Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video

Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
BAB 99


__ADS_3

Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video


Bab 99


Virani menyanyikan banyak lagu namun ia sama sekali kehilangan Gusmon. Kemanapun ia memandang yang ia lihat hanya barisan penonton, ia tidak melihat Gusmon. Kemana orang ini ?.


Virani sedikit kesal atas calon suaminya itu, namun sebagai panyanyi papan atas performa nya memang benar-benar patut diacungi jempol.


Saat ini Gusmon sudah kembali masuk kedalam taman dan menuju tempat duduknya semula. Hal ini tentu saja tidak lepas dari perhatian Virani. Virani tetap fokus bernyanyi, karena beberapa saat lagi akan ada ledakan penanda pergantian tahun. Sebenarnya ia tak habis pikir, kemana Gusmon dalam waktu yang lama tadi?. Apakah ia buang air, lalu kenapa lama sekali?. 


Memang taman itu di lengkapi dengan sarana Toilet umum di sudut-sudut taman. Tentunya toilet itu di bagi menurut tingkat yakni Golongan biasa, golongan kaya dan golongan 3 besar keluarga peringkat atas.


Tepat bait terakhir yang indah selesai di lantunkan oleh Virani, Saat itu juga di atas Panggung Dua Orang pembawa acara muncul dan mendampingi Virani yang sudah selesai bernyanyi. 


“Saudara-saudara sekalian, yang kami hormati bahkan yang tidak kami hormati” Pembawa acara laki-laki dari keluarga Mex mebuka kata.


“Mari kita Hitung Mundur untuk menyambut tahun baru ini” Pembawa Acara Perempuan dari Keluarga Huddeg menyambung


“Lima.... Empat ..... Tiga.....” Virani menghitung mundur, kali ini di ikuti oleh seluruh penonton yang hadir dengan semangat, sehingga suara itu bergemuruh.


“Dua....! .... Satu...!”


Duar!.... Duar!.... Duar!

__ADS_1


Seketika itu juga gelegar kembang api berdentum di beberapa tempat. Rona menyala mencuat di angkasa menandakan malam pergantian tahun  telah sukses dilalui. 


Kembang api berwarna warni menyala di udara tidak henti-hentinya seolah-olah hujan api yang sangat indah. Semua mata orang-orang baik yang berada di dalam taman maupun di luar taman, menatap pertunjukan kembang api itu dengan penuh minat. 


Tommy Huddeg tampak bersorak sorai riang menyaksikan kembang api yang bermekaran di langit. Tepuk tangannya tidak henti-hentinya menggambarkan kegembiraan. Namun Gusmon yang sudah biasa menyaksikan kekonyolan orang ini sebenarnya merasa sedikit aneh. Apakah ini benar-benar sifat aslinya? Ataukah sesuatu untuk menutupi sifat aslinya?. Kalau memang demikian kenapa harus ditutupi? Apakah sifat asli orang ini mengerikan sehingga harus di tutup-tutupi?. Entahlah!, sepanjang pengetahuan Gusmon Tommy ini cukup baik, buktinya ia mau berbagi rokok mahal dengan nya. 


Beberapa Kembang api masih menyala dengan megahnya menggambar bunga-bunga indah di angkasa, semua orang terharu, gembira dan bahagia. Beberapa saat berlalu, hingga langit kembali berwarna hitam tanpa adanya hiasan bunga api di angkasa.


“Kami segenap Panitia dan Kru yang bertugas meminta maaf jika ada kata-kata kami yang salah dan menyinggung. Namun kami merasa bahwa kata-kata kami masih berada dalam batas yang normal, dan tidak menyinggung siapapun dari keluarga besar teratas. Dengan berakhirnya acara kembang api itu, maka berakhir pulalah acara kita pada hari ini. Sampai jumpa di tahun mendatang.” Dua pembawa acara laki-laki dan perempuan, berkolaborasi dalam menyampaikan kata-kata penutup acara itu.


Semua Penonton bertepuk tangan, mereka semua tidak merasa rugi dalam menonton konser malam ini. justru mereka merasa beruntung, dengan hanya 33 dolar sebagai harga karcis sudah dapat menimati Konser menyambut tahun baru yang sangat megah itu. apalagi penyanyi misteriusnya adalah seorang bintang besar seperti Virani Duns.


Beberapa orang sudah bubar, namun masih ada banyak juga orang di tempat itu menatap panggung, meski panggung sudah kosong dan sunyi tanpa suara musik. Demikian juga Virani dan Pembawa acara itu sudah pindah ke ruang Backstage untuk ganti kostum. Tentunya mereka akan kembali ke pakaian mereka sebelumnya.


“Sepertinya ia sudah pulang” berkata salah satu kerabat Mirandea.


“Hhhh, tidak biasanya ia pulang tanpa memberi tahu kita terlebih dahulu” berkata kerabatnya yang lain.


“Kalau begitu lebih baik kita juga pulang” Mereka akhirnya pulang. 


Beberapa saat kemudian, beberapa orang penggemar lagi juga ikut pulang, termasuk keluarga-keluarga peringkat tiga besar. Sehingga hanya tinggal sedikit penggemar di taman itu. termasuk Tuan Muda Sorto Bene beserta kroconya sudah pergi sejak tadi rupanya.


“Apa kamu juga akan pulang?” Tommy Huddeg bertanya saat ia melihat Gusmon masih menunggu seseorang. 

__ADS_1


“Tentu saja, tapi aku harus menunggu penyanyi misteriusnya” Gusmon mejawab terus terang. Tommy tampak tertawa seolah-olah ia bahagia. Kemudian ia memberikan sebungkus rokok kepada Gusmon. Gusmon hanya melirik sekilas, ia ingat rasa rokok orang kaya yang di hisapnya tadi memang cukup mantap.


“Ambillah anggap sebagai permintaan maaf ku tadi, karena di awal-awal sikap ku sedikit meremehkan mu, lagi pula aku telah mengelap tangan sewaktu bersalam dengan mu di awal tadi” Kata Tommy dengan sungguh-sungguh. Gusmon sedikit enggan karena ia sebenarnya bukanlah seorang perokok. Namun untuk menghargai niat baik Tommy ia pun mengambilnya. 


Saat itu Virani sudah keluar dari ruang Backstage dan memakai pakaian sebagaimana ia pergi kesini tadi. Dengan senyum mengembang ia mendekati Gusmon yang menatapnya terpana. Ia terlalu cantik sebagai seorang gadis, Gusmon masih selalu terpana bila menatapnya.


Tommy Huddeg mohon diri kepada Gusmon dan membawa orang-orangnya. Saat cukup jauh dari Gusmon ia mulai menanyai orang yang di perintahkan sebagai pemantau tadi.


“Bagaimana informasi tadi” Tommy bertanya dengan tenang


“Ini sulit di jelaskan dengan akal sehat” Bodyguard Tommy yang bertugas sebagai pemantau tadi menjawab.


“Ceritakan saja dengan perlahan sambil berjalan” Tommy berkata dengan santai. 


Bodyguard itu menceritakan apa yang dilihatnya mulai dari pembantaian Pengawal Mirandea oleh dua orang botak, hingga kemunculan Gusmon dan kejadian di akhiri begitu saja. Ia menceritakan sepanjang perjalanan menuju mobil dari Tuan Mudanya, Tommy Huddeg.   


Virani tanpa sungkan menggandeng tangan Gusmon dan mengajaknya pulang menuju mobil.


Di sudut taman yang terlindung dari bayang-bayang gelap. Kayla Ridz menatap dengan penuh kebencian ke arah Gusmon. Kali ini ia terpaksa pulang berjalan kaki karena keluarga Eham sama sekali tidak peduli dengan dirinya atau mungkin ia bisa menumpang dengan taksi atau angkutan umum, tapi apakah angkutan umum masih beroperasi dini hari ini?. pada mulanya Kayla pergi ke taman ini bersama Kiuna, tetapi kelihatannya Kiuna tidak bertanggung jawab dan meninggalkannya atas insiden bersama Gusmon tadi.


Sebenarnya Kiuna ingat dengan Kayla, bagaimanapun ia adalah temannya. Namun bagaimana mungkin Kiuna masih akan menyempatkan membawa pulang Kayla di saat ayahnya sudah sangat kesal atas ulah Kayla, ditambah ayahnya kehilangan kesempatan bekerja sama dengan Niya Noune.   


Sesosok tinggi ramping berambut sebahu tampak berdiri di luar taman di temani beberapa anggota gangster elang hitam. Itu adalah Niya Noune tampaknya ia cukup bertanggung jawab dalam tugas pengamanan konser kali ini , terlebih ini adalah wilayahnya. Tugas kali ini tampaknya sudah selesai tanpa ada kendala.

__ADS_1


__ADS_2