


Sebelum aku menutup pintu dia mengucapkan selamat tinggal yang tidak aku gubris. Dan untungnya Gio langsung pergi tanpa menyadari jika ada hal aneh yang terjadi barusan.


"Siapa tadi? Dia kelihatan tua buat dibilang teman." Aku memutar mataku. Terkadang Gio memang bisa kelewat bodoh. Apa dia tidak bisa melihat tatapan tajam dan jijik yang aku layangkan pada pria itu? Jika iya, harusnya dia tidak berpikir jika kami berteman.


"Bukan teman gue," jawabku malas dan berharap perjalanan segera berakhir karena aku enggan ditanya lebih banyak.


"Jadi...." Dia sengaja memotong kalimatnya, "dia cowok lo?" godanya. Aku mendelik tidak percaya soal pemikiran absurd yang tercipta di kepalanya. Kenapa bisa dia berpikiran seperti itu.


'Becanda ya lo. Nggak sudi gue pacaran sama orang kayak gitu meski cowok di dunia tinggal dia doang. Dia itu satu-satunya manusia yang nggak gue harapon buat ketemu lagi, apalagi di tempat remang-remang kayak tadi."

__ADS_1


"Bagus deh. Gue juga nggak terlalu suka sama dia," ucapnya sambil mengangguk-anggukan kepala, "tapi si Aidan baik," komentarnya, "gue setuju kalau lo pacaran sama dia. Kayaknya dia juga suka sama lo." Aku mengerang pelan dengan kalimat aneh yang keluar dari mulut si Gio.


"Stop it! Gue bisa cari pacar sendiri. Lagian si Aidan itu nggak suka sama gue. Lo salah paham," karena gue muridnya, lanjutku dalam hati.


"Okaaay," lanjutnya, dan kalimatnya itu berhasil membuatku mengerang kesal. Untungnya saja perjalanan berakhir ketika dia menghentikan mobil di depan gedung.


Gio langsung mengambil barang-barang di kursi belakang dan mengatakn jika itu pekerjaan yabg memang harus dilakukan oleh pria. Jadi, dia melarangku untuk ikut membantu.


Pintu terbuka dan aku diam-diam langsung bergegas menuju kamar mandi lalu menyalakan shower. Setiap kali aku disentuh Pak Dewa, tau berada dalam jarak dekat dengan pria itu rasa ingin membersihkan diri selalu mampir. Aku merasa perlu membersihkan diri dan menggosok tubuhku agar sisa aroma kehadiran orang itu menguap pergi.


Pak Dewa merupakan manusia terbajingan yang pernah aku kenal. Aku lebih memilih dia menghajarku atau memukulku daripada aku harus menerima pelecehan seperti itu lagi.


Di bawah guyuran air, aku menggosok kulitku hingga memerah membuatnya menjadi sedikit perih. Setelah merasa cukup bersih, aku kembali membiarkan aliran air itu mengaliri tubuhku. Aku segera keluar setelah selesau dan tidak mau memikirkan hal ini berlarut-larut agar besok aku bisa mengikuti party yaang akan diadakan oleh Gio dan Ana.


Ketika aku keluar dari kamar mandi, aku melihat kedua orang itu sedang sibuk di dapur.


"Lagi ngapain?" tanyaku penuh rasa ingin tahu. Gio bukan tipikal manusia yang akan tinggal lama di dapyr, tapi saat melihat dia yang tengah mengenakan celemek membuatku heran.


"No! Balik ke kamar lo sekarang! Lo nggam boleh ada di sini!" serunya heboh. Dia bahkan mendorongku agar segera pergi dan memasukkanku ke dalam kamar.


"Night. Semoga mimpi indah," katanya lembut lalu membanting pintu kamarku.


Rasanya aneh saat membayangkan ulang tahunku akan dirayakan besok. Aku sudah bertahun-tahun tidak merayakan ulang tahunku sejak sebelum Papa pergi. Jika aku dapat menghitung kembali kue yang pernah aku miliki, itu adalah angka yang dapat bisa aku hitung dengan menggunakan satu tangan.


Aku segera memutuskan untuk tidur karena hari yang sudah kelewat malam. Lagipula aku berencanan untuk tidak bolos sekolah.


Aku berjalan ke jendela untuk menutup tirai, tetapi gerakan di luar menarik perhatianku. Aku memfokuskan pandangaku ke sosok kecil di trotoar jalan. Orang itu menatap ke atas. Rambut hitam legamnya dan mata tajam itu tampak bersinar cerah. Walaupun itu malam dan cahaya bulan masih tersembunyi di balik kabut tapu aku bisa menerka siapa sosok itu. Dia Pak Dewa yang berdiri di sana memperhatikan tempatku sambil menyeringai jahat. Kini dia tahu dimana aku tinggal.


Aku segera menutup gorden dengan cepat bahkan kaitannya saja hampir terlepas karena kecepatan gerakanku. Aku juga berlari ke tempat tidur dan langsung menyembunyikan tubuhku di bawah selimut. Tubuhku bergetar. Jika dia tahu dimana aku tinggal, apa dia akan tetap berusaha untuk mendekatiku?  Tapi dia tidak mungkin melakukan hal itu di rumahku?


Namun aku kembali mengingat soal dia yang menginginkanku. Rasanya mustahil dia akan berhenti sebelum dia berhasil mendapatkanku.

__ADS_1


__ADS_2