Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video

Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
BAB 119


__ADS_3

Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video


Bab 119


“Enyah Kalian Semua!!” Selesai berkata demikian Gusmon berbalik dan meninggalkan ke empat orang patah itu. Bersama Virani dan Niya, Gusmon menaiki mobil karimunnya. Sesaat kemudian mesin mobil menyala dan meninggalkan tempat itu dengan perlahan.


Mobil Gusmon menelusuri jalan raya tepi pantai itu, hendak mencari sebuah Cafe yang didirikan tidak berapa jauh dari sana. Ia hanya ingin melepas dahaga minum sesuatu yang dingin. Di sepanjang jalan pinggir pantai, ada beberapa Cafe baru yang didirikan oleh pemiliknya. Ada juga tempat hiburan dan tempat karaoke kecil-kecilan yang juga baru didirikan.


Tidak berapa lama sebuah Cafe tampak berdiri dengan megah. Tampaknya bukan hanya sekedar Cafe, tempat ini juga komplit dengan peralatan karaokenya. Saat ini suara musik sudah mendayu-dayu mengiringi sekelompok anak-anak muda yang sedang berkaraoke. Tetapi di samping cafe itu ada satu cafe lagi yang berdiri namun tampaknya sepi pelanggan di bandingkan cafe yang ini.


“Cafe dan tempat Hiburan 66” Gusmon membaca tulisan yang ada di depan pintu masuk cafe ini. ia segera menghentikan mobilnya dan memakirnya di halaman cafe kecil itu. Ketiga orang itu turun dari mobil.


Hari memang sudah menjelang senja saat itu, sehingga Gusmon berinisiatif untuk duduk di bangku yang yang berada di luar ruangan Cafe. Bangku itu menghadap laut, sehingga pemandangan yang di tampilkan kala senja menjelang, akan terasa spektakuler karena akan ada penampilan sunset yang sangat indah.


Gusmon memeriksa menu di lembaran kertas menu yang ada di atas meja, sementara kedua gadis duduk masing-masing di kiri dan kanan Gusmon. Gusmon hanya ingin memesan minuman saat ini, karena untuk makan malam rencananya akan diadakan di Cafe Purnama.


Terlihat sekali bahwa variasi menu amat terbatas di Cafe ini, memang ini hanya cafe baru di pinggir pantai dan termasuk hanya Cafe kecil. Bila di bandingkan dengan Cafe Purnama jelas ini bukan lawannya. Cafe Purnama adalah pilihan kelas elit untuk Cafe di South Coast.


Tetapi dengan menu yang beragam dari Cafe Purnama, ia sama sekali tidak pantas disebut Cafe lagi. Karena sudah mirip seperti restoran. Karena Cafe sejatinya hanyalah tempat ngobrol yang menyajikan minuman dan makanan ringan.


“Aku pesan, capuccino cincau. Kalian juga silahkan pesan” Kata Gusmon seraya tersenyum. Ia sebetulnya sedikit senang, karena bisa nongkrong di Cafe ditemani gadis-gadis cantik.

__ADS_1


“Aku lemon tea” Kata Virani


“Aku Coklat dingin” Menimpali Niya


Seorang perempuan pelayan cafe berwajah manis, mendekati sambil tersenyum.


“Tidak sekalian pesan makanan Tuan?” Perempuan Pelayan Cafe itu menyapa. Namun matanya menatap Virani dengan pandangan kagum.


Pelayan itu sepertinya cukup familiar dengan perempuan cantik dengan kulit halus bagai giok tersebut. menurutnya Virani terlihat lebih dari wanita pada umumnya, ia sangat menawan dan sulit untuk lepas dari memandangi wajahnya bila sudah menatap.


“Ya kami cuma pesan minum” Gusmon membuyarkan pemikiran dari perempuan pelayan cafe itu.


“Oh ya tuan segera disiapkan pesanannya. Namun sebelum itu izinkan saya promosi agak sebentar. Cafe ini juga menyediakan menu-menu makanan yang tidak cuma enak namun juga cukup mengenyangkan dengan harga yang terjangkau. Cafe ini juga dilengkapi dengan fasilitas karaoke jika tuan dan nona ingin bernyanyi dipersilahkan, namun harus gantian dengan tamu-tamu yang lainnya” Pelayan Perempuan itu tampak menjelaskan dengan sopan.


“Oh itu...” Gusmon berfikir sejenak, ia melihat perempuan pelayan cafe itu. usianya mungkin sekitar 18 tahun. Sepertinya ia pernah melihat. Ya perempuan ini adalah salah satu penyanyi yang kurang terkenal yang tampil di acara konser malam tahun baru. Ia ingat bahwa ada beberapa penyanyi kurang terkenal yang tampil di konser itu baik laki-laki maupun perempuan. Dan gadis ini adalah salah satunya.


“Siapa nama mu” Tanya Gusmon


“Eh, nama ku, Mauna... lengkapnya Mauna Bing.” Kata Pelayan Perempuan itu gugup. Sementara Niya hanya melirik Gusmon atas pertanyaannya, namun Virani menatap dengan tertarik. Apa yang dipikirkan oleh Gusmon?


“Kamu salah satu penyanyi di konser tahun baru itu kan?” Gusmon tersenyum. Virani sontak menatap gadis 18 tahun itu, sebelumnya ia sama sekali tidak memperhatikannya. Benar saja ia ingat bahwa gadis itu adalah salah satu dari penyanyi yang tidak terkenal. Niya Noune hanya mendengarkan dengan santai.

__ADS_1


“I..iya.., tu.. Tuan aku akan siapkan pesanan mu” Mauna Bing membungkuk hormat kemudian ia pergi untuk menyiapkan pesanan dari meja Gusmon.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu, kamu lihat sendiri dia jadi malu dan salah tingkah” Virani bertanya dengan pandangan menyelidik.


“Ya aku hanya menebak saja, bukankah saat itu kamu juga ada di sana dan menjadi Penyanyi Misteriusnya” Kata Gusmon dengan tenang.


“Lagi pula aku jadi berubah pikiran, bagaimana kalau acara makan malamnya kita lakukan di cafe ini saja. Bukan karena apa-apa, tapi karena hari sudah hampir malam dan tentunya kita tidak bisa melewatkan sunset di tepi pantai ini kan?” Kata Gusmon lagi sembari menatap ke arah barat yang ada di ujung laut. Terlihat matahari perlahan-lahan terbenam memancarkan semburat warna merah keemasan. Melihat Matahari terbenam di tepi pantai ini, dapat menghadirkan nuansa yang romatis dan berkesan.


Mau tak mau Virani dan juga Niya melihat ke arah ujung laut. Menyaksikan fenomena terbenamnya sang surya yang perkasa. Menyisakan cahaya keemasan yang membias di cakrawala.


Suasana hati Virani mendadak menjadi damai, tanpa sadar ia berpaling ke arah Gusmon. Demi melihat wajah Gusmon dalam bayang-bayang senja membuat hati Virani menjadi berbunga-bunga. Perlahan bibirnya merekahkan senyum yang menawan. Cahaya matanya terlihat berbinar penuh cinta.


Hal itu tak lepas dari pandangan mata Niya. Terlihat wajah Niya memancarkan sedikit aura iri hati, jelas sekali bahwa ia ingin bahwa ia lah perempuan yang memiliki kebahagiaan itu. namun ia hanya bisa melihat dan melihat. Tetapi dalam hati berharap bahwa ia bisa menjadi kekasih Ketua Besarnya itu meskipun jadi yang kedua.


“Hm.. Hm...mengenai makan malam itu, disini sepertinya menunya tidak banyak. hanya makanan seadanya dan itu tidak terlalu mengenyangkan” berbicara Niya memecahkan suasana romantis yang mulai terbentuk.


Kedua orang yang saling berpandangan itu kontan tersentak.


“Eh iya... tapi...” Virani tergagap, sementara Gusmon hanya garuk-garuk kepala


“Aku rasa tidak apa-apa makan malamnya di sini saja. Lagian kasihan pelayan perempuan tadi, siapa namanya tadi” Gusmon cepat menguasai dirinya dengan ketenangan. Tadi ia sempat terlena dengan memandang keindahan seperti Virani di hadapan matanya.

__ADS_1


“Mauna Bing” Kata Virani dan Niya hampir bersamaan.


__ADS_2