
Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
Bab 84
“Oh ya Ngomong-ngomong siapa nama mu” Gusmon bertanya, karena semenjak ia menolong pria ini, ia sama sekali belum mengenal namanya.
“Aku Hakmit, lengkapnya Hakmit Miu” Kata pria itu sedikit malu, karena harusnya dari tadi ia telah memperkenalkan dirinya sebagai perwujudan sopan-santun bagi penolongnya ini. sangat jarang orang yang mau menolong orang kecil seperti dirinya di Kota ini.
Saat Gusmon hendak keluar dari gerbang rumah sakit, beberapa orang tampak menghadang mobilnya. Dan seorang dengan pakaian dokter yang dikenalnya tampak sangat arogan dalam menggedor Kap Mobil nya. Itu adalah Tuan Muda Ero Mex.
“Hei Pecundang lekas turun, aku bawakan kamu Kak Awin” Kata Ero Mex dengan garang.
Tampaknya orang yang dibawa oleh Ero Mex hanya berjumlah lima orang. satu orang tinggi besar dengan rambut keriting panjang dia lah Kak Awin. Kelima orang itu tampaknya juga merupakan anggota Gangster Elang Hitam. Namun bedanya mereka semua memakai lencana tembaga.
Gusmon turun dari mobil, namun membiarkan Hakmit tetap berada di dalam mobilnya.
“Apa kamu yang mengacau di Ruang UGD!” Kak Awin terlihat mengerutkan kening.
“Itu Benar!” Kata Gusmon sekenanya, hal ini tentu membuat Kak Awin murka.
“Dengar nak, aku Awin Juk hari ini akan memberikan kamu pelajaran, apa itu kesopanan” Awin Juk atau yang akrab disapa kak awin bersiap memukul. Namun saat itu seseorang tampak berlari ke hadapan Kak Awin. Dia adalah Saeg Lao, Tukang Parkir dengan lencana plastik.
“Maaf Kak Awin, ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan” Kata Saeg Lao dengan senyum kecut, jelas sekali bahwa ia sangat takut dengan Kak Awin ini. Awin Juk jelas lebih tinggi kedudukannya di bandingkan Saeg Lao di Organisasi Gangster Elang Hitam, Meskipun Saeg Lao bertugas menjadi Kepala Tukang Parkir di Rumah Sakit Umum South Coast, namun di mata Awin Juk, Saeg Lao tetaplah Juniornya. Awin Juk sendiri tidak mau bekerja, ia hanya menjadi preman liar yang akan meminta imbalan jika ada yang menggunakan jasanya dalam melakukan suatu misi. Seperti saat ini, misi menghajar seorang pecundang.
__ADS_1
“Cepat Katakan” Kak Awin menatap Saeg Lao dengan garang, meski satu Organisasi Kak Awin jelas tidak ingin urusannya diganggu walau oleh orangnya sendiri pun.
Saeg Lao segera mendekat kepada Awin Juk, dan membisikkan beberapa patah kata. Bola mata Awin Juk sontak membesar. Lantas ia melihat ke arah mobil Gusmon, dan melirik ke arah plat nomornya.
Setelah membisikkan beberapa patah kata kepada Awin Juk, Saeg Lao segera membungkuk di hadapan Gusmon dan berlalu dari tempat itu untuk melanjutkan aktivitasnya sebagai Tukang Parkir.
“A..Apa mobil ini milik kamu” Tanya Awin Juk, kali ini suaranya terdengar pelan. Tidak seperti tadi yang meledak-ledak seolah ingin memakan orang.
“Itu Benar” Gusmon masih berbicara dengan santai, ia bisa menebak apa yang sudah dibisikkan oleh Saeg Lao. Namun Gusmon juga ingin menyelesaikan masalah ini dengan cepat agar ia tidak terlambat dalam menjemput Virani demi bisa menikmati malam tahun baru ini.
Gusmon merogoh sakunya sesaat kemudian berkata
“Lencana mu terlihat bagus, namun aku juga memiliki lencana serupa” Gusmon memperlihatkan lencana Ketua Besar Gangster Elang Hitam miliknya. Kelima orang itu tersentak kaget, wajah mereka terlihat memucat dengan cepat mereka berlutut di hadapan Gusmon.
“Tuan Hantu” Mereka berlima serentak mengucapkan nama panggilan Gusmon yang ngetrend di kalangan anggota Gangster.
“Apa itu, lencana...!” Ero terlihat frustasi, namun ia tidak mengerti lencana apa yang ditunjukkan oleh Pecundang ini, terlihat sama dengan anggota gangster namun sedikit berbeda. Apakah orang ini juga merupakan anggota Gangster elang Hitam? Ero Mex mulai menduga-duga.
“Lencana itu palsu, itu pasti lencana palsu. Kak Awin jangan mudah tertipu oleh pecundang ini!!” Ero tampak berteriak, ia mengingatkan Awin Juk tentang kemungkinan lencana palsu itu.
“Harap jaga mulut mu di hadapan Tuan Hantu” setelah berkata demikian Awin Juk langsung memukul ero, sehingga sang Dokter Angkuh itu terbang dan menghantam pohon bonsai di dekat gerbang Rumah Sakit itu. Awin Juk telah melihat lencana itu dengan nyata terlebih ia juga melihat ada hologram di lencana tersebut, tentu saja ia tidak akan termakan hasutan Tuan Muda Ero Mex itu. apalagi Gusmon memang mengendari mobil yang biasa dipakai Ketua Gangster yakni Grudul Hiko. Mana mungkin Awin Juk tidak akan percaya. Ia sekarang sangat yakin bahwa orang yang di depannya saat ini adalah ketua besarnya sendiri.
“Maafkan kami Tuan Hantu” setelah melayangkan pukulan tadi ke arah Ero, Awin juk kembali berlutut di hadapan Gusmon. Terlihat ia memang benar-benar merasa bersalah di hadapan ketua besarnya itu. Gusmon memasukan kembali lencana nya. Tanpa berkata apa-apa ia segera masuk ke mobilnya dan pergi dari tempat itu. dapat di maklumi, Gusmon hanya ingin menyelesaikan urusannya dengan cepat.
__ADS_1
Awin Juk dan anggotanya segera mengusap keringat dingin yang mengalir deras di pipi mereka masing-masing. Ia memandang Dokter Ero dengan berang. Untuk saja juniornya datang tepat waktu dan memberitahukannya perihal penting itu, jika tidak maka ia tentu akan merasa sangat menyesal. Ero Mex ini, apakah ia ingin menyuruhnya untuk mati?
Gusmon melajukan kendaraannya sesuai petunjuk yang diberikan oleh Hakmit Miu agar bisa mengantarkannya kerumah pria itu.
“Ngomong-ngomong kenapa kecelakaan itu bisa terjadi?” Gusmon bertanya tanpa melihat, karena ia harus memperhatikan jalan di depannya.
“Aku sebenarnya sedang terburu-buru, aku baru saja mendapatkan cuti selama dua hari. Makanya aku ingin pulang dan bertemu dengan ayah ibuku, dan juga adik perempuanku. Tapi ya malang tidak dapat dicegah. Sekarang sepeda motor satu-satunya milikku yang biasa aku gunakan untuk bekerja sudah hancur” Kata Hakmit dengan sedih.
Gusmon diam sebentar, ia juga melihat bahwa motor itu memang sudah tidak layak pakai.
“Tapi bukankah nyawa lebih berharga. Meskipun kau punya sepeda motor jika nyawa tidak ada di badan, itu juga tidak dapat di pergunakan” Kata Gusmon seolah-olah ia adalah dosen filsafat.
“Benar aku juga besyukur karena masih selamat. Dan aku ingin mengucapkan terima kasih juga kepadamu karena telah sudi membantu orang yang sama sekali tidak kamu kenal” Ucap Hakmit lirih.
“Kita sesama manusia, sudah sewajarnya lah, saling membantu” Gusmon menjawab dengan cepat. Tidak ingin Hakmit terlarut dalam rasa berhutang budi.
Hakmit hanya diam, ia masih terlihat sedih
“Kenapa kamu masih sedih, apa karena sepeda motormu yang rusak itu?, sebenarnya apa pekerjaanmu” Gusmon bertanya karena melihat kesedihan Hakmit.
“Sedikit banyak memang demikian, karena pekerjaanku sebenarnya adalah seorang kurir yang mengantarkan pesanan. Dan aku sangat membutuhkan sepeda motorku, karena perusahaan yang mempekerjakanku tidak akan menerima orang yang tidak memiliki kendaraan” desah Hakmit tidak berdaya.
Gusmon mengerti kenapa Hakmit sedih, pastinya sepeda motor itu merupakan harapan satu-satunya untuk mencari makan.
__ADS_1