
Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
Bab 40
Dari kota Field Sword ke Kota Kecil South Coast ada sekitar 300 Km, Di jalanan itu tampak tiga buah mobil mewah yang tidak biasa melaju dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil paling depan di kursi penumpang terlihat seorang lelaki kekar setinggi 2 meter, dengan kening kiri dan kanan yang ada tanda bulatan merah.
Orang ini adalah Jhon Karabau, sosok mengerikan Penghancur Bumi Bagian Satu. Setelah berita yang diterimanya dari Murdi Bene, ia merasa sangat marah dan ingin cepat-cepat meladeni Hantu Penunggu Sumur Batu itu. Namun kemarahan itu ditahannya, mengingat lawan kali ini berbeda menurutnya. Justru ia menjadi bersemangat dengan pertarungan nantinya.
Selama ini Jhon Karabau selalu merasa kesepian, karena tidak ada lawan yang sanggup menahan tinjunya bahkan dengan sedikit tenaga sekalipun. Namun kali ini sesosok Hantu dari Sumur Batu Tua telah berani memproklamirkan bahwa sosoknya adalah yang terkuat di bumi bagian satu.
“Berani menganggapku omong kosong, kita lihat saja, apa yang bisa kau lakukan!” Jhon Karabau meremas kaleng minuman yang ada di tangannya, sehingga isinya yang tinggal setengahnya muncrat dan mengenai sopir yang ada di sampingnya. Namun sopir itu hanya diam fokus mengemudi sama sekali tidak terganggu dengan kegiatan Jhon Karabau. Tentu saja jika ia berani protes, dapat dibayangkan nasibnya kemudian.
Sebenarnya Jhon Karabau bisa saja datang ke Kota Kecil South Coast dengan terbang di angkasa. Ia memiliki kemampuan itu, karena ia berasal dari Bumi Bagian Empat!. Namun ia lebih memilih naik mobil Sport Mewah bersama lima anak buahnya. Sopir yang membawa mobil bersama dengannya ini adalah salah satu dari anak buahnya. Kelima anak buahnya ini termasuk Pujin Hento adalah merupakan Murid-Murid binaannya sendiri.
Jhon Karabau sengaja naik mobil di samping ingin menikmati perjalanan, ia juga ingin merasakan sensasi bertemu lawan yang kuat, jadi ia sama sekali tidak terburu-buru. Berdasarkan penuturan dari Murdi Bene maka Hantu Penunggu Sumur Batu ini cukup kuat sebagai lawannya. Ia ingin bersenang-senang. Ia ingin bertarung dimana lawannya dalam keadaan tidak tertekan, artinya bertarung dengan adil. Meskipun ia yakin pastinya ia yang akan menang.
__ADS_1
Jalan menuju ke Kota South Coast begitu panjang dan berkelok-kelok, Jhon Karbau menikmati sensasi ini. Sudah lama ia tidak merasakannya, sensasi dalam menantikan lawan yang kuat. Apa benar Hantu Penunggu Sumur ini kuat?.
Mengingat kecepatan mobil yang santai diperkirakan mereka akan memasuki Kota South Coast dalam waktu tujuh setengah jam lagi. Jhon Karabau mengambil satu lagi minuman kaleng beralkohol membuka tutupnya kemudian mereguknya hingga habis. Sudah beberapa kaleng yang diteguknya semenjak tadi. Namun ia sama sekali tidak mabuk, sungguh sosok yang mengerikan. Padahal minuman kaleng yang dia reguk termasuk minuman dengan alkohol tinggi.
Ketiga mobil sport itu masih terus melaju dengan kecepatan sedang, mengikuti irama jalan yang berkelok-kelok. Geografis sepanjang jalan yang menuju ke Kota South Coast itu begitu asri dengan banyaknya pepohonan hijau, sesekali ditimpali dengan deretan rumah-rumah penduduk tingkat kecamatan ataupun penduduk pinggiran kota.
Sementara Jhon Karabau sedang menikmati perjalanannya dengan lalu lintas yang lancar. Suasana di Kediaman Keluarga Bene tampak tidak ada pergerakan, tidak ada pemusatan ahli beladiri apapun. Jelas bahwa keluarga ini hanya menunggu pergerakan dari Jhon Karabau. Mereka tidak mau mendahului Makhluk itu, jika tidak akan memiliki nasib yang mengenaskan. Lagi pula mereka sekarang ini tentunya tidak berani mendekati Keluarga Duns, selama Hantu Penunggu Sumur Batu masih berkeliaran.
Keadaan Kediaman Keluarga Bene yang biasa-biasa saja itu dilihat oleh beberapa orang dari balik kaca mobil yang berjalan di jalan raya depan Villa Keluarga Bene. Mobil itu berjalan dengan kecepatan sedang berjalan lurus dan tidak berhenti.
Suasana pagi mulai beranjak, matahari mulai menyapa. Saat ini di Ruang Makan Utama Keluarga Duns. Beberapa orang sudah selesai sarapan, mereka adalah Gingger dan genol serta Wirda. Yang lain tinggal menghabiskan sedikit lagi menu di piring mereka. Akan halnya Fitria tampaknya ia dari tadi tidak menyentuh makanannya.
Fitria ingin melihat reaksi Virani sekali lagi, maka ia segera mengambil air putih yang ada di atas meja.
“Kamu mau air putih” Kata Fitria, baru kali ini ia bicara lembut kepada Gusmon, sebelumnya ia bicara kasar dan menghina. Ia menyerahkan air putih yang di ambilnya kepada Gusmon.
__ADS_1
“Terima Kasih” kata Gusmon yang tanpa sadar menerimanya dikarenakan ia memang belum minum air putih sejak tadi, hanya minum Mochtail yang dibuatkan oleh Koki Salim tadi. Virani yang melihat itu segera menegur.
“Gusmon biar aku saja yang mengambilkan air putih untuk kamu” kata Virani seraya hendak mengambil Gelas berisi air dari tangan Gusmon pemberian dari Fitria.
“Ini aja nggak apa-apa” kata Gusmon sekenanya, karena menurutnya air putih itu sama saja. Mendengar penolakan dari Gusmon mata Virani tampak berkaca-kaca ia memandang Gusmon dengan sedih seperti hendak menangis. Gusmon menjadi terpana dan meletakkan gelasnya tidak jadi meminum air putih itu. Gusmon seperti ingin mati melihat perempuan itu sedih dan seolah ingin menangis, jelas ia tidak mau melihat hal itu.
“iii iya ini, aku tidak meminumnya. Aku mau minum air dari gelas di tangan mu” kata Gusmon kemudian. Mendengar itu Virani menjadi Gembira, segera ia pergi mengambilkan air putih dengan gelas berbeda dari Fitria tadi. Fitria hanya memperhatikan dengan kesal reaksi dari Virani itu.
“Ih sikap apa itu, seolah-olah telah terjadi hal yang mencurigakan di antara mereka berdua” Begitu kata hati dari Fitria yang memperhatikan reaksi dari Virani.
Virani menyodorkan air putih kepada Gusmon yang langsung diminumnya sampai habis. Memang ternyata air putih yang diambilkan oleh Virani terasa lebih menyegarkan. Kenapa ya?, apa memang dia yang kehausan ataukah karena ada perasaan yang lain?.
“Lain kali, aku yang ambilkan makan dan minumnya ya” Kata Virani lagi dengan nada sedikit manja. Gusmon merasakan ada cinta dalam nada Virani. “Ini .... yang benar saja. Apakah ini hanya perasaanku saja” Sejenak Gusmon tertegun tiba-tiba saja jantungnya jadi berdebar kencang “Virani apa kamu menyukai aku?” kata-kata itu hanya ada dalam hati Gusmon. Sesungguhnya ia tidak yakin apa ini, namun ia merasakan perasaan ini. Ini aneh, pikir Gusmon.
Ia memandang berkeliling. Nampak sikap orang-orang tidak ada yang berubah. Gusmon menghirup nafas panjang. “Ayolah Gusmon, ini biasa aja. Tidak ada yang aneh, jangan berpikiran macam-macam.”
__ADS_1
Saat ini Fitria masih duduk sambil melirik tingkah polah mereka berdua.
“Aku merasa Virani menyukai pemuda ini” Fitria membatin dalam hati, ia telah mendapatkan kesimpulan, namun hatinya sakit. “Apa-apaan kamu ini Virani, semuanya terpikat pada mu. Tidak hanya Handre Ken, Sorto Bene, dan Pemuda-Pemuda dari Generasi Kaya bahkan orang ini pun tidak lepas dari jerat mu, benar-benar beruntung hidup mu! “ Jerit hati kebencian seketika menyala dalam hati Fitria. Memang sejak dulu ia sudah tidak suka kepada saudara sepupunya itu.