
Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
Bab 29
“Ngomong-ngomong nama panjangnya Ike Ike Kimochi ya..?” kata Gusmon yang tiba-tiba saja menyeletuk dengan pertanyaan konyolnya.
“Bu .. Bukan ... Tuan, nama panjang saya Ike Nuran, dari keluarga Nuran.” kata Ike dengan sedikit gugup. “Ngomong-ngomong Kimochi itu apaan ya..?” Ike Nuran melanjutkan bertanya kepada Gusmon karena ia sama sekali tidak mengerti dengan kata-kata Gusmon.
Gusmon pun menjadi salah tingkah, maksudnya hanya mengeluarkan candaan namun siapa sangka bahwa Ike sama sekali tidak paham dengan candaannya. Maklum jika di Bumi tempat tinggalnya dulu mungkin beberapa orang akan tertawa dengan candaannya namun di sini ternyata hal itu malah membuat garing.
“Oh itu... itu sebuah Kue, namanya Kue Mochi” kata Gusmon lagi kali ini ia sangat ahli dalam memainkan plesetan.
“Ooo kue mochi, aku sangat suka kue mochi” Kata Ike Nuran lagi, sambil mereguk ludahnya membayangkan kue mochi yang enak. Ternyata di Bumi ini juga orang-orang mengenal kue mochi.
“Hufff untunglah” kata Gusmon dengan pelan, ia sedikit lega karena berhasil ngeles pada saat yang kepepet. namun Virani Duns tampaknya memandangnya dengan sedikit heran, ia sungguh yakin tadi mendengar bahwa Gusmon berbicara sesuatu hal yang lain. Bukan mengenai kue. Ya sudahlah, namanya juga hantu pasti omongannya ada yang kurang di pahami, demikian membatin Virani.
“Kamu juga mau ikut makan?” Gusmon menawarkan makanan yang ada di atas meja kepada Ike Nuran penyanyi seriosa gendut itu. Ike Nuran ragu sejenak. namun iya dengan tegas berkata.
__ADS_1
“Terima Kasih Tuan, Aku sudah makan tadi. Maaf mengganggu acara makan tuan dan nona. Terima kasih atas tanda tangannya” Ike Nuran membungkuk dengan hormat, dan segera ingin berlalu namun dicegah oleh Virani.
“Ike kamu boleh makan bersama kami kok, jangan malu..... ayo” Kata Virani, ia tampak memancarkan senyum yang tulus.
“Iya... atau kalau kamu memang sudah kenyang boleh minum jus, pesan ke Pelayan Cafe. Asalkan jangan Jusmaini saja ya....hehehe” kata Gusmon menyambung ucapan dari Virani jelas sekali bahwa ia berbicara sambil bercanda untuk mencairkan suasana yang cukup beku gara-gara rombongan pengganggu tadi.
Namun lagi-lagi guyonannya membuat Ike Nuran menjadi heran. Sementara orang-orang di sekitar meja mereka terdengar berbisik-bisik cukup kentara. Hanya yang jelas terdengar dari bisikan mereka adalah Penyanyi Superstar South Coast dan Virani Duns, mereka berbisik sambil melirik ke meja Gusmon dan Virani berada.
“Maaf Tuan, Jus Maini itu Jus apa ya... aku belum pernah dengar. Pasti enak ya Jusmaini itu”. Ike Nuran bertanya dengan penasaran.
“Ya memang enak sih, tapi sayangnya Jusmaini itu bisa berjalan” kata Gusmon lagi ngasal.
“Oh... sebenarnya itu nama orang...hehehe” Gusmon akhirnya menjawab, dan tiba-tiba saja tawanya meledak. Rencananya untuk mengembalikan suasana yang ceria tampaknya berhasil. Mendengar jawaban dari Gusmon Virani tampak cemberut. Namun setelah itu ia tersenyum dengan manis. Akan halnya dengan Ike Nuran ia terbengong sesaat kemudian akhirnya ia ikut-ikutan tertawa dengan cekikikan.
Beberapa orang dari meja sekitar tampak berjalan dengan sedikit ragu-ragu, namun seseorang berjalan dengan penuh percaya diri membuat orang-orang yang lainnya mejadi bersemangat. Sesampainya di meja Gusmon dan Virani mereka berebutan mendekati Virani tanpa menghiraukan Gusmon dan Ike Nuran.
“Nona...Nona Virani Duns, Superstar yang terkenal itu ya..?” Tanya mereka dengan antusias. Sebenarnya mereka sudah sangat yakin bahwa orang yang ada dihadapan mereka adalah Virani Duns Bintang Penyanyi yang sangat terkenal sampai ke manca negara walaupun penampilan Virani saat ini dalam keadaan acak-acak apalagi bajunya yang kumal dan sobek-sobek. Itu tidak menjadi halangan buat mereka, saat ini mereka sedang berhadapan dengan sosok Superstar. Penyanyi dengan rating tertinggi sepanjang masa di Kota South Coast.
__ADS_1
Gusmon tidak menyangka bahwa mereka akan di kerubungi oleh para penggemar dari Virani Duns. Tampaknya memang Virani ini sangat terkenal sekali, meskipun saat ini tidak dalam dandanannya yang mempesona. Bahkan dari segi pakaian yang kotor dan robek, serta muka yang penuh debu dan rambut berantakan acak-acakan masih saja ada penggemar yang mengenalinya.
Melihat mereka semua yang antusias Virani hanya tersenyum dan mengangguk. Orang-orang itu tiba-tiba saja menjadi ceria, dengan berdesakan mereka menyodorkan kertas untuk ditandatangani, ada juga yang mengambil tisu. Beberapa orang ternyata ada yang membawa kamera dengan klise ataupun negatif film.
“Nona Virani boleh kami mengambil fotonya”, kata mereka dengan ramah.
“Silahkan kata Virani” seakan-akan sudah biasa dengan hal yang demikian. Maka mereka pun yang memiliki kamera secara bergantian berfoto dengan Superstar tersebut.
Mereka puas atas keramahan dan kesediaan Virani untuk berfoto bersama penggemarnya, meskipun mereka semua hanyalah masyarakat kelas bawah di kota South Coast ini. Akan tetapi mereka saat ini sedikit heran dengan cara berpakaian Virani saat ini, namun mereka sama sekali tidak peduli. Kemungkinan mereka berfikir bahwa Virani sedang berada dalam acara Variety Show tertentu yang mengharuskannya berdandan seperti itu.
Sementara itu Gusmon hanya memperhatikan Virani dari seberang mejanya, dia melihat bahwa sesungguhnya Virani sudah sangat lelah. Kelelahan karena sebelumnya juga diikat di dalam pabrik terbengkalai dengan kelaparan, namun ia bisa melihat bahwa Virani masih tersenyum dengan tulus kepada para penggemarnya. Tiba-tiba saja Gusmon menjadi terharu, benar-benar gadis yang baik. Siapa sih yang beruntung nantinya bisa mendapatkan hati Virani Duns?.
Beberapa saat penggemar yang mengerubungi Virani mulai menyusut. Saat itu terdengar suara beberapa langkah kaki dengan tergopoh-gopoh. Ternyata beberapa orang dengan stelan jas mendatangi tempat itu. Satu orang dengan stelan jas warna putih maju kehadapan Virani Duns.
“Maaf nona Virani. Saya Disen Jiujan, Pemilik Cafe ini. Saya tidak tahu kalau nona Virani mampir ke Cafe saya, maafkan jika pelayanan di sini sangat kurang memadai untuk nona Virani”. Jelas saja Disen Jiujan sangat senang dengan kedatangan Virani Duns sang Bintang Penyanyi yang terkenal di manca negara. Terlebih lagi Virani Duns juga berasal dari keluarga yang bukan kaleng-kaleng, ia berasal dari keluarga Duns sebuah Keluarga Peringkat Dua di Kota South Coast dari segi kekayaan dan kekuasaan.
“Tidak apa-apa, pelayanan di sini sudah cukup bagus” kata Virani lagi dengan nada yang datar, ia tahu bahwa Pria separuh baya yang ada dihadapannya itu ingin menonjolkan dirinya dalam rangka menjilat kepada keluarga papan atas semisalnya keluarga Duns yang diwakilinya saat ini.
__ADS_1
“Terima kasih Nona Duns, jika anda tidak keberatan anda bisa memakai ruangan emas yang merupakan ruangan VVIP di lantai lima ini” Disen Jiujan Pria Separuh baya dengan stelan jas putih yang merupakan pemilik dari Cafe Purnama ini mengajukan penawaran kepada Virani. Di Cafe Purnama ini tepatnya di lantai lima di bagian belakang Cafe ada sebuah ruangan yang dinamakan ruangan emas tempatnya para VVIP kelas tertinggi yang biasa makan di tempat itu. Namun pemilik Cafe menawarkan kepada Virani, yang menunjukkan bahwa betapa tinggi status Virani sebenarnya.