Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video

Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
BAB 26


__ADS_3

Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video


Bab 26


“Benar apa yang kamu katakan Murdi!” Suara berat diseberang telepon yang berbicara dengan Murdi Bene terdengar sedikit bergetar.


“Be..benar yang Mulia Tuan Jhon Karabau. Itu dikatakan oleh Hantu Penunggu Sumur Batu itu!!” terdengar jawaban dari Murdi Bene meskipun dengan wajah yang pucat. 


Memang dalam keluarga Bene untuk memuluskan sesuatu apalagi bersangkutan dengan orang yang berkuasa, maka menambahkan minyak kedalam api demi tercapainya maksud dan tujuan untuk kejayaan keluarga Bene itu adalah sesuatu yang sah sah saja. Seperti yang saat ini dilakukan oleh Kepala Keluarga Bene ini. Sementara itu Sorto Bene tampak tersenyum puas dengan kinerja yang dilakukan oleh ayahnya itu.


“Waaarrrghh!” terdengar suara raungan yang berat dan menggetarkan seantero, dari seberang telepon Tuan Murdi Bene. Tampaknya Jhon Karabau sudah sangat marah. 


Memang Jhon Karabau sangat Kuat dalam hal fisik dan tenaga. Namun dalam segi pemikiran ia sedikit tertinggal, buktinya disulut dengan sedikit minyak ia sudah menyala tanpa memikirkan apa-apa lagi. Baginya dialah sosok yang terkuat di Bumi ini tidak ada yang lain.


“Arggggghhh!!!” Jhon Karabau meraung dengan dahsyat sehingga kekuatannya sedikit bocor keluar


“Drdd........Bummm!” Terjadi gempa bumi yang cukup besar akibat bocornya kekuatan dari Jhon Karabau. Bahkan getaran gempanya terasa hingga ke kota South Coast. Orang-orang yang berada di dekat lokasi Jhon Karabau termasuk perempuan penerima telepon tadi segera berpegangan kepada sesuatu untuk antisipasi supaya tidak terjatuh. Dan suara-suara teriakan panik menggema di tempat itu.


“Y...Yang Mulia Jhon Karabau....anda tidak apa-apa” Tuan Murdi Bene tampak semakin pucat dan keringat dingin sekarang sudah seperti sungai yang banjir ke lehernya.  Sementara itu Tuan Muda Sorto Bene justru semakin merekah senyumannya. 


Tetapi itu hanya sesaat, kemudian semua orang berubah pucat, tatkala sebuah getaran gempa bumi yang cukup kentara terasa mengguncang tempat itu. Mendadak suasana di tempat itu menjadi sehening di pekuburan setelah gempa yang cukup terasa itu berlalu.

__ADS_1


...****************...


Di sebuah cafe, tepatnya Cafe Purnama di lantai lima. Seorang Biduan Wanita dengan perut sedikit gendut tampak sedang asyik melantunkan tembang-tembang seriosa nya. Memang Cafe Purnama ini terkenal dengan lantunan-lantunan lagu seriosa bagi pelanggan yang menikmati makanan di tempat itu. 


Tidak jauh dari tempat penyanyi itu melantunkan lagunya tampak kelompok-kelompok meja makan yang telah terisi oleh pelanggan yang ingin menikmati hidangan di Cafe itu. Salah satu meja diisi oleh sepasang orang muda yang tampak berpakaian kumal. 


Bagi pemilik cafe ini tidak masalah mau pakaiannya kumal ataupun bersih yang penting punya uang untuk membayar makanan yang dipesannya. Namun jika ada persaingan pelanggan nantinya, yang jelas pelanggan dengan status pastinya akan dibela mati-matian.


Meja dengan sepasang pelanggan kumal itu saat ini telah diisi dengan berbagai hidangan lezat termasuk hidangan utama. Kedua pelanggan kumal itu tidak lain dan tidak bukan adalah Gusmon Sopordoy dan Virani Duns. Virani Duns tampak makan dengan lahapnya saking kelaparannya bahkan bersendawa di hadapan Gusmon. Mungkin karena sudah lapar parah makanya sudah tidak kelihatan lagi orang di mana-mana. Apapun yang ada dihadapannya segera di masukkan kedalam mulut dan dengan lahap dikunyahnya.


Penyanyi seriosa itu tampak sedikit tertarik dengan dua orang yang berpakaian kumal itu. Sembari bernyanyi dengan suara yang melengking-lengking tatapan matanya jelas terarah ke arah dua pelanggan kumal itu. Terlebih lagi perempuan yang makan seperti orang kelaparan itu, ia sepertinya kenal dan merasa sangat familiar sekali. Sepertinya ia sedang menatap seorang bintang besar, tapi siapa itu.


“Drttttt!” Mendadak sebuah gempa bumi dengan kekuatan cukup besar melanda tempat itu, membuat suasana menjadi sedikit panik. Namun gempa itu hanya sesaat dan keadaan kembali normal seperti sediakala.


Akan tetapi sesuatu yang mengherankan terjadi kepada penyanyi seriosa tersebut. Dikarenakan gempa tadi dan rasa terkejut yang amat sangat membuat mikropon yang ada di tangannya masuk kedalam mulutnya karena ia menganga terlalu lebar tadinya. Tepatnya seperti seseorang yang sedang tersumpal mikropon di mulutnya.


“Hohong, Hohoong!” Teriak Penyanyi seriosa perempuan dengan perut gendut tersebut. Sontak orang-orang yang ada ditempat itu memalingkan kepalanya kearah Penyanyi Seriosa itu. Para pegawai Cafe segera berlarian kehadapan Penyanyi Seriosa yang kelihatan seperti sedang memakan mikropon itu.


“Hohong, Hohong Hahu hehat!” Maksudnya adalah Tolong, Tolong aku cepat. Karena mulutnya yang sedang tersumpal mikropon membuatnya meminta tolong dengan bahasa yang cukup sulit dimengerti. 


Dalam waktu singkat para pegawai cafe sudah ada disekeliling Penyanyi Seriosa itu, ingin membantu Penyanyi Seriosa Cafe itu. Sementara itu Penyanyi itu berusaha menarik-narik mikropon supaya lepas dari mulutnya.

__ADS_1


“Hohong, Hahik Hik Hihi” Maksudnya Tolong tarik mik ini. Beberapa Pegawai Cafe itu segera berusaha menarik mikropon agar terlepas dari mulut penyanyi itu. Beberapa ada yang menepuk-nepuk tengkuknya seperti melakukan pertolongan kepada seseorang yang sedang keselek.


“How, hehan hehan hahit hahu!” Maksudnya Wow pelan-pelan sakit tahu. Seorang pegawai Cafe berusaha menarik mikropon itu sedikit kencang karena sang penyanyi sudah terlihat gelagapan.


“Hai Hehan Hehan hahas hihi halhu hu hanhi hohot!” Maksudnya hei pelan-pelan awas gigi palsuku nanti copot. Sementara itu Gusmon memandang dari kejauhan dengan sedikit mengernyit melihat apa yang terjadi. Akan halnya Virani tampaknya masih fokus dengan makanan yang ada dihadapannya.


Setelah berusaha dengan gigih akhirnya mikropon itu berhasil dikeluarkan dari mulut penyanyi seriosa tersebut. Namun satu hal yang mengejutkan, ternyata ada gigi palsunya yang menempel di mikropon tersebut sehingga tercetak di bagian atas mikropon itu.


Dengan cepat penyanyi seriosa itu menyambar gigi palsu yang menempel di mikropon, dan dengan sigap dibersihkannya sedikit dengan menggunakan ujung bajunya, kemudian dengan santainya dimasukkan kembali ke dalam mulutnya.


“Hehiha hahih hahas hanhuanha” kata penyanyi perempuan itu


“Lho Bukannya mik nya sudah lepas, kok bicaranya masih seperti itu” kata salah seorang Pegawai Cafe karena merasa bahwa mikroponnya sudah lepas.


“Oh iya maaf lupa, Terima Kasih atas bantuannya” Kata penyanyi seriosa itu lagi, melengkapi kalimat yang di ucapkannya tadi dengan bahasa yang normal kembali. 


“Ya udah kalau begitu ayo kita kembali bekerja seperti sediakala” kata Pegawai Cafe itu kembali, dengan memacu sedikit semangat dari rekan-rekannya seprofesinya.


Sementara itu penyanyi seriosa itu, tidak melanjutkan bernyanyi dia mencari tempat duduk untuk beristirahat. Seorang Pegawai Cafe mengantarkan air hangat kepadanya untuk menenangkan keadaan mentalnya yang cukup terguncang atas kejadian tadi.


Gusmon masih memandang penyanyi seriosa itu, kali ini dengan sedikit senyum simpul karena merasa sedikit lucu. Sementara itu Virani mulai memperlambat tempo makannya. Dan seakan sudah tersadar dari lapar yang menghipnotisnya, ia mulai makan dengan sopan dan beradab. Memakai sendok dan garpu dan mulai mengunyah dengan perlahan. Ada sedikit rona merah di wajahnya, yang menunjukkan bahwa ia sebenarnya merasa malu atas gaya makannya sesaat tadi. Karena memang benar-benar terasa lapar yang melilit.

__ADS_1


__ADS_2