Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video

Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
BAB 72


__ADS_3

Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video


Bab 72


Di hadapan Gusmon terlihat Niya Noune yang salah satu kakinya masih terangkat lurus ke udara, semua orang terpana termasuk Gusmon. Benar-benar gerakan kaki yang indah, padahal Niya saat itu masih memakai sejenis sepatu dengan tumit yang tinggi. Tapi itu tidak mengurangi gerakan kakinya yang lincah.


Niya menurunkan kakinya ke lantai, anggota Gangster yang tersisa terlihat terpana, mereka segera menundukkan wajahnya tidak mengerti kesalahan apa yang telah di perbuat. Akan halnya Sentung Yolk ia terlihat mendelikkan mata, tidak percaya dengan yang terjadi di hadapannya. 


Niya berjalan beberapa langkah kehadapan Gusmon.


“Bruk”


Kemudian Jendral Perang Wilayah Tengah Gangster Elang Hitam itu berlutut di lantai. Semua orang terkejut demi menyaksikan kejadian itu, sejumlah anggota Gangster juga terkejut setengah mati. Pimpinan mereka malah berlutut di hadapan gembel itu?. Ada apa sebenarnya ini?


“Tuan Hantu” 


Niya berucap dua patah kata, ia berlutut dan menundukkan wajahnya tidak berani menatap Gusmon, bahkan terlihat bahunya gemetaran. Anggota Gangster tersisa segera mengikuti jejak Niya untuk berlutut di hadapan Gusmon. Anggota Gengster itu sedikit banyak paham apa yang terjadi demi mendengar ucapan Niya. Namun beberapa Anggota Gangster masih belum paham.


“Dia adalah Tuan Hantu!!” 


Salah seorang anggota gangster berteriak dan berlutut di lantai, ia sengaja berteriak karena ada beberapa rekannya yang masih berdiri dengan bingung dan tidak mengerti apa yang terjadi. Mendengar teriakan itu, mereka pucat dan segera berlutut mengikuti rekan mereka. akhirnya mereka ingat dengan pesan dari ketua mereka Grudul Hiko tentang siapa itu Tuan Hantu.


Niya Noune masih berlutut dan sama sekali tidak bersuara ia ingat kata-kata Grudul Hiko untuk merahasiakan bahwa Tuan Hantu adalah Ketua Besar mereka dari kalayak ramai, ini sesuai dengan rencana perlindungan diri, dari tangan Jhon Karabau.


Gusmon terlihat garuk-garuk kepala. 

__ADS_1


“kelihatannya mereka sudah tahu siapa aku” Gusmon membatin, ia mendengar sapaan akrab yang biasa di ucapkan oleh Grudul Hiko, yakni ‘Tuan Hantu’ dari mulut Niya dan anggotanya. Dengan demikian anggota Gangster ini berarti juga adalah anak buahnya. Tentunya ia tidak boleh terlalu keras kepada anak buahnya sendiri.


“Baiklah semuanya berdiri” Gusmon memberi aba-aba, kontan semua anggota gangster itu berdiri, termasuk Niya. Niya berdiri tepat di hadapan Gusmon, saat itu juga Gusmon terlihat menengadah. Ternyata Niya memang lebih tinggi dari Gusmon. Dalam keadaan tidak memakai sepatu tinggi tumit maka Gusmon hanya setinggi telinga Niya, apalagi sekarang Niya memakai Stilleto, sehingga Gusmon saat ini hanya setinggi leher Niya. Gusmon sedikit terpana Niya benar-benar bagaikan seorang model jika di lihat dari posturnya.


“Apakah sekarang aku boleh menatapmu?” Kata Gusmon, ia sedikit kacau dengan seorang perempuan tinggi yang ada di hadapannya.


“Bo... Boleh, Tuan Hantu boleh memandangi saya kapan saja” Kata Niya dengan menundukkan wajahnya, terlihat sekali bahwa ia malu ditatap seperti itu oleh Tuan Hantunya itu. Namun di dalam hati ia merasa bahagia. Apakah ini yang dirasakan oleh Virani Duns saat pemuda ini menatapnya?. Niya bergumam dalam hati.


“Apa-apaan ini” Virani yang berada tidak jauh dari tempat itu merasa cemburu oleh peristiwa tatap menatap di hadapannya ini. apakah ini kelanjutan dari kejadian di pelataran parkir tadi?


“Hai... apa yang sedang kalian lakukan, cepat habisi Gembel ini!!” Sentung Yolk dari tadi sudah merasa heran dengan sikap Niya yang berlutut di hadapan Gusmon di ikuti oleh anggota Gangster itu. Apalagi sekarang ada kejadian seperti ini. menurut Sentung Yolk, terlihat Niya seolah-olah gadis kecil yang malu-malu saat bertemu dengan pujaan hatinya. Ini benar-benar hal yang mengherankan baginya. 


Jelas Sentung Yolk merasa cemburu. Ia yang seorang Tuan Muda dari keluarga Peringkat dua tidak begitu menarik di mata perempuan-perempauan ini. Hanya Kiuna Eham yang di bawah standar rata-rata kecantikannya, hanya itu yang mengaguminya.


Beberapa anggota Gangster tampak menuju kearah Sentung Yolk, dengan cepat Tuan Muda itu di piting di bawah ketiak seorang anggota gangster yang kekar.


“Diam!!” bentak anggota gangster yang memiting itu.


“Tuan Hantu, apa yang akan kita lakukan terhadap anak tidak tahu diri ini” bertanya Anggota Gangster berbadan kekar yang mengunci leher Sentung Yolk. Sementara Kiuna tampak berjalan menuju Sentung Yolk berada.


“Aku bertanding Catur dengan Tuan Muda ini, aku memenangkan pertandingannya bersama taruhan. Sekarang Arena Catur ini dan Toko Yolk Sport di Lantai dua adalah milik ku, aku ingin kalian mengamankan aset milikku”. Gusmon memberi perintah kepada anggota Gangster Elang Hitam yang nota bene adalah anak buahnya. Serempak mereka meng iya kan.


“Nona Noune, aku akan mengingat ini semua. Aku akan mengadukannya kepada ayahku. ingat ini ayahku kenal dengan panglima perang Gangster Elang Hitam, Kamu hanya jendral kecil. Aku akan mengadukan....” 


“Plak!”

__ADS_1


“Diam!”


Sentung Yolk masih belum menyelesaikan kata-katanya, mulutnya sudah di tampar oleh salah salah satu dari anggota Gangster.


“Aku Berhak bi..”


“Plak!”


“Aku Bilang Diam!!” 


Sentung Yolk kembali di tampar mulutnya, akhirnya ia hanya bisa diam dari pada mulutnya babak belur di tampar tangan kekar dan berotot anggota Gangster Elang Hitam. 


“Nona Noune, Mohon anda melepaskan pacar ku itu, mengingat anda akan menjalin kerja sama dengan toko kami. Demi wajah ayah ku, aku  mohon” Kiuna yang sudah berdiri di tempat itu, mau tidak mau, merasa kasihan melihat keadaan pacarnya yang masih berada dalam pitingan salah seorang anggota gangster. Apalagi mulutnya sudah berdarah akibat di tampar anggota gangster tersebut.


“Apa kerja sama yang kamu lakukan dengan ayahnya” Gusmon bertanya dengan acuh tak acuh kepada Niya.


“Ini hanya kerjasama kecil, aku berencana menjual produk kecantikan ku di toko milik keluarga Eham di lantai empat” Kata Niya, kali ini suaranya terdengar sedikit pelan agak lembut. Berbeda apabila ia berbicara dengan orang lain, itu akan terdengar kaku dan tegas.


“Kalau begitu, batalkan kerja samanya. Cari toko lain, ada banyak toko di lantai empat itu” Gusmon berkata tanpa tedeng aling-aling. Kiuna tampak membesi mendengar kata-kata Gusmon.


“Baik Tuan Hantu, saya akan menjalankan apa yang Tuan hantu katakan” Niya berkata tanpa ragu-ragu. Baginya pria di depannya saat ini adalah segalanya, di samping sebagai Ketua Besar.


“Nona Noune, ke..kenapa?” Kiuna tampak tercekat atas tanggapan Niya.


“Itu karena kalian telah menyinggung Tuan Hantu, sesuatu yang seharusnya tidak kalian singgung”. Niya berkata dengan suara yang kaku dan tegas. Ia akan selalu bernada seperti itu, kecuali kepada Gusmon. 

__ADS_1


Gusmon memandang berkeliling, pandangan matanya terbentur dengan sosok Master Nasional Catur Sunu Prasyindos yang saat ini tampak terbengong-bengong dengan kejadian yang berlangsung cepat itu.


“Aku ingin kalian mengawasi Tuan Muda ini, biarkan dia menyelesaikan Pertandingan Catur untuk menyambut Tahun Baru esok malam. Dan ia harus mengeluarkan hadiah yang telah ia janjikan di spanduk.” Gusmon tentu saja tidak akan membiarkan pertandingan Catur yang di ikuti khalayak ramai demi untuk memeriahkan malam tahun baru, yang bersambung esok harinya itu, terhenti begitu saja akibat kejadian ini.


__ADS_2