Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video

Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
BAB 36


__ADS_3

Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video


Bab 36


Beberapa saat kemudian Rapat Anggota Keluarga ini ditutup dengan kesimpulan yang belum jelas, masih harus menunggu sampai esok hari. Genol sudah memastikan bahwa kesimpulan untuk esok harinya pasti juga sama dengan Virani yang tidak akan mau menyetujui menjadi Istri dari Tuan Muda Sorto Bene itu. 


Memang pilihan ini sangat sulit bagi Pieter. Jika ia memaksakan kehendak kepada Virani maka sama saja menjerumuskan anak semata wayangnya itu kepada penderitaan yang tidak berakhir. Namun jika tetap seperti ini maka taruhannya adalah Keluarga Duns apakah akan tetap ada ataukah hanya tinggal nama saja di hari-hari berikutnya.


“Ini tidak adil bagi Virani” Demikian pemikiran dalam hatinya. Walaupun hatinya sekarang sedikit goyah, namun sebisanya ia harus mempertahankan prinsip. Bukankah itu lambang dari seorang lelaki sejati. Maka ia bertekad lebih baik mati dari pada mengubah prinsip hidupnya.


Peserta rapat di ruang Pertemuan Utama Keluarga itu sudah membubarkan diri. Keadaan di sana sudah kosong namun masih berdiri mematung Pieter seorang diri. Tatkala ia ingin keluar ruangan, di pintu ternyata istrinya sudah menunggu. Istrinya menatapnya dengan sedih.


“Aku mendengar semuanya. Ini memang sulit bagimu. Tetapi aku ingin kamu berpikir dengan tenang.” Istrinya menghiburnya dengan bijaksana. Memang Fanny Wen merupakan sosok istri yang baik bagi Pieter.


“Ya, aku pasti akan berpikir dengan tenang” Pieter hanya mengangguk atas nasehat dari isterinya itu. Sedikit banyak memberinya kekuatan dalam menjalani kehidupan di masa yang sulit ini.


“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan mu. Ayo kita bicara di dalam kamar” Fanny Wen mengajak suaminya untuk berbicara di dalam kamar mereka berdua. Ini tentunya menyangkut informasi yang didapatkan Fanny dari anaknya beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


Malam beranjak naik, dan para Ahli Beladiri dari Keluarga Duns ini sudah memperketat pengamanan di segala sudut tempat tinggal Keluarga Peringkat Dua ini. Termasuk tempat-tempat yang tidak tersentuh oleh cahaya lampu. Mereka dibagi menjadi dua kelompok untuk melakukan shift berjaga. 


Di kamar Virani tampak telah selesai mandi dan memakai piyama yang longgar, terlihat bahwa ia menjadi sangat cantik dengan kulit yang  bersih berkilau. Jika Gusmon melihatnya saat ini mungkin ia akan perpukau dan sangat kagum. Virani kemudian membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang mewah dan empuk tersebut, untuk melampiaskan seluruh kelelahannya dan mudah-mudahan bersambut dengan mimpi yang indah. Berharap mimpi bertemu Gusmon. Oalah, kenapa jadi memikirkan Gusmon. Virani kemudian menutupi wajahnya dengan bantal dan sesaat kemudian terdengar derap nafasnya yang teratur. Ia telah tidur karena kelelahan.


Lain halnya dengan Gusmon ternyata ia telah sejak tadi tertidur di kamar tamu tersebut. Tampaknya ia tidak mandi ataupun membersihkan diri. Ia langsung saja merebahkan tubuhnya dan seketika itu juga tertidur. Bila Virani mengetahui itu tentunya ia akan mengatakan, “Dasar Cowok Jorok!”. Tapi untungnya Virani tidak ada disini. Seandainya pun ada, Gusmon tentunya tidak akan terpengaruh ia masih akan tetap tidur karena kecapean. 


Lain lagi dengan situasi di dalam Kamar Kepala Keluarga, terlihat sepasang suami istri separuh baya itu sedang berbincang-bincang. Kali ini Fanny Wen sudah berganti pakaian dengan piyama yang sedikit tipis di hadapan suaminya. Sedangkan Pieter masih menggunakan baju yang sama.


“Sekarang katakan apa yang ingin kamu sampaikan tadi” Pieter bertanya kepada isterinya. Istrinya diam sejenak.


“Ada apa dengan pemuda itu” Pieter bertanya dengan acuh tak acuh sambil merebahkan dirinya di paha Istrinya.


“Itu... ia adalah calon suami anak kita” Fanny berkata dengan perlahan.


“Apa!” Suaminya terkejut bukan alang kepalang, ia langsung bangun dari sandaran empuknya.


“Bagaimana itu bisa. Aku saja tidak mengenal siapa bocah Gembel itu” Pieter dalam kejutnya berbicara dengan sedikit keras bahkan tanpa sadar memaki Gusmon. Namun beberapa saat kemudian ia menghirup nafasnya dalam-dalam demi untuk menenangkan dirinya.

__ADS_1


“Tolong bicara yang dapat aku mengerti” Kata Pieter lagi selanjutnya setelah ia menjadi tenang. Pieter memang memiliki kontrol diri yang kuat sehingga di saat-saat ada goncangan dalam dirinya ia mampu membuat dirinya sedemikian tenang. Meskipun dari getaran suaranya tetap saja ia tidak mampu menutupi luapan kecemasan di hatinya.


Istrinya terlihat memandanginya sesaat dengan penuh arti, kemudian dia menundukkan kepalanya sambil berucap.


“Itulah yang dikatakan oleh Virani, bahwa pemuda itu adalah calon suaminya. Anak kita telah berjanji, jika pemuda itu menyelamatkannya dari penyekapan itu maka ia akan menjadikannya suaminya. Begitu cerita yang aku dengar. Sebaiknya besok kita tanyakan secara lebih mendalam kepada Virani”. Fanny menerangkan dengan suara yang lembut. 


Beberapa saat suasana di kamar itu hening. Pieter tidak menyangka akan ada hal seperti yang telah terjadi kepada anak satu-satunya itu. Namun ia tidak mengatakan apa-apa. Jika memang itu yang diinginkan oleh anaknya, seperti biasa Ia tentunya sangat menghargai keputusan anaknya. Namun apakah keinginan Virani ini tidak lebih dari perasaan tertekannya ataukah dari perasaan terpaksa sehingga harus menikahi pemuda yang menurutnya gembel ini?  


Sehingga pemikiran dari Tetua Genol pun merasuk ke dalam otaknya. Apakah benar ia harus mengorbankan anaknya untuk menyelamatkan seluruh marga Duns dari pada membiarkan anaknya bersama pemuda ini, dan marga Duns akan tetap musnah juga!. Namun pemikiran ini cepat dibuangnya mengingat ia mempunyai prinsip yang kuat untuk menghargai keputusan anaknya.


“Hhhhh!” Pieter kembali menghirup nafas dalam-dalam, untuk pertama kalinya ia merasa kurang percaya diri dalam mengurus Keluarga Duns ini dan untuk pertama kalinya pula otaknya merasa buntu. 


“Baiklah besok mari kita tanyakan kepada Putri kita sebelum memulai rapat anggota keluarga untuk yang selanjutnya.” Akhirnya Pieter menetapkan keputusannya. Ia akan menanyakan terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan yang bergelayut di pikirannya seputar Gusmon dan penculikan anaknya. Bagaimana anaknya bisa lolos dari penyekapan?, Kemudian kenapa mobil Ketua Elang Hitam bisa berada di tangan mereka?, dan yang membuat Pieter tidak senang adalah kenapa Virani tidak mengabarkan terlebih dahulu melalui saluran telepon bahwa ia telah berhasil melarikan diri. Untung rombongan Keluarga ini belum sempat pergi ke kediaman Keluarga Bene. Jika tidak, maka dapat dibayangkan hal mengerikan yang di derita Keluarga Duns. 


Bahwa Pertanyaan tersebut perlu ditanyakan kepada Virani terlebih dahulu, untuk menyaring informasi yang akan disampaikan sewaktu rapat Keluarga esok hari. Dimana informasi-informasi tersebut tentu ada yang tidak boleh sampai ke forum rapat keluarga, mengingat Alex Duns dan kroninya ternyata memiliki maksud tersembunyi jika di cermati dari peristiwa yang ada dalam pertemuan tadi. 


Malam merangkak naik menyisakan bulan sepotong di langit Kota South Coast. Semakin malam semakin banyak yang terlelap dalam nafas yang perlahan, tidur dan dibuai mimpi yang bermacam. Hanya Ahli beladiri yang telah diatur sedemikian rupa yang terus berjaga sepanjang malam ini di kediaman Keluarga Duns. Mereka terus berjaga dengan teliti sehingga tidak menyisakan sedikit celah pun. Mereka tidak khawatir dengan hal berjaga tersebut karena telah dibagi menjadi dua kelompok. Dimana esoknya tentu mereka bisa beristirahat dikarenakan kelompok kedua yang akan bertugas jaga saat itu.

__ADS_1


__ADS_2