
"Gue besok mau ketemu sama agen real estate. Tapi karena gue belum sempat ketemu Papa jadi gue ambil pinjaman buat uang muka. Lo mau ikut nggak?" Aku tersenyum senang dan langsung masuk ke kamarnya. Melupakan bau tak sedap dan melupakan kamar yang sudah mirip tong sampah itu. Aku teramat senang karena kebebasan dan kebahagiaan sudah berada satu langkah di depan mata.
Berita itu berhasil membuatku senang dan berhasil membuatku melupakan kejadian tadi. Rasa marah memang ada tapi hal itu tidak boleh mengganggu kesenanganku. Gerbang untuk menuju kebebasan sudah terbuka lebar di depan mataku.
Aku mengiyakan ajakan Gio dan memutuskan untuk langsung ke kamar dan beristirahat. Aku segera membuka ponselku dan rentetan pesan dari Rafa dan Rendi memenuhi layar. Mereka menanyakan kapan aku datang dan memintaku untuk menghubungi mereka jika aku sudah sampai di sana.
FYI, sebenarnya tadi aku mengajak mereka berdua untuk menonton bersama di bioskop, tapi aku sengaja tidak datang. Alasannya, karena aku ingin mereka berdua menghabiskan waktu bersama dan segera memutuskan untuk melanjutkan pacaran.
Setelah membaca semua pesan yang masuk, aku kembali meletakkan ponselku. Hari ini banyak kejadian yang membuat mood ku berubah-ubah. Tapi yang paling menyenangkan adalah fakta jika aku bisa keluar dari rumah.
Aku masih memikirkan soal Mama, dia sedang keluar entah kemana. Beberapa kali dia mengatakan jika dia bekerja, tapi setelah tahu bahwa dia membohongi Papa untuk mendapatkan suntikan dana, aku jadi tidak bisa lagi mempercayai apa yabg dia katakan. Mama selalu pulang dengan keadaan mabuk dan sudah tahu pastinya kemana dia pergi.
Mama selalu bertingkah seolah dia manusia paling menyedihkan padahal dia sendiri yang membuat hidupnya tampak menyedihkan. Mungkin karena dia tidak memiliki siapapun yang bisa disalahkan makannya dia bertingkah seperti itu. Padahal jika dia memperbaiki hidupnya pasti kebahagiaan akan datang.
Aku sudah hampir terlelap ketika aku merasakan ponselku bergetar. Aku segera meraih untuk memeriksa. Itu sebuah pesan yang dikirim oleh Aidan. Isinya dia meminta maaf padaku.
Minta maaf untuk apa? Untuk dia yang hanya menganggapku murid? Atau dia yang mencium ku? Maaf yang mana. Kenapa konteksnya tidak jelas.
__ADS_1
***
Aku bangun dengan otot yang terasa kaku. Kenangan kejadian semalam masih berputar di kepalaku dan aku merasa kesal. Untungnya berita dari Gio bisa menutupi semua itu, aku bisa menjadi lebih semangat berkat itu. Tampaknya Gio kini benar-benar memperhatikan apa yang aku inginkan, meski dia bergerak lambat tapi dia selalu memastikan apa yang aku inginkan terpenuhi. Seperti rencana pindahan kami ini.
Aku memang memintanya untuk bergerak cepat dan dia juga tidak asal. Dia memastikan segala sesuatunya dapat berjalan lancar jadi mulai menata perlahan.
Aku segera bersiap dan turun untuk menemui Gio. Hari ini pun dia akan mengantarku, tapi kami akan mampir ke Daia terlebih dahulu karena stok makanan di rumah sudah habis. Kalau kata Gio, mungkin Mama terlalu mabuk sampai tidak sadar jika stok makanan sudah menimpis dan yang tersisa di rumah hanya tinggal sereal kadaluarsa.
Sebenarnya aku tidak masalah jika tidak sarapan, hanya saja Gio tidak setuju. Menurutnya meski di rumah tidak ada makanan itu tidak menjadi alasan untukku tidak sarapan. Dan di sinilah kami. Di Daia kafe dan sedang memesan makanan.
Rafa datang dengan membawa makanan pesanan kami berdua. Dia terus menatapku tajam tapi aku hanya membalas dia dengan senyuman jahil. Jika ada Gio dia akan segan untuk berbicara denganku, aku pun begitu juka berada di posisinya karena mereka belum saling mengenal. Gio dan aku menghabiskan sarapan kami dengan cepat, hari ini dia hanya memesan roti panggang dan salad untukku karena aku sedang tidak mood makan sesuatu yang berat.
Suasana di sekolah masih sama, tidak ada yang berubah. Kenapa hanya aku yang merasa tidak nyaman di tempat ini? Apa mungkin karena aku terlibat terlalu jauh dengan guru populer di sekolah? Tapi itu bukan kehendak ku dan aku juga tidak tahu jika pada akhirnya aku akan berhubungan dengan mereka.
"Lo kemana aja semalam?" Rafa langsung menginterogasiku ketika aku masuk. Dia ini, bukannya tadi masih ada di kafe, lalu kenapa sekarang sudah berada di kelas?
Aku hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban dan memberinya banyak alasan jika aku sibuk dan harus melakukan sesuatu di rumah. Tapi tampaknya dia tidak mempercayai bualan ku karena dia masih saja mendesak ku dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Gue nggak bodoh ya. Lo ngerjain gue ya?" Dia menyilangkan tangannya dan menatapku tajam. Aku terkekeh melihat aksinya.
"Sorry. Gue cuma gemas aja ngelihat kalian berdua. Udah kelihatan jelas kalau kalian sama-sama suka, tapi nggak ada prospeknya. Gue kan cuma niat bantu." Aku menggumam pelan tidak tahu jika dia merasa terganggu dengan aksiku. Apa memang aku yang terlalu berlebihan di sini.
Aku kira Rafa akan marah dan membenciku tapi dia malah menyeringai lebar, "Terima kasih lho atas inisiatif baiknya. Besok malam minggu dia ngajak gue dinner." Dia memekik sambil melompat. Aku langsung lega seketika.
"Gue kira lo bakal marah sama gue." Dia menggeleng cepat dan memelukku hangat.
"Gue mana bisa marah sama lo besti tapi gue harap lo mau kabulin satu permohonan gue sebagai bentuk balasan karena lo udah bohongin gue."
"Apaan?" ucapku mulai khawatir. Jika dia meminta sesuatu yang aneh aku pasti akan langsung menolak kerena aku tidak bisa melakukan itu.
"Lo harus mau nginap di rumah gue?" katanya senang.
"Lo ngajak gue? Tapi gue belum pernah nginap di rumah orang," jelas saja belum karena selama ini tidak ada yang mau berteman denganku karena aku gemuk.
Rafa meyakinkan ku supaya aku datang dan mau tidak mau aku mengangguk setuju. Karena mungkin ini akan menjadi pertama dan terakhirnya aku menginap di rumah temanku.
__ADS_1
Kelas berjalan seperti biasanya dan aku sangat menantikan jam sekolah segera usai. Kejadian kemarin membuatku kalut dan aku tidak mau menghadiri kelas Pak Dewa, hanya saja hal itu tidak mungkin aku lakukan karena aku sudah berniat untuk menjadi Aretta versi baru. Untuk sekarang yang harus aku pikirkan adalah, aku harus bisa menyelesaikan sekolah hari ini dengan baik karena jam pelajaran Pak Dewa menanti. Kenapa aku merasa jika masalah ini bermula karena aku yang teledor, tapi jika diamati sekali lagi, bukan aku yang salah, kan?