Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video

Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
BAB 54


__ADS_3

Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video


Bab 54


Wanita memang aneh, padahal tadi tidak ada kenapa-kenapa, mengapa tiba-tiba saja bisa berubah secepat ini?


Gusmon ingin menghapus segala sedih di hati Virani, ia sama sekali tidak tahu bahwa keputusannya mengikuti rencana Tuan Muda itu membuat Virani sedih. Apakah ini dan ini apakah?. Bukankah ia hanya ingin memberi pelajaran kepada Tuan Muda itu?


“Apakah kamu tahu bahwa kamu sudah masuk kedalam perangkap licik mereka?” Virani menambahkan apa yang dirasakan olehnya sebab keputusan Gusmon tersebut. Gusmon mematikan kontak mobilnya, dan mesin mobil pun mati. Ia menatap Virani yang terlihat menahan segukannya. Ya ampun. Gusmon menjadi tidak tega.


“Aku tahu” Jawab Gusmon hambar


“Kalau kamu tahu kenapa kamu mengikutinya?, apakah memang toko itu terlalu berharga di banding aku?” Virani bertanya dengan sedih. Gusmon tertegun, ini pertanyaan macam apa. “Mungkin saja maksud Virani jika aku kalah, maka Virani tidak akan bertemu dengan ku lagi, karena aku sudah di usir dari kota ini”. Pikir Gusmon dalam hati. Memang benar-benar payah ya Gusmon ini, padahal jelas-jelas itu menyatakan perasaan Virani yang sebenarnya. Kamu Calon Suaminya Gusmon!. 


“Itu...., boleh aku ceritakan dari awal?” Kata Gusmon ingin menenangkan Virani


“tidak boleh, aku kan ada di situ saat kamu menyetujui taruhan itu” Kata Virani lagi masih dengan sedih. Kemudian ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan mulai menangis sesegukan. Gusmon panik, ingin di peluknya perempuan itu namun terhalang oleh tuas transmisi. Akhirnya ia mengulurkan tangan dan mengusap-usap kepala Virani yang ditumbuhi rambut hitam lebat yang indah. 


“Virani aku hanya ingin memberi orang itu pelajaran, dan aku pasti tidak akan kalah!. Aku berjanji padamu bahwa Kamu lebih berharga dari toko itu dan kamu bahkan lebih berharga dari apapun di dunia” Setelah berbicara demikian Gusmon pun terdiam, kenapa ia tiba-tiba berbicara seperti itu. Seolah-olah Virani adalah pacarnya. Virani berhenti menangis.


“Benarkah?” ia menatap Gusmon masih dengan berlinang air mata. 

__ADS_1


“Itu benar, makanya jangan menangis lagi” Kata Gusmon, pelan-pelan ia mengusap air mata perempuan itu dengan jari-jari tangan nya.


“Tanganmu kasar” Kata Virani


“Iya, tapi pipimu sangat lembut” Kata Gusmon, Virani hanya tersenyum.


“Gusmon aku masih takut” Kata Virani


“Kenapa?” Jawab Gusmon lembut.


“Sentung Yolk itu ahli dalam permainan catur, dia pasti sudah merencanakan hal-hal yang licik dalam memenangkan pertandingan dengan mu, apa kamu yakin bisa mengalahkannya” Virani menatap Gusmon dengan penuh perhatian. Gusmon merasa luluh.


“Jika kamu kalah, kamu bukan hanya akan kehilangan aku, kamu juga akan kehilangan salah satu tangan dan kamu akan di usir dari Kota ini” Kata Virani. Gusmon tercenung sejenak. “Kehilangan dia? apa maksudnya?”. ”apakah itu berarti tidak akan bertemu lagi?”.


“Kamu harus percaya kepada ku” Akhirnya Gusmon memastikan dirinya kepada Virani. 


“Aku percaya padamu” Virani tersenyum manis. Hati Gusmon bahagia, ia senang melihat Virani sudah kembali kepada mood nya sediakala. Ia menarik nafas lega. “Benar-benar tidak tega melihatnya sedih”. Pikir Gusmon dalam hati. 


“Ngomong-ngomong kenapa kamu bisa tiba-tiba muncul di sana?” Gusmon bertanya sekaligus untuk mengalihkan perhatian Virani dari persoalan tantangan Tuan Muda Yolk itu. 


“Aku selesai membeli sepatu, dan ingin ke lantai atas untuk membelikanmu setelan yang sedikit bagus. Namun saat aku keluar, aku sama sekali tidak melihatmu. Dan aku melihat ada kerumunan di sudut lantai dua, makanya akupun pergi kesana. Tidak tahunya kamu sedang di buli oleh rombongan Tuan Muda Yolk itu." Kata Virani dengan senyum pahit. Gusmon pun ikut tersenyum mendengar penuturan Virani, ia senang melihat gaya bicara Virani dalam menjelaskan sesuatu. 

__ADS_1


“Lalu mana barang yang di beli tersebut?“ tanya Gusmon karena dari tadi ia sama sekali tidak melihat barang belanjaan di tangan Virani. 


“Barangnya di antarkan langsung oleh mereka ke alamat Villa Duns. Aku tidak terbiasa membeli barang dengan membawa-bawa barang belanjaan kemana-mana” kata Virani sambil tersenyum.


“Ya udah, mari kita pulang, aku juga akan mempersiapkan diri untuk memberi Tuan Muda itu pelajaran.” Kata Gusmon sambil menghidupkan kembali kontak mobilnya, Virani mengangguk menyetujui ajakan Gusmon.


Mobil Kijang Innova Silver itu melaju keluar dari basement Gedung Pusat Perbelanjaan itu, Basement yang berfungsi sebagai tempat parkir kendaraan yang mampu menampung banyak kendaraan. Dapat dibayangkan besar dan megahnya gedung itu.


Saat ini hari sudah sore. Suasana H-1 menjelang malam tahun baru, Kota South Coast di penuhi oleh bermacam orang dan kendaraan yang lalu-lalang. Agak ke sebelah selatan dari Pusat Kota, d kediaman Keluarga Bene.


Tiga Mobil Sport Keluaran terbaru, berhenti tepat di tepi teras Villa Keluarga Bene. Di teras itu sampai ke halaman terbentang karpet merah, demi menyambut seseorang yang gagah perkasa. Ya memang, seseorang yang disambut itu adalah Jhon Karabau. Sosok tak terkalahkan di Bumi Super bagian satu.


Enam orang ahli beladiri Keluarga Bene segera berlari untuk membukakan pintu masing-masing mobil sport tersebut, satu mobil di bukakan pintunya oleh dua orang ahli. Masing-masing mobil pintunya terbuka di kedua sisinya secara vertikal. Dan keluarlah enam orang pria dengan tampang beringas. Dari ke enam orang itu, terlihat satu orang yang sangat perkasa menjulang dengan tinggi 2 meter. Di keningnya ada 2 lingkaran merah kiri dan kanan. Inilah Jhon Karabau yang luar biasa. 


Semua orang yang ada di tempat itu segera membungkuk dengan hormat, termasuk seluruh anggota Keluarga Bene yang ternyata sudah menunggu semenjak tadi. 


“Kami mewakili seluruh keluarga Bene memberi hormat kepada yang mulia Jhon Karabau.” Berkata Murdi Bene dengan saleh, seolah-olah Jhon karabau adalah seorang Dewa yang turun dari langit. Jhon Karabau tampak manggut-manggut sejenak. dirinya senang diperlakukan layaknya seorang dewa seperti itu. Kapan perlu orang-orang ini menyembahnya!


“Silahkan masuk ke dalam Villa kami yang mulia, mari kita bersilaturahmi agak sejenak dan biarkan yang mulia agak sementara untuk melepaskan lelah karena sudah melalui perjalanan panjang yang melelahkan untuk hadir ke tempat kami ini”. Terdengar Murdi Bene merangkai kata-kata sedemikian rupa untuk menyanjung Jhon Karabau. seluruh Keluarga Bene ini terlihat berusaha untuk bersikap sesopan mungkin, demikian juga dengan para ahli beladiri. Di hadapan kekuatan absolut, maka hal seperti ini adalah wajar. 


Tetapi ada beberapa ahli beladiri yang terlihat gemetaran tatkala matanya tidak sengaja membentur tatapan mata Jhon Karabau yang berwibawa. Sungguh luar biasa hanya dengan melihat matanya orang-orang sudah ketakutan, meskipun itu adalah ahli beladiri sekalipun.

__ADS_1


__ADS_2