Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video

Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
BAB 38


__ADS_3

Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video


Bab 38


Di Kamar Kepala Keluarga Duns. Saat ini Virani duduk di hadapan kedua orang tuanya.


“Mana calon suamimu itu” Bertanya ayahnya dengan nada yang datar. Virani sedikit terkejut, ternyata ayahnya sudah tahu berita itu. Kemungkinan mendapatkan informasi dari cerita ibunya.


“Dia.... sebentar lagi kesini” Jawab Virani, tiba-tiba saja wajahnya menjadi memerah karena saat ini ia teringat dengan kejadian bersama Gusmon beberapa saat yang lalu, dimana ia melihat sesuatu yang menakjubkan milik Gusmon pertama kalinya.


Perubahan wajah anaknya itu tidak luput dari perhatian Fanny Wen. Namun ia tidak menanyakan, karena menyangka wajah anaknya memerah setelah Pieter mengetahui bahwa Gusmon adalah calon suami anaknya.


“Begitu, !” Pieter menatap putri satu-satunya sejenak.


“Baiklah, kalau begitu kamu jawab saja pertanyaan ayah dengan jujur” Pieter melanjutkan pernyataannya seolah-olah menginterogasi anaknya. Virani mengangguk.


“Pertama, ceritakan bagaimana kamu bisa lolos dari penyekapan yang di lakukan oleh orang-orang Sorto Bene itu” Tanya Pieter


“Mmm, pada waktu itu... Aku sudah putus asa, hanya bisa berharap pada Penunggu Sumur Tua yang ada di pabrik itu, maka aku bersumpah jika Hantu penunggu Sumur Batu Tua menyelamatkan aku, maka aku bersedia menjadikannya sebagai suami dan bila ia perempuan maka aku akan menjadikannya sahabat seumur hidupku” Virani menjawab pertanyaan ayahnya, Pieter tampak mengerutkan keningnya.


“Hantu Penunggu Sumur Tua, cerita apa ini?” begitu pemikiran dari Pieter, sementara itu Fanny Wen juga merasa aneh dengan cerita putrinya. ia menjulurkan punggung tangannya ke kening putrinya.

__ADS_1


“Kamu tidak sakit kan nak?” tanya ibunya spontan dengan nada khawatir.


“ini benar bu, Gusmon adalah Hantu Penunggu Sumur itu” Kata Virani lagi, ayahnya hanya geleng-geleng kepala. Pieter melanjutkan bertanya, tidak ingin anak dan isterinya saling bersitegang.


“Oke-oke, baik-baik. Tidak usah diperdebatkan. Kenapa mobil Ketua Elang Hitam bisa berada di tangan kalian?” Pieter lanjut bertanya memuaskan rasa ingin tahunya.


“Ayah mungkin tidak percaya, Gusmon adalah Ketua Besar Gangster Elang Hitam!” Virani berbicara dengan penuh rasa percaya diri.


“Apa..!” Kali ini kedua orang yang ada di hadapan Virani benar-benar terkejut dengan jawaban dari Putri semata wayangnya ini. “Gusmon adalah Ketua Besar Gangster Elang Hitam, bagaimana bisa?” bukannya Ketua dan Ketua Besar sekaligus adalah Grudul Hiko?, semua orang tahu itu.


“Gusmon baru saja menjabat sebagai Ketua Besar Gangster Elang Hitam pada hari aku di bebaskan” Lanjut Virani, yang membuat Pieter sempat berfikir, jangan-jangan ini sengaja direncanakan oleh Tuan Muda Sorto Bene yang licik itu. Namun pemikiran itu hilang tatkala dari lanjutan cerita Virani bahwa Tuan Muda brengsek itu dan pengawal nomor satunya mundur setelah dikalahkan oleh Gusmon, bahkan Pujin Hento sampai cacat permanen tangan kanannya.


Pieter sekarang mulai menduga-duga tentang Gusmon, sedemikian hebatkah anak muda ini sampai mampu menghancurkan pengawal andalan Tuan Muda Sorto Bene yang nyatanya adalah murid langsung dari Jhon Karabau. Tentunya ini pasti akan mendapat perhatian langsung dari Jhon Karabau. Ataukah orang ini benar-benar Hantu dari Sumur Batu Tua, seperti yang diceritaan Virani?.


“ini menyangkut kabar darimu, kenapa kamu tidak menelepon untuk menyampaikan keadaanmu. Ini sangat berbahaya kepada kami. Mengingat situasi telah berubah dan kami ingin pergi ke Kediaman Keluarga Bene. Kamu tentu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika kami sedikit lebih cepat dari kedatangan mu kesini.” Ayahnya bertanya seakan-akan menyesali putrinya yang tidak mengabarkan situasi terkini saat ini berhasil lolos dari sekapan itu.


“Aku... “ Virani berpikir sesaat dan merasa aneh dengan pertanyaan ayahnya.


“Ayah, Aku sudah menelepon untuk mengabarkan keadaan ku” Jawab Virani akhirnya. Ayahnya saling berpandangan dengan ibunya.


“Lantas” tanya Pieter kembali

__ADS_1


“Iya.. pada waktu itu Fitria yang mengangkat teleponnya, dan aku berpesan agar berita ini di beritahukan kepada ibu” Jawaban Virani membuat Pieter terdiam cukup lama. Itu sebabnya mereka membuat alasan yang aneh sewaktu akan pergi ke kediaman Keluarga Bene kemarin. Demikian hasil analisa dari pieter. Ini tentu saja membangkitkan kemarahannya, ternyata inilah yang telah mereka rencanakan. Akhirnya terbongkar selama ini niat busuk mereka. Pieter mengepalkan tangannya membentuk tinju yang berkeretekan.


“Tok ! Tok! Tok!” terdengar bunyi ketukan pintu.


“Tuan Besar, Tamu yang terhormat ingin masuk” terdengar suara seorang Pelayan Keluarga, yang meminta izin untuk memasukkan seseorang ke dalam kamar Tuan Besarnya.


“Silahkan !, pintu tidak dikunci !” Pieter dan yang ada di tempat itu sudah tahu siapa yang akan masuk kedalam, siapa lagi kalau bukan Gusmon.


Pintu pun terbuka perlahan dan seorang Pemuda Rupawan dengan Kemeja putih panjang lengan yang dilapisi dengan Rompi Hitam perlahan melangkah masuk. Semua orang terkesiap.


“Gusmon !” Virani berseru tertahan saat melihat Gusmon terlihat keren. Ia menjadi terharu, karena saat ini kedua orang tuanya juga terpana melihat kearah calon suaminya itu.


Pelayan yang mengantarkan Gusmon segera berlalu dari tempat itu, saat ini Gusmon duduk di kursi di samping Virani setelah melihat Pieter mempersilahkannya untuk duduk. Virani terlihat mencuri pandang sesekali.


“Apa kamu sanggup untuk selalu melindungi Putri ku” Pieter bertanya kepada Gusmon, Gusmon menoleh ke arah Virani sejenak, saat itu Virani sedang mencuri pandang. Sepasang mata mereka beradu pandang wajah Virani terlihat lucu saat ketahuan mencuri pandang dan seketika memerah kemudian ia menundukkan wajahnya. Melihat itu Gusmon heran, ia kemudian tersenyum kearah Pieter. Maklum ia tidak tahu apa maksud pertanyaan Pieter, lagi pula ia tidak pernah tahu kalau kedua Orang Tua Virani sudah menganggapnya calon menantu.


Gusmon juga tidak tahu bahwa sikap malu-malu Virani, yang sebenarnya bentuk perwujudan dari rasa memilikinya, bahwa Virani sudah menganggapnya sebagai Calon Suami nya. Virani beranggapan bahwa Gusmon sudah mengetahui hal itu dikarenakan sumpahnya di Sumur Batu waktu itu yang mendapat tanggapan langsung dari Gusmon dengan penghancuran Penutup Sumur Batu dan berakhir dengan penyelamatan dirinya.


“Ngg nganu Pak, eh Tuan ayah, waduh manggilnya apa ya” Gusmon sedikit gugup atas pertanyaan yang sedikit ambigu itu, apalagi sikap Virani yang terlihat aneh. Seolah-olah seorang gadis lugu yang sedang dijodohkan, aneh sekali.


“Panggil saja Ayah, atau kalau kamu suka boleh panggil Ayah Mertua” kata Pieter menjelaskan, saat ini Virani justru semakin dalam tertunduk wajahnya demi mendengar kata-kata ayahnya. Virani saat ini merasakan wajahnya memanas dan jantungnya seolah mau lepas dari dadanya. Namun akan halnya dengan Gusmon ia malah bingung dengan pernyataan dari Pieter.

__ADS_1


“Oke aku panggil Ayah saja ya” Gusmon juga merasa canggung. Ia beranggapan bahwa ayahnya Virani lagi bercanda dengan mengatakan panggil Ayah Mertua kalau suka. Ia menutup hayalannya dan sedikit bergembira andaikata itu benar-benar menjadi kenyataan. Siapa yang tidak ingin memiliki isteri seperti Virani, Kecantikannya yang tidak ada tandingan kemudian memiliki hati yang lembut, baik dan pokoknya isteri idaman semua lelaki. Demikian penilaian Gusmon akan Perempuan di sampingnya itu.


__ADS_2