
Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
Bab 25
Tuan Muda Sorto Bene ini segera menghela nafas panjang-panjang dan menatap ayahnya dengan pandangan yang tidak suka. akhirnya ia bicara juga dengan menguraikan cerita di mulai dari penculikan Virani Duns sampai kepada kejadian di depan Sumur Tua yang dipenuhi dengan cerita mitos misteri hingga munculnya Hantu Penjaga Sumur yang bentuknya mirip seperti manusia dan itu memang manusia kalau Sorto Bene mau jujur dalam memprediksi.
Kemudian cerita segera diakhiri dengan kekalahan tangan kanannya yang paling ia percayai yaitu Pujin Hento dengan menderita luka sangat parah pada lengan kanannya akibat adu pukul dengan Hantu Penunggu Sumur itu.
Beberapa saat hening kembali setelah cerita itu selesai diceritakan, Murdi Bene bergerak-gerak gerahamnya pertanda dalam keadaan marah yang besar. Ia kemudian menghenyakkan pantatnya pada kursi sofa dengan kualitas tinggi itu. Bersandar dengan santai sejenak sambil terus mencerna cerita yang telah keluar dari mulut anak laki-lakinya itu.
“Ini ..... sangat tidak biasa” Akhirnya terdengar suaranya yang berat namun antara terdengar dan tidak.
“Ayah aku ingin kau menghancurkan Hantu itu dan aku ingin memotong-motong kepalanya menjadi kecil-kecil dan memberikannya untuk makanan ikan!” Sorto Bene berusaha membangkitkan minat ayahnya yang terpendam untuk membunuh sosok Hantu Penunggu Sumur Batu Tua itu.
“Diam!, aku sedang memikirkan sesuatu!” Tuan Murdi Bene membentak putranya, kerana ia sebenarnya sedang merencanakan sesuatu. Ia ingin menyampaikan berita ini kepada Jhon Karabau dan ingin tahu bagaimana tanggapan orang paling mengerikan itu. Apakah Jhon Karabau akan senang karena telah mendapatkan lawan yang cukup mumpuni atau ia justru akan marah dan tentunya bisa membikin runyam keluarga Bene ini.
Setelah menimbang-nimbang sebentar akhirnya ia segera menuju telepon rumah yang terletak di atas meja di sudut ruangan itu. Tuan Murdi bene segera memutar beberapa nomor yang dihapalnya. Menunggu beberapa saat akhirnya terdengar suara wanita di seberang yang di teleponnya.
__ADS_1
“Hallo ada yang bisa di bantu!” Suara wanita itu terdengar lembut dan mempesona.
“Hallo bisa bicara dengan Tuan Jhon Karabau ada urusan yang penting untuk dibicarakan” Kata Tuan Murdi Bene tidak ingin berbasa-basi dengan persoalan yang telah ditimbulkan oleh putranya ini.
“Hallo boleh tahu ini dengan siapa?” Perempuan di ujung telepon bertanya
“Oh iya ini dari Murdi Bene di South Coast” Kata Murdi Bene dengan sikap hormat kepada wanita penerima telepon tersebut.
“Oh ya... Tuan Murdi lama tidak bertemu, tunggu sebentar saya akan menyampaikan pesan anda kepada Tuan Jhon karabau” Perempuan di ujung telepon menjawab, setelah itu gagang telepon di letakkan di atas meja. Dan terdengar suara memerintahkan rekannya untuk memanggil seseorang.
Jhon Karabau berada di ruang bawah tanah di sebuah Club Biliar, tampaknya Jhon Karabau cukup menggemari permainan ini. Tampak Jhon Karabau sedang duduk di sebuah kursi sambil menghisap cerutu. Kemudian dihadapannya seorang pemuda sedang memukul bola biliar dengan menggunakan stik. Sepertinya Jhon Karabau hanya menonton permainan Biliar dari seseorang.
Tak lama kemudian seorang perempuan berpakaian sedikit terbuka datang menghampirinya dan berbisik beberapa buah kata. Namun tetap tidak ada ekspresi di wajah Jhon Karabau, tampaknya Jhon Karabau sosok manusia yang tidak peduli dengan segala sesuatu. Namun saat ini ia bangkit berdiri menuju ruang telepon di lantai atas. Dalam berjalan kelihatan bahwa tinggi orang ini adalah sekitar 2 meter dan ada tanda dua bulatan merah di keningnya.
Tuan Murdi Bene menunggu dengan sedikit mengelap keringat dingin yang tiba-tiba saja memercik di keningnya. Betapa tidak orang yang akan dia mintakan bantuan adalah sosok yang sangat kejam dan eksistensi yang tidak terkalahkan selama beberapa tahun kemunculannya.
Disisi lain Sorto Bene nampak masih duduk di kursi bermutu tinggi sambil melihat gelagat ayahnya yang sedang menelepon. Terlihat ayahnya sedikit gelisah dalam rangka menunggu jawaban telepon dari Jhon Karabau.
__ADS_1
Detik demi-demi detik berlalu kemudian detik itu berubah menjadi menit, namun menit itu tidak berubah menjadi jam karena sebuah suara yang cukup dikenalnya menjawab di ujung telepon.
“Murdi kau kah itu!” Tanya suara itu. Kali ini adalah suara laki-laki yang sangat berat dan sedikit parau. Itu adalah suara Jhon Karabau sang manusia menakutkan di Bumi Bagian Satu. Seketika Murdi Bene menjadi gembira namun keringat dingin tetap mengalir di keningnya.
“Ii Iya yang Mulia Jhon Karabau, ini aku Murdi Bene!” Tampak sekali bahwa Tuan Murdi Bene ini sangat menyanjung Jhon Karabau, ini terbukti dengan kata-katanya yang menambahkan kalimat Yang Mulia di depan nama Jhon Karabau.
“Hahahahaha sudah lama kamu tidak menghubungiku, ada apa gerangan!” terdengar tawa yang sangat berat di ujung telepon. Murdi Bene tampak semakin memancarkan banyak keringat dingin. Tampaknya walaupun Jhon Karabau tertawa namun bagi Murdi Bene tetap merupakan suatu hal yang serius, dan tidak bisa di buat mainan.
“OH eh, ini .... a..a anu aku mau melaporkan sesuatu” tampaknya Murdi Bene tergagap dengan apa yang akan disampaikannya. Padahal keadaan dari Jhon Karabau saat itu tidak ada kata-kata mengancam, hanya pertanyaan biasa. Demikianlah orang kalau sudah dikenal dengan sangat menakutkan walaupun berbicara dengan cara yang baik sekalipun tetap terdengar menakutkan di telinga.
“Bicara yang benar Murdi!, aku tidak sedang mengancam mu!” Jhon Karabau mesih tetap berbicara dengan suaranya yang berat. Dia sama sekali tidak marah dengan tergagapnya Murdi Bene karena antara dirinya dan Murdi Bene ada semacam ikatan di masa lalu sewaktu pertama kalinya Jhon Karabau berada di bumi Bagian Satu ini.
Namun memang Murdi Bene pada dasarnya adalah seseorang yang mudah gugup apalagi sewaktu menyadari bahwa Jhon Karabau ini ternyata bukan merupakan sosok yang normal sebagai manusia. Intinya Jhon Karabau ada di atas tingkat kewajaran sebagai manusia.
Murdi Bene menghirup udara dalam-dalam, sebelum akhirnya menceritakan apa yang telah ia dengarkan dari putranya yaitu Sorto Bene. Tentunya dengan menambahkan sedikit bumbu agar Jhon Karabau menjadi terbakar.
Benar saja setelah mendengarkan penuturan dari Murdi Bene yang menambahkan sedikit bumbu mengenai sosok Hantu Penunggu Sumur Batu Tua yang begitu menakjubkan bahkan tidak memandang sebelah mata terhadap Jhon Karabau. Buktinya muridnya dengan mudah dihancurkan sebagian tangan kanannya tanpa bergerak dari tempat berdirinya, bahkan tanpa memberinya serangan. Dan yang lebih parah lagi bahwa Murdi Bene mengatakan bahwa Hantu Penunggu Sumur mengatakan bahwa dialah yang terkuat di Bumi Bagian Satu ini dan orang-orang seperti Jhon Karabau adalah omong kosong.
__ADS_1