Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video

Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
BAB 101


__ADS_3

Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video


Bab 101


Kemudian output berikutnya adalah pupuk kandang, dimana sudah ada pihak yang menampungnya dan mengolah dengan pengemasan yang mumpuni. Di samping itu, bebek-bebek yang sudah tua dan tidak menghasilkan telur lagi dan beberapa pejantan yang berumur, juga dijual kepada penampung yang akan memenuhi rumah makan-rumah makan ataupun restoran yang memiliki spesifikasi menu Bebek Cabe Hijau. Ataupun ada warung-warung pecel bebek yang banyak beroperasi di emperan-emperan toko South Coast.


Gusmon sampai di fasilitas MCK ataupun mandi, cuci, kakus di peternakan itu. ia melihat bahwa ini memang cukup bersih. Tanpa pikir panjang, ia segera melakukan kegiatan bersih-bersih di dalam kamar mandi tersebut.


“Huh, seger” Gusmon tersenyum, semeskipun baju yang dipakainya adalah kaos oblong dan training kemarin. Itu tidak masalah, yang penting tidak telanjang.


Salah seorang pekerja peternakan itu segera membawa Gusmon menuju sudut peternakan yang sedikit jauh dari kandang. Suara hiruk pikuk bebek sedikit terdengar di tempat ini dan bau kotoran bebek juga sedikit menghilang. Di tempat itu sudah menunggu beberapa orang pekerja peternakan termasuk pria berumur 40 tahun bernama Mukmar Kede, yang bertindak sebagai pemimpin di peternakan itu.


Tempat itu adalah sebuah bangunan dari kayu yang sengaja didirikan sebagai tempat peristirahatan para pekerja. Di sana lengkap dengan peralatan dapur dan bahan-bahan makanan dan minuman.


“Silahkan duduk Tuan Gusmon” Mukmar Kede mempersilahkan dengan hormat.


Gusmon duduk di sebelah Mukmar Kede. Di atas meja sudah menanti beberapa cangkir teh hangat dan tentunya beberapa potong roti yang cukup menggugah selera.


“Mari semua” Tanpa ragu-ragu Gusmon menyesap teh hangat itu, terasa hangat sampai ketenggorokan dan ia mengambil sepotong besar roti, kemudian dengan lahap memakannya. Orang-orang yang ada disekitar segera melakukan hal yang sama untuk mengimbangi minat Gusmon yang cukup besar terhadap makanan.

__ADS_1


“Ahh... “ Terdengar desahann puas dari beberapa orang yang meneguk teh hangat itu, sepertinya mereka semua benar-benar menikmati sajian yang cukup sederhana itu.


“Aku ingin tahu, kenapa kalian begitu baik kepada ku. Padahal kita baru saling kenal” Gusmon bertanya setelah menyelesaikan satu tegukan dari teh hangatnya.


“Oh.. bukankah itu wajar. Kamu adalah teman dari Ketua Gangster yang luar biasa, lagi pula kami mengira awalnya Tuan Grudul Hiko sendiri lah yang ada dalam mobil itu tadinya” Mukmar Kede menjawab dengan tersenyum. Seolah-olah ini memang hal yang biasa dilakukan untuk menghormati orang-orang yang dekat dengan Ketua Gangster Elang Hitam.


“Sepertinya kamu sangat takut dengan Ketua Gangster, sebenarnya apa yang pernah terjadi sehingga kamu begitu ketakutan?” Gusmon bertanya acuh tak acuh sambil mengambil sepotong roti lagi. Mukmar Kede hanya menarik nafas panjang.


“Itu beberapa hari yang lewat, saat itu Nona Muda kami sedang bersama dengan Nona Muda Duns di sekitar tempat ini, Nona Muda Duns ingin beberapa butir telur bebek untuk dijadikan semacam brownies dengan campuran coklat, mentega, gula dan telur. sebenarnya Itu adalah Brownies kesukaan ku, aku sangat menginginkan brownies seperti itu. andaikan brownies itu ada di sini saat ini, pasti kita bisa menikmati dengan lahap” Mukmar Kede menjelaskan awal cerita yang diketahui nya.


Gusmon mengerutkan kening, orang ini mau cerita mengenai Grudul Hiko atau mau cerita kue. Demikian pemikiran Gusmon.


“Oh hm, baiklah. Nona Muda Duns dan Nona Muda kami ada di tempat ini sebelumnya untuk mengambil beberapa butir telur. Dan sesuatu yang mengerikan terjadi” Mukmar melanjutkan ceritanya.


“ketika Nona Muda Duns akan pulang, sekitar lima ratus orang telah mengepung tempat ini, dan itu dipimpin langsung oleh Grudul Hiko sang Ketua Gangster Elang Hitam. Dapat dibayangkan betapa mengerikan suasana pada saat itu. jangankan untuk memikirkan Brownies, bahkan jika brownies itu sudah ada di tangan pun maka pasti tidak akan jadi untuk memakannya, betapapun enaknya brownies itu” Mukmar masih melanjutkan celotehannya


“Hm Hm, hilangkan cerita mengenai kuenya Pak Mukmar. Mari lanjutkan inti cerita yang ingin anda sampaikan” Gusmon kembali memotong. Tampaknya lelaki separuh baya ini, sangat terobsesi dengan kue.


“Oh baik-baik,” Mukmar tergagap sebentar.

__ADS_1


“Seluruh pengawal Nona Muda Duns meninggal dengan cara yang tragis dibantai oleh 500 orang anggota Gangster dan Nona Muda Duns di culik di depan mata kami. Untunglah Nona Muda kami saat itu berada di bagian dalam kandang belum keluar dari tempat ini sehingga ia tidak melihat kejadian itu secara langsung kalau tidak tentu saja ia akan syok melihat temannya diculik di depan mata dan pembunuhan yang terjadi kepada para pengawal Nona Muda Duns. Saat itu Grudul Hiko membawa mobil persis yang kamu kendarai termasuk plat nomornya” Mukmar bercerita dengan lancar.


“Oke oke, saya paham apa yang ingin anda sampaikan, intinya kamu ketakutan kepada Grudul Hiko, sehingga mengira bahwa aku juga adalah orang yang jahat, sehingga kamu menservis aku sedemikian rupa, berharap aku tidak mengacau dan tidak membawa Grudul Hiko untuk mengobrak abrik peternakan bebek ini kan?” Gusmon menangkap apa maksud dari pria di depannya itu.


“I.. itu... bukan maksud kami seperti itu Tuan Gusmon” Mukmar Kede terlihat ketakutan wajahnya, jelas sekali ia bahkan tidak berani sedikitpun untuk menyinggung Gusmon.


“Tenang saja, untuk selanjutnya aku akan menjamin Gangster Elang Hitam akan menjadi sedikit lebih baik dalam hal berperilaku” Gusmon menegaskan seakan tidak peduli dengan kecemasan dari orang-orang yang ada di sekitar tempat itu.


“Oh ya Ngomong-ngomong Peternakan ini punya siapa” tanya Gusmon kalem.


“Peternakan ini punya Keluarga Hwaken” Kata Mukmar dengan mantap


“Begitu, ternyata Nona Muda mu adalah Mirandea Hwaken, dia dan Virani benar-benar dua perempuan tercantik yang pernah aku lihat” Gusmon berdiri dari duduknya sambil merapikan celana.


Keningnya sedikit berkerut sewaktu menyadari ada secarik kertas di dalam saku celana training nya. Segera dikeluarkan kertas tersebut. dan ia pun kaget.


“Sialan, kenapa aku melupakan ini” seru Gusmon kesal. Itu adalah kertas resep obat yang diberikan oleh dokter di Rumah Sakit Umum South Coast, untuk pengobatan Hakmit Miu yang kecelakaan tempo hari.


Gusmon harus segera menebus obat itu di apotik dan memberikannya kepada Hakmit, agar luka-lukanya bisa cepat sembuh.

__ADS_1


“Okelah semuanya, aku berterima kasih dengan pelayanan yang kalian berikan meskipun kita baru saling kenal. Aku berjanji untuk selanjutnya Gangster Elang Hitam akan lebih ramah dan akan menjadi pelindung bagi warga kota ini. Aku mohon diri dulu untuk sekarang, semoga kita bisa saling menjalin kekeluargaan di masa mendatang” Gusmon secara tidak langsung mohon diri. Orang-orang di tempat itu tidak dapat menyembunyikan perasaan kagumnya kepada Gusmon, mereka mulai menduga-duga identitas Gusmon. Siapa sebenarnya pemuda ini?


__ADS_2