
Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
Bab 16
Di ruangan Pabrik terbengkalai itu, tampak duduk beberapa orang sedang berbincang-bincang. Empat orang laki-laki dan satu orang perempuan. Keempat orang laki-laki itu adalah Gusmon Sopordoy, Grudul Hiko, Kinu Bula, Asno Maropo, dan satu orang perempuan itu adalah Virani Duns. Mereka duduk di kursi kayu yang ada di ruangan itu.
Sedangkan halnya dengan Tuan Muda Sorto Bene telah lama meninggalkan tempat itu bersama kroni-kroninya. Pemutaran Video di belakang layar oleh Sistem yang ada di otak Gusmon pun sudah berhenti.
Gusmon menanyakan banyak hal kepada orang-orang di tempat itu, dan mereka menjawabnya dengan saleh. Terlebih lagi Grudul Hiko dan kedua kambratnya itu, Mereka benar-benar menjadi anak yang baik tidak berani berbohong sedikitpun. Dari keterangan mereka Gusmon dapat mengetahui bahwa kota kecil ini bernama South Coast dan ketiga orang di hadapannya adalah sosok penguasa dunia bawah tanah di South Coast.
Kemudian cerita mengenai Virani Duns yang menjadi incaran Tuan Muda Sorto Bene dan kejadian Penculikannya hingga harus disekap di Pabrik Terbengkalai ini. Dari sini dapat di gambarkan bahwa dunia lain ini sama sekali tidak sama dengan dunianya dulu dimana hukum dapat dijalankan walaupun tidak seluruhnya mendapatkan keadilan.
Di dunia ini Gusmon sadar dan bertekad bahwa ia harus menjadi sedikit tegas demi untuk hidup di dunia ini, meskipun ia telah memiliki Sistem yang hebat. Terlebih lagi cita-citanya adalah kembali ke dunianya dulu yakni Bumi yang sebenarnya.
__ADS_1
Pertama-tama ia harus menaklukkan dunia ini dimulai dari Bumi Super Bagian Satu, dan melewati pembatas elemental antar bagian bumi, disamping itu ia juga harus meng-upgrade Sistem yang ada didalam dirinya sampai kondisi maksimal, siapa tahu ada cara untuk kembali ke Bumi yang sebenarnya. Hanya itu cita-citanya sekarang ini tidak ada keinginan lain.
“Kenapa kalian memakai Bahasa Indonesia.” Gusmon akhirnya bertanya tentang bahasa yang digunakan oleh orang-orang yang ada di Bumi Super ini sehingga ketika ia muncul pertama kali ia sudah mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh mereka karena mereka memakai Bahasa Indonesia.
“Ini...Maksudnya Tuan Hantu!” Grudul Hiko tidak mengerti tentang pertanyaan Gusmon mengenai Bahasa yang digunakan dan apa itu Bahasa Indonesia. Disamping itu ia tetap memanggil Gusmon dengan sebutan Tuan Hantu, meskipun mereka dalam percakapan sebelumnya telah saling mengenalkan diri. Dan Gusmon pun tentu saja telah mengenalkan namanya kepada orang-orang itu, dengan gagah perkasa memperkenalkan namanya Gusmon Sopordoy. Namun Gusmon tidak menceritakan dari mana ia berasal dan bagaimana ia bisa berada di dalam sumur batu, sehingga Grudul Hiko dan Kroninya masih ada sedikit menganggap bahwa Gusmon adalah hantu, meskipun Gusmon sudah mengatakan bahwa ia adalah manusia sama seperti mereka.
“kami tidak tahu apa itu Bahasa Indonesia tapi yang kami tahu Bahasa yang kami pakai ini adalah Bahasa Universal!” Yang menjawab pertanyaan dari Gusmon adalah Virani Duns.
Bahasa Universal!, jadi disini Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Universal. Baguslah kalau begitu, Demikian pikir Gusmon. Dia juga sedikit tidak menyangka bahwa Bahasa Indonesia merupakan Bahasa yang mendunia di Bumi Super ini. Namun apakah itu juga berlaku di Bumi Bagian lainnya?. Entahlah namun Gusmon berharap bahwa ini juga berlaku di bagian lain dari Bumi Super ini sehingga ia tidak perlu repot-repot mempelajari bahasa setempat.
“Tuan Muda Bene.” Grudul Hiko meluruskan
“Oh iya itu maksud saya” Gusmon menyetujui
__ADS_1
“itu adalah Supercar, dengan merek Koenigsegg one 1. Seharga dua juta dolar Dan SUV itu adalah jenis mobil Land Rover seharga 200 ribu dolar.” Kata Grudul Hiko menjelaskan lagi. Karena ia akrab dengan Tuan Muda Sorto Bene maka ia juga tahu mobil apa yang dipakai oleh Tuan Muda itu.
Mendengar penjelasan itu Gusmon paham bahwa adakalanya apa yang ada di Bumi yang sebenarnya berlaku di Bumi Super ini dan adakalanya yang ada di bumi Super ini tidak ada ataupun tidak berlaku di Bumi yang sebenarnya walaupun Bumi Super ini merupakan Bumi Paralel dari Bumi yang sebenarnya, demikian seperti apa yang dijelaskan juga oleh Sistem. Namun Gusmon berfikir bahwa Bumi Super ini tidak sepenuhnya paralel karena banyak perbedaan dengan Bumi yang sebenarnya baik itu dari segi ukuran ataupun hal lainnya. Bumi Super ini setidaknya berada di alam semesta yang lain.
“Apa nama negara ini.” Tanya Gusmon lagi, karena orang-orang ini tidak kenal apa itu Indonesia.
“Negara ini bernama Archipelagos, dengan Pimpinan Negara yang dipilih sekali lima tahun dari keluarga-keluarga besar dan Kuat di ibu kota.” Virani Duns masih setia dalam menjawab setiap pertanyaan dari Gusmon yang ia anggap sebagai penyelamat sekaligus calon suaminya itu. Namun demikian ia merasa sedikit aneh dengan Gusmon yang bertanya tentang hal-hal lumrah di negara ini. Apakah Gusmon ini tidak berasal dari tempat ini?. Ataukah ia berasal dari bagian lain Bumi ini?. Ini tidak masuk akal karena selama ini tidak ada yang berani untuk melewati pembatas elemen dari bagian Bumi Super ini. Kalaupun ada dapat dipastikan orang itu akan mati tanpa bekas.
Gusmon melirik kearah anggur dan makanan ringan yang ada di atas meja tidak jauh dari kursi kayu panjang yang didudukinya. Perutnya yang sejak tadi keroncongan tampaknya sudah tidak mau kompromi. Ia segera berdiri menuju meja kayu dan memakan makanan ringan itu dengan lahap dan sedikit rakus. Orang-orang memandang dengan melongo. Dalam waktu singkat makanan ringan yang ada di tempat itu pun habis. Memang makanan ringan yang ada disitu tidak begitu banyak. Apalagi bagi Gusmon yang biasa makan nasi, kalau tidak makan nasi berarti tidak makan. Maka, makanan ringan itu hampir tidak berasa di perutnya. Namun ia tidak tahu bahwa ada satu orang lagi yang kelaparan yakni Virani Duns yang hampir seharian tidak makan dan hanya diberi air putih terakhir kalinya oleh Grudul Hiko.
Setelah makan snack yang tidak seberapa itu dengan lahap dan minum air mineral di tempat itu, ia melirik anggur yang ada di Botol dan membuka botol itu kemudian mencium aromanya. Gusmon menutup botol itu kembali karena mencium bau alkohol. Dia tidak ingin meminumnya karena selain tidak pernah minum minuman keras ia juga tidak ingin mabuk di tempat yang baru ia kenal ini.
Gusmon meletakkan kembali anggur itu dan bersendawa dengan keras. Ia kembali duduk di bangku kayu itu di samping Virani Duns. Virani Duns memandangnya dengan sedikit aneh karena ia juga kelaparan namun Gusmon tidak menyisakan sedikitpun makanan di meja kayu itu.
__ADS_1
“Baiklah, mulai sekarang tidak ada lagi dari kalian bertiga yang mengusik Virani Duns dan keluarga Duns.” Akhirnya Gusmon berbicara dengan nada sedikit mengancam. Ia paham dengan keadaan yang terjadi antara Virani Duns dan Tuan Muda Sorto Bene serta keterlibatan Tiran Lokal ini, namun ia sama sekali tidak tahu tentang permohonan Virani Duns di tepi Sumur Tua itu. Hal mana juga tidak diceritakan oleh Virani Duns karena mengira bahwa Gusmon telah mendengarkan permohonannya itu sebelumnya.