
Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
Bab 120
“Oh iya aku jadi penasaran, kamu bilang kamu tadi kasihan dengan gadis itu. memangnya ada apa dengan gadis itu?” Virani bertanya dengan menyipitkan matanya. Niya Noune meskipun hanya banyak diam ia sebenarnya juga ingin tahu alasan Gusmon yang menyatakan kasihan dengan perempuan tadi.
“Begini, gadis itu terlihat seperti pekerja keras. Ia rela melakukan apa saja demi hidupnya. Aku bisa menebak. Itu terlihat dari tangannya yang kasar, aku yakin ia melakukan itu semua karena terpaksa. Mungkin karena di keluarganya hanya ia yang bisa berusaha.” Gusmon menjelaskan
“Padahal usianya masih sangat muda baru 18 tahun, tapi ia mau melakukan usaha yang begitu keras untuk menjalani hidup. mulai dari menjadi penyanyi meskipun tidak terkenal. Kemudian bekerja di cafe ini dan sekaligus menjadi penyanyi cafe. Namun aku juga yakin di samping itu ia juga melakukan pekerjaan kasar lainnya di rumahnya. Melihat wajahnya yang seperti menyimpan kepahitan hidup aku menjadi kasihan. Mungkin ia promosi tadi itu, ada sedikit komisi untuknya jika kita membeli makanan di sini sebagai jasa promosi darinya.” Kata Gusmon perlahan, Virani tertegun dengan analisa Gusmon. Sementara Niya justru semakin kagum dengan kecerdasan Gusmon, Ketua Besarnya memang yang terbaik. Sampai segitunya analisa dari Gusmon hanya dengan melihat raut wajah dan tangan yang kasar dari gadis itu.
“Lagi pula Cafe Purnama itu cukup jauh dari sini, meskipun menunya banyak mulai dari makanan ringan hingga makanan berat, dan sudah seharusnya bertukar nama menjadi resto. Bukan cafe lagi.” Gusmon melanjutkan penerangannya bahkan sampai ngelantur mengenai nama Cafe Purnama itu. sementara itu alunan lagu karaoke dengan nada sumbang menggelora di tempat itu yang dilantunkan oleh anak-anak muda yang baru tumbuh.
Mauna Bing kembali ke meja Gusmon. Di tangannya ada nampan berisi tiga gelas minuman, dengan hati-hati diletakkannya minuman itu di hadapan ketiga tamu Cafe itu.
“Kami akan pesan makanan di sini, sediakan makanan terbaik kalian di meja kami” Tiba-tiba saja Niya menyuarakan apa yang telah diputuskan oleh Gusmon tadi. Gusmon memandangi Niya sambil menggaruk kepalanya. Begitu cepat Niya bertindak, padahal hari masih senja. Bagi Niya Ucapan dari Ketua Besarnya adalah perintah bagi dirinya. apalagi dialah yang berinisiatif mengundang Ketua Besarnya untuk makan malam hari ini.
Mauna Bing terpana dengan ucapan itu. namun di dalam hatinya merasa sangat gembira. Tentunya ia akan mendapatkan komisi atas promosi yang telah dilakukannya sehingga membawa hasil, bahwa tamu ini memesan makanan atas promosi yang dilakukannya.
“Baik Tuan dan Nona makanan terbaik kami akan segera datang secepatnya, dan setelah itu sesuai dengan janji. Saya akan bernyanyi untuk kalian” Mauna Bing berkata dengan sopan, setelah membungkuk, ia kembali ke bagian dapur cafe itu untuk menyampaikan menu yang dipesan kepada koki yang bertugas.
__ADS_1
Namun sebelum Mauna Bing bergegas ke dapur, ia menoleh kebelakang sesaat. Mendadak ia merasa gembira. Ia tahu siapa perempuan cantik itu. bukankah itu Virani Duns!, Penyanyi terkenal itu!?.
Mauna Bing menekan perasaan gembiranya, dan menghilang dari pandangan di balik pintu dapur cafe itu.
Saat ini matahari benar-benar tenggelam, sisa-sisa semburat cahaya keemasan masih menyapa di ufuk barat. Menampilkan situasi yang indah dan romantis. Semua mata di cafe itu menatap ufuk barat menikmati pemandangan alam yang rutin terjadi setiap hari itu.
Cahaya yang menjadi remang-remang di bangku bagian luar, yang diduduki oleh Gusmon dan kedua gadis sedikit banyak menyamarkan penampilan Virani. Sehingga orang-orang mungkin saja tidak mengenalinya. Namun dalam pencahayaan yang minim itu suasana justru semakin romantis di antara mereka.
“Ngomong-ngomong cafe di sebelah kenapa sepi ya?” Gusmon bertanya sambil menyesap minumannya.
“Aku juga tidak tahu, kemungkinan pelayanannya tidak sebagus cafe ini. atau mungkin juga pelayannya tidak menarik” Jawab Virani.
Kedua gadis tampak memperhatikan penerangan dari Gusmon, mereka paham dengan penjelasan itu. sepertinya hal-hal kecil sekalipun, perlu untuk diperhatikan bila ingin memulai sesuatu bisnis.
“Namun aku memiliki sedikit firasat, jika pihak sebelah tidak melakukan terobosan dalam hal pelayanan ataupun pendukung lainnya. Kemungkinan bisnis mereka akan mati” kata Gusmon kembali.
“Sepertinya bukan itu yang akan mereka lakukan” kali ini Niya yang berbicara. Memang Niya terlihat jarang berbicara jika Gusmon sudah bersama dengan Virani.
“Lalu apa ?” Gusmon memang ingin tahu bagaimana orang-orang akan menyiasati bisnis mereka di sini.
__ADS_1
“Kemungkinan mereka akan menggunakan cara kekerasan” Niya berkata sambil menyesap minumannya. Gusmon memandangi Niya ingin tahu lebih banyak.
“Aku melihat cafe di sebelah sepertinya bukan milik warga lokal. Aku sudah membaca nama cafe itu, ‘Battle Field Cafe’. Artinya siapapun pemiliknya, kemungkinan itu berasal dari Battle Field.” Niya menatap Gusmon setelah menjelaskan pendapatnya.
Gusmon menggaruk kepala sesaat, sepertinya orang-orang dari Battle Field cukup memiliki reputasi yang buruk di South Coast.
Beberapa saat berlalu, beberapa orang pelayan terlihat membawa hidangan yang di pesan ke arah meja Gusmon berada. itu cukup banyak, karena Niya telah memesan hidangan terbaik di cafe ini. salah satu pelayan itu adalah Mauna Bing.
“Tuan dan Nona aku harap kalian menikmati hidangan terbaik di sini” Mauna terlihat senang, namun matanya melirik kearah Virani. Ia hampir tidak dapat menahan kegembiraannya. Perlahan ia mendekat kearah Virani. Dan berbisik.
“Nona, adalah Nona Virani kan?” Mauna berbisik perlahan sehingga tidak terdengar oleh pelayan lain yang sibuk menata hidangan itu di atas meja.
Virani menoleh dan tersenyum, ia menyilangkan jari telunjuk di depan bibirnya. Mengisyaratkan agar Mauna tidak mengekspos keberadaannya di Cafe itu.
Mauna mengerti dan mengangguk dengan cepat. Namun ia dengan sigap mengambil kertas tisu dan menyodorkannya kepada Virani dengan sebuah pena yang tercantel dari saku baju pelayan cafenya. Dengan santai Virani mengambil dan menandatanganinya.
Mauna terlihat sangat senang menerima tanda tangan dari Virani. Sewaktu di acara konser malam tahun baru, ia sama sekali tidak punya kesempatan untuk meminta tanda tangan Virani. Karena ia hanya fokus kepada penampilannya untuk tampil sebagai penyanyi yang tidak terkenal.
Beberapa pelayan yang melihat tingkah Mauna, sedikit mengerutkan kening. Namun mereka sama sekali tidak menyadari apa yang sebetulnya terjadi. Bila seandainya mereka tahu siapa yang sedang mereka layani itu, sudah pasti akan menimbulkan kegemparan di tempat itu. dan bisa-bisa Gusmon menjadi repot sebagaimana halnya yang terjadi di Pusat Perbelanjaan South Coast beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
“Mari makan” Gusmon mempersilahkan, dengan cekatan ia mengambil makanan terlebih dahulu. Sebenarnya menu makanan terbaik di cafe ini hanyalah sejenis pecel ayam dan kerupuk, kemudian soto ayam semangkuk kecil. Dan semuanya komplit tiga porsi di meja itu. dan ada masing-masing satu gelas air putih gratis.