Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Tangisan Pilu


__ADS_3

Aku tidak meringkuk lama di lantai karena ketika aku tubuh, ada sepasang tangan yang menahannya. Tangan yang menarikku masuk ke dalam pelukannya dan tangan yang membantu menenangkanku dikala emosi besar menguasaiku.


"Aretta," bisik suara itu dan itu milik Aidan, "dia udah pergi." Aku membuka mataku dan menemukan Aidan yang menatapku penuh kekhawatiran.


Kenapa? Kenapa malah Aidan yang tinggal? Apakah semua hal yang aku ceritakan tadi hanya angin lalu yang tidak perlu didengar oleh Papa. Apa menurutnya kehidupanku ini hanya sebuah lelucon sehingga apa yang aku alami seperti suatu hal yang wajar dan tidak perlu dibesar-besarkan. Kenapa aku merasa jika aku memang tidak diinginkan oleh siapapun. Semengenaskan inikah hidup yang sudah diatur untukku?


Aku menangis pilu masih tidak terima dengan keadaan ini. Aidan masih di sini memelukku dan menenangkanku yang masih terisak parah. Hampir sepuluh menit aku menangis di dalam pelukannya dan ketika aku merasa tenang, dengan cepat aku melepaskan diri dari Aidan. Aku menatap ke sekeliling ruangan. Kami masih ada di laboratorium tempat terakhir kali kami berkumpul dengan anggota yang lainnya, tapi sayangnya kini hanya ada aku dan Aidan karena rombongan yang lain sudah pergi menuju tujuan berikutnya.


Aidan pasti menilaiku sebagai sosok yang menyedihkan. Padahal aku sudah sudah payah menyembunyikan soal rusaknya kehidupanku, tapi semuanya sia-sia ketika aku kembali bertemu Papa. Hal yang seharusnya menjadi rahasia sudah terbongkar dan itu di depan Aidan, guruku sendiri.


Aku masih menunduk. Masih belum siap mendapat tatapan kasihan dari Aidan dan bertepatan dengan itu, dia mengulurkan tangannya untuk menyeka air mata yang jatuh ke pipiku.


"Aretta," bisiknya teramat pelan, "lihat aku." Dia menuntut dengan lembut yang sontak membuatku menurut. Aku menatap wajahnya dan dia tertegun mendapat tatapan itu.


"Aku ada di sini." Dia kembali meyakinkanku. Bukan tatapan kasihan atau prihatin, tapi tatapan lembut yang dia berikan padaku. Tatapan yang mengatakan jika semua akan baik-baik saja dan hal itu benar-benar membuatku lega.

__ADS_1


Aku lega karena kali ini aku tidak sendirian. Ada orang lain yang mau membantu dan mengulurkan tangannya padaku, padahal aku tidak pernah meminta.


"Aku di sini Aretta," bisiknya lagi sambil memelukku erat.


***


Aku sudah merasa baikan dan segera mengajaknya untuk berdiri dari tempat. Kami tidak mungkin berpelukkan dalam waktu yang lama karena selain ruang ini bukan milik kami, posisi seperti itu juga tidak nyaman jika dilakukan dalam waktu yang lama.


Aku yang pertama kali bangkit dan kemudian Aidan turut bangun. Aku sudah merasa tenang berkat Aidan dan kini yang aku lakukan adalah menyeka bekas air mata yang tadi mengalir dengan lengan sweaterku. Adegan itu bertepatan dengan Papa yang kembali masuk ke dalam laboratorium. Dia berdiri di dekat pintu dengan penampilan yang sudah sangat berbeda dengan yang terakhir aku ingat.


Di balik jas lab yang dia kenakan, Papa menggunakan kemeja kain berwarna biru dengan celana bahan berwarna hitam, dan ada satu benda yang menarik perhatianku dari semua hal yang menempel di dirinya. Sebuah kalung. Kalung yang sama yang seperti kuliah sebelum dia pergi meninggalkan aku.


Papa berdiri di pintu sambil meremas tangannya dan melangkah gugup mendekatiku. Dia berdiam cukup lama sebelum mengeluarkan suaranya untuk berbicara padaku. Sepertinya Papa hanya mengantisipasi jika sewaktu-waktu kalimatnya terpotong olehku.


"Nak?" katanya dengan suara detak dan gugup, "Papa mau-... Bisa kita bicara berdua?" tanyanya.

__ADS_1


Aku terdiam sesaat tapi harus cepat memutuskan. Jika aku mengatakan 'iya' pasti akan lebih banyak rasa sakit yang akan aku terima karena saat itu aku akan mengetahui alasan dibalik kepergian Papa dan alasan kenapa dia tidak menghubungiku, tapi jika aku menolak, aku akan terus penasaran soal kenapa dan mengapa hal itu terjadi.


Bertahun-tahun aku hidup dalam ketidakadilan dan kini ketika jawaban itu akan diberikan, aku malah sulit untuk memutuskan. Aku masih berdiri terdiam di tempat, tapi Aidan mendorong tubuhku maju yang mengisyaratkan agar aku mau mendengar dan berbicara langsung dengan Papa. Benar-benar berbicara dua arah, bukan seperti tadi yang mana hanya aku yang berbicara.


"Kamu harus ngomong sama Papa kamu. Aku tahu banyak hal yang pingin kamu tanyain dan hari ini kesempatan itu datang. Ingat, aku bakal ada di sini dan aku bakal tunggu sampai pembicaraan kalian selesai," bisiknya di telingaku masih sambil mendorongku mendekat ke arah Papa.


Aku menoleh sejenak padanya, kemudian mengangguk sebagai jawaban dan kini aku benar-benar melangkah sendiri menuju tempat dimana Papa berdiri. Melihatku yang mendekat membuat Papa tersenyum. Dia melangkah lebih dulu dan membimbingku keluar dari labolatorium. Kini Papa ternyata membawaku masuk ke dalam ruangannya. Dia membalikan tanda yang menunjukkan jika di dalam sini tengah ada orang yang membahas sesuatu yang penting. Intinya seperti itu.


Aku beringsut menuju sofa yang berhadapan dengan sofa kecil lainnya tapi dipisahkan oleh meja yang di atasnya berisi beberapa cangkir kosong. Papa duduk tepat di seberangkiu. Dia sedikit membungkuk hingga sikunya dapat bertumpu pada lututnya. Kami berdua sama-sama diam dan malah menunggu salah satu diantara kami untuk berbicara terlebih dahulu. Kekerasan kepalan Papa menurun padaku dan tampaknya kali ini Papa yang harus mengalah.


"Udah saatnya kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi, juga alasan kenapa aku pergi dan nggak pernah kasih kabar ke kalian. Apa yang terjadi tidak seperti yang kamu pikirkan." Dia berkata perlahan seolah dia tahu apa yang sedang aku pikirkan. Satu dekade kami sudah tidak bertemu dan tidak mungkin apa yang aku pikirkan tertulis jelas di wajahku. Aku hanya menghela nafas pelan dan menikmati suara Papa yang masih sering aku rindukan. Suaranya masih sama seperti saat dia membacakan dongeng untukku ketika aku kecil sebelum tidur.


Aku hanya manusia biasa dan tentunya memiliki emosi yang sangat tidak stabil. Jika mengikuti ego, tentu saja aku akan marah dan tetap mendiamkan Papa, karena bagaimanapun juga semua kekejaman yang aku terima itu karena dia. Benar, jika saja dia tidak pergi tentunya aku tidak akan mendapat kekerasan verbal maupun non verbal dari Mama.


Aku tidak marah, hanya kecewa dan kekecewaan itu tersalurkan lewat diamnya aku. Hanya saja setiap manusia memiliki kesempatan. Sama seperti Gio yang ingin berubah, pastinya Papa juga memiliki alasannya sendiri kenapa dia sampai tega melakukan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2