
Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
Bab 56
“Ulurkan tangan mu” Kata Jhon Karabau memerintah Pujin Hento. Pujin Hento menuruti keinginan Gurunya itu. Ia mengulurkan tangan kirinya karena tangan kanan dalam keadaan cedera parah tidak bisa digerakkan.
“Jahanam!, aku memintamu mengulurkan tanganmu yang cedera!!” Berang nada suara dari Jhon Karabau. Suara beratnya terdengar menggelegar seolah-olah halilintar yang menyalak di hari hujan. Murdi Bene yang berada dekat dengan Jhon Karabau bahkan merasakan gendang telinganya berdenging.
Pujin Hento dengan pucat pasi segera dengan sekuat tenaga mengulurkan tangannya yang cedera meskipun hanya setengah, karena tangan itu sudah tidak mampu bergerak lagi. Dengan kasar Jhon Karabau menarik tangan yang cedera itu sehingga terdengarlah lolongan dari Pujin Hento seperti anjing yang ter kaing-kaing. Keringat dingin sebesar-besar jangung menetes dari sekujur tubuhnya karena rasa sakit yang amat sangat, iapun menggertakkan giginya kuat-kuat agar tidak berteriak lagi. Namun tak urung lenguhan laksana sapi disembelih masih terdengar dari mulutnya.
Sorto Bene dan ayahnya serta beberapa anggota Kerabat Dekat Keluarga Bene terkejut melihat itu. Mereka menahan nafas sesaat demi menenangkan rasa kejut mereka.
Saat ini tangan Kanan Pujin Hento sudah terangkat dan mendatar dipegang oleh Jhon Karabau. Telapak tangan Jhon Karabau yang besar menggenggam telapak tangan yang hancur Pujin Hento. Sesaat kemudian asap kelabu mengepul keluar dari telapak tangan Jhon Karabau, asap kelabu tersebut dengan cepat menyebar menyelubungi seluruh tangan Pujin Hento yang cedera sampai sebatas siku dan terus berjalan sampai ke pangkal lengan.
Pujin Hento merasakan kekuatan yang sangat luar biasa meledak-ledak seakan memperbaiki segala kerusakan jaringan di tangannya. Kemudian ada rasa dingin yang menekan rasa sakit. Hingga Pujin Hento tidak lagi merasakan sakit namun dingin seperti diperam di kulkas.
Beberapa saat kemudian saat orang-orang masih diam membisu menyaksikan peristiwa aneh tersebut, asap kelabu akhirnya lenyap entah kemana. Saat ini pemandangan menakjubkan terlihat, tangan Pujin Hento kembali utuh!. Tangan itu seperti sediakala seolah-olah tidak pernah terjadi cedera sebelumnya. Pandangan orang-orang seketika seperti hendak mengeluarkan bola matanya, tatkala melihat keajaiban tersebut. Murdi Bene bahkan sampai ternganga tidak percaya.
__ADS_1
Pujin Hento memandangi tangannya beberapa saat seolah tidak percaya. Ia menggosok-gosok matanya.
“I.. ini bukan mimpi” Seru Pujin Hento tertahan. Sesaat ia tersadar dan dengan cepat bersujud di kaki Jhon Karabau.
“Terima kasih Guru, Murid tidak tahu harus membalas dengan apa segala kebaikan yang Guru berikan ini. Mungkin hanya nyawa Murid yang berharga sebanding dengan segala kebaikan Guru ini” Begitu kata-kata penghormatan dari Pujin Hento kepada Gurunya. Mendengar kata-kata dari muridnya ini, Jhon Karabau hanya meregangkan leher dan bahunya. Seolah-olah ia pegal-pegal karena telah melakukan hal itu.
Adapun orang-orang di sekitar tempat itu menjadi bertambah kekaguman dan perasaan hormat mereka kepada Jhon Karabau. Tentu saja perasaan takut juga semakin bertambah.
“Apakah hal wajib ketika aku datang sudah tersedia?” Tanya Jhon Karabau kepada Murdi Bene tanpa memalingkan wajahnya sama sekali.
“Bagus!” Jhon Karabau menjawab singkat.
“Oh iya yang mulia, kenapa tidak terbang saja untuk pergi ke sini. Setahu saya yang mulia mampu untuk terbang bahkan sangat jauh sekalipun” Murdi Bene bertanya dengan perasaan kagum.
“Hm. Hahahahaa, itu mudah saja bagiku untuk terbang. Tapi terlalu heboh untuk dilihat orang di bumi mu ini. lagipula aku ingin menikmati sensasi menjadi manusia seperti kalian ini. hahahaha!” terdengar tawa membahana yang sangat berat dari mulut Jhon Karabau membuat orang-orang yang ada di sekitar tempat itu merinding bulu kuduk mereka.
Saat ini ada banyak minuman kaleng beralkohol yang dibeli oleh Murdi Bene, ia sengaja membelinya dalam partai besar dikarenakan ia sangat mengerti akan kegemaran Jhon Karabau dalam konsumsi minuman kaleng ini. Di ruangan itu ada banyak minuman di atas meja dan sekitar empat karton lagi ada di sudut ruangan. Bahkan jika semua minuman kaleng yang ada diruangan itu habis, ia masih memiliki banyak minuman sejenis di gudang yang ada di ruang bawah tanah Villa ini.
__ADS_1
Kali ini Pujin Hento sudah kembali ceria, ia juga berinisiatif untuk menikmati minuman itu larut dalam kegembiraan bersama teman-temannya sesama murid dari Jhon Karabau. Tiga orang berkepala botak dari murid Jhon Karabau jelas merupakan tiga kakak beradik, tampaknya sudah mulai teler dengan berbicara tidak karuan. Sementara dua orang lagi dengan tampang seram, tampaknya minum hanya sedikit, itu tidak membuat mereka terpengaruh dengan efek alkohol.
Justru yang minum dengan banyak adalah Jhon Karabau sendiri. Namun yang mengherankan, meski ia minum sedemikian banyak sama sekali tidak tampak tanda-tanda bahwa ia akan mabuk. Memang minuman dengan alkohol di Bumi Super Bagian Satu sama sekali tidak berpengaruh bagi makhluk seperti Jhon Karabau. Ia memiliki tubuh dan darah istimewa.
Murdi Bene hanya memandangi tingkah laku Jhon Karabau dan murid-muridnya, ia sudah paham dengan kelakuan Jhon Karabau ini. Meski dalam beberapa bulan belakangan ini, baru saat inilah Jhon Karabau bertandang ke kediamannya. Ia sejenak terbayang akan pertemuannya dengan Jhon Karabau pertama kalinya.
Murdi Bene dua tahun yang lalu masih merupakan seseorang dari kalangan biasa dan miskin. Tinggal di pinggiran kota sangat jauh dari keramaian. Ia hidup bersama ketiga anaknya, istrinya telah meninggal beberapa bulan yang lewat karena penyakit yang tidak bisa diobati. Tidak ada kalangan menengah ke atas yang peduli dan menolong mereka bahkan untuk berobat isterinya. bahkan ia telah memohon kepada salah satu orang kaya yang ada di kota ini, namun yang dia dapat malah perlakuan tidak menyenangkan.
Saat itu baik kerabat dekat ataupun kerabat jauh juga tidak ada yang peduli. Mungkin karena kehidupan mereka juga hampir sama miskinnya dengan Murdi Bene, Murdi Bene makum itu.
Saat itu sore hari hujan lebat dan petir menyambar-nyambar. Murdi Bene baru pulang dari mencari rumput yang ada di tepi hutan dekat tempat tinggal mereka, saat itu Keluarga Bene hanya memiliki lima ekor Kerbau jantan titipan dari tetangga untuk di pelihara. Hasil dari peliharaan kerbau itu setelah dijual nantinya akan dibagi dua, sepertiga untuknya dan dua pertiga untuk pemilik kerbau. Meski lelah tetap harus dijalani demi sesuap nasi.
Dalam perjalanan ia menemukan sesosok tubuh yang tergeletak tidak berdaya. Ia melihat sosok tubuh itu sangat asing. Sosok tubuh itu sangat besar dan tinggi sekitar tujuh meter penuh dengan luka dan anggota tubuh yang hilang serta kulit yang meleleh. Tubuh itu bahkan mengepulkan asap seolah-olah habis terbakar. Ada sepasang tanduk besar di kepalanya dan salah satu tanduk tersebut patah. Murdi Bene merasa takut dengan makhluk itu.
“Apa ini!” seru Murdi Bene dengan menggigil ketakutan.
“Manusia!, tolong aku, maka aku berjanji akan membuat hidupmu kaya!” terdengar suara berat mengerikan dari makhluk itu. Ternyata makhluk itu belum mati meski sekujur tubuhnya seperti meleleh, apalagi keadaan tangan kiri serta kakinya telah hancur. Murdi Bene merasa terbang jiwanya tatkala mendengar suara yang sangat berat itu.
__ADS_1