Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video

Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
BAB 76


__ADS_3

Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video


Bab 76


“Arggghhh!” Sebuah teriakan dahsyat menggema di sekitar tempat itu, suara teriakan Jhon Karabau yang menakjubkan. Sesaat kemudian gempa bumi kecil melanda tempat itu.


“Maaf yang Mulia Jhon Karabau, hentikan memusatkan kekuatan itu, bila begini terus bisa-bisa rumah ku ini hancur” Murdi Bene protes atas kelakuan Jhon Karabau ini, ia protes sambil membungkukkan badannya berulang kali. Jhon Karabau menghentikan aksinya terlihat wajahnya sedikit tidak senang karena dinasehati oleh Murdi Bene. namun itu hanya sesaat setelah itu ia tertawa terbahak-bahak dengan suara yang sangat berat.


“Aku rasa kekuatanku sekarang sudah mencapai 80 persen.” Jhon Karabau terlihat mengepalkan tangannya yang besar dan berotot.


Lima orang murid Jhon karabau tampak menuju kursi yang tersusun di sudut taman di belakang Villa Bene, mereka berniat bersantai sambil menikmati minuman ringan yang ada di meja itu. Kepala Keamanan Keluarga Bene tampak mengikuti, jelas sekali orang itu ingin berkenalan dengan kelima murid Jhon Karabau. Di Bumi bagian satu ini, Kekuatan, Kekayaan, dan Relasi, masih merupakan hal yang menjamin kehidupan terhormat dan bersahaja.


Melihat kelima orang itu duduk dan meminum minuman ringan, Padeng Hunu sang Kepala Keamanan Keluarga Bene ikut duduk menemani mereka. 


“Perkenalkan nama ku Padeng Hunu, aku menjabat Kepala keamanan di Villa Keluarga Bene ini” Kepala Keamanan itu tampak memperkenalkan dirinya. Kelima orang itu melirik sejenak kemudian melanjutkan minum dengan acuh tak acuh.


“Namaku Gendel Rong” Berkata Seorang berkepala Botak dengan Kumis tebal di atas bibirnya.


“Kami tiga bersaudara, kakak kedua ku yang berbadan gemuk adalah Gandal Rong dan kakak Pertama ku yang tinggi Kurus adalah Gundul Rong” Gendel Rong melanjutkan. Dari tiga bersaudara dialah yang paling bungsu.


“Aku Lezx Panurux” Kata orang yang memiliki bercak-bercak putih di sekujur tubuhnya itu seolah-olah berbentuk seperti loreng macan tutul atau pun dalmatian, namun bila diperhatikan lebih seksama maka corak tutul putih itu adalah sebuah penyakit kulit yaitu panu.  


“Aku Lono Kudison” Kali ini pria terakhir yang memperkenalkan diri, Orang ini berwajah sangar dengan gigi tonggos berwarna kuning. 

__ADS_1


Padeng Hunu terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, dalam hati ia merasa senang telah mengenal murid-murid hebat dari Jhon Karabau ini. bisa dipastikan bahwa kemampuan kelima orang ini, pasti tidak jauh berbeda dengan Pujin Hento. Dimana Pujin Hento sebelumnya belum pernah kalah dalam menghadapi ahli beladiri manapun di South Coast, sebelum Munculnya Hantu Penunggu Sumur dari Pabrik Terbengkalai.


Jhon Karabau Memandang Kelima Muridnya yang asyik bercengkrama dengan Kepala Keamanan Villa Bene, kemudian ia memandang orang-orang sekitar yang masih memandanginya, sesaat kemudian ia memandang ke langit.


“Saatnya bermain dengan Si Hantu” Jhon Karabau berbicara perlahan namun orang-orang yang berada di sekitar tempat itu mendengarnya dengan jelas. 


Di tempat lain, Gusmon tampak masih mengendarai Kijang Innova Silvernya dengan santai. Ia berusaha mengingat-ingat jalanan kota ini sebagian demi sebagian, sehingga ia bisa mengharapkan tidak begitu lama ia bisa menghafal jalanan di kota sehingga tidak akan tersesat jika pergi kemanapun.


Setelah beberapa saat berputar-putar demi menghapal jalan dan keadaan kota, ia merasa haus. Saat terus menelusuri jalan, dilihatnya sebuah kedai teh yang cukup berkelas. 


“Kedai Teh Safari” Gusmon membaca Tulisannya. Ia pun mengarahkan mobilnya ke kedai itu dan memarkirkan kendaraan. 


Memasuki kedai teh itu terlihat banyak orang yang menikmati teh di kedai ini. tempat ini memang merupakan tempat favorit untuk nonkrong semua orang. Mulai dari kalangan tua sampai generasi muda. Mulai dari yang berpacaran sampai yang membicarakan tentang bisnis.


Disamping itu kedai teh ini cukup berkelas di mata para pelanggannya, ini juga dibuktikan dengan adanya bermacam varian dari menu teh yang di sajikan.


Seorang pelayan datang kehadapan Gusmon sambil menyodorkan kertas yang berisi beberapa tulisan menu dari kedai teh ini.


“Silahkan dipesan Tuan!” Kata Pelayan laki-laki tersebut, ia sedikit menggelengkan kepala melihat pakaian Gusmon yang hanya memakai baju kaos dan training. Biasanya yang menjadi pelanggan di Kedai tehnya adalah orang-orang terhormat South Coast dengan pakaian mewah dan berkelas, karena Kedai mereka memang termasuk yang cukup elit. Namun ia tetap melayani anak muda dengan pakaian murahan ini, meski pun dengan ogah-ogahan.


Gusmon melihat menu. Ada Teh biasa, Teh melati, Teh buah, Teh Herbal dan bermacam-macam inovasi teh lainnya. Namun ada nama teh yang menarik di hatinya, itu ada di barisan terakhir menu Teh yang di bacanya. Selain namanya unik kelihatannya menu teh tersebut adalah yang paling murah dari menu Teh yang lainnya.


“Teh Heran” Gusmon tercenung sejenak, karena ingin tahu maka ia memesan teh tersebut. 

__ADS_1


Gusmon mengamat-amati gaya arsitektur kedai teh ini, sungguh inovatif. Berdiri di lahan yang cukup luas dan bertingkat 3. Mejanya terdiri dari batang kayu besar yang telah di potong tebal dan di beri kaki tunggal yang cukup kokoh. Sementara kursinya juga bertema kan batangan kayu yang terpotong dan di beri lapisan cat bening.


Gusmon masih mengamati sekitarnya sambil menunggu tehnya siap, apa Teh Heran itu? Pikirnya.


Saat itu, sekelompok orang yang minum teh di meja belakang punggungnya terdengar berbincang-bincang. Tentu saja Gusmon sangat jelas mendengarkannya, dikarenakan jarak mereka dari tempat duduk Gusmon cukup dekat.    


“Tuan, berdasarkan pengamatan tampaknya tidak ada persiapan pasukan yang signifikan di Villa Keluarga Bene” kata salah seorang dengan badan kekar kepada lelaki separuh baya. Tampaknya lelaki separuh baya itu adalah Bos dari orang-orang ini.


“Lanjut” Lelaki separuh baya itu hanya bicara sepatah kata.


“Selanjutnya kami menemukan 3 buah truk yang masuk kedalam Villa Bene ini. Truk itu kelihatan membongkar suatu muatan di belakang Villa. Tapi kami tidak mengetahui apa yang di bongkar itu” Melanjutkan berbicara lelaki kekar itu.


Pria separuh baya itu terlihat manggut. Manggu sejenak. adapun Gusmon yang mendengar percakapan itu, sedikit tersentak. Gusmon sepertinya kenal dengan suara laki-laki yang berbicara sebagai Bos itu. Ia melirik dengan hati-hati kearah belakang dan kemudian berpaling kembali ke depan setelah mengetahui siapa orang-orang itu.


Ternyata mereka adalah rombongan dari Alex Duns dan anak buahnya. Sepertinya Alex sudah mengatur pertemuan dengan anak buahnya yang bertugas mengintai ke kediaman Keluarga Bene. anak buah Alex Duns terlihat berjumlah 5 orang dengan tubuh yang kekar-kekar.


Gusmon tidak perlu lagi menoleh kebelakang, karena ia sudah tahu siapa yang berbicara. Ia hanya fokus mendengarkan percakan mereka tentang informasi seputar Villa Bene.


Tak Lama kemudian pesanan Gusmon datang secangkir teh hangat, dan yang membuat Gusmon heran ternyata teh itu hanya teh biasa yang sama sekali tidak di saring serbuk tehnya.


“Ini teh apaan, katanya tadi namanya Teh Heran, kenapa yang datang malah teh tanpa saring begini?” Tanya Gusmon dengan heran.


“Apakah Tuan merasa Heran dengan teh ini ?” Tanya pelayan yang mengantarkan teh itu.

__ADS_1


“Iya tentu saja saya heran jika seperti ini”  Kata Gusmon sedikit kesal.


“Maka dari itu namanya Teh Heran” Kata Pelayan itu tersenyum kecut, kemudian ia berlalu dari hadapan Gusmon. Gusmon melongo mendengar jawaban dari pelayan tadi. 


__ADS_2