
Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
Bab 61
“Bagaimana kamu pergi belanja ke kaki lima dulunya” Kata Virani lagi
“Tentu saja dengan jalan kaki, aku kan tidak punya kendaraan” jawab Gusmon jujur
“Dan sumurnya?” Tanya Virani, ingin tahu bagaimana Gusmon keluar dari sumur dan pergi ke kaki lima.
“O... hm..hm” Gusmon berhenti bicara sesaat, ia sedikit keceplosan bicara tentang masa lalunya di Bumi Asli. Tentu saja Virani tidak mengerti perihal dirinya yang di teleportasikan dari Bumi Asli ke Bumi Super ini melalui kejadian aneh di dalam Supermarket di Jakarta.
“Begini.... apa kamu pernah mendengar tentang istilah teleportasi” Tanya Gusmon
“Oo jadi kamu keluar dari Sumur yang ada cor di atasnya itu dengan cara teleportasi?!” Virani berkata dengan ekspresi yang tidak percaya. Ia kembali melihat Gusmon dengan tatapan meneliti. Kemudian ia mecubit-cubit pipi Gusmon dan menarik-nariknya. “Ini kelihatan seperti manusia biasa, tidak seperti hantu” pikir Virani heran.
“Wadow!, apa yang kamu lakukan, itu sakit tahu... ntar nabrak nih!” Kata Gusmon meringis kesakitan saat pipinya ditarik-tarik oleh Virani.
“Kamu tidak kelihatan seperti hantu, bagaimana kamu berteleportasi?” Kata Virani lagi tidak peduli dengan teriakan kesakitan dari Gusmon. Tampaknya ia penasaran dengan keberadaan Gusmon di Sumur Batu Tua dalam Pabrik Terbengkalai itu. Gusmon tampak sedikit kaget, tampaknya Virani salah sangka dengan maksudnya mengatakan tentang teleportasi. Pada mulanya ia ingin jujur, tapi tampaknya Virani akan semakin bingung dengan penjelasannya.
“Oh itu sederhana saja, sebenarnya cor dari sumur itu bisa di geser-geser seperti sebuah pintu” Jawab Gusmon akhirnya. Ia terpaksa berbohong demi untuk jawabannya terlihat natural.
__ADS_1
“Katanya tadi teleportasi” Virani sedikit kecewa dengan jawaban Gusmon. Sebenarnya ada banyak pertanyaan dari Virani mengenai mengapa Gusmon di Sumur Batu itu. Tapi tampaknya Gusmon tidak serius dalam menanggapi pertanyaannya. Sudahlah, ia tidak mau memikirkan hal itu, mungkin Gusmon memang menyimpan suatu rahasia yang tidak boleh diketahui oleh orang lain termasuk dirinya. Memang sedikit sedih juga, mengingat Gusmon masih menyimpan rahasia terhadap dirinya.
“Kapan-kapan aku akan mentraktir kamu makan, di kaki lima sekitar sini” Kata Virani dengan suara pelan. Gusmon hanya melirik sekilas dan mengangguk.
Saat ini Mobil Kijang Innova Silver itu sudah memasuki pelataran parkir Pusat Perbelanjaan South Coast City yang ada di basement.
Setelah mobil itu terparkir dengan rapi Gusmon segera turun berniat membukakan pintu untuk Virani. Sebelum niat itu terwujud, lima buah mobil sedan menerobos masuk dan berhenti berjejer tidak berapa jauh dari samping Gusmon berada. Beberapa orang bertampang sangar segera turun dan dengan sigap mengelilingi tempat itu dengan sikap penjagaan.
Seorang bertampang sangar segera membuka pintu mobil sedan yang paling depan, kemudian seorang perempuan dengan wajah menawan dan tinggi langsing turun dari mobil tersebut. Perempuan ini adalah Niya Noune salah satu Jenderal Perang Gangster Elang Hitam yang ditakuti. Niya Noune Menguasai Wilayah Tengah Kota South Coast.
Niya Noune terlihat modis memakai kemeja putih dengan balutan Blazer merah muda sangat serasi dengan Palazo merah muda yang di pakai hingga mata kaki. Di samping itu ia juga memakai Stilleto di kakinya, hingga tubuhnya yang sudah tinggi tampak semakin tinggi jenjang dan tentu saja kelihatan Feminim. Sesaat ia memandang sekeliling.
Saat itu tampak dua orang saling tatap, itu adalah Niya Noune dan Gusmon. Gusmon melihat perempuan itu terpana kearahnya. Padahal ia hanya ingin melihat siapa orang-orang ini, dan saat itulah matanya bertemu pandang dengan perempuan yang laksana model itu.
Melihat ada yang berani menatap pimpinan mereka, seorang bertampang sangar yang tentu saja anggota Gangster Elang Hitam, segera menghampiri Gusmon dengan langkah yang gahar. Gusmon melirik sekilas anggota Gangster tersebut tanpa menggeser kakinya.
“Apa yang kamu lakukan dengan melihat Pimpinan kami seperti itu” Kata Anggota Gangster Elang Hitam itu. Tangannya dengan cepat mencengram kerah baju Gusmon. Gusmon tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu padahal dirinya hanya melihat dan tidak melakukan apa-apa.
“Aku kan cuma melihat dan bukan mengintip, lagian orang yang aku lihat itu memakai baju, bukan telanjang” Kata Gusmon heran dengan sikap orang ini.
“Jahanam!!, Cepat Korek biji mata mu!, atau aku yang akan melakukannya!” Bentak anggota Gangster itu marah. Cengkraman tangannya di kerah baju Gusmon semakin erat.
__ADS_1
“Gusmon!!” Virani yang sudah keluar dari mobil tanpa di bukakan oleh Gusmon, segera menghambur kearah Gusmon.
Anggota Gangster itu berpaling kearah Virani. Demi melihat wajah Virani yang tertutup masker, ia sedikit mengernyit. Ia merasa sedikit Familiar dengan wajah itu, meskipun separuhnya tertutup masker. Anggota Gangster itupun melepaskan cengkramannya pada kerah baju Gusmon. Ia tentu saja mengingat pesan dari ketua mereka, untuk sedapatnya menghindari masalah, apalagi dengan orang-orang tertentu. Saat ini ia merasa perempuan di depannya adalah seseorang yang cukup berpengaruh, itulah sebabnya ia berinisiatif untuk melepaskan cengramannya.
“Kamu tidak apa-apa” Kata Virani Khawatir, ia segera memeriksa leher Gusmon. Dan bernafas lega tatkala tidak ada sesuatu hal ataupun luka yang terjadi. Gusmon hanya tersenyum melihat kelakuan Virani yang Khawatir tersebut. sepertinya gadis ini sangat perhatian kepadanya.
“Aku tidak apa-apa” Kata Gusmon sambil melirik kepada Anggota Gangster yang masih berdiri di hadapannya.
Akan halnya Niya Noune di seberang, ia sedikit terkejut melihat ada seorang perempuan dengan memakai masker yang keluar dari Mobil Kijang Innova Silver. Saat itulah matanya melihat mobil itu dan sedikit membesar. “Mobil itu aku merasa sangat akrab, apakah ....?”. “Ah lupakan, ada banyak mobil yang serupa di dunia ini”.
“Sudah hentikan, lanjutkan perjalanan!” Niya Noune segera memberikan perintah kepada bawahannya itu. Setelah itu ia melangkah dengan anggun menuju elevator.
Sejumlah anggota gangster itu segera berbalik dan mengikuti Niya Noune. Sedangkan orang yang mencengkram kerah Gusmon tadi bersurut mundur dan berbalik dengan cepat menyusul rekannya. Ia terpaksa mengurungkan niatnya untuk mencongkel mata Gusmon. Bagaimanapun ia harus patuh kepada Jendral Perangnya. Bilamana tidak ada perintah itu, dan perempuan bermasker itu tidak keluar dari mobil, sudah dipastikan sejak tadi ada bola mata di telapak tangannya.
Ada tujuh belas orang angota Gangster Elang Hitam yang di bawa oleh Niya Noune, karena itu tidak muat dalam satu elevator. Untungnya elevator di Pusat perbelanjaan itu ada enam buah yang berderetan, sehingga mereka bisa diangkut dengan sekali jalan.
Di dalam elevator itu, Niya Noune masih berpikir-pikir ketika ia di pelataran parkir tadi. Pria muda yang tampan, seorang gadis dengan masker dan Mobil Kijang Innova Silver. Siapa mereka?. Raut wajah Niya Noune seketika membeku ketika mengingat gadis itu berteriak, Gusmon!!. Itu adalah teriakan gadis bercadar masker itu. "Gusmon", Niya mengulang-ulang nama itu. Sepertinya ia pernah mendengar.
“Tring!”
Pintu Elevator terbuka, lamunan Niya seketika lenyap. Ia menarik nafas panjang sejenak. saat ini ia memfokuskan kepada tujuannya datang ke Pusat Perbelanjaan ini. tentu saja untuk memperluas bisnis alat-alat kecantikannya.
__ADS_1