Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Reyes


__ADS_3

Aku terkekeh dan memasukkan kembali ponselku ke saku. Kami duduk di sana dalam keheningan dan dia memainkan game di ponselnya dengan aku yang menyaksikannya dari samping.


"Lo tahu password WiFi sekolah?" tanyaku saat dia mulai login masuk ke dalam sosial media miliknya.


"Iya. Kuota gue nipis jadi Wifian gratis. Gabut soalnya kalau nggak ada internet." Aku hanya mengangguk dan tidak banyak berkomentar karena sebenarnya tidak semenakutkan itu hidup tanpa internet.


"Gue boleh nggak numpang searching bentar?" tanyaku, dan dia mengangguk mempersilahkanku meminjam ponselnya.


Aku mengetikkan kata 'Reyes' di mesin pencarian. Sudah lama aku penasaran dengan artinya dan baru kali ini aku berkesempatan untuk mencari tahu. Kata itu adalah kata yang tergambar di tangan Pak Dewa dan membuatku sangat penasaran.


Reyes merupakan bahasa Spanyol yang berarti Raja. Aku mengernyitkan dahi, kenapa dia menggunakan bahasa Spanyol, padahal king juga sudah bagus jika dibuat tato. Aku mengedikkan bahu tidak peduli dan langsung mengembalikkan ponsel milik Rafa.


"Lo search apaan sih. Reyes? Kenapa cari tahu soal ini," tanyanya.


"Penasaran aja tapi bagus ternyata ya artinya."


Rafa mengangguk dan kembali menyodorkan ponselnya padaku. Kali ini pencarian tentang siapa itu Reyes. Aku membaca tulisan yang ada di situ.


Reyes merupakan organisasi gelap yang kini sudah menyebar ke Indonesia. Banyak orang yang sudah tergabung dan mereka memiliki tanda sebuah tato bergambar ular yang melingkar di pergelangan tangan dengan tulisan Reyes yang seolah dilindungi oleh ular tersebut. Biasanya tanda ini hanya digunakan untuk para petinggi setelah menjadi anggota selama 5 tahun.

__ADS_1


Sudah banyak kasus yang menyeret nama kelompok ini, mulai dari pemerkosaan, pencurian, pembunuhan, dan masih banyak lagi.


Setelah membaca artikel itu tubuhku tiba-tiba menjadi lemas.


"Ini berita dua tahun lalu, tapi karena tato Reyes populer jadi susah banget buat ngebedain yang mana yang benar-benar anggota asli. Oh, satu lagi dari yang gue dengar mereka juga suka deketin gadis muda buat dijadiin pacar," ucap Rafa.


Apa aku harus merasa lega? Tapi jika kenyataannya malah membuktikan sebaliknya bagaimana? Berarti Pak Dewa sangat berbahaya. Dia termasuk petinggi di organisasi itu.


Pantas saja aku merasa resah akhir-akhir ini meski gangguan masih rutin aku dapatkan. Ternyata aku sudah terjebak ke dalam permasalahan yang lebih besar. Aku terjebak dengan anggota geng yang sudah dapat dipastikan kehidupanku untuk kedepannya tidak akan berjalan aman.


Aku kira aku sudah bisa berhasil kabur, jika seperti ini berarti aku harus kembali bekerja lebih keras. Aku juga harus mengumpulkan banyak uang agar aku dapat kabur ke luar negri dan hidup dengan nyaman. Aku tidak mau hanya pasrah dan menunggu waktu hingga aku menjadi target mereka selanjutnya.


"Lumayan. Tapi karena berita mereka tertimbun sama berita politik, eksistensi mereka juga ikut terlupakan. Yang gue dengar sih beberapa orang udah sampai kota ini tapi nggak usah khawatir Indonesia punya banyak penduduk dan prestasi ketemu sama mereka itu kayak nyari jarum di jemari. Jangan terlalu dipikirin."


Dia bisa berkata setenang itu karena dia tidak tahu. Apa aku harus menceritakan soal Pak Dewa? Hati dan pikiranku saling beragumen apakah aku harus memberitahu Rafa atau tidak. Namun kami baru saja berteman dan jika aku langsung memberitahunya soal ini, mau tidak mau dia menjadi terlibat. Aku tidak akan mau menempatkan temanku ke posisi yang berbahaya.


"Iya. Gue cuma shock aja."


"Harusnya sih lo udah tahu. Emang nggak ada yang cerita?"

__ADS_1


Aku menggeleng. Mereka semua terlihat sulit di dekati dan aku juga tidak memiliki banyak kekuatan untuk berbaur dengan mereka. Untuk bertahan di sekolah ini saja aku benar-benar harus menguras diriku agar tetap sehat dan waras.


"Kayaknya udahan deh. Ayo masuk ke kelas." Aku langsung berdiri meninggalkan Rafa.


Kakiku melangkah pelan menuju kelas dan mengetuk lalu masuk ke dalam. Aku menemukan Jess yang kini tengah berdiri di samping meja Pak Dewa. Penampilan mereka lebih berantskan dengan banyaknya jejak-jejak keringat yang mengaliri pelipis keduanya. Baik Pak Dewa dan Jess sama-sama merenggut ketika tahu jika aku lagi yang mengganggu kegiatan nikmat mereka. Aku tidak salah karena ini sekolahan bukan ruangan khusus bercinta.


Tatapan tajam yang dilayangkan mereka bagai bilah pedang yang kapan saja akan selalu siap menghunusku. Aku mengabaikan mereka dan langsung bergegas duduk di kursiku. Jess sudah merangsek maju, wanita itu sepertinya ingin menghajarku tapi langsung dia urungkan ketika melihat Rafa dan beberapa anak lainnya ikut memasuki kelas. Tepat ketika itu juga Pak Dewa langsung memasang senyum profesional penuh kepalsuan dan hal itu juga dibarengi dengan Jess yang berjalan untuk duduk di tempatnya.


Kemudian satu persatu para murid masuk. Sepertinya niat awal Pak Dewa menjadi bumerang sendiri untuknya. Setelahnya membuat mereka kembali semangat kini dia bingung sendiri bagaimana caranya agar mereka tentang. Para murid mulai sibuk berbicara satu sama lain dan hal itu berakhir dengan dibatalkannya ulangan yang sudah dia umumkan Minggu lalu.


Pak Dewa membagikan kertas hasil ulangan Minggu lalu. Beberapa anak tampak gembira melihat nilai hasil ulangan mereka. Bagus untuk mereka tapi tidak untukku ketika kini hanya tinggal satu kertas yang tersisa di tangannya.


Pak Dewa melangkah menuju tempatku dan membanting kertas itu ke atas meja.


"Saya kecewa dengan hasil ulangan milik kamu Aretta," ucapnya keras dan berhasil membuat semua mata menatapku.


Aku melihat ke bawah. Nilai F menghiasi kertas milikku. Tidak dipungkiri karena kemarin aku memang tidak bisa menjawab soal yang dia berikan. Aku meraih soal tersebut dan mataku langsung membola begitu tahu jika soal ini berbeda dengan soal yang dia berikan kemarin. Sepertinya dia sengaja melakukan itu dan mencontek tulisan tanganku agar dia tidak dicurigai. Aku meremas kertas tersebut dengan amarah yang meluap.


"Lo juga dapat jelek?" Aku menoleh ke arah Rafa. Dia hanya meringis, "gue juga." Tidak mungkin Rafa juga mendapat soal yang berbeda, aku tidak mau membahas hal itu dan hanya bisa membalas kalimatnya dengan senyum prihatin.

__ADS_1


"Kayaknya kita harus belajar bareng," usulku. Dia langsung mengangguk penuh semangat.


__ADS_2