Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Ancaman


__ADS_3

Dengan sengaja aku mengabaikan keberadaan Pak Aidan. Aku mengalihkan pandanganku untuk menatap ke sekeliling kafe. Masih pagi dan suasananya sudah sangat ramai. Tidak ada lagi kursi yang tersisa dan satu-satunya tempat hanya ada di sampingku.


"Aretta, kan?" sapa Pak Aidan dan itu membuatku mau tidak mau mengalihkan pandanganku untuk menatapnya yang kini tengah berdiri menjulang di sampingku. Belum sempat aku menjawab dia langsung bertanya kembali, "boleh saya gabung? Tempat yang lainnya sudah terisi penuh dan saya harus minum kopi pagi."


Aku mengangguk dan dia langsung mengambil tempat di sofa yang sama denganku. Tidak tepat disampingku karena Pak Aidan duduk di bagian ujung sofa. Dengan adanya dia yang duduk di sini, entah kenapa membuatku merasa gerah. Aku melepaskan hoodieku.


Aku menutup mataku dan mencoba mengenyahkan bintik-bintik hitam yang melayang di depan mataku. Aku segera meraih botol minum yang kubawa dari rumah. Apa ini efek dari kejadian semalam. Dan setelahnya aku menyadari jika dadaku sedikit terasa sakit ketika aku bernafas. Aku terkesiap, keadaan ini tidak bagus untukku. Aku sedikit ketakutan.


"Kamu baik-baik aja? Ada apa?" Pak Aidan bertanya sambil menatapku. Sepertinya dia menyadari gerak-gerikku yang terlihat tidak nyaman.


Aku tidak bisa membalas tatapan matanya dan memutuskan untuk hanya menatap tanganku yang saling bertautan yang juga secara tidak sengaja memperlihatkan luka bakar yang ada di tanganku, meski kini sudah berubah warna menjadi merah tua dengan lepuhan oranye agak kekuningan.


"Ya Tuhan." Pak Aidan menggumamkan kalimat itu yang sontak saja membuatku menoleh padanya.


Dia bergerak mendekatiku dan aku langsung berdiri dengan tiba-tiba. Mengabaikan rasa sakit yang mendera. Sikap Pak Aidan yang seperti itu membuatku tidak nyaman. Aku menatap wajahnya yang balas melihatku dengan raut kekhawatiran dan rasa kasihan. Aku tidak butuh belas kasih darinya, dan aku tidak pernah berharap mendapatkan itu dari orang lain juga.


"Saya baik-baik aja Pak. Kemarin saya jatuh dan nyenggol kompor makannya melepuh," kataku sealami mungkin meski jika didengar ceritaku ini tidak masuk akal. Tapi aku sangat berharap Pak Aidan tidak bertanya lebih banyak lagi.

__ADS_1


Aku segera membereskan barangku dan segera bergegas keluar dari Cafe. Pak Aidan tidak berusaha untuk mengejarku dan aku juga tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika dia benar-benar mengikutiku. Aku berangkat cepat untuk menuju sekolah. Waktu masuk memang masih lama, aku hanya tidak ingin menarik perhatian para siswa dan siswi yang ada di sekolah.


Bel berbunyi sebentar lagi dan saat aku melewati ruangan kelas aku mendengar cekikikan siswi. Mereka keluar dari ruangan. Aku yang lewat pun sedikit mengintip siapa yang masih ada di dalam dan aku menemukan Pak Dewa ada di sana.


Pak Dewa menatapku sambil menyipitkan matanya dan setelahnya sebuah seringai muncul dari bibirnya yang sontak membuatku memundurkan langkahku tanpa sadar.


"Jadi kamu yang kemarin," ucapnya, "temui saya di ruangan saya," suaranya yang dingin membuatku bergidik.


Kenapa dia memanggilku?


Aku tahu hal itu akan terjadi, tapi kenapa secepat ini. Aku tidak langsung mengiyakan dan untung saja suara bel peringatan tanda gerbang akan di tutup berhasil menyelamatkanku.


Harusnya aku pergi ke kelas. Tapi yang aku lakukan adalah aku malah berbalik dan mengikuti Pak Dewa saat dia mempersilahkanku masuk ke dalam kelas. Kami hanya berdua dan saat aku sudah berada di dalamnya, dia mengunci pintu.


Seringai itu masih belum menghilang dari wajahnya.


Pak Dewa melangkah menuju mejanya dan dia duduk di kursi putar sambil menatapku. Keheningan terjalin cukup lama dan aku tahu dia sengaja menciptakan suasana seperti itu agar aku merasa terpojok dan takut.

__ADS_1


"Saya tahu kamu lihat apa yang saya lakuin kemarin," katanya, "coba cerita ke saya apa aja yang kamu lihat."


"Saya nggak lihat apa-apa Pak," cicitku cepat. Aku marah pada diriku yang malah menunjukkan padanya jika aku terpengaruh.


"Bukan itu jawaban yang saya mau," ucapnya sambil menatapku dan mengusap pelan dagunya.


Kenapa bel masuk belum juga berbunyi? Aku membutuhkannya saat ini agar aku bisa keluar dengan selamat dari situasi ini. Namun sayangnya bel itu tak kunjung berbunyi sampai akhirnya Pak Dewa berjalan mendekatiku. Dia berdiri lima langkah di depanku


"Jadi, Aretta Evelyn..." Aku sedikit terkejut karena dia tahu namaku. Yah sekolah ini memang jarang mendapatkan siswa baru karena dari jam masuk hingga kegiatan yang berjalan di dalamnya tidak seperti sekolah pada umumnya, "sepertinya kita berdua akan terus terkurung di sini kalau kamu tidak bicara dengan jujur apa yang sudah kamu lihat kemarin," katanya.


Aku menatapnya dengan berani. Apa yang dia dapatkan saat dia melakukan ini. Dia melangkah mendekat dan hal itu sontak membuatku mundur dengan cepat dan dia membuatku terpojok hingga aku tersudut ke dinding. Pak Dewa meletakkan tangannya disamping kepalaku yang tampak seperti dia mengurungku. Aku mulai takut sekarang. Jika dia berani melewati batas antara guru dan siswa, aku pasti akan berteriak.


"Jangan. Kasih. Tahu. Orang. Lain," katanya. Dia menekan kalimatnya sangat tegas sambil menusuk pundakku dengan jarinya. Itu meninggalkan rasa nyeri dan membuatku meringis.


Dia melihat ekspresi wajahku dan tanda peringatan Pak Dewa menarik keras seragamku yang memperlihatkan memar besar yang aku dapatkan semalam dari Mama. Dalam satu hari ada dua guru yang mengetahui soal memar yang aku dapatkan dan itu bukan hal baik untuk menjalani kehidupan sekolah yang nyaman.


"Kayaknya udah ada orang yang kasih pelajaran ke kamu. Itu juga tanda peringatan dari saya. Kalau kamu berani macam-macam, kamu bakalan dapat balasan yang lebih parah dari ini dan itu saya sendiri yang bakal kasih," peringatnya tajam.

__ADS_1


Saat itu juga bel masuk berbunyi dan suara langkah kaki perlahan menghilang. Tiba-tiba pintu terketuk dan juga gagang pintu bergoyang tanda jika orang di luar sana ingin memaksa masuk. Pintu dibuka oleh pak Dewa dan aku melihat gadis berambut panjang kemarin yang berduaan dengan Pak Dewa muncul di sana. Kenapa dia ada di sini, diwaktu jam pelajaran sudah dimulai? Apa dia sengaja datang untuk menemui Pak Dewa?


"Ah Jessi! Saya dan Aretta barus saja menyelesaikan urusan kami. Silahkan masuk." Pak Dewa mempersilahkan wanita itu untuk masuk. Saat gadis bernama Jessi itu masuk, matanya menyipit tajam memperhatikanku.


__ADS_2