
Aidan POV
Wanita itu berbeda. Aku tidak bisa yakin 100% tapi rasanya aku dapat mengerti apa yang diinginkan wanita itu dan dia juga tampak dapat dipercaya. Aku melihatnya berlari dan sedikit tersenyum menyaksikan dia yang tampak bebas. Dia seperti seekor burung yang bisa terbang jauh hanya dengan berlari. Raut wajahnya terlihat tampak bahagia, sebelum aku menyaksikan lututnya meluruh dan dia jatuh pingsan di lapangan.
Semua anak mengerubunginya dan menatap tubuh rapuh yang terkapar di lantai. Rendi, salah satu murid yang ku ampu ikut duduk di sampingnya. Bocah itu mencoba untuk membangunkan wanita itu, tapi tidak berhasil.
Aku bergegas mendekat dan siswa lainnya segera pergi memberi jalan. Bagaimana bisa semua anak di sini tumbuh dengan sikap individualisme yang sangat kental seperti itu. Walau tidak akrab mereka itu teman dan apa sesulit itu untuk membantu teman yang pingsan. Sikap egois mereka benar-benar tidak mencerminkan adanya jiwa sosial. Dari yang aku lihat dan aku pelajari, kehidupan anak sekolah zaman sekarang teramat ngeri. Beberapa bertingkah sok jagoan dan beberapa lagi hanya bisa menerima nasib sebagai objek bullying. Seperti yang terjadi pada Aretta. Luka memar Yang kulihat pagi itu di kafe sudah menjadi sebuah buktinya. Dia mengatakan jika itu karena dia jatuh, tapi hasil pengamatanku mengatakan tidak. Aku masih belum menemukan bukti yang pasti dan masih belum menemukan tersangka yang terlibat dengan kasus bullying yang menimpanya.
Dari yang aku tahu, dia hanyalah siswi baru di sekolah dan rasanya tidak mungkin jika di minggu pertama dia sudah mendapatkan penindasan dari teman-temannya.
Aku menghela nafas kasar saat melihat kerumunan itu berangsur bubar. setelah menyelesaikan olahraga, murid-murid yang lain segera bergegas kembali ke ruang ganti untuk mandi dan bebersih. Sementara itu, aku dan Rendi masih berusaha membangunkan Aretta.
"Aretta? Kamu bisa dengar saya?" panggilku pelan sambil menggoyang bahunya.
"Aretta! Ret! Bangun!" seru Rendi, suaranya lembut dan entah kenapa aku merasakan adanya sesuatu yang menusuk ke hatiku. Aku tidak cemburu kan? Tentu saja tidak. Dia hanya murid yang kebetulan aku mengenalnya. Lagipula Rendi dan Aretta sepertinya bukan pasangan yang cocok.
"Apa dia udah makan?" tanyaku pada Rendi, "apa makannya banyak?"
__ADS_1
Rendi menatap Aretta sebelum menjawab pertanyaanku, "Kayaknya enggak Pak. Tulang tangan dan sikunya kelihatan menonjol soalnya."
Aku memeriksa tangan dan sikunya. Mereka tidak tampak seperti itu.
"Karena dokter sekolah libur ruang UKS jadinya dikunci. Saya mau minta tolong sama kamu buat bantu angkat Aretta ke ruangan saya buat istirahat sementara waktu. Saya mau pastiin dia sadar dan makan sesuatu," putusku.
Rendi mengangguk dan saat itu bertepatan dengan bel tanda mulainya kelas berbunyi. Kami bergegas untuk bergerak lebih cepat dan untungnya saat itu lapangan tengah sepi, jadi tidak ada mata yang memandang curiga pada kami. Aku meminimalisir agar dia tidak mendapat gosip buruk. Hidupnya sudah sangat sulit sepertinya dan aku tidak mau menambah kesulitannya dia lagi.
Setelah membuatnya terbaring nyaman di sofa, aku segera menatap Rendi, "Kamu bisa balik ke kelas karena kita nggak bakal tahu kapan dia bakal siuman." Rendi mengangguk dan menatapku seolah menitipkan wanita itu padaku.
Sebagai konselor, aku memang sudah dilatih untuk menemukan anak-anak yang bermasalah. Tapi saat melihat Aretta aku tidak mendapati jika gadis itu bermasalah. Dan jika dilihat dari dekat aku baru menyadari jika dia memang telihat sangat bermasalah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aretta POV
Aku dapat mendengar suara pena yang berbunyi klik jauh sebelum aku menutuskan untuk membuka mata. Bunyi itu berkali-kali terdengar dan hampir membuatku terlelap kembali dan setelahnya aku menyadari jika aku tidak sendiri di ruangan ini. Aku belum membuka mataku karena rasa pening itu masih bersarang.
__ADS_1
Aku yang salah, saharusnya aku segera mengisi perutku terlebih dahulu sebelum jam olahraga di mulai. Karena keteledoranku akhirnya membuatku tumbang dan malah membuat repot orang-orang. Aku sengaja memilih berlari untuk membantu menghilangkan lemak yang ada di tubuhku, tapi dalam keadaan perut kosong itu sama saja bunuh diri.
Aku harusnya mengambil keputusan yang bijak saat Rendi mengatakan aku tidak boleh bersikap mencurigakan di depan Pak Aidan. Tapi sayangnya karena aku sudah terlanjur pingsan pasti Pak Aidan sudah menjadikanku target untuk diselidiki. Untuk sekarang aku hanya bisa berharap ketika aku membuka mataku tidak ada yang akan berubah dan Pak Aidan pun juga tidak ada niatan untuk mengetahui apa yang sudah terjadi denganku lebih lanjut
Kasus bullying memang mengerikan, tapi aku tidak mau ada campur tangan lagi dari guru karena mereka sama sekali tidak membantu dari pengalamanku yang sudah-sudah. Mereka hanya bertanya untuk formalitas tanpa mau membantu untuk menguak lebih dalam. Aku yang notabennya sebagai korban tidak mendapatkan perlindungan yang semestinya malah semakin disalahkan. Dan semenjak itu aku hanya menahan semua bullying yang aku terima. Baik dari temanku maupun dari orang rumah. Sampai akhirnya berita tentang tidak baiknya perlakuan yang aku terima dari rumah menyebar ke sekolah. Pihak sekolah ingin melaporkan kasusku ke Komnas HAM, tapi Mama sudah lebih dulu mengambil keputusan mencabutku dari sekolah dan membawaku pindah. Dan di sinilah kami saat ini.
Aku sudah merasa baikan dan perlahan mulai membuka mataku. Aku mengedipkan mataku berkali-kali karena sinar matahari yang menyilaukan. Gerakanku sepertinya menarik perhatian seseorang. Suara bunyi klik itu sudah berhenti dan berganti dengan bunyi kursi yang berderit dan suara langkah mendekat ke arahku.
Aku beranjak bangun dari rebahanku dan duduk bersandar di sofa dan dibantu oleh Pak Aidan. Gerakan sepelan itu saja masih tetap membuat kepalaku berputar.
"Kamu tahu kalau aku itu guru BK kan Aretta?" katanya. Suaranya sangat pelan bahkan menurutku itu bisa disebut jika dia sedang berbisik.
Pak Aidan masih menahan lenganku memastikanku agar aku tidak terjatuh. Aku tidak menjawab pertanyaannya dan dia pasti menyimpulkan jika aku tahu siapa dia sebenarnya.
"Aku harus buat laporan tentang kasus kamu." Dia berkata seperti itu sambil menghela nafas berat, "tapi kayaknya itu nggak bakal banyak bantu kamu. Aku udah nyari keputusan terbaik soal apa yang bisa aku buat dan sampai sekarang aku belum nemuin," ucapnya sambil membetulkan posisi duduknya. Dia memastikanku tetap nyaman dan tidak jatuh meski dia tidak menahanku lagi. setelah memastikanku baik-baik saja,
dia segera bergegas menuju meja kerjanya dan mulai mencari sesuatu di tumpukan kertas yang ada di sana. Pak Aidan mendesah pelan beberapa kali dan tampak mengernyit ketika membaca sesuatu. Aku tidak tahu jika guruku yang sekarang akan berusaha sekeras ini untuk membantu meskipun aku tidak pernah meminta.
__ADS_1