
Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
Bab 121
Suasana merangkak malam saat itu di Cafe 66, cuaca langit malam yang tanpa di selubungi awan, sehingga bintang-bintang terlihat jelas di jagat raya. Dan sepotong bulan sabit menghias cakrawala. Bulan di sini sedikit berbeda ia berwarna kemerahan dan sedikit ungu. Sementara bintang-bintang menampilkan rasi yang sama sekali tidak dimengerti oleh Gusmon.
Bila titik-titik bintang dihubungkan, maka ia akan membentuk sebuah gambar yang disebut dengan rasi. Tatkala Gusmon mencoba menghubungkan titik-titik bintang itu maka ia sama sekali tidak dapat menemukan Rasi bintang yang ia kenal, tidak ada rasi bintang Orion, tidak ada rasi bintang Pari, tidak ada rasi bintang Gubuk Penceng dan sebagainya yang biasa dikenalnya di Bumi Asli.
Sementara itu Mauna Bing tampaknya telah melantunkan tembang-tembang indah memenuhi janjinya jika Gusmon memesan makanan maka ia akan bernyanyi.
Mauna Bing bernyanyi dengan semangat, bukan hanya untuk menghibur dan memenuhi janji. Namun juga untuk menunjukkan kepada Virani bahwa ia mampu. Terus terang suara nyanyian dari Mauna memang merdu dan enak di dengar. Dan sepenuhnya Gusmon merasakan hal itu. namun saat ini ia sedikit tertarik dengan rasi bintang di Bumi Lain ini.
“Ah sepertinya itu adalah Rasi Bintang Keong!” Virani berseru. Ia menjadi tertarik untuk melihat ke atas tatkala melihat Gusmon tak berkedip memperhatikan bintang-bintang. Memang meja tempat mereka duduk adalah di luar cafe, sehingga gambaran langit di atas mereka terpampang dengan jelas.
“Rasi Bintang Keong?. Nama yang lucu, Sepertinya harga diri rasi bintang di Bumi Lain ini telah lama jatuh” Gusmon memandangi Virani dengan raut wajah lucu.
“Biasanya akan ada hujan meteor bila Rasi Bintang ini muncul di langit” berseru Virani sambil menatap langit di atasnya, berharap akan adanya hujan meteor. Atau paling tidak sebuah meteor yang muncul terbakar di angkasa.
Gusmon mengikuti tatapan mata Virani ke arah angkasa menyaksikan apa yang disebut sebagai rasi bintang keong itu. ketika ia melihatnya, memang bahwa garis-garis khayal yang terbentuk dari titik-titik bintang itu berbentuk sebuah keong yang diselubungi warna emas.
“Sepertinya itu memang nama yang pantas” Gusmon bergumam di dalam hatinya.
Tatkala mereka sedang mengagumi lukisan angkasa malam itu, maka beberapa garis cahaya muncul dengan cepat berpedar di langit. Sepertinya itu adalah hujan meteor yang telah disebutkan oleh Virani tadi.
__ADS_1
“Indahnya...” seru Virani seraya memejamkan matanya. Sementara Niya hanya memandangi dengan santai meski wajahnya menunjukkan ekspresi kagum.
“Apa yang kamu lakukan” Tanya Gusmon, sewaktu melihat Virani memejamkan mata tatkala hujan meteor berlangsung.
“Aku hanya meminta sesuatu. Orang bilang jika kita melihat meteor, maka permintaan kita akan terkabul” Virani menjelaskan
“Benarkah?. Kalau begitu boleh aku tahu apa yang kamu minta?” Tanya Gusmon sedikit ingin tahu.
“Aku.... tidak bisa menyebutkannya” Kata Virani dengan wajah sedikit memerah.
“Kenapa” Gusmon jelas saja penasaran.
“Karena aku malu untuk mengatakannya” Jawab Virani dengan jujur, sementara wajahnya terlihat merona merah. Sebenarnya Virani hanya berdoa agar ia dan Gusmon bisa cepat menjadi suami isteri dan bahagia selamanya.
“Oh ya” Gusmon menggaruk kepalanya, iapun melupakan keinginan untuk sekedar mengetahui permohonan Virani, Gusmon sama sekali tidak percaya bila ada meteor yang jatuh bisa mengabulkan permintaan.
“Hai lihat kali ini meteornya lebih terang!!” berseru Niya, ia juga ingin meminta sesuatu. Namun hanya terpaku, pasalnya meteor kali ini sedikit aneh.
Virani dan Gusmon melihat ke atas menyaksikan meteor yang di katakan oleh Niya. Ini memang sedikit tidak lazim. Cahaya meteor itu hijau keunguan dan menyala dengan terang. Umumnya meteor akan cepat habis terbakar oleh lapisan atmosfer, namun meteor ini melaju melintasi Sout Coast jauh ke arah barat!
Dan meteor berwarna hijau ke unguan itu lenyap dari pandangan mata.
“Ini aneh, biasanya meteor yang terbakar berwarna kuning kemerahan terang. Mungkin susunan unsur atau senyawa yang membentuk meteornya ada zat-zat tertentu yang menghasilkan api ungu dan hijau” Mendesah Gusmon antara kedengaran dan tidak.
__ADS_1
Sementara ada juga beberapa dari pengunjung cafe di bangku bagian luar cafe, yang melihat meteor tadi, namun mereka kembali kepada aktifitas masing-masing. Sepertinya mereka tidak peduli dengan segala macam meteor atau apapun itu. mereka tahu setiap kali rasi bintang keong muncul, itu pasti akan ada banyak hujan meteor. Namun tenang saja, selama ini belum ada meteor yang sampai ke permukaan bumi lain ini.
Memang atmosfer di Bumi Lain ini sangat kuat sehingga batu-batu meteor dari luar angkasa akan hancur seketika bila bergesekkan dengan lapisan atmosfernya.
Gusmon mereguk air putih yang tersisa setengah gelas di meja itu. sementara makanan sudah habis mereka makan sebelumnya, demikian juga minuman yang dipesan pada awalnya.
Saat ini sebuah taksi berhenti di depan Cafe itu. dan seorang perempuan dengan perawakan sedikit gendut dengan tergesa-gesa turun dari mobil itu. setelah membayar ongkos taksi perempuan itu dengan segera masuk ke Cafe itu.
“Nah saudara-saudara pengunjung cafe, ini dia penyanyi yang biasa manggung di cafe seperti yang saya ceritakan tadi. Tampaknya sudah datang, mari kita sambut Ike Nuran!” Mauna Bing yang masih memegang Mikrofon, tampak senang tatkala penyanyi cafe yang ditunggu nya telah muncul.
“Hallo semuanya,” Ike Nuran menyapa pengunjung cafe itu dengan sopan, walaupun nafasnya ngos-ngosan karena tadi berlari tergesa-gesa menuju ke dalam cafe ini.
Gusmon dan Virani memandangi dari tempat cukup jauh. Area belakang cafe, tempat duduk yang tebuka dan tidak dinaungi oleh atap. Sehingga langit malam terpampang dengan jelas.
Sepertinya Ike Nuran sama sekali tidak melihat kehadiran Virani dan Gusmon karena tempat mereka nongkrong sepertinya remang-remang dan minim cahaya. Terlebih saat ini Ike Nuran terlalu Fokus dengan Mauna Bing yang menyambut dirinya. sepertinya ia sadar diri bahwa saat ini ia sedikit terlambat datang di cafe ini.
“Sepertinya Ike Nuran ini memiliki pekerjaan yang cukup menyenangkan ya, ada banyak juga cafe yang merekrutnya untuk bernyanyi” Kata Gusmon sambil melihat ke arah depan.
“Iya, sepertinya ia sudah berusaha cukup keras untuk membagi waktu. Siang menjelang senja di Cafe Purnama dan malam di Cafe 66 ini” kata Virani.
Gusmon mengangguk, ia sedikit banyak mengagumi semangat Ike Nuran dalam mencari nafkah.
Gusmon memanggil seorang pelayan Cafe itu dan meminta untuk menghitung tagihan. Dengan cekatan pelayan cafe itu mengeluarkan bill dari saku bajunya dan mencatat tagihan makan dan minum mereka bertiga. Setelah itu pelayan cafe memberikan kertas bill itu kepada Gusmon.
__ADS_1
“Nanti bayarnya di kasir aja ya Tuan?” Kata pelayan itu dengan ramah. Dan berlalu dari hadapan mereka.
Gusmon menyerahkan Bill tersebut kepada Niya, karena sesuai dengan kesepakatan bahwa Niya lah yang mentraktirnya makan. Niya mengambil Bill itu dengan hormat dan berjalan ke arah meja kasir, Gusmon dan Virani mengikuti di belakang.