Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Pulang


__ADS_3

"Stop it!" selaku berusaha menghentikan Gio yang mulau tampak putus asa. Aku bersyukur dia ternyata benar-benar sudah berubah dan juga menyayangiku, tapi ini semua bukan kesalahannya dan aku tidak mau dia seperti itu.


"Gue baik-baik ajae!Lihat! Gye nggak pernah nyalahin lo atas semua hal yabg udah terjadu. Gue malah beryukur karena kali ini ada lo yang bantu gue. Jadi, bisa kan kita nggak bahas lagi soal itu. Gue bosen kalau bahas hal itu dan lagi, gue juga lapar."


Aku mengatakan itu sambil tersenyum ringan. Sekarang beban yang ada di pundakku sudah terangkat dan tidak ada lagi rasa berat yang mengganjal. Dan tampaknya kalimatku tadi berhasil memperbaiki situasi karena suasana dibruangan itu kembali menghangat. Gio menyeka matanya dan menenangkan diri setelah kujelaskan soal tadi.


"Okei. Kalau gitu lo mau makan apa adik tersayang gue?" Dia menyeringai dan berdiri.


Aku meminta Gio pergi untuk membelikanku makanan di Daia kafe. Entah kenapa aku mulai merindukan makanan di tempat itu setelah dua minggu ini terus sibuk berkutat menyelesaikan renovasi rumah baru.


Dan satu lagi. Aku jelas tidak menuruti perkataan Aidan karena setelahnya, perlahan-lahan aku mencoba turun dari tempat tidur dambil terus mengabaikan rasa sakit yang mendera. Aku menumpukan kedua kakiku ke lantai dan mulai berjalan meski masih terhuyung menuju dapur. Walau sulit pada akhirnya aku berhasil menopang tubuhku untuk terus berjalan.


Hanya dengan berjalan seperti ini saja aku merasakan jika aku bisa jadi lebih mandiri. Aku juga bida mengambil minum untuk diriju sendiri serta bisa pergi ke toilet tanpa harus ada orang yang menungguku di luar pintu. Aku pun bisa berjalan menuju ruang kerja Aidan atau duduk di sofa besar yang dia letakkan di sana. Mataku memindai ruangan itu. Dokumen-dokumen yang pernah berserakan itu sudah tidak tersisa lagi. Mereka  mungkin sudah diajukan atau dibersihkan jika tidak dibutuhkan. Aku jadi bisa melihat lantai yang juga diselimuti karpet.


Puas menatap, aku beralih untuk meraih gitar yang di balik pintu yang pernah kumainkan sebelumnya. Aku mulai memetik nada dan aku tidak begitu yakin lagu apa yang sedang aku mainkan. Hanya saja rasanya senang ketika aku bisa memetik gitar Kembali.


Aku terhanyut sendiri dalam duniaku berkat gitar milik Aidan yang aku mainkan. Mungkin aku terlalu fokus dengan permainanku hingga tidak mendengar pintu terbuka dan tertutup kembali, serta suara langkah kaki yang menapaki lantai.


"Bukannya tadi aku udah kasih pesan ke kamu kalau kamu harus istirahat. Dan istirahat yang aku maksud itu tidur di tempat tidur." Aidan mengejutkanku dengan berdiri di dekat pintu. Pria itu bersedekah sambil menatapku lekat.

__ADS_1


"Kan aku juga bosan tiduran Mulu," selorohku. Aku memang sakit, hanya jika jika disuruh tiduran terus-menerus aku juga bosan.


Aidan menggeleng, pria itu mendekat, "Kamu mau apa," seruku pelan.


"Lihat aja," ucapnya sebelum meletakkan lengannya di bawah lutut dan pundakku kemudian meraup tubuhku untuk digendongnya. Aku membeku saat aku menyadari jika wajahku menempel di dadanya. Seruan napasnya mengenai wajahku ketika dia membawaku kembali menuju kamar.


Aku ingin melawan hanya saja kekuatan kami sangat berbeda. Yang bisa aku lakukan hanya menurut ketika dia kembali meletakanku ke tempat tidurnya dengan lembut. Dia berusaha agar tidak menyakitiku.


Aku mendengus dan Aidan hanya terkekeh sambil melepaskan tangannya. Dia berjalan ke sisi lain tempat tidur dan merebahkan tubuhnya juga di sana. Kelakuannya membuat tubuhku terpental sedikit dan aku berteriak ketika rasa nyeri itu menyebar.


"Sorry. Sorry Aretta." Dia berkata sinis dan membuatku semakin merenggut padanya. Aidan sengaja.


Aidan hanya terkekeh dan menyampingkan tubuhnya agar dapat berhadapan denganku, "Kenapa responnya begitu? Kamu harus istirahat lebih awal supaya cepat sembuh. Aku bakal bangunin kalau Gio udah datang." Dia memintaku sambil menepuk bantal kosong yang sudah aku gunakan.


Hal itu membuatku langsung memprotes dirinya keras. Aku sudah banyak tidur dan sudah mulai overdosis karena terlalu lama memejamkan mata. Memang begitu niatku, tapi ternyata berdebat dengan Aidan malah membuatku mengantuk. Aku memejamkan mataku sejenak dan mulai terlelap. Hanya saja aku tidak benar-benar tertidur lelap. Aku berada di fase antara sadar dan tidak tapi tetap bisa tahu apa yang sedang terjadi di dunia nyata.


Jiwaku ingin bangun tapi tubuhku menolak. Itu sebabnya ketika Aidan berbisik aku bisa mengerti.


"Rasanya aku udah terbiasa." Entah kenapa kalimat ambigunya malah kupahami.

__ADS_1


Aku menginap di rumah Aidan lagi. Kali ini dia benar-benar memperhatikanku sehingga aku tidak lagi berkeliaran seperti sebelum-sebelumnya. Aku juga mendapat kunjungan dari Rendi dan Rafa. Jangan tanya bagaimana mereka bisa tahu dimana posisiku sekarang karena mereka bertiga tampak sudah akrab. Rafa bercerita jika dia bertanya langsung pada Aidan yang mengunjungi Daus tanpa adanya aku dan sontak saja pria itu langsung memberitahu tentang kondisiku dan dimana aku tinggal sekarang. Untungnya dia tidak bercerita tentang apa yang sudah menimpaku.


Awalnya mereka berdua bingung ketika dibawa ke rumah Aidan. Aku juga aku bertingkah sama jika berada di posisi mereka. Memang siapa yang tidak bingung ketika tahu teman kalian tinggal bersama guru kalian sendiri. Itu hal yang tidak baik untuk ditiru.


Mereka menghabiskan cukup banyak waktu disini. Aku bersyukur karena kali ini aku memiliki teman yang akan mendatangiku ketika aku sakit.


Sudah dua hari dua malam aku menginap di rumah Aidan dan dua hari lagi liburan sekolah pun selesai. Aku memutuskan untuk pulang karena memang sudah waktunya. Toh, kondisiku juga sudah lebih baik berkat keprotektifan Aidan. Akhirnya tiba saatnya aku tinggal di rumah baru.


Gio datang menjemputmu. Dia juga membawa barang-barangku ke mobil karena menurut dia aku masih dalam kondisi lemah dan tidak kuat untuk membawa barang itu. Gio pergi lebih dulu ke parkiran dan kini hanya tinggal aku dan Aidan.


Entah mendapat dari mana keberanian itu, aku tiba-tiba saja maju untuk memeluk Aidan. Tidak kusangka jika dia juga membalas pelukanku tidak kalah eratnya. Aku bisa merasakan berat tangannya di punggungku. Aku menyukai ini, tapi sayangnya aku harus segera melepaskan pelukan kami sebelum Gio datang. Gio masih belum menyadari jika pria ini adalah guruku dan aku merasa sedikit aman karena itu.


"Terima kasih," kataku. Ucapan itu bukan hanya karena dibiarkan tinggal di rumahnya, tapi juga karena dia sudah Sudi untuk merawatku sepanjang malam di kondisi terburukku.


Aidan mengangguk dan tersenyum sedih. Aku sendiri terkekeh melihat aksinya. Tidak cocok.


"Sampai ketemu Senin besok," ucapku, mencoba mencairkan suasana.


Gio kembali dan pamit untuk membawaku pulang. Aku melambai pada Aidan ketika mobil milik Gio perlahan menjauh. Rasanya sedih padahal dua hari lagi aku bisa bertemu dengan pria itu.

__ADS_1


__ADS_2