
Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
Bab 20
Di luar pabrik terbengkalai, Gusmon dengan santai menuju ke deretan pepohonan yang sedikit sepi. Tentunya ia ingin merasakan kesegaran udara di sekitar pepohonan dan hari sudah beranjak menuju sore. Saat itu Virani tampak masih mengikuti Gusmon dengan pipi yang semakin memerah, tampak sekali bahwa ia gugup.
“Hmm... Gu... Gusmon, kenapa kamu membawaku ketempat yang sepi begini?” tanya Virani dengan sedikit bergetar, tampak sekali bahwa ia merasa sedikit grogi dengan Gusmon yang membawanya ke tempat yang sepi itu, pikiran yang aneh-aneh muncul di benaknya. Mungkinkah Gusmon ini akan melakukan sesuatu kepadanya?, semacam ciuman atau sebagainya. Mengingat hal ini wajah Virani semakin merona.
“Eh..... aku tidak mengajakmu ke tempat ini, bukannya kamu yang mengikuti ku” kata Gusmon heran. Mendadak saja wajah Virani menjadi cemberut dengan jawaban Gusmon ini.
“Tadi bukannya kamu yang mengajakku untuk mengikuti mu” kata Virani dengan muka yang masam.
“Tadi itu....” Gusmon mengubah wajahnya dengan senyum simpul.
“Aku kan mengajakmu, agar tidak mengganggu mereka yang sedang berdiskusi” katanya lagi, tampak senyuman masih menghias di bibirnya.
__ADS_1
“Lagi pula jika kau tetap disana dengan para Gangster itu, siapa yang bisa menjamin bahwa mereka tidak akan mencelakakan mu?” Kata Gusmon lagi sambil menatap wajah Virani yang cemberut dan tertegun. Ketika ia menatap wajah Virani maka ia akan selalu tertegun entah kenapa, meskipun ia sedang cemberut sekalipun tampaknya tetap memancarkan pesona yang memenuhi keindahan.
Virani memalingkan wajahnya dan pergi dari hadapan Gusmon, tampaknya ia sedang merajuk. Itu juga sebenarnya membuat Virani menjadi heran kenapa tiba-tiba saja ia tampaknya menjadi seolah-olah biasa bersikap seperti itu kepada Gusmon, seolah-olah Gusmon pacarnya walaupun sebenarnya ia telah mengucapkan janji akan menjadikan Gusmon sebagai suaminya dan ia pun berniat tidak akan melanggar janjinya itu, namun itu dilakukan dalam keadaan darurat, tanpa ada perhitungan ataupun rasa cinta sebelumnya karena ia hanya beranggapan bahwa itu adalah Hantu Penunggu Sumur Batu Tua. Tapi sekarang?. Ataukah sebenarnya ia memiliki rasa suka kepada Gusmon?. Entahlah !, yang jelas sekarang Virani hanya ingin menunjukkan kepada Gusmon bahwa sekarang ia sedang kesal, tetapi kesal kenapa?, kesal karena tidak sesuai harapannya yaitu ciuman dari Gusmon?
Ah apa ini, seru Virani di dalam hatinya menepis segala yang bergentanyangan di dalam pikirannya. Ia berjalan menuju sudut kanan dari taman yang ada di halaman pabrik ini dan duduk di bangku taman tua yang sudah lapuk sambil menatap lurus ke depan.
Gusmon hanya menatapnya dari kejauhan, heran dengan sikap Virani yang sama sekali tidak dimengerti nya. Namun ia tetap berjalan menuju ke arah Virani dengan perlahan, berniat ingin menanyakan hal kekesalan dari Virani itu. Sementara Virani yang melihat dengan lirikannya mendapatkan Gusmon sedang menuju ke arahnya segera menggeser duduknya menyamping guna membelakangi Gusmon. Tampak sekali bahwa jiwanya sebenarnya masih kekanak-kanakan, padahal usianya sebenarnya sudah mencapai dua puluh satu tahun. Artinya ia lebih tua dari Gusmon yang saat ini masih berumur sembilan belas tahun.
Tidak beberapa langkah Gusmon berjalan tiba-tiba sudut matanya menatap segulung kertas yang ada di bekas tempat parkir mobil milik Tuan Muda Bene tadi. Serentak ia segera berbelok menuju gulungan kertas itu. Gulungan kertas itu terletak di atas tanah dengan bekas ban mobil.
“Dolar!” serunya tertahan. Ternyata gulungan itu adalah mata uang dolar dengan nominal 100 dolar dan setelah dihitung ada sekitar 30 lembar. Itu berarti nilai keseluruhannya adalah 3000 Dolar. Gusmon manggut-manggut sejenak ternyata mata uang di bumi ini adalah dolar, kemungkinan ini juga mata uang universal yang berlaku di seluruh negara di Bumi Bagian Satu ini. Demikian pemikiran Gusmon.
Gusmon berpikir sejenak, pasti ini adalah uang dari Tuan Muda Bene yang terjatuh. Tapi bukannya para Tuan Muda harusnya tidak memakai uang tunai, mereka lebih menyukai non tunai semacam kartu kredit atau kartu debit yang lebih memudahkan dalam bertransaksi dengan jumlah besar. Atau mungkin juga uang dari Pujin Hento karena keadaannya yang acak-acakan, bisa saja uang sakunya terjatuh. Bisa juga uang itu milik para pembantunya yang membawa mobil Land Rover sebagai uang minyaknya, karena tergesa-gesa dan ketakutan mereka menjatuhkan uangnya.
Ah, Gusmon tidak mempedulikan hal itu. Ini adalah rezekinya. Perlahan bibirnya kembali tersenyum, “ada-ada saja keberuntungan ku” Demikian batin Gusmon di dalam hati. Tidak mungkin pula ia akan mengembalikan uang yang telah didapatnya ini kepada Tuan Muda Bejat itu. Karena setelah mendengar cerita dari Grudul Hiko tentang Tuan Muda Sorto Bene yang tidak berprikemanusiaan, ia menjadi geram di dalam hatinya.
__ADS_1
Akan tetapi jika orang yang kehilangan uang ini adalah orang yang baik, tentunya dengan senang hati ia akan mengembalikannya. Terlebih ini adalah uang yang cukup banyak 3000 dolar kalau dirupiahkan adalah sekitar 43 juta rupiah!. Ini adalah jumlah yang banyak bagi Gusmon, karena latar belakangnya dari keluarga kalangan bawah di buminya.
Sementara itu Virani masih menunggu langkah kaki Gusmon yang menuju ke arahnya, beberapa saat menunggu masih tidak ada apapun yang menuju ke arahnya. Ia pun tampak semakin kesal, dan menunggu beberapa saat lagi namun tetap tidak ada langkah kaki menuju kearahnya. Dengan kesal ia segera memalingkan kepala ke belakang untuk melihat Gusmon, dan ia pun tertegun.
Tampak Gusmon berdiri membelakanginya seperti sedang mengamati sesuatu, sontak saja wajahnya menjadi sedih karena ternyata Gusmon tidak menuju kearahnya melainkan menuju ke arah tempat bekas parkiran mobil Tuan Muda Bene tadi. Ia menggembungkan pipinya, dan berteriak.
“Gusmoooon!”. Virani menatap Gusmon lurus-lurus.
Saat mendengar suara teriakan Virani itu tentu saja Gusmon menjadi terkejut bukan main. Segera ia memasukkan gulungan uang itu ke dalam sakunya dan sontak berlari kearah Virani Duns yang menatapnya lurus-lurus seakan ingin menembus isi kepalanya.
“Hei ada apa berteriak, apakah ada ular? Mana ularnya?” Seru Gusmon bersiaga dengan pandangan menatap sekeliling lingkungan dekat Virani berada. Namun ular yang dicarinya memang tidak ada. Kontan ia memalingkan wajah menatap Virani dan tersentak.
Di hadapannya tampak Virani menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca seolah-olah seperti hendak menangis, dan bibirnya tampak cemberut. Gusmon yang melihat hal itu merasa menjadi bergidik, “apa yang salah”. “Apa yang membuatnya memandangi Ku seperti itu”, “apakah aku menyinggung perasaannya?”. Gusmon tidak mengerti, sebenarnya Virani hanya ingin diperhatikan olehnya.
“Atau ia tahu kalau aku menemukan gulungan uang!, tapi bukankah ia anak orang kaya, untuk apa uang yang tidak seberapa menurut ukuran orang kaya ini” Gusmon masih linglung dengan heran atas sikap perempuan di depannya ini. Memang menyangkut perilaku perempuan Gusmon sama sekali masih amatir. Ia dulunya hanya terbiasa bergelut dengan film dan buku ilmu pengetahuan, itulah sebabnya ia selalu menjadi juara kelas dan kemudian banyak siswa perempuan yang ingin mendekatinya karena keluguannya. Sampai akhirnya ia dimanfaatkan oleh Suci.
__ADS_1