Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video

Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
BAB 23


__ADS_3

Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video


Bab 23


Suasana sore menjelang malam di Kota kecil South Coast itu tampak ramai dengan aktivitas beraneka ragam manusia, tampaknya perekonomian berjalan stabil di kota ini. Lalu lalang manusia, manusia yang menyeberangi zebra cross dan teriakan-teriakan para pedagang asongan menyemarakkan suasana di sekitar lampu merah itu.


Disebuah persimpangan itu ada fasilitas telepon umum yang berjejer rapi, dan merupakan fasilitas vital bagi publik. Sebuah mobil Kijang Inova berwarna Silver berhenti mendadak di tepi jalan itu. Beberapa orang tampak turun dan mendekati telepon umum yang ada di tempat itu. 


Rombongan yang ada pada Mobil Kijang Innova tersebut adalah Gusmon dan rekan-rekannya. Tampak pada saat itu Grudul Hiko menghampiri telepon umum itu dan menyampaikan sesuatu kepada rekannya yang ada di ujung telepon.


Tampaknya Grudul Hiko menginginkan mobil yang lain sebagai sarana transportasinya dikarenakan mobil Kijang Innovanya itu sudah diberikan kepada Gusmon sang Tuan Hantu.


“Virani, sebaiknya kamu juga menelepon keluarga mu, memberi tahukan keadaanmu kepada mereka bahwa kamu tidak apa-apa!” Gusmon memberikan sarannya kepada Virani Duns agar gadis itu memberi tahukan bahwa ia tidak apa-apa sehingga minimal mengurangi rasa kekhawatiran bagi keluarganya. Virani mengiyakan dan menghampiri tempat telepon umum seraya menahan perutnya yang sudah sangat lapar.


Ia segera memencet tombol angka yang ada pada telepon  umum itu sambil menghiraukan pandangan orang-orang yang ada di tempat itu. Tampaknya orang-orang di sekitar tempat itu sedikit heran dengan wajah familiar dari Virani Duns. Seolah-olah mereka telah melihat bintang besar di negeri ini, namun tidak yakin karena pakaian dan wajah Virani Duns yang acak-acakan dan kucel. Ditambah lagi ia tidak naik mobil yang mahal membuat orang-orang ragu dengan penglihatannya.


“Eh .. bukannya itu Virani Duns ya, bintang penyanyi terkenal itu” bisik seorang pejalan kaki kepada temannya.


“mana.... !“ kata temannya ingin memastikan pandangan matanya


“itu yang lagi menelepon itu”


“AH tidak mungkin, masa Virani Duns pakai baju kaya gembel begitu!”


Demikian terdengar bisik bisik percakapan antara dua orang perempuan muda yang seakan-akan tidak percaya dengan pandangan mata mereka sendiri. Namun mereka berdua segera berlalu setelah memastikan tidak mungkin seorang mega bintang berpakaian kucel seperti itu. Mereka pasti salah lihat atau kemungkinan ada seseorang yang memiliki wajah yang sedikit mirip dengan Virani Duns.

__ADS_1


Di ruangan keluarga di Villa Mewah milik keluarga Duns saat ini terdengar deringan suara telepon rumah. Seseorang tergopoh-gopoh menggapai gagang telepon dan mengangkatnya.


“Hallo Rumah keluarga Duns di sini!” kata orang yang mengangkat telephon tersebut. 


“Hallo ini Virani bisa bicara dengan ibu!” kata suara dari seberang telepon tersebut yang ternyata suara Virani yang menelepon keluarga nya untuk memberi tahukan keadaan bahwa ia baik-baik saja.


Tampak sekilas wajah orang yang mengangkat telepon itu menggelap. 


“oh ya..! “ kata orang yang mengangkat telepon itu seolah-olah kurang senang dengan informasi yang seharusnya menyenangkan itu.


“iya ini Virani Duns, cepat beritahu ibuku bahwa aku dalam keadaan baik-baik saja!” kata Virani lagi dengan sedikit kesal karena ia dari tadi berbicara sambil menahan lapar.


“iya, bicara saja dengan ku nanti ku sampaikan pada ibu!” kata suara itu


“Fitria!” kata orang yang mengangkat telepon tadi yang ternyata adalah Fitria Duns.


“Oh oke kalau begitu, tolong sampaikan ke ibuku ya sepupu!” kata Virani lagi lega, iapun segera menutup teleponnya karena sudah sangat lapar.


Sementara itu Grudul Hiko telah selesai menelepon anak buahnya untuk mendapatkan mobil pengganti dan kedua rekannya Asno Maropo dan Kinu Bula dengan setia menunggu di depan telepon umum yang dipakai oleh Grudul Hiko. 


Mereka bertiga menghadap kearah mobil Kijang Innova Silver yang saat ini sedang dimasuki oleh Virani Duns sedangkan posisi sopir sekarang sudah berpindah ke tangan Gusmon.


“Bruk!” Virani menutup pintu mobil 


 “Ayo cepat jalan, disekitar sini ada cafe yang murah meriah” Kata Virani lagi dengan tidak sabaran karena perutnya benar-benar lapar.

__ADS_1


“Baiklah!” Kata Gusmon, sambil berusaha mengingat-ingat bagaimana cara mengemudikan mobil. Karena sebenarnya dia sama sekali tidak pernah mengemudikan mobil. Namun berbekal kecerdasannya ia sangat yakin bahwa ia bisa mengemudi meskipun belum pernah mencoba sekalipun.


“Oke Siap!” kata Gusmon kemudian. Virani pun mengernyit. “apa-apaan nih cowok dari tadi nggak jalan-jalan mobilnya. Bilangnya siap tapi tetap saja mobilnya nggak jalan”. Virani membatin dalam hati. Apa jangan-jangan Gusmon tidak bisa mengemudi? Demikian pikiran yang ada dalam hati Virani.


Namun mendadak mobil berjalan terangguk-angguk, seolah-olah orang yang membawanya tidak pandai mengemudi. Namun itu hanya sesaat setelah itu mobil berjalan seperti biasa hanya saja sangat lambat. 


“Kenapa sih mobilnya berjalan pelan sekali seperti pejalan kaki!” Virani Duns protes. Sementara ketiga orang gangster yang ditinggalkan hanya melihat dengan perasaan rumit.


“Oh ini..... oke kencangkan sabuk pengaman...!” seru Gusmon seketika. Pada saat itu juga mobil melaju dengan cepat namun tetap dengan ter angguk-angguk


“Aaaaaa!” Virani Duns terdengar menjerit dengan gaya Gusmon membawa mobil ini yang jelas saja seperti seseorang yang sangat amatiran


“sudah-sudah berhenti..... sini biar aku yang nyetir” Kata Virani dengan ketakutan.


“Ntar!, ini baru akan stabil nih!” kata Gusmon kemudian, dan benar saja perlahan demi perlahan jalan mobil itu mulai stabil.


“Hffff!” Virani hanya geleng-geleng kepala sambil memegang perutnya yang keroncongan. Sementara itu Gusmon sudah mulai terbiasa dengan stir mobil itu meskipun sedikit goyang. Seumur hidup baru kali itulah Gusmon membawa mobil. Berbekal ingatannya dalam melihat orang membawa mobil dan di tambah kemampuannya dalam bermain game mobil balap di Buminya dulu terlebih lagi kecerdasannya yang luar biasa ia ternyata mampu mengaplikasikan kemampuannya itu kedalam mengemudi mobil dengan sekejap sungguh bakat yang tidak semua orang bisa melakukannya. 


Mobil melaju dengan sedang, namun beberapa saat tadi sebenarnya kondisi lalu lintas di sekitar mobil Gusmon sedikit kacau. Akan tetapi tidak ada orang yang berani menegurnya dalam membawa mobil karena pengaruh Plat nomor yang di pakainya. Banyak orang yang sudah paham bahwa Plat Nomor mobil kijang Innova itu adalah milik seorang tiran lokal yang perkasa. Maka tentu saja tidak ada yang berani protes pemiliknya,  silahkan mau ugal-ugalan atau mau belajar nyetir di jalan padat tidak ada yang ganggu. Malah mereka sedikit menjaga jarak agar tidak beradu dengan mobil Kijang Innova yang meliuk-liuk tersebut.


Sebuah cafe yang berdiri di persimpangan terlihat cukup ramai meskipun di suasana sore tersebut. Terdengar suara musik di iringi dengan nyanyian seriosa yang meledak-ledak dari seorang biduan perempuan yang berperut sedikit gendut. Cafe itu terdiri lima tingkat dan penyanyi seriosa itu berada di tingkatan yang paling atas. 


Mobil Kijang Innova Silver itu berhenti di lahan parkir yang ada di depan Cafe itu. Terlihat merek cafe yang dipenuhi oleh lampu-lampu yang berkedap-kedip


“Cafe Purnama” Gusmon membaca tulisan yang dipenuhi oleh lampu gemerlap itu.

__ADS_1


__ADS_2