Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video

Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
BAB 88


__ADS_3

Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video


Bab 88


Pukul 9 malam, Tiba-tiba saja panggung diwarnai dengan letusan kembang api pertanda konser dimulai. Konser dibuka dengan meriah, beberapa penari dengan pakaian modis segera memasuki panggung dari pintu samping yang berhubungan dengan bangunan Backstage, bangunan Backstage di samping panggung digunakan untuk keperluan pentas seperti Make Up, Peristirahatan artis dan sebagainya. 


Suara Alat Musik Drum menggema di seantero taman. Kemudian musik akustik mengiringi suara Drum tersebut. penari-penari perempuan melakukan gerakan-gerakan indah berpasangan dengan penari-penari laki-laki. Lampu sorot dan lampu laser silih berganti menyemarakkan panggung tersebut. beberapa saat berlalu dan pertunjukkan tarian pun berakhir


Penonton riuh rendah bersorak dan bertepuk tangan. Para Tuan Muda dan Nona Muda dari keluarga peringkat atas juga tampak kagum dengan pertunjukan tersebut. sehingga mereka pun ikut bertepuk tangan.


Dua orang pembawa acara perempuan dan laki-laki tampak berdiri di atas panggung.


“Bapak-Bapak, Ibuk-Ibuk semuanya. Baik yang saya hormati maupun yang tidak saya hormati. Perkenalkan kami sebagai pembawa acara, saya dari keluarga Huddeg” 


“Dan saya dari Keluarga Mex”


Terdengar kedua pembawa acara itu mengatakan kalimat pembukanya. 


Gusmon mengerutkan keningnya. “Kenapa harus pakai kalimat yang saya hormati maupun yang tidak saya hormati?”. Gusmon terbengong dan melihat sekeliling taman. namun orang-orang di tempat itu tampak tenang-tenang saja seolah-olah sudah biasa. Apa barangkali karena dua pembawa acara adalah orang-orang dari keluarga teratas sehingga tidak perlu menghormati semua orang?. dimana di taman ini ada banyak manusia dari berbagai kalangan, baik kalangan Keluarga Atas, Kalangan Keluarga Kaya dan kalangan masyarakat biasa. Gusmon merasa bahwa alasannya adalah hal itu, yakni yang di hormati adalah yang patut dihormati dan yang tidak patut dihormati maka tidak perlu dihormati.

__ADS_1


Gusmon sedikit memahami hal ini, sangat berbeda dengan dunianya dulu. Tiba-tiba saja ia merasa bahwa dirinya adalah alien yang terdampar di bumi super ini dan sedang mempelajari hal-hal menarik di sini. Setidaknya sebatang kara dan berkelana.


“Kita sudah mempersiapkan kejutan, seperti biasa di tahun-tahun sebelumnya. Akan ada penyanyi misterius, siapakah penyanyi misterius kita kali ini?.” Berbicara pembawa acara laki-laki, membuat orang-orang jadi makin penasaran siapa ya, penyanyi misteriusnya. 


“Wow Hidup penyanyi misterius!, bersulang untuk penyanyi Misterius” Saat ini ada sorakan dari penonton VIP. Ternyata Tommy Huddeg yang bersorak sambil bertepuk tangan, setelah itu ia meminum jus Alpukat yang dimintanya dari Stand miliknya sendiri. Orang-orang melihat sebentar kemudian kembali fokus ke atas panggung. Teriakan itu sedikit banyak mempengaruhi salah satu dari pembawa acara, yakni pembawa acara perempuan dari keluarga Huddeg.


“Sialan dasar Tommy pecundang, bikin malu saja” Demikian Pembawa Acara perempuan itu kesal dalam hatinya. Namun di permukaan ia tetap tersenyum sebagaimana pembawa acara profesional.


“Nah semakin tidak sabar kan dengan penyanyi misteriusnya, yang pasti penyanyi ini bakal bikin kita semua terpesona. Terutama sekali yang cowok-cowok nih!” Pembawa acara perempuan bersuara


“Baiklah sebelum penyanyi misteriusnya kita panggil, mari kita nikmati nyanyian dari penyanyi yang kurang terkenal berikut ini!”. kali ini adalah suara pembawa acara laki-laki dari Keluarga Mex.


Namun yang herannya orang-orang justru tidak protes dengan kalimat-kalimat dari pembawa acara. Pikiran mereka sudah sepantasnya lah Penyanyi Terkenal itu disanjung dan dipuja, sedangkan Penyanyi yang Tidak Terkenal seharusnya bersyukur karena telah diizinkan untuk tampil.  


“Jreng!!”


DI atas panggung tampil seorang penyanyi laki-laki yang berpakaian biasa saja, bahkan wajahnya sama sekali tidak diberi sedikit Make Up pun. Meskipun ia laki-laki harusnya diberi sedikit Make Up, karena ia tampil di panggung yang di tonton banyak orang. sepertinya tim Penata Rias dan tim kostum di ruangan Backstage sama sekali tidak mempedulikan orang itu.


Suara nyanyian Penyanyi Kurang Terkenal itu sangat merdu dan mendayu-dayu, namun kelihatannya orang-orang di Barisan bangku VIP sama sekali tidak tertarik. Memang kalau dilihat dari tampangnya, penyanyi ini terlihat kuyu dan lusuh, meskipun nyanyiannya enak di dengar. Meskipun begitu, beberapa dari orang-orang kaya ini sepertinya menikmati lagu ini.

__ADS_1


Gusmon malah sangat tertarik dengan lagu orang ini, corak warna musiknya sangat berbeda dengan kebanyakan musik yang telah ia dengarkan di buminya dulu. 


Tuan Muda Tommy Huddeg, terlihat acuh tak acuh dengan lagu itu, ia sama sekali tidak menikmatinya. Tidak ada sorakan dan teriakan yang biasa dilakukannya. Justru dia sekarang terlihat seperti seorang bos yang berwibawa, di tangannya sekarang terjepit sebuah rokok. Perlahan ia menghisap rokok itu dengan nyaman. Gusmon sedikit terbiasa dengan gaya Tuan muda di sampingnya yang terkadang keren dan terkadang seperti anak-anak.


Penyanyi Kurang Terkenal itu selesai menyanyikan sebuah lagu, dan ia membungkuk dengan dalam kehadirat penonton sambil meminta maaf bila ada kekurangannya dalam bernyanyi, setelah itu ia pamit dan masuk kepintu samping panggung yang terhubung ke bangunan Backstage. Tidak ada tepukan dari deretan VIP dan deretan orang-orang kaya di bangku kelompok tengah. Namun di bangku kelompok rakyat biasa terdengar riuh tepuk tangan mereka. 


“Itu, anak saya” Kata salah seorang ibu-ibu di bangku kelompok Keluarga Biasa itu. tampak matanya berkaca-kaca melihat anaknya tampil di panggung besar itu. beberapa kerabat dari ibu itu memberikan selamat sambil memeluknya dengan senang.


Gusmon di deretan bangku VIP juga bertepuk tangan, namun ia hanya sendirian dalam bertepuk tangan. Orang-orang tampak menoleh kearahnya dengan heran. 


Seorang Pria dari Keluarga Eham tampak memandangi Gusmon dengan lekat, kemudian ia berdiri dan bertanya. 


“Siapa yang mengizinkannya duduk di kursi VIP!?” Pria dari Keluarga Eham itu tampak sudah separuh baya. Ia adalah Lodong Eham Ayah dari Kiuna Eham. Lodong Eham tampak menunjuk Gusmon dengan telunjuk kirinya.


Mendengar pertanyaan yang sporadis dari Lodong Eham, Gusmon memalingkan wajah ke arah pria paruh baya itu. demikian juga orang-orang yang ada di tempat itu. termasuk Orang-orang yang ada di kelompok bangku barisan tengah. Banyak dari mereka yang baru menyadari keberadaan Gusmon. 


“Celana Training Baju Kaos Oblong dan rambut berantakan tidak di sisir, tidak salah lagi kamu pasti pengemis” Bentakan dari Lodong Eham tampak menggema. 


Saat ini di atas panggung sudah tampil penyanyi yang tidak terkenal berikutnya. Penyanyi itu mulai menyanyi, namun bentakan dari Tuan Lodong Eham tetap terdengar di tempat itu.

__ADS_1


Gusmon memandang berkeliling dan tersadar bahwa banyak tatapan mata memandangnya dengan menghina. “Sialan! Kenapa jadi pusat perhatian begini, apa pakai training dan kaos oblong di tempat ini bisa di anggap pengemis?, benar-benar mengherankan” Pikir Gusmon tidak mengerti. Lagi-lagi ia di hina, kali ini sebagai pengemis tadi di rumah sakit dihina sebagai pecundang dan orang miskin. Apa tampangnya seperti pemulung ya?. 


__ADS_2