Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Pak Aidan


__ADS_3

Meskipun sudah bersih dan rapi, aku masih suka memeriksa lagi barang-barang milikku. Hanya untuk memastikan tidak ada yang hilang atau dicuri. Tempat yang pertama kali aku periksa adalah kotak sepatu yang ada di lemari pakaianku. Aku meletakkannya di pojok atas bagian sudut. Aku menurunkannya dan membawanya ke atas tempat tidurku untuk aku periksa. Ada buku diary milikku dan juga sebuah foto usang yang tampak lusuh. Ada juga kaos kaki berwarna cokelat polkadot hadiah terakhir dari Papa yang berhasil aku terima. Di dalamnya ada seikat uang yang aku miliki. Ini uang darurat. Masih ada beberapa kaos kaki yang lain dan isinya sama. Uang darurat yang aku terima ketika aku bekerja selama masa liburan. Aku mengambil semua pekerjaan ringan yang tidak memberatkanku.


Di tempat tinggalku yang lama, beberapa tetangga memintaku untuk memberi makan hewan peliharaan mereka. Setiap bulannya aku mendapat 1,5 juta dan itu sudah berlangsung selama dua tahun. Selanjutnya aku membantu memanen dari kebun dan mendapat bayaran 3 juta setiap bulan selama setahun belakangan.


Total uang yang sudah aku kumpulkan selama ini adalah 119 juta dan sebagiannya lagi aku simpan di berbagai tempat di kamarku. Setidaknya jika yang dikotak ketahuan, aku masih memiliki tempat penyimpan yang lain.


Mungkin bagi sebagian orang uang yang aku miliki sangat banyak. Tapi itu tidak sebanding dengan semua kerja keras yang sudah aku lakukan selama ini. Aku bekerja mengumpulkan uangku sendiri sejak aku berusia 12 tahun. Karena kecil banyak yang tidak membayarku sesuai dengan perjanjian. Apalagi saat aku bekerja sebagai pengantar susu. Karena kondisiku yang gendut mereka memberi alasan aku lambat dan memotong gajiku dua puluh lima persen.


Sejak tahu Mama sudah tidak seperti dulu, aku memutuskan untuk menghasilkan uangku sendiri. Kepedulian Mama perlahan meluntur dan segala sesuatu yang aku butuhkan sudah tidak diberikannya lagi. Itulah yang membuatku bangkit dan berinisiatif mencari uang. Karena kalau aku tidak bekerja, aku tidak mungkin bisa bertahan hingga saat ini.


Aku sedikit tersenyum saat menyadari jika mulai besok aku sudah memiliki pekerjaanku sendiri. Dan satu lagi, kenapa aku tidak kabur dari rumah jika aku memiliki uang sebanyak itu, karena aku tidak ingin dicurigai dan berujung uangku direbut paksa.


Aku melilitkan kembali uang itu dan memasukkanya ke dalam kaos kaki. Aku harus ingat untuk menutupinya agar Gio tidak curiga saat dia membuka lemariku.


Setelah setengah jam berkutat dengan kamar, aku memutuskan untuk beristirahat. Aku mengambil gitar usangku dan mulai memetikkan sebuah nada yang sudah aku ingat di luar kepalaku. Nada dari lagu favoritku. Aku menikmati waktuku. Jika ada Mama dan Gio, aku tidak bisa seleluasa ini untuk bermain gitar karena pastinya mereka berdua akan langsung menyudutkanku dan menganggapku berisik.


Tidak lama kemudian suara pintu depan dibuka. Aku sontak menghentikan permainan gitarku. Langkah kaki dua orang terdengar melangkah cepat menaiki tangga dan menuju kamar Gio. Setelahnya suara musik disetel dengan volume yang cukup kencang. Sepertinya dia tidak akan menggangguku untuk saat ini jadi aku memutuskan untuk tidur lebih awal.

__ADS_1


Aku melihat jam. Sudah pukul lima lewat yang berarti aku sudah cukup lama memainkan gitarku. Aku sudah menaikkan kaosku untuk berganti pakaian saat tiba-tiba pintu kamarku dipaksa terbuka dari luar. Aku melihat Gio, matanya meniti wajahku dan aku tahu dia tengah melihat memar bekas kejadian kemarin yang sudah mulai memudar. Dia terdiam untuk beberapa saat dan kemudian baru membuka mulutnya.


"Lo jatuh lagi dari tangga. Kenapa lo ceroboh banget. Dasar bodoh." Aku melongo tidak percaya, bukan aku yang bodoh tapi dia. Bahkan dengan tanda seperti ini saja dia mengasumsikan jika aku terjatuh. Orang bodoh mana yang terjatuh dari tangga dan melukai perutnya.


"Ngomong-ngomong lo suka nggak sama surprise yang gue kasih tadi pagi? Menurut gue itu hadiah paling bagus yang pernah lo terima." Gio terkekeh sambil melangkah keluar dari kamar.


"Jangan lupa hati-hati. Lo pasti bakalan jatuh lagi kayaknya."


Aku masih berusaha mencerna apa yang Gio katakan tadi. Soal surprise, aku merasa aku tidak mendapatkan hadiah apapun tadi pagi. Aku mengedikkan bahuku tidak peduli dan langsung menggeleng. Jangan pernah pedulikan Gio karena bocah sinting itu selalu berbicara omong kosong.


Seperti sebelumnya, aku bergegas berangkat pagi seperti biasa. Setelah memastikan aku tidak akan bertemu Mama nanti saat aku keluar dari rumah.


Aku sampai di kafe biasa tepat waktu, tapi yang membuatku sedikit terkejut adalah, aku menemukan Pak Aidan yang sudah duduk di sana. Di kursi biasa yang kami tempati. Aku berdebat dengan diriku sendiri apakah aku harus masuk atau tidak. Tapi melihat banyaknya kursi yang kosong akhirnya aku memutuskan untuk masuk.


Saat aku sudah memesan dan ingin duduk aku melihat tempat yang ditempati Pak Aidan sebelumnya telah kosong.


Pembuatan kopi memang selalu membutuhkan waktu yang lebih lama. Aku memutuskan untuk menunggu sambil duduk di depan konter. Tidak seperti biasanya dimana aku lebih memilih menunggu di sofa.

__ADS_1


Aku terus-terusan melihat ke tempat itu dan ternyata pak Aidan memang tidak kembali. Tempat itu kini telah ditempati oleh orang lain.


Kopi buatanku jadi, aku menutuskan untuk mencari tempat dan mulai mendengarkan musik seperti biasa dari ponsel jadulku.


Aku memegang cangkir kopi dengan kedua tanganku. Rasa hangat merambat menghangatkan telapak tanganku. Setelah menyesap sedikit, aku kembali menyenderkan kepalaku ke belakang seraya menutup mata. Aku menyerap bait-bait lagu yang dinyanyikan oleh John Mayer, hingga sebuah tepukan mengagetkanku dan untung saja itu tidak membuat kopiku tumpah.


Aku membuka mataku dan melepaskan earphoneku menjauh dari telinga. Aku segera mengernyitkan dahiku saat menemukan Pak Aidan sudah berdiri di sana.


Sosoknya tinggi menjulang di hadapanku. Bahunya yang lebar memberi kesan mengintimidasi. Jika itu orang lain munkin aku akan mengkerut di tempat. Untungnya ini Pak Aidan yang entah kenapa kehadirannya tidak membuatku merasa berada dalam bahaya.


Dia menatapku sebentar sebelum mengambil duduk di sampingku.


"Aku cuma mau izin duduk di samping kamu. Takutnya kamu kaget kalau tahu tiba-tiba aku duduk di sini." Dia mengatakan itu. Sepertinya dia sudah mendalami dan tahu bagaimana kepribadianku. Dia melakukan ini hanya untuk membuatku nyaman. Bagaimanapun juga pria ini adalah konselor sekolah.


"Ah, iya pak," jawabku.


"Kamu bisa kan panggil aku Aidan kalau kita lagi berdua," katanya, "aku cuma mau lebih akrab sama kamu dan ini cuma waktu kita berdua. Biar anak-anak nggak cemburu," candanya dengan senyuman manis yang selalu dia tunjukkan.

__ADS_1


__ADS_2