Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video

Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
BAB 86


__ADS_3

Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video


Bab 86


Di dalam taman bintang itu, terlihat suasana seperti di acara-acara pesta. Suasana sudah cukup ramai di dalam ini. Panitia sudah mendekorasi taman mulai dari tiga hari yang lewat, meja-meja berbentuk bundar yang sudah tersusun dan kursi melingkari meja meja tersebut. beberapa orang telah duduk di kursi-kursi tersebut.


Pohon-pohon yang biasanya asri di taman itu, terlihat dilingkari dengan lampu hias yang berkelap-kelip. Di ujung taman terlihat sebuah panggung yang megah di hiasi dengan lampu-lampu dan hiasan lainnya yang menawan. 


Taman bintang ini sangat luas. Di hari-hari lain, biasanya digunakan untuk tempat warga kota bersantai melepas lelah. 


Di taman ini ada 3 kelompok pengaturan kursi dan meja. Di kelompok belakang untuk orang-orang biasa, di Kelompok tengah untuk orang-orang kaya. Di kelompok depan untuk kelompok orang-orang VIP, yakni 3 keluarga peringkat atas kota South Coast dan juga tamu dari kota lain yang merupakan keluarga peringkat atas dari kota tersebut.


Melihat suasana dalam taman yang sudah didekorasi tersebut, Gusmon diam-diam merasa kagum. Ia berjalan mengikuti Virani, sementara Virani dikawal oleh panitia dan di arahkan ke bagian depan Taman. 


“Kamu cukup sampai di sini saja” Kata seorang panitia yang melihat Gusmon ingin terus mengikuti Virani sampai kursi kelompok VIP. 


Gusmon hanya mengangkat bahu, baginya terserah mau duduk dimana. 


“Biarkan ia sampai ke kelompok VIP” Virani menyela, saat melihat panitia tersebut mengarahkan Gusmon duduk di kursi kelompok rakyat biasa.


“Tapi nona Virani, nanti kami sebagai panitia yang disalahkan” berkata salah seorang panitia perempuan. 


“Beraninya kalian, dia itu....!” Virani ingin mengatakan bahwa Gusmon adalah Calon Suaminya, namun tidak jadi. Saat ini seorang Tuan Muda dengan pengawalan ketat sedang melintas di jalur mereka. 

__ADS_1


“Hai Nona Virani” Tuan muda itu menyapa dengan senyuman misterius


“Tuan Muda Sorto Bene!” Semua orang yang berada di jalur tersebut membungkuk kepada Tuan Muda Sorto bene. Virani hanya diam, ia menahan sedikit perasaan takut di dalam hatinya. Jelas saja ia masih trauma dengan Tuan Muda jahat ini. Gusmon melihat hal itu, ia melihat Virani sedikit ketakutan. Diam-diam ia mengkertakkan geraham, ia tidak tega melihat gadis ini ketakutan.  


Setelah rombongan Tuan Muda itu lewat, Virani terlihat sedikit tenang.


“Aku ingin Gusmon duduk di bangku VIP” Virani berkata kembali, namun suaranya sedikit bergetar, masih ada sedikit aura ketakutan dalam dirinya.  


“Nona Virani...” Panitia itu masih berusaha mengingatkan


“Aku tidak mau tahu, pokoknya aku mau pria ini di bangku VIP, jika tidak aku akan pulang” Virani ngotot.


“Ba baiklah..!” Panitia itu akhirnya setuju walau dengan terpaksa, lagi pula jika Virani Pulang maka otomatis Konsernya akan batal, karena penyanyi misteriusnya tidak tampil.  Panitia itu jadi bertanya-tanya, siapa sebenarnya pemuda ini. sebelumnya mereka menduga bahwa Gusmon adalah Sopir Virani, namun setelah dipikir-pikir dengan kengototan Virani, pastinya ia tidak sesederhana itu.


Gusmon sampai di bangku VIP, Virani tersenyum ke arahnya sambil terus berjalan, ia di arahkan ke bangunan di samping panggung. Bangunan itu berfungsi sebagai tempat peristirahatan artis dan kru lainnya. Juga untuk ganti kostum dan make up para penyanyi.     


Senyuman Virani sangat manis, Gusmon masih terpana sampai  Virani menghilang masuk di kebangunan samping panggung. Deretan kursi VIP memang berada di dekat panggung, ini memang memuaskan untuk melihat penampilan di depan panggung secara jelas. Berbeda bila di bangku tempat rakyat biasa, itu terlalu jauh dari panggung.


Di sekitar bangku VIP dan orang-orang kaya terlihat beberapa pria kekar berjaga-jaga, mereka adalah tenaga pengamanan acara yang disewa panitia dari Gangster Elang Hitam. Di samping itu tenaga pengaman ahli beladiri dari Keluarga Peringkat atas dan para orang kaya di South Coast juga memberikan kontribusi dan menjamin stabilitas keamanan di taman bintang ini, di tambah pengamanan dari panitia acara itu sendiri. Tentunya semakin kondusif. 


“Dia memang sangat cantik kan?” seorang pemuda berdiri di samping Gusmon sambil menghisap rokok, di belakang pemuda itu ada beberapa bodyguard.


“Ya memang, seumur hidupku baru kali ini aku melihat perempuan yang begitu menawan seperti Virani” Tanpa sadar Gusmon menjawab dengan jujur kata-kata pemuda di sampingnya, ia menjawab sama sekali tidak melihat kepada pemuda itu. 

__ADS_1


Pemuda itu mengernyit mendengar jawaban Gusmon, ia melihat pakaian Gusmon dan sedikit meremehkan karena orang ini memakai training dan baju kaos. Namun ia juga penasaran kenapa orang ini bisa duduk di golongan VIP.


“Oh ya Namaku Tommy Huddeg, dari Keluarga peringkat tiga Huddeg” Kata pemuda itu memperkenalkan diri. Ia sengaja menekankan nama keluarga Huddeg nya untuk menunjukkan kepada Gusmon siapa dirinya.  


“Gusmon” Kata Gusmon singkat, ia mengulurkan tangannya kepada Tommy. Dengan sedikit ogah Tommy menerima uluran tangan itu. ia masih belum tahu siapa pemuda dengan pakaian seperti orang miskin ini, kenapa bisa berada di kursi VIP. Atau barangkali ia berasal dari keluarga tingkat atas dari kota lain. Namun kenapa memakai training?


Tommy mengambil sapu tangan dari Bodyguardnya dan mengelap tangan yang bersalaman dengan Gusmon tadi. Kemudian sapu tangan itu dikembalikan kepada Bodyguadnya. Gusmon hanya meliriknya sekilas, Apakah tangannya ada kuman? Sehingga perlu di lap dengan sapu tangan?, ia mengeleng sedikit kemudian tidak peduli lagi.


Saat itu beberapa orang-orang kaya dari keluarga tingkat atas South Coast mulai memasuki bangku-bangku VIP yang sudah di siapkan. 


Seorang Perempuan Muda dengan beberapa Bodyguard tampak memasuki taman bintang.


“Mirandea Hwaken!” Seru beberapa orang, bahkan beberapa pemuda keturunan dari orang-orang kaya di bangku kelompok tengah langsung berdiri saat melihat gadis cantik dengan kulit putih sebening kristal ini melewati jalur itu. 


Mirandea Hwaken tetap berjalan dengan anggun melewati bangku kelompok tengah tidak mempedulikan keterpanaan para generasi muda kaya itu. 


“Nah ini lagi perempuan cantik dari Keluarga Peringkat 3” Tommy berseru sambil bertepuk tangan, Gusmon melirik sejenak. apa yang disebut Mirandea Hwaken itu memang cantik, dengan rambut pirang dan kulit putih mulus. Tubuhnya yang ramping dibalut gaun bermerek di lengkapi dengan sepatu tinggi tumit. Membuatnya tampil mempesona malam ini.


Orang-orang di deretan bangku VIP juga terpana dengan kecantikan ini. 


Mirandea Hwaken bersama kerabatnya duduk di bangku yang masih kosong, dekat dengan dua orang wanita yang memandanginya dengan kagum. 


“Hei. Ternyata di sini ada Fitria Duns” Mirandea berseru saat melihat di sisinya ada Fitria Duns dan ibunya Emery Kin. Suara Mirandea terdengar lembut sebagaimana biasanya perempuan dari keluarga elit.  Sebagai salah satu keluarga peringkat tiga, Mirandea memang akrab dengan keluarga Duns. Apalagi dulunya ia adalah teman SMA Virani, ia dan Virani terkenal sebagai gadis-gadis paling cantik di sekolahnya waktu itu. 

__ADS_1


__ADS_2