
Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
Bab 34
Saat ini Virani masih menggenggam tangan Gusmon guna menariknya dari ruang pertemuan tadi. Mereka berada di ruang Keluarga yang luas dipenuhi dengan interior yang mewah dan indah, Virani masih menggenggam tangan Gusmon. Gusmon hanya membiarkan dan mengikuti kemana Virani membawanya.
Akhirnya Virani duduk di kursi yang ada di ruangan itu. Namun anehnya tangannya masih belum melepaskan genggaman terhadap tangan Gusmon. Gusmon menggaruk kepalanya dengan tangannya yang lain, namun tetap mengurungkan niat untuk menegur Virani.
“Kamu kenapa masih berdiri, duduk di kursi sebelah sana” Kata Virani menatap Gusmon dengan heran.
“Bagaimana mau duduk, ntar tanganku malah ketinggalan sama kamu” Gusmon bicara sambil tersenyum. Virani tentu saja terkejut tatkala menyadari bahwa tangannya masih menggenggam tangan Gusmon dengan begitu erat.
“Eh.. iya, ini aku lepasin” Katanya dengan muka yang merah. Bagaimana mungkin ia justru tidak sadar bahwa ia masih menggenggam tangan Gusmon dengan begitu erat.
Terlihat senyum yang sangat manis merekah di bibir Gusmon, tatkala menyadari bahwa gadis ini salah tingkah di hadapannya.
Kemudian Gusmon duduk di Kursi mewah di samping Virani. Seorang Pelayan rumah ini datang dengan nampan yang penuh dengan minuman dan makanan ringan. Ia meletakkannya di atas meja kaca yang ada di hadapan Gusmon dan Virani. Tanpa pikir panjang Gusmon segera menyesap teh yang ada di gelas dan tersembur.
“Wadah, sial panas. Hah..Haaaa!” Gusmon berteriak kepanasan, ternyata teh yang di minumnya masih panas. Virani menatapnya dengan perasaan cemas
“Sakit Y...., Hm ...... makanya kalau minum itu di rasakan dulu, jangan langsung minum aja” Virani sebenarnya mau mengatakan ‘Sakit Yank’, namun cepat mengubahnya karena malu.
Pelayan Keluarga Duns yang melihat tingkah Gusmon yang dianggapnya aneh hanya geleng-geleng kepala, namun tidak berani mengomentari tamu Nona Mudanya ini. Dalam hati ia berkata “Dasar Orang Aneh”.
Saat itu Fanny Wen sampai di hadapan mereka, dan terkejut melihat Gusmon yang kepanasan.
__ADS_1
“Ada apa?” Tanya ibu Virani itu.
“Ah. Tidak apa-apa, tadi cuma airnya terlalu panas”. Kata Gusmon dengan jujur. Sekarang Gusmon sudah tidak kepanasan lagi, namun lidahnya sedikit melepuh. Fanny Wen sedikit terpana.
“Pelayan!, siapkan kamar tamu yang ada di ruang tamu VIP, segera!” Fanny Wen memerintahkan Pelayan yang membawa nampan tadi.
“Siap Nyonya Besar” Pelayan itu dengan cepat berlalu dari tempatnya, bergegas melaksanakan perintah dari Nyonya Besarnya itu.
Fanny Wen mengamati Gusmon dari atas ke bawah, ia bertanya-tanya dalam hati, siapa Pemuda dengan dandanan Gembel ini.
“Virani hari ini kamu terlihat lelah, sebaiknya kamu istirahat dulu kemudian esok hari kamu ceritakan bagaimana kamu bisa lolos dari penculikan dan bagaimana keadaan Tuan Muda Bene itu?” Fanny Wen bertanya, sedikit menyimpan keingintahuannya mengenai Pemuda di hadapannya ini. Virani hanya mengangguk dan ingin berlalu dari tempat itu. Namun ia berhenti sesaat dan memandang ke arah Gusmon.
“Gusmon, hari ini kamu istirahat yang baik ya, kalau ada sesuatu bisa beri tahu kepada ku atau ibu. Di dalam kamar itu ada telepon keluarga, kamu bisa pakai untuk memberitahu kepala pelayan apa yang kamu butuhkan. Selamat malam” Virani mengucapkan selamat malam seraya berbalik dan pergi ke kamarnya, namun ibunya mengikuti dari belakang.
Berjalan beberapa jauh Virani tiba di pintu kamarnya, sementara ibunya menyusul. Ia menoleh kehadapan ibunya.
“Sebelum istirahat ibu ingin tahu tentang pemuda itu” Ibunya menjawab dengan rasa ingin tahu.
“I itu sebenarnya..” Virani tergagap dengan wajah yang merah. Ibunya jadi semakin tertarik dengan perubahan sikap anak gadis satu-satunya itu.
“Apa yang kamu sembunyikan pada ibu” ibunya bertanya dengan penasaran.
“Hhh, baiklah... pemuda itu sebenarnya... calon suami ku” Akhirnya Virani mengatakan yang sebenarnya kepada Ibunya. Wanita separuh baya itu seperti mendengar halilintar seolah tidak percaya dengan pendengarannya.
“A apa yang kamu bicarakan Virani, bicaralah dengan benar” Fanny Wen berusaha untuk meyakinkan dirinya.
__ADS_1
“Benar ibu, Gusmon adalah calon suamiku, aku harap ibu dapat menerimanya. Karena aku telah bersumpah untuk menjadikannya suami jika ia menyelamatkan aku” Virani berkata dengan ekspresi memohon kepada ibunya. Ibunya tertegun beberapa saat, ingin ia mendengarkan kronologis kejadian yang sebenarnya tentang penculikan Virani dari bibir anaknya itu. Namun melihat Virani yang kelelahan ia hanya diam dan mengurungkan niatnya. Sulit rasanya menerima hal yang tidak inginkannya. Anaknya akan menikahi pemuda Gembel!. Mau ditaruh dimana mukanya nanti.
Tetapi Fanny Wen adalah sosok Perempuan yang baik, ia bisa menahan segala perasaan dan ia bisa menimbang mana yang baik dan mana yang buruk. Untuk itu ia menatap putrinya dengan dalam.
“Apa kamu menyukainya?” Fanny Wen akhirnya bertanya dengan lembut.
Virani sebenarnya tidak tahu, apakah ia menyukai Gusmon atau tidak, ia termenung beberapa saat. Namun untuk meyakinkan ibunya ia akhirnya mengangguk. Ibunya kemudian memeluk putrinya itu, ia tahu apa yang dirasakan oleh putrinya.
“Sudahlah... jika kamu tidak menyukainya jangan dipaksakan hanya karena janjimu itu” kata ibunya dengan lembut sambil mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang seorang ibu.
“Tidak ibu, aku hanya sedikit ragu, namun aku yakin bahwa aku menyukainya. Meskipun baru sesaat mengenalnya tapi aku yakin kalau dia adalah pemuda yang baik” Virani akhirnya mengutarakan pendapatnya. Ibunya hanya menghela nafas.
“Ya sudah, ibu hargai keputusanmu. Silahkan istirahat, besok kamu boleh menceritakan semuanya” ibunya mengecup kening anaknya. Kemudian berbalik untuk menemui Gusmon di Ruang Tamu Keluarga.
Saat ini Gusmon di Ruang Tamu sama sekali tidak mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Ibu dan Anak itu. Ia asyik menikmati Snack yang disediakan oleh Pelayan tadi. Ada roti tawar dengan keju dan ditaburi coklat meses. Kemudian ada Wafer dengan rasa Tiramisu. Disamping snack juga ada buah Cherry yang menggoda lidahnya.
Setelah lidahnya di siram air panas, memang enaknya makan buah Cherry yang menggoda dan manis seperti Virani. Walah tiba-tiba saja senyuman Virani yang merekah seperti warna buah Cherry menyeruak di hadapan matanya. “Sialan kenapa di saat ingin makan Cherry malah ingat dia sih, apa-apaan dengan pikiran ku ini”. Gusmon menggelengkan kepalanya berusaha untuk menghapus wajah Virani dari pikirannya.
“Sadar Gusmon, sadar. Kamu siapa, dia siapa. Jangan kebanyakan menghayal kamu” Gusmon memarahi dirinya sendiri. Namun selera makan cherry nya jadi hilang. Akhirnya ia hanya bersandar di kursi dengan rileks. Dan akhirnya tertidur.
Fanny Wen yang saat ini sudah kembali ke ruang tamu tampak terkejut melihat Gusmon yang sudah tertidur sambil bersandar di kursi yang didudukinya. Tidur sambil duduk, tampaknya orang ini memang sangat kelelahan.
“Baru ditinggal sebentar sudah tidur, benar-benar aneh orang ini. Atau benar-benar kecapean?” Begitu pemikiran singkat dari Fanny Wen.
Saat ini pelayan yang ditugaskan untuk menyiapkan kamar tamu VIP sudah kembali dan berdiri di hadapan Fanny Wen.
__ADS_1
“Nyonya Besar, Kamar Tamu sudah disiapkan. Laporan selesai” Kata Pelayan itu dengan tegas seolah-olah dia adalah prajurit militer.
“Terima kasih, silahkan kembali” kata Fanny Wen kepada Pelayan keluarga itu.