
Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
Bab 46
Tentu saja keputusan itu membuat pihak dari Alex merasa sangat tidak puas dan beberapa Anggota Keluarga Duns lainnya baik kerabat dekat maupun kerabat jauh merasa aneh. Dan mereka pun mendadak menjadi ngeri. Kenapa tidak ada umpan balik kepada Keluarga Bene, semacam permintaan maaf? Apakah ini akhir dari Keluarga Duns?.
Namun mereka semua tidak berani bertanya lebih jauh karena ini sudah merupakan keputusan dari Kepala Keluarga.
Dilain sisi sebenarnya Kelompok Alex sangat kesal dengan Kepala Keluarga atas menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada Gusmon, bukankah orangnya ada di ruang rapat itu lantas kenapa harus Kepala Keluarga yang menjawab.
Tapi Genol sudah memahami hal itu jawaban satu-satunya atas peristiwa itu adalah bahwa Pieter sudah mengendus niat mereka. Itulah sebabnya Pieter tidak membiarkan Gusmon menjawab apapun pertanyaan dari kelompok mereka. Namun ia masih punya kartu truf untuk mengetahui setidaknya sedikit informasi dari bawahannya yang sejak pagi tadi memata-matai kegiatan di kediaman Keluarga Bene.
Genol sudah berpengalaman setara dengan umurnya yang sudah menginjak 68 tahun, untuk itu ia sudah menyebar orangnya dalam mencermati suasana di kediaman Keluarga Bene. Secara kekuatan memang Keluarga Bene nomor satu namun secara pengalaman dan kelihaian dalam memata-matai Genol tetap memilki pengalaman lebih, mengingat ia dulunya juga pernah memasuki dunia hitam bawah tanah. Sementara itu Keluarga Bene adalah keluarga yang baru saja naik daun atau bila bisa dilebihkan keluarga ini baru saja naik roket. Dari keluarga biasa menjadi keluarga yang termasuk Peringkat Dua di South Coast tentunya dengan mengandalkan Jhon Karabau.
Di depan Villa Duns saat ini, tampak Virani sedang bersama Gusmon. Tampaknya mereka akan merealisasikan keinginan Virani untuk berbelanja. Saat ini Fanny Wen juga berada di halaman depan itu bersama mereka. Virani sudah membicarakan keinginannya berbelanja kepada Ibunya.
“Ibu kami pergi dulu ya” Kata Virani dengan lembut kepada Ibunya.
“Ya hati-hati, dan Gusmon harap jaga anak Gadis Ibu satu-satunya ya” Fanny Wen berpesan kepada Gusmon, namun dalam hati Fanny Wen sama sekali tidak terbersit rasa khawatir dikarenakan anaknya sudah berada di tangan pihak yang tepat. Ia tidak cemas lagi bahwa hal serupa yang terjadi beberapa hari yang lewat akan terjadi lagi kepada anaknya. Ia percaya Gusmon, yakni Ketua Tertinggi atau Ketua Besar dari Gangster Elang Hitam akan menjaganya. Meskipun peristiwa penculikan Putrinya beberapa hari yang lewat juga tak luput dari Gangster menakutkan ini. Tetapi ia telah mengetahui dari Virani bahwa saat itu Gusmon belum menjabat sebagai Ketua Besar.
“Tenang saja bu, aku Gusmon Sopordoy pasti tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan dari mu” Kata Gusmon dengan tulus. Dalam hati ia tidak akan membiarkan siapapun untuk menyakiti Virani, bahkan untuk membuat Gadis ini menangis pun tidak akan dibiarkannya.
__ADS_1
“Kita perginya naik mobilku aja yuk” kata Virani
“Nggak usah, naik mobil ku aja” Gusmon memberikan pilihan lain pada Virani. Maksudnya jelas, dengan mengajukan mobil Kijang Innova yang diberikan Grudul kepadanya, agar ia bisa mengemudi lagi. Maklum ia jadi kecanduan membawa mobil setelah uji coba dadakannya kemarin membuahkan hasil yang lumayan. Bila yang di pakai mobil Virani dapat di bayangkan, bila rusak atau gores pastinya mobil Nona Muda Duns ini adalah mobil sport yang mahal.
“Ya udah, terserah kamu aja” Kata Virani, ia sama sekali tidak menolak naik mobil Gusmon yang hasil pemberian orang itu.
“Eh nanti jangan lupa belikan ibu sepatu ya” Ibu Virani tampaknya ingin menambah koleksi sepatunya. Sebenarnya sepatu Fanny Wen sudah seabrek sehingga banyak sepatu yang tidak terpakai. Mau apa lagi memang hobinya koleksi sepatu.
“Oke Mom,” Virani segera mencium pipi ibunya sebagai salam keberangkatan, Gusmon yang ada di samping Virani secara tidak sadar juga ikut menjulurkan kepalanya kearah Virani berharap dicium juga.
“Kamu .... ngapain sih?” Kata Virani heran.
“Eh....ngg....nganu, kepala aku agak pegal sedikit.” Jawab Gusmon sambil mengoleng-olengkan kepala ke kiri dan ke kanan. Seolah-olah kepalanya benar-benar pegal. Kemudian ia melompat-lompat dengan gaya seorang atlit yang lagi pemanasan.
“Ngomong-ngomong kamu nggak olah raga, coba deh kaya aku ini, seger!” Gusmon melanjutkan ocehannya. Sementera Fanny Wen hanya tersenyum masam dengan tingkah calon menantunya ini.
“Olahraga siang-siang begini, panas lagi. Kalau mau olahraga itu pagi tadi sebelum mandi” Kata Virani sambil memanyunkan bibirnya, sedikit kesal dengan tingkah Gusmon yang rada-rada aneh.
Gusmon hanya garuk-garuk kepala, ketahuan bahwa ia payah dalam hal ngeles. Akhirnya sambil senyum-senyum tak karuan Gusmon melangkah menuju mobil Kijang Innova Silvernya. Mereka berdua masuk kedalam mobil itu. Tentu saja yang memegang kemudi adalah Gusmon, ia masih kecanduan untuk membawa mobil.
Menyetir mobil tahap kedua akan segera di mulai. Dengan mantap Gusmon membawa mobilnya, masih terlihat kasar bila dibandingkan dengan sopir profesional. Di halaman Villa itu masih berjaga-jaga para Ahli Beladiri Keluarga Duns. Dalam lima hari kedepan memang mereka diperintahkan untuk mengintensifkan penjagaan, meskipun situasi terlihat tenang. Jangan lupa bukankah air yang tenang itu biasanya adalah air yang dalam?.
__ADS_1
Kijang Innova Silver itu keluar dari Gerbang utama Villa menuju pusat Kota tentunya tempat dimana hasrat belanja Virani bisa terpenuhi. Sementara itu Fanny Wen masih berdiri di halaman Villa memandangi kepulan asap yang samar-samar lenyap.
“Bila diperhatikan tampaknya mereka memang pasangan serasi, sepertinya pasangan ini sudah diciptakan dari Surga, meskipun pemuda itu terlihat konyol tapi tetap saja mereka memang sangat cocok” Membatin Fanny Wen yang masih memandangi jejak kepergian anak gadis satu-satunya itu.
“Vrooooommmmm! “
“Ceklek!”
“Tin..tin..!”
Tampak aksi Gusmon yang seperti kecanduan Game Need for Speed, meski sebenarnya tidak terlalu kencang malah terkesan sedikit lambat, namun aktingnya membawa mobil yang seolah-olah pembalap profesional membuat Virani cemberut. Malah yang membuat Virani kesal adalah mulut Gusmon ikut-ikutan menirukan bunyi mesin mobil seolah-olah masa kecilnya kurang bahagia.
“bruuuum brrrrr brummm, ngeeeng...ngeeeeeeeng” Suara mulut Gusmon mengiringi bunyi mesin mobil yang menderu. Namun meskipun kesal Virani malah asyik juga menonton aksi Gusmon ini apalagi mengamati mulut Gusmon yang termanyun-manyun menirukan bunyi mobil. walah ternyata ada air liurnya juga yang ikut terciprat kedepan.
Gusmon kontan berhenti menirukan bunyi mesin mobil, dirinya menjadi malu sendiri karena Virani tadi melihatnya sewaktu air liurnya terciprat kedepan.
“Kenapa berhenti?” Tanya Virani menahan senyumnya. Ia cukup terhibur melihat Gusmon yang malu karena air liur yang tersemprot keluar. Jelaslah Gusmon malu, wong muncratnya di depan cewek cantik kayak gini. Perlahan muka Gusmon memerah karena malu. Sesaat kemudian ia tersenyum.
“Kamu senang ya melihat aku kayak gini” Kata Gusmon sambil tetap fokus menyetir.
“Dikit” Kata Virani seraya memperhatikan jalan, takutnya Gusmon salah jalan.
__ADS_1
“Belok kiri” Kata Virani lagi, meskipun ia memperhatikan Gusmon. Namun ia tetap memberikan navigasi kepada calon suaminya itu agar arahnya tidak melenceng.