Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video

Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
BAB 24


__ADS_3

Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video


Bab 24


Di Villa Keluarga Bene, sebuah Koenigsegg one 1 segera berdecit keras tatkala ia berhenti di depan halaman Villa yang luas itu. Para pengawal yang ada di tempat itu sontak berbaris dengan rapi, tentunya mereka sudah tahu siapa yang datang itu, ya tuan muda Sorto Bene. Tentunya juga karena ini adalah salah satu mobil mewah yang di koleksi oleh Tuan Muda mereka.


Tak berapa lama sebuah Land Rover juga berhenti dan terparkir di samping  mobil itu. Tentunya ini adalah para pelayan dari keluarga Bene yang sebelumnya dipersiapkan untuk mengurus Virani Duns.  


Pemilik Mobil mewah itu turun dan kemudian membukakan pintu sebelah kiri untuk penumpang yang ada di dalamnya. Mulanya orang-orang mengira bahwa itu adalah Virani Duns yang berhasil di buru oleh Tuan muda Sorto Bene. Setelah pintu terbuka ternyata yang turun adalah Pujin Hento sambil menyeringai menahan sakit.


Tuan muda Sorto Bene pergi kedalam Villa di ikuti oleh Pujin Hento yang memancarkan keringat dingin menahan sakit. 


Sementara di keadaan yang ada pada anggota mobil sebelahnya seseorang sedang krasak-krusuk memeriksa saku celananya, namun yang dicarinya tak kunjung bertemu. Ternyata sang sopir telah kehilangan segulung uang untuk belanja bensinnya. Perlu diketahui bahwa uang itu ternyata telah jatuh di pelataran parkir Pabrik terbengkalai beberapa waktu yang lalu.


Tampak wajah sang supir yang berubah jutek dan tidak berdaya atas hilangnya uang tunai senilai 3000 Dolar itu. Baginya yang hanya seorang sopir uang sebanyak itu sangat berharga. Rencananya ia selain untuk membeli bensin dengan uang itu, juga lebihnya akan di tabungnya guna untuk dipergunakan untuk keluarganya, namun tetap saja uang itu setela di cari-cari dalam celananya tidak berhasil di ketemukan.


“Sialan, huh kenapa sial sekali aku ya!” makinya dengan nada yang sangat kesal.

__ADS_1


Sementara itu Tuan Muda Sorto Bene dengan langkah yang penuh dengan kemarahan berjalan menuju ruang utama dari Villa Keluarga Bene yang sangat besar. Tampak sekali keangkuhan wajah yang dibalut dengan kemarahan atas kekalahannya kali ini. 


“Ini semua gara-gara hantu jahanam itu!” Demikian gerutunya yang tak kunjung hilang. Tidak ada senyuman di wajahnya sepertinya yang lebih cocok di bilang hantu adalah dirinya sendiri.


“Brak!” Tuan Muda Sorto Bene menendang pintu Ruang Keluarga di Villa utama Keluarga Bene. Sementara itu Pujin Hento tampak pucat wajahnya sambil memegangi tangannya yang remuk sebatas siku. Sebelumnya Pujin Hento adalah sosok yang amat sangat di segani dalam keluarga Bene ini dan tidak pernah memilki rasa takut. Tapi entah kenapa pada hari ini ada lebih banyak perasaan khawatir dalam dirinya, ini adalah menyangkut luka parah yang dideritanya. Pasti dalam keadaan ini seluruh keluarga Bene akan menanyakan hal itu, sosok yang hebat Pujin Hento pengawal pribadi Tuan Muda Sorto Bene telah di hancurkan oleh Hantu yang tidak dikenal. Ini benar-benar sesuatu yang buruk, meskipun yang menghancurkan adalah Hantu. Tapi apakah benar-benar ada Hantu di dunia ini?. Apa lagi semenjak tadi Tuan Muda Sorto Bene sama sekali tidak berbicara kepada dirinya, bahkan yang membukakan pintu Super Car untuknya adalah Tuan Muda Sorto Bene!, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.


“Sial,Sial, Sial!.” Maki Pujin Hento dalam hati sambil menyeringai menahan sakit.


Di ruang keluarga beberapa orang terlihat terkejut tatkala mendengar bahwa pintu ruang itu ada yang berani menendangnya. Siapa gerangan yang berani menendang sore-sore begini. Semua mata yang ada di ruangan keluarga itu menatap kearah satu sosok tubuh yakni Tuan Muda Sorto Bene.


Sementara itu di ruangan utama Keluarga saat itu, Murdi Bene saat itu sedang membahas masalah proyek dengan salah seorang rekan bisnisnya, dengan sudut matanya memandang kearah Sorto Bene yang menendang Pintu Ruang Keluarga itu.


“Duduk!” Murdi Bene membentak anak ketiganya itu.


Sorto Bene duduk di kursi Ruang Keluarga itu berseberangan dengan Murdi Bene dan Tamu ayahnya itu. Murdi Bene melirik ke arah rekan bisnisnya sejenak kemudian melihat kearah Pujin Hento memperhatikan tangan kanannya yang terluka sangat parah.


“HHH!” Murdi Bene menghirup nafas dalam-dalam, entah apa lagi yang telah dilakukan oleh putranya itu. Ia kemudian berdiri dan bertepuk tangan dua kali. Beberapa saat kemudian pintu ruang Keluarga itu kembali terbuka, kali ini dua orang pria kekar telah masuk kedalam ruang keluarga yang luas itu.

__ADS_1


“Maaf Tuan Nurdes pembicaraan kita akan segera kita sambung setelah urusan dengan putra saya ini selesai!” Kata Murdi Bene dengan sikap yang sedikit hormat, akan halnya dengan Nurdes Vello ia membungkuk hormat dan tahu akan keadaan yang sedikit tidak baik antara Murdi Bene dengan Putra ketiganya yang ugal-ugalan ini.


“Oh tidak apa-apa Tuan Bene!” Nurdes Vello menjawab basa-basi dari Tuan Murdi Bene, ia tahu sampai di mana batasannya.


“Antarkan Tuan Nurdes ke Ruang Tamu kita!” Kata Tuan Murdi Bene kepada kedua pengawal kekarnya, sontak kedua pengawal kekar itu membungkuk sembilan puluh derajat dan kemudian berjalan dengan tegap memimpin Tuan Nurdes Vello menuju Ruang Tamu di Villa Besar keluarga Bene ini.


Setelah Nurdes Vello pergi ke ruang tamu beberapa saat lamanya tempat itu diselimuti keheningan padahal ada tiga orang di tempat itu yakni Murdi Bene, Sorto Bene dan Pujin Hento yang berwajah Pucat dan berkeringat dingin karena menahan sakit di tangan kanannya.


“Pergi ke ruang kesehatan !” akhirnya Murdi Bene memerintahkan Pujin Hento untuk pergi ke ruang   kesehatan Villa Keluarga Bene. Meskipun namanya Ruang kesehatan namun fasilitas di tempat itu sangat komplit dan canggih bahkan melebihi Rumah Sakit ternama di Kota South Coast ini. Yang membuat iri adalah ruang kesehatan itu dilengkapi dengan Dokter dengan Spesifikasi terbaik guna untuk mengobati dan melayani anggota keluarga Bene yang terluka ataupun mengalami sakit.


“Baik Tuan Bene!” Pujin Hento membungkukkan badannya kehadapan Tuan Murdi Bene sebagai kepala Keluarga Bene yang terhormat itu. Kemudian dengan segera ia berlalu dari hadapan kedua orang itu.


Setelah Pujin Hento berlalu dari tempat itu, beberapa saat kemudian Murdi Bene hanya memandangi Putranya itu, ia mengusap-usap dagunya yang Kokoh dan mengelap kumisnya yang melintang. Kemudian dengan suara berat ia bertanya kepada Sorto Bene.


“Ceritakan apa yang terjadi” Demikian pertanyaan dari Tuan Murdi Bene kepada anaknya.


“Semua ini karena Hantu itu ayah!” Sorto Bene menjawab kata-kata ayahnya dengan sedikit emosional, seakan ingin meluapkan segala perasaan kesal karena kekalahan yang baru pertama kali di rasakannya.

__ADS_1


“Hantu.....! Hantu apa.., Bicara yang jelas!” Tuan Murdi Bene sedikit mengernyitkan matanya tidak mengerti dengan maksud kata-kata Sorto Bene tentang Hantu. Kemudian nada kata-katanya sedikit di tekan yang menandakan bahwa ia tidak sabar dengan penjelasan dari anaknya itu.


__ADS_2