
Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
Bab 41
Fitria masih menatap Kedua Orang Muda di sampingnya, sekarang pun ia masih belum menyentuh makanannya. Gusmon sudah selesai makan dan bersandar pada kursi dengan kepala menengadah ke atas. Sementara Virani menyeruput teh hangat yang baru saja dibuatnya.
Virani sama sekali tidak peduli kepada Fitria saat ini. Semenjak ia tahu trik yang dimainkan Fitria, dengan tidak memberitahukan pesan pentingnya kemarin kepada ibunya. Itu hampir saja membahayakan nyawa banyak orang. Ia tampak sedikit menjaga jarak dengan Fitria.
Kali ini tidak ada yang membuat Virani bahagia selain bersama Gusmon. Ia ingin menghabiskan banyak waktu dengannya. Persoalan Fitria biarlah ayahnya sebagai Kepala Keluarga yang akan menyelesaikannya.
Beberapa orang lagi selesai dalam melaksanakan sarapan paginya, mereka adalah Kepala Keluarga dan Istrinya, kemudian menyusul Alex dan Istrinya.
“Jangan lupa, ditunggu di Ruang Pertemuan Utama jam sembilan” Pieter mengingatkan orang-orang yang masih ada di tempat itu. Kemudian berbalik dan meninggalkan ruang makan Keluarga Inti. Di Villa ini ada tiga ruang makan, yakni Ruang Makan Utama untuk Garis Keturunan Keluarga Inti, Kemudian Ruang Makan Kedua untuk Kerabat dekat dan kerabat jauh dari anggota keluarga dengan marga Duns. Satu lagi adalah Ruang Makan Tamu.
Saat ini tinggal tiga orang muda di ruangan itu, masih ada Koki Salim dan 3 Orang Pelayan Keluarga.
“Gusmon nanti temani aku belanja ya” Virani berkata
“Oke” Gusmon yang lagi bersandar, langsung menjawab dengan singkat. Baginya tidak masalah menemani Virani berbelanja, toh dia juga ingin jalan-jalan di Bumi yang sama sekali asing baginya ini.
“Nanti aku beliin kamu baju dan sepatu ya, kamu pilih saja mana yang kamu suka. aku tahu toko yang bagus” Kata Virani lagi dengan tulus.
“Oh ya... Kamu kok baik sekali” Kata Gusmon merasa terharu dengan kebaikan hati Virani.
‘Ah biasa aja” Kata Virani dengan senyum tipis
“Eh tadi itu Mie Gorengnya enak lho” Kata Gusmon lagi
__ADS_1
“Oh ya... kamu suka” Jawab Virani
“ngg emangnya siapa yang masak” Tanya Gusmon
“Tuh “ jawab Virani, sambil menunjuk kearah Koki Salim Asmoro
“Aku kira kamu yang masak” Gusmon menggoda Virani
“ihh Gusmon“ Virani menjadi gemas dan mencubit pinggang Gusmon seketika, membuat Gusmon jadi teriak tertahan. Tapi di samping mereka terlihat sosok perempuan yang masih belum bergerak padahal makananpun tidak disentuhnya. Raut wajah Fitria terlihat jutek “Kok aku nggak dianggap sih” begitu pikiran Fitria dalam hatinya.
“Udah-udah sakit nih ntar aku tambah kurus lagi” Kata Gusmon lagi berusaha menghindar dari cubitan Virani, ternyata meskipun Virani adalah sosok yang lembut ternyata cubitannya sakit juga.
“Ngomong-ngomong soal mie kamu tahu nggak mie apa yang nggak bisa dimakan” Kata Gusmon memberi Virani tebakan.
“Mie yang nggak bisa dimakan, apaan ya. Mie basi kali” Jawab Virani
“Salah, mie basi masih dimakan sama guk guk, atau paling tidak lalat yang makan” Gusmon berkata santai.
“Eh tumben, kamu kok tahu.” Kata Gusmon dengan wajah lucu.
“Ah betul ya, padahal aku kan Cuma asal tebak” kata Virani senang tebakannya ternyata betul menurut Gusmon.
“iya sih tapi ada yang lebih betul” Gusmon menjawab dengan senyum aneh
“Masih ada yang lebih betul? Apa ya” Virani penasaran
“Mm Mieyabi” kata Gusmon sambil tertawa dengan terkekeh-kekeh tapi masih berusaha ditahannya suara tawa itu. Sehingga terdengar lucu. Namun Virani justru tidak tertawa, ia malah menunjukkan wajah heran.
__ADS_1
“Mieyabi itu apaan sih” Virani bertanya dengan raut wajah bingung. Sontak tawa Gusmon berhenti.
“Kamu beneran nggak tahu?” tanya Gusmon kaget, Virani menggeleng. Tiba-tiba saja wajah Gusmon menjadi pucat, ia baru sadar, adakalanya sesuatu yang dikenal di bumi asli malah tidak diketahui oleh orang-orang di Bumi Super ini. Padahal ia tadi hanya ingin bercanda, nah jadi pusing sendiri kan. Makanya mentang-mentang ada kesamaan antara Bumi ini dengan Bumi asli jangan dianggap semuanya sama Gusmon!. “Waduh bagaimana cara menjelaskannya ini, bisa-bisa aku dianggap pemuda yang nggak benar lagi”
“Nngg nga nganu... ha....” Mulut Gusmon menganga seperti hendak mengatakan sesuatu tapi tidak ada suara yang keluar.
“Kamu kenapa sih” Virani menatap wajah Gusmon yang pucat dan sedang menganga itu terlihat lucu, tiba-tiba saja suara tawanya yang indah dan merdu tersembur. Ia tertawa sesaat karena melihat ekspresi Gusmon, namun setelah itu ia berbalik menghadap Pemuda itu.
“Katakan siapa Mieyabi itu?” Kata Virani lagi kali ini, ia telah berada dihadapan Gusmon sambil menatap mata Gusmon dengan tajam, Gusmon yang ditatap sedemikian rupa menjadi jengah. Ia ingin berbalik namun salah satu tangannya dengan cepat dipegang oleh Virani dengan dua belah tangannya. Gusmon terpana.
“Kamu kenapa sih, aku kan ingin tahu” Virani mengguncang-guncang tangan Gusmon dengan dua tangannya yang halus bagai giok. Jantung Gusmon menjadi berdebar, apalagi tatapan Virani dari jarak yang sedekat itu. Meski ditatap dengan tajam tapi wajah Virani terlihat sangat menarik dan mempesona. Ditambah tangannya yang diguncang-guncang seperti itu.
“Vi .. Virani jangan siksa perasaan aku” Kata Gusmon
“Kamu bicara apa sih, aku kan hanya ingin tahu.” Virani yang penasaran masih berusaha mengorek keterangan dari Gusmon.
“Brak !!!” Tiba-tiba saja terdengar bunyi meja yang di pukul dengan keras. Sontak mereka berdua menjadi terkejut, Virani dengan reflek melepaskan tangan Gusmon. Mereka memalingkan wajah ke arah sumber suara. Terlihat Fitria berdiri menunduk dengan wajah yang merah padam.
“Apa yang sedang kalian berdua lakukan!. Dasar kampret!!” setelah berbicara demikian, dengan emosi Fitria berjalan keluar dari Ruang Makan Utama itu. Ia berjalan lurus tanpa berpaling ke belakang. Di tengah jalan ia hampir saja terpeleset karena sepatu High Heels nya yang tidak tepat mengenai lantai ketika melangkah. Sebenarnya Fitria cukup modis dengan balutan busana kekinian, namun sangat disayangkan bahwa sifatnya sedikit jahat.
Virani dan Gusmon terbengong dengan reaksi Fitria yang tidak mereka sangka itu.
“Kenapa dia” Kata Gusmon heran, namun sebenarnya ia bersyukur karena terbebas dari pertanyaan sulit Virani.
“Nggak tahu” Virani menjawab sambil mengangkat bahunya. Gusmon melirik ke arah meja Fitria, terlihat makanan yang tidak di sentuh oleh Fitria.
“Bahkan makanannya pun tidak di makan, benar-benar aneh ya” Kata Gusmon lagi kepada Virani
__ADS_1
“Biarin aja dia, yuk kita ke Ruang Rapat Utama” Kata Virani mengingatkan Gusmon akan acara Rapat Lanjutan mengenai Keluarga Bene dan dirinya pada jam sembilan pagi ini.
Mereka berdua segera berlalu dari Ruang Makan Utama menuju Ruang Rapat, sementara itu keadaan di Ruang makan ini sudah kosong. Hanya ada Koki Salim dan tiga orang pelayan keluarga. Mereka dengan sigap melakukan beres-beres terhadap perlengkapan makan yang sudah berantakan. Salah satu pelayan membungkus makanan yang tidak disentuh oleh keluarga ini, ini adalah makanan yang berkualitas bagus. Ia bisa membawanya pulang untuk keluarganya. Para pelayan memang memiliki gaji yang lebih rendah dari Koki, namun gaji itu cukup untuk hidup mereka dan keluarga selama satu bulan. Mengenai makanan ini, mereka menganggapnya sebagai bonus.