
Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
Bab 114
“Oh ya, aku belum pernah menemui anggota Gangster Elang Hitam secara keseluruhan, kapan bagusnya kita mengadakan pertemuan” Gusmon menyadari bahwa pertemuannya dengan para anggota Gangster mutlak perlu.
“aku bisa mengaturnya untuk anda, bahkan bila itu esok hari” Niya menjawab sambil tersenyum
“Baik besok kita berkumpul, bagaimana teknisnya aku serahkan kepadamu” sahut Gusmon.
“Siap Tuan Hantu, selanjutnya anda akan menjemput saya di Pusat Perbelanjaan ini sekitar pukul 2 siang. Dan jangan lupa tentang makan nanti malam” Niya menjelaskan.
“Saat ini sudah hampir sore, Sebaiknya kamu ikut aku sekarang, sekalian kita menjemput Virani” Kata Gusmon.
“Terserah yang Tuan Hantu katakan” Dalam hati sebenarnya Niya merasa senang bisa bersama di dalam mobil dengan Gusmon namun kalimat terakhir cukup membuatnya cemberut, tetapi ia hanya mengangguk mengingat Gusmon sebelumnya pernah mengatakan akan membawa serta Virani dalam acara makan malam tersebut.
Gusmon dan Niya berjalan menuju mobil karimun.
“Tuan Hantu, ada apa dengan mobilmu” Niya bertanya karena ia sama sekali tidak melihat Mobil Kijang Innova pemberian dari Grudul Hiko, namun sebagai gantinya di sana ada mobil karimun.
“Aku menukarnya dengan mobil ini, terus terang sedikit tidak nyaman dengan mobil yang sudah dikenal oleh masyarakat sini, jangan kawatir mobilnya aku simpan di tempat yang aman” Penerangan dari Gusmon, tentu saja ia tidak akan pernah mengatakan perihal Ruang Dimensi itu.
__ADS_1
Niya hanya mengangguk. Terus terang ia hanya sekedar bertanya. Mengenai mobil itu ia tidak akan ambil pusing, mau dikemanakan oleh Gusmon. Mau dijual, mau dibuang atau dibakar, itu terserah Gusmon, meski awalnya adalah milik ketua gangster namun ia telah menyerahkan sepenuhnya kepada Gusmon, yang berarti secara mutlak adalah milik Gusmon. Itulah sebabnya apapun yang terjadi pada mobil itu bukan urusan Niya Noune.
Niya dan Gusmon berada di mobil karimun yang mini itu, meski begitu kursi mobil bisa muat untuk empat orang. Segera mobil itu meninggalkan pelataran parkir Gedung Pusat Perbelanjaan South Coast City, melaju ke arah Utara kota.
Tidak berapa lama mobil itu berhenti di Kediaman Keluarga Duns.
“Biar aku yang menjemput Virani ke dalam” Niya menawarkan diri, namun ia sepertinya tidak memerlukan jawaban Gusmon. Terbukti setelah berkata demikian Niya bergegas keluar mobil dan menuju Villa Duns. Ia merunduk sangat rendah demi keluar dari mobil Gusmon, dikarenakan badannya yang tinggi.
Gusmon menunggu di dalam mobil, posisinya seperti seorang supir yang menunggu majikan. Tak lama kemudian dua orang gadis cantik keluar dari kediaman Duns. Keduanya adalah Virani Duns dan Niya Noune, siapapun yang melihat pasti terpana. Dua orang keindahan yang tiada tara dari South Coast, meski Virani memang terlihat selalu lebih cantik dibandingkan dengan Niya. Namun Niya memang sosok yang tinggi.
Virani duduk di kursi depan, samping Gusmon. Mau tak mau Niya terpaksa duduk di kursi belakang. Ia sadar dengan posisi Virani sebagai calon Isteri dari Ketua Besarnya.
“Sekarang masih sore, apakah kamu berniat mengganti acara makan malam menjadi makan sore?” Virani bertanya kepada Gusmon.
“Usul yang bagus” kata Virani sambil tersenyum.
“Mantap !” Kata Gusmon senang. Segera mobil itu beranjak meninggalkan Villa Duns.
Di selatan Kota South Coast. Dua botak baru saja turun dari mobil sport mewahnya, mereka berada di halaman belakang Villa Bene. di hadapan mereka berdua, terlihat Gundul Rong sang kakak dan Tuan Muda Sorto Bene yang memijit-mijit dagunya.
“Dari mana saja kalian” Gundul Rong bertanya dengan kesan menyelidik, meski sebenarnya ia sudah mengetahui apa yang dilakukan oleh kedua adiknya itu.
__ADS_1
“Kami.... sedang mencari angin” Kilah Gandal Rong dengan wajah murung.
“Sudah jangan bertele-tele. Katakan saja terus terang bahwa kalian mencari Si Hantu itu kan?” Kali ini Tuan Muda Sorto Bene yang membentak ia langsung ke inti cerita. Gandal Rong dan Gendel Rong tampak saling pandang.
“Huff, memang benar itu yang kami lakukan” Gendel Rong buka suara
“Aku sudah peringatkan kalian. Apa kalian merasa dengan kemampuan kalian bisa mengalahkan Si Hantu itu” Tuan Muda Sorto Bene berkata acuh tak acuh namun kata-katanya mengandung ketegasan dan kekesalan. Gandal Rong terlihat kurang senang dengan pernyataan Tuan Mudanya itu. meski demikian ia sama sekali tidak menggubris.
“Kami percaya kalau kami mampu!” Gandal Rong membela diri dengan mengepalkan tangannya.
“Oh begitukah?, dan kalian juga ingin merusak kesenangan guru kalian?” Sinis terdengar kata-kata dari Tuan Muda Sorto Bene.
“Dengar Tuan Muda, kami selalu menghormati mu tapi tindakan Si Hantu itu telah menghancurkan harga diriku. Tentu saja aku berniat mengalahkannya dan menunjukkan pada guruku bahwa orang seperti itu sebenarnya tidak pantas menjadi lawan Jhon Karabau yang perkasa”. Gandal Rong terlihat ngotot, sementara itu Gendel Rong hanya diam sambil melengah pura-pura tidak mendengar. Hal ini tampaknya membuat wajah sang Kakak Gundul Rong terlihat jelek.
Tuan Muda Sorto Bene tertawa sejenak mendengar pembelaan dari Gandal Rong.
“Tindakannya yang mana yang menghancurkan harga dirimu, dengarkan! Aku sudah melihatnya di depan mataku sendiri Pujin Hento sama sekali tidak dipandang sebelah mata di hadapan Si Hantu itu. lagi pula aku sudah tahu apa yang dipikirkan oleh otak cabul mu. Kamu hanya ingin harga diri dari organ di bawah perut mu itu kan!!” Geram nada ucapan dari Tuan Muda Sorto Bene. sementara itu Gandal Rong hanya diam namun tatapan matanya terlihat menusuk. Sebenarnya apa yang di ucapkan oleh Tuan Mudanya itu memang mengena. Ia sangat tertarik dengan perempuan berambut pirang yang di incarnya kemarin, seumur hidup baru kali ini ia melihat ke indahan yang begitu sempurna. Itulah salah satu alasan ia mencari Gusmon bersama dengan adiknya Gendel Rong.
Pada Malam tahun baru itu sebenarnya ia ingin menghancurkan Gusmon bersama Kakaknya Gundul Rong, ia sangat percaya diri bila ia melakukannya berdua. Bukankah itu berarti dua kali lipat Pujin Hento?. Namun reaksi kakaknya yang menolak membuat dirinya kecewa. Itulah sebabnya ia membawa adiknya yakni Gendel Rong demi untuk melenyapkan Gusmon, namun sayangnya Gusmon yang sudah dikuntitnya dengan susah payah tiba-tiba saja menghilang entah kemana.
Padahal rencananya adalah melenyapkan Gusmon di tempat sepi agar tidak ada yang membocorkan peristiwa itu kepada Gurunya Jhon Karabau. Dapat di bayangkan Jhon Karabau sangat ingin bermain-main dengan Gusmon, bagaimana reaksinya jika hal tersebut sampai terdengar oleh gurunya?.
__ADS_1
“Untuk kematian si Hantu itu kita hanya perlu bersabar, bukankah tantangannya akan berlaku mulai besok dan setelah itu kita bisa mendapatkan bidadari berambut emas itu.” Kata Tuan Muda Sorto Bene.
“Untuk sekarang silahkan kamu pergi ke tempat hiburan milik ku jika kamu ingin bersenang-senang. Di sana banyak pelacur yang masih muda. Kamu bisa berbuat sesuka mu”. Tuan Muda Sorto Bene menepuk pipi Gandal Rong perlahan, kemudian berlalu dari hadapannya.