
Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
Bab 113
“Ya Aku memenangkan turnamen catur itu, disebabkan karena kamu tidak ikut serta” Sunu Prayindos tersenyum, ia ingat bagaimana pria di depannya ini bermain dengan sangat baik saat memukul Juara Nasional Grandmaster Catur Sasano Mangarontos yang mengendalikan permainan catur dari Tuan Muda Sentung Yolk. bahkan dalam hatinya Sunu Prayindos sudah menganggap bahwa pria ini adalah seorang master gelap yang tidak mau kemampuannya dipublikasikan.
Gusmon hanya mengangguk mendengar pendapat dari Master Catur Nasional Sunu Prayindos. Sunu Prayindos adalah Master Catur kebanggan masyarakat South Coast.
“Kamu selalu terlihat di sekitar Gedung ini, ngomong-ngomong apa pekerjaan mu” Gusmon tertarik dengan pekerjaan Sunu Prayindos, ini karena sesuatu menyangkut Arena Catur yang sudah dimilikinya.
“Ah itu... sebenarnya aku hanyalah petugas kebersihan yang bekerja di bawah City Building Company” Sunu Prayindos tampak malu saat membicarakan perihal pekerjaannya.
“Mengenai pekerjaan, apapun itu tidak ada yang perlu kita merasa malu olehnya. Asalkan yang kita hasilkan halal. Dan lagi pula, apa yang salah dengan petugas kebersihan” Gusmon mengerti rasa hati dari Sunu.
“Aku tahu, tapi kebanyakan orang akan menghina orang-orang dengan pekerjaan rendahan seperti ku” Sunu Prayindos memandang Gusmon dengan takjub. Biasanya para konglomerat di tempat ini akan memandang jijik orang-orang seperti dirinya. namun Gusmon meskipun sudah memenangkan taruhan dua aset Tuan Muda Sentung Yolk, kelihatannya sangat rendah hati. Hal ini sesuatu yang jarang bagi penduduk South Coast menurut Sunu Prayindos.
“Namun aku sama sekali tidak memandang dirimu dengan rendah bukan?” Gusmon tersenyum sambil menggaruk kepalanya.
“Ya itu sangat mengejutkan ku” Sunu mengatakan yang sebenarnya.
“Ngomong-ngomong, aku berterima kasih kepada mu sebelumnya” Sunu Prayindos melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
“Terima kasih tentang apa?” Gusmon sebenarnya sudah bisa menebak
“Karena penegasan dari kamu, maka pertandingan catur menyambut malam pergantian tahun itu bisa tetap dilanjutkan dan Tuan Muda Sentung Yolk mau membayarkan hadiah yang telah ia janjikan” Sunu menatap kagum ke arah Gusmon, ia sudah bisa menebak identitas orang di hadapannya ini. kemungkinan ia adalah petinggi gangster di Kota ini. terbukti anggota Gangster Elang Hitam sangat mematuhi perintahnya tadi malam. Sepertinya orang besar ini sangat low profile.
“Baiklah aku tidak akan berbasa basi lagi dengan mu, aku memiliki arena catur sekarang. Hanya saja aku tidak memiliki orang untuk mengelolanya. Aku pikir kamu adalah orang yang tepat untuk itu. maukah kamu mengelolanya untuk ku. Tentu saja aku akan memberikan gaji yang sesuai selama arena catur itu bisa menghasilkan uang. Terserah apa yang akan kamu perbuat dengan arena catur itu. dan tentunya pekerjaanmu sebagai petugas kebersihan bisa tetap kamu jalankan” Gusmon akhirnya menyampaikan apa yang telah ia pikirkan tentang asetnya berupa arena catur.
“Ow..itu sangat.. hm.... sepertinya aku menyukai apa yang telah kamu tawarkan” Sunu langsung menerima apa yang ditawarkan oleh Gusmon tanpa pikir panjang.
“Sebaiknya kamu pikirkan terlebih dahulu, karena kamu tentunya akan lebih sibuk” kata Gusmon
“Tentu saja aku tahu itu. tapi aku sangat menyukai permainan catur. lagi pula aku belum berkeluarga, tentu saja aku banyak waktu luang” Sunu sama sekali tidak ingin melepaskan apa yang sudah menjadi hobinya. Mengelola Arena Catur, bukankah inilah yang selama ini dicita-citakannya. Meskipun ia akan rangkap pekerjaan dengan menjadi petugas kebersihan. Namun jika mengelola arena catur sekiranya bisa menghasilkan uang yang lebih, maka ia tentunya tidak akan keberatan dalam melepaskan pekerjaannya sebagai petugas kebersihan.
Maka saat itu urusan mengenai arena catur dan toko perlengkapan olahraga selesai begitu saja. Gusmon dapat rileks sejenak, ia telah memiliki orang-orang yang mengelola aset-asetnya. Saat ia akan melangkah keluar dari gedung menuju ke ruang parkir di basement, sesosok perempuan tinggi langsing dengan rambut sebahu mendatanginya.
“Nona Niya, kamu di sini” Gusmon menyapa sambil tersenyum.
“Ah. Tuan Hantu, aku memang kesini untuk menemui mu” Niya Noune membalas senyuman
“Oh ya” kata Gusmon
“Ini aku telah membuatkan Kartu Bank dan buku rekeningnya untuk mu, rekening ini terhubung dengan bisnis-bisnis dari Gangster Elang Hitam di South Coast terutama sekali di Black Club, Tuan Hantu tentunya akan mendapatkan persentase dari bisnis-bisnis kami Gangster Elang Hitam sebagaimana aturan persentase yang telah ditentukan. Hal lainnya adalah rekening ini telah di integrasikan juga oleh anggota saya kepada toko perlengkapan olahraga yang baru saja anda ambil alih.” Niya Noune menyerahkan Kartu ATM berwarna hitam beserta buku rekening Banknya dengan hormat kepada Gusmon. Kartu ATM itu juga bisa berfungsi sebagai kartu debit.
__ADS_1
Gusmon menerimanya dengan penuh kekaguman menatap kearah Niya Noune. Akan halnya perempuan itu menjadi sedikit salah tingkah ketika dipandangi sedemikian rupa.
Gusmon tidak menyangka bahwa ia bisa memiliki sesuatu yang sebelumnya sama sekali tidak pernah dimilikinya, maklum sewaktu di bumi asli dahulunya ia sama sekali bukanlah sosok yang kaya apalagi memiliki identitas tinggi.
“Oh ya, Kartu itu sekarang sudah berisi uang setidaknnya 1 juta dolar” Niya menerangkan sambil tersenyum manis.
Gusmon tercengang, 1 juta dolar!!. Demikian pemikiran Gusmon dalam hati, ia sekarang kaya dan berkuasa. Ini sangat berbanding terbalik dengan situasinya dahulu. Ia menggaruk kepalanya beberapa kali dan akhirnya bisa lebih tenang. Hampir saja ia bersorak, namun ia masih bisa mengontrol emosinya. Ia bahkan hampir memeluk Niya dengan gemas saking senangnya hati memiliki uang yang banyak, dan itu masih berupa dolar!.
Gusmon membaca merk kartu bank nya.
“Bank Kwang!” Gusmon tertegun
“Itu adalah Bank terkenal di Archipelagos, milik Taipan Top Ibu kota. Apapun produk Bank yang dikeluarkan pasti terjamin” Niya menerangkan. Gusmon manggut-manggut sejenak. tapi rasa-rasanya ia seolah-olah membayangkan seperti melihat buah-buahan seperti Bengkoang, saat membaca nama Bank tersebut.
“Oke terima kasih banyak nona Niya, atas apa yang telah anda usahakan untuk ku, entah dengan apa aku akan membalas semua kebaikan ini” Gusmon mengucapkan terima kasih dengan tulus.
“Ini... bukan kah ini memang seharusnya yang anda terima sebagai Ketua Besar atau Ketua Tertinggi dari Gangster Elang Hitam” Niya merasa sungkan atas ucapan terima kasih dari Ketua Besarnya itu.
Gusmon tersentak, ia harusnya sadar posisinya sekarang adalah Ketua Besar Gangster. Lagi pula ia sekarang berada di Bumi Lain, sikap yang lembek ini, bisa-bisa membuat anggotanya seperti Niya akan mencibir.
“Hm. Maksud saya, saya akan mengingat mu. Karena ini” Gusmon mengubah gayanya. Kali ini terlihat aura pemimpinya yang berwibawa sambil memandang acuh tak acuh kepada Niya. Niya Noune terpesona sesaat.
__ADS_1