Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video

Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
BAB 116


__ADS_3

Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video


Bab 116


Gusmon menemukan sebuah batang kelapa tumbang dan duduk di sana sambil memandang kelaut lepas, sementara Niya asyik melihat anak-anak yang membuat istana pasir dengan alat seadanya. Virani pergi membeli es krim tidak berapa jauh dari tempat Gusmon berada, ternyata tukang es krim menjajakan dagangannya sampai ke pinggiran pantai ini.


Tak berapa lama Virani datang dengan tiga potong eskrim di tangannya. Ia membagikan es krim tersebut masing-masing satu untuk Gusmon dan Niya. Gusmon langsung mencicipi es krim itu dengan lahap.


“Wah es krim ini lembut, seperti ...” Gusmon berceloteh dan tanpa sadar tertegun


“Seperti apa..?” Virani penasaran dengan celotehan Gusmon


“Lupakan, tidak ada apa-apa” Kata Gusmon sambil menggaruk kepalanya


“Seperti apa, ayooo aku mau dengar kelanjutannya” Virani merengek manja, entah kenapa penasaran dengan celotehan Gusmon. Itu karena Gusmon seolah-olah terkejut dengan celotehannya sendiri.


“itu lembut seperti.... bibir mu” Kata Gusmon kemudian, Virani terpaku mendengar keterangan Gusmon. Sementara Niya tampak seolah tersedak dari es krim yang sedang dimakannya.


“Dari mana kamu tahu kalau bibirku lembut” Kata Virani menatap Gusmon dengan heran, namun dalam hati ia merasa senang.


“Eh ... aku rasa demikian” Kata Gusmon ngasal, yang membuat Virani memanyunkan bibirnya.


Sesaat kemudian mereka terus bercanda, hingga es krim mereka habis. Sementara itu Frohukit Palindang Pria berkumis tipis itu, sudah melaut bersama papan selancarnya.


“Gusmon” Virani memanggil


“Ya” Gusmon mendekati Virani


“Apa kamu tahu, ini adalah pertama kalinya aku disini bersama pria” Virani membuka pembicaraan seraya menatap ke arah laut, sementara angin sepoi-sepoi mempermainkan rambutnya yang indah.

__ADS_1


“Ya...tapi disini juga ada Nona Niya, dan ia bukan pria” Gusmon menjawab dengan serius. 


Kontan Virani menjadi cemberut mendengar jawaban dari Gusmon, kelihatan sekali dari pertama kali bertemu dengannya, Gusmon sama sekali tidak peka. Ini memang salah satu kelemahan Gusmon terhadap kaum wanita.


Sementara itu Niya Noune yang mendengar jawaban Gusmon, tampak menatap kearah Gusmon dengan wajah aneh. Ada apa dengan Ketua Besarnya, sepertinya ia tidak mengerti dengan urusan seperti ini. namun Niya tidak berani menyela, ia hanya mengamati dari jauh dan senyum kecut terlihat di bibirnya.


Virani ingin sekali menjitak kepala Gusmon, namun itu hanya ada dalam pikirannya, ia mengambil sebuah kerikil dan melemparkan secara rendah kepermukaan laut. Kerikil itu memantul beberapa kali di air laut kemudian tenggelam.


“Kamu lihat pantulan dari kerikil itu, sepertinya batu yang keras akan memantul jika bersentuhan dengan air yang lembut” Virani melihat ke arah Gusmon. 


“Iya benar, coba aku yang melakukan” Kata Gusmon bersemangat. Ia mengambil sebuah batu sebesar kepalan tangan dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah laut.


“Pletak!!”


Batu itu ternyata mampir ke kepala seorang peselancar yang sedang asyik menikmati ombak. Kontan lelaki itu terjungkal masuk kedalam air, ia tidak tahu apa yang menghantam kepalanya.


“Walah!” seru Gusmon sambil menoleh ke arah Virani. Virani juga terkejut dengan ulah Gusmon. Namun Niya Noune yang berada sedikit jauh malah tertawa geli melihat tingkah Ketua Besarnya itu.


Lelaki berkumis tipis itu muncul kembali dari dalam air sambil menyemburkan sumpah serapah.


“Kampret!!, seseorang pasti melemparkan batu kearah kening ku. Jahanam!!, berani melempar ku dengan batu, akan ku buat kamu masuk ke rumah sakit dan akan ku buat ayah dan ibumu menjadi perkedel” berang orang berkumis tipis itu sambil memandang orang-orang yang berada di tepi pantai, keningnya kini terukir benjol sebesar telur ayam.


Mendengar seseorang marah-marah di tepi laut, orang-orang melihat dengan heran. Mereka sama sekali tidak melihat tindakan Gusmon, karena asyik dengan kesibukan masing-masing. Karena itu mereka bertanya-tanya apa yang sebetulnya terjadi.


“Hei kalian semua ayo mengaku!, siapa yang melempar batu ke arah kening ku. Apa salahku, aku hanya bermain selancar. Apakah itu menyinggung mu!!” lelaki berkumis tipis di tepi laut itu kembali berteriak. Orang-orang banyak saling pandang.


Gusmon bersiul-siul kecil, kemudian ia menggamit pergelangan tangan Virani dan mengajaknya menjauh dari pantai. Tiba di dekat Niya ia juga menarik tangan Niya dengan tangannya satu lagi. Gusmon membawa kedua gadis itu menjauh dari pantai.


“Kamu kenapa, sepertinya kamu tidak bertanggung jawab dengan yang kamu lakukan” Virani menatap Gusmon dengan wajah tidak senang. Gusmon menghentikan langkahnya.

__ADS_1


“Aku... itu tidak disengaja, lagi pula aku mengajak kalian menjauh bukan berarti tidak bertanggung jawab. Aku haus dan ingin mengajak kalian minum. Itu berarti aku bertanggung jawab kepada kalian”. Kata Gusmon membela diri.


Virani menarik tangannya melepaskan dari pegangan tangan Gusmon, Ia terlihat kesal.


“Apa kamu tidak lihat, orang itu terluka akibat perbuatanmu” Kata Virani 


Gusmon menarik nafas.


“Tapi bukan sekarang saatnya, percayalah aku akan menemui orang itu nanti bila amarahnya sudah mereda dan meminta maaf. Bahkan aku akan membawanya berobat” Kata Gusmon sambil memandangi Virani yang menatap tajam ke arahnya.


Ada alasan kenapa Gusmon tidak segera meminta maaf, itu karena orang yang tidak sengaja menjadi benjol itu adalah Frohukit Palindang. Ia sudah paham bagaimana biasa orang-orang di Bumi ini bertindak. Apalagi dengan orang-orang kalangan atas, Dan Frohukit Palindang itu pastilah orang yang tidak akan mudah untuk dihadapi. Mengingat pandangan mata mesum yang ia arahkan kepada dua gadis ini, Gusmon berpendapat itu pasti tidak akan baik terhadap dua gadis ini. karena itu ia berinisiatif membawa dua gadis ini menjauh. 


Meskipun Niya jago beladiri, namun Frohukit Palindang ini berasal dari Kota Battlefield yang berstatus Metropolitan, pastinya ia tidak sesederhana itu. ia yakin bahwa orang-orang kaya dari Kota Metropolitan tidak akan berada di bawah orang-orang kaya di South Coast yang dengan peringkat sebagai Kota Kecil ini. Frohukit Palindang dari Battlefiled pastilah tidak sederhana. 


Secara tidak langsung Gusmon hanya berniat melindungi kedua Gadis ini. ini juga apa yang di ucapkannya barusan adalah hal yang nyata, yakni ia bertanggung jawab terhadap kedua gadis ini. akan lebih baik ia menghindari konflik dari orang yang berasal dari kota lain yang tidak dikenalnya. 


“Terserah kamulah, namun aku kecewa dengan sikap kamu yang seperti ini. kamu sepertinya seorang pengecut” Virani membalikkan badannya membelakangi Gusmon, terlihat ia sedikit marah dengan sikap Gusmon yang tidak bertanggung jawab karena melukai seseorang yang tidak bersalah, meski tidak sengaja.


Niya menatap kearah Virani dan Gusmon namun ia tidak mau ikut campur urusan pasangan calon suami istri ini, namun dalam hati membatin “orang bilang berantem kecil-kecilan adalah bumbu bagi pasangan suami istri namun kenapa belum jadi suami isteri mereka sudah berantem ya?”.


“Kamu mau aku meminta maaf” Kata Gusmon sambil berjalan menuju kearah Virani.


“Ya minimalnya begitu, jika kamu tidak bisa mengobatinya” Kata Virani masih tetap membelakangi Gusmon. Gusmon hanya diam beberapa saat.


“Tunggu sebentar ia akan menyusul kemari” Kata Gusmon dengan wajah muram.


Virani berbalik menghadap Gusmon, dan tersentak sedikit tatkala melihat wajah muram Gusmon. Diam-diam ia merasa sedikit bersalah. 


Beberapa saat terdengar langkah-langkah kaki teredam di atas pasir mendatangi tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2