Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video

Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
BAB 108


__ADS_3

Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video


Bab 108


“Biarkan itu. kita hanya perlu pura-pura tidak tahu” Tuan Muda Sorto Bene menjawab dengan acuh tak acuh. Kemudian Tuan Muda itu mengambil sebuah botol bir bermerek di lemari pendingin. Dengan cekatan membuka penutupnya dan menikmati tegukan pertama dengan tenang.


Sementara itu di Ruang Dimensi berbentuk Supermarket, Gusmon sudah memilih sebuah mobil yang tampaknya tidak akan menyolok jika ia membawanya. Ia ada sejenis City Car yang mungil, Gusmon sudah memilih sebuah mobil Suzuki Karimun untuk menemaninya dalam perjalanan kali ini. mobil jenis ini memang hemat bahan bakar dan cukup praktis.


Untuk sementara Kijang Innova Silver itu ia istirahatkan, cukup banyak yang mengenal mobil itu sebagai mobilnya Ketua Gangster. Tentu Gusmon tidak mau mengundang perhatian dan direpotkan akan hal sepele seperti itu.


Saat Gandal Rong dan Gendel Rong berlalu dari tikungan itu, sebuah portal dimensi terbentuk di sisi jurang. Gusmon paham bahwa Portalnya akan terbentuk di pinggir jurang kerena sewaktu ia masuk ke ruang dimensi tadi, posisi nya juga di tepi jurang.


Untuk itu ia terpaksa meninggikan kecepatan mobilnya demi untuk melintasi sedikit jarak dari tepi jalan raya tersebut. Mobil Suzuki Karimun itu melesat cepat dan mencapai tepi jalan raya menikung itu dengan mantap.


Segera mobil mini itu melaju menuju pinggiran kota arah utara itu. Gusmon sudah hapal sebelumnya jalan menuju ke rumah Hakmit Miu, karena sebelumnya ia sudah pernah mengantarkan Hakmit kerumahnya.


Rumah Hakmit hanyalah sebuah rumah papan sederhana di pinggiran Kota South Coast, tidak ada yang mencolok dari rumahnya. Itu adalah rumah keluarga peringkat bawah atau kalangan biasa di kota ini.


Gusmon menghentikan Mobil Karimun nya tepat di depan Rumah Hakmit. Gusmon segera menuju ke rumah kayu tersebut. bermaksud mengetuk pintu, namun belum sempat mengetuk pintu, pintu itu telah terbuka dari dalam dan sesosok tubuh keluar.


Seorang Gadis manis berpakaian sederhana terlihat dari balik pintu kayu itu. Gadis itu terlihat lugu, beberapa saat terpana kepada Gusmon dan melirik ke arah mobil karimun yang terparkir di halaman, kemudian menundukkan wajah dengan malu.


“Apa Hakmit ada?” Gusmon bertanya dengan sopan kepada Gadis itu. Gusmon menaksir bahwa gadis itu berumur sekitar tujuh belasan tahun.

__ADS_1


“Eh i iya, kakak ada di dalam, tapi ia sedang sakit” Kata gadis itu tergagap dengan pertanyaan Gusmon. Gusmon hanya manggut-manggut, jelas saja ia tahu kondisi Hakmit Miu ini. Bukankah ia yang mengantarkannya sampai ke rumah sakit dan juga mengantar hingga pulang ke rumahnya?. Namun saat itu tentu saja gadis kecil ini tidak melihatnya.


“Boleh aku masuk?” Gusmon kembali berkata dengan sopan.


“Iya silahkan ka..” Gadis kecil itu berhenti sejenak tidak tahu mau memanggil Gusmon dengan sebutan apa.


“Panggil saja Kak Gusmon” Gusmon menerangkan dirinya, saat menyadari gadis kecil itu terlihat canggung.


Gusmon mengikuti di belakang gadis itu menuju keruang tengah rumah kayu yang sempit itu. di ruang tengah terlihat seorang pria sedang tidur-tiduran dengan alas tikar robek seadanya. Saat orang itu berbalik matanya membentur sosok Gusmon yang amat di kenalnya.


“Eh Sa..saudara Gusmon”. Sontak orang yang tidur-tiduran itu bangkit dari tidur dan berdiri memberi hormat dengan membungkukkan badan sedikit. Orang itu adalah Hakmit Miu.


“Ah, tidak apa-apa silahkan berbaring saja, bukannya kamu lagi sakit” Gusmon memperhatikan


“itu tadi adalah adikku” Hakmit menjelaskan kepada Gusmon tatkala ia melihat mata Gusmon memandangi punggung adiknya yang berlalu ke arah dapur.


“Oh ya” kata Gusmon sambil mengangkat alisnya.


“Namanya adalah Ufrah, lengkapnya Ufrah Miu. Sama sepertiku menyandang nama keluarga Miu.” Hakmit menjelaskan sambil tersenyum ke arah Gusmon.


“Dia cukup manis sebagai seorang gadis” Gusmon memuji dengan tulus, tidak ada maksud apa-apa yang tersembunyi dari ucapannya. Hanya pujian nyata.


Hakmit merasa senang dengan kata-kata Gusmon ia paham bahwa Gusmon hanya bermaksud untuk memuji.

__ADS_1


“Oh ya ini adalah obat mu, aku baru saja menebusnya dari apotek. Seharusnya kemarin aku tebus tetapi aku lupa. Silahkan kamu minum sesuai dengan aturan minumnya yang tertera di label obat” Gusmon menyerahkan obat yang dibungkus dengan kantong plastik di tangannya.


“Oh, terima kasih telah bersusah payah untuk melakukan ini” Hakmit tampak terharu, ia dapat melihat niat Gusmon untuk membantu tanpa pamrih. Di dunia ini hampir tidak pernah ditemukannya seseorang yang memiliki sifat baik seperti itu. rata-rata orang hanya akan melihat status dan harta kekayaan seseorang untuk membantu orang lain. Apa yang dinamakan menolong tanpa pamrih itu sama sekali tidak pernah ia temukan. Ataupun jika itu ada, mungkin hanya bisa dihitung dengan jari terhadap orang-orang yang mau melakukannya.


“Itu sudah kewajiban kita untuk tolong menolong” Gusmon mengelak dari sikap Hakmit yang penuh perasaan kagum. Saat ini Ufrah, adik Hakmit yang manis datang meletakkan dua cangkir teh hangat di hadapan mereka berdua.


“Silahkan diminum tehnya Kak Gusmon” Ufrah menawarkan kepada Gusmon, tatkala pandangannya jatuh ke mata Gusmon ia hanya tertunduk malu. Kemudian ia lari ke dalam kamarnya dengan wajah yang memerah.


Gusmon tertegun sejenak dengan sikap gadis kecil itu. Hakmit hanya tertawa kecil melihat sikap adiknya yang malu-malu dan salah tingkah di hadapan Gusmon. Ia mengerti, sepertinya adik kecilnya jatuh hati dengan dermawannya ini. tentu saja ia senang, pastinya ia memiliki suatu alasan untuk dekat dengan dermawannya ini.


“Dia kenapa?” Tanya Gusmon sambil menyesap teh buatan Ufrah


“Sepertinya dia menyukai mu” Hakmit berterus terang.


“Pfff!” Gusmon tersembur mendengar jawaban Hakmit yang seolah-olah biasa.


“Hati-hati, Apa teh nya terlalu panas?” Hakmit menatap Gusmon dengan sedikit heran.


“Ah tidak apa-apa, mungkin memang sedikit panas” Kata Gusmon berusaha tenang. Ia tidak habis pikir kenapa Gadis Kecil itu bisa sampai menyukainya. Padahal ia baru saling kenal dan lagi ia sama sekali tidak ada mengganggunya, ia hanya bersikap biasa. Barangkali tingkat kegantengannya memang luar biasa. Gusmon mengembangkan cuping hidungnya memikirkan tentang itu. “Ah ia hanya seorang gadis kecil kenapa aku jadi memikirkan hal-hal seperti itu?” Gusmon menepis pikiran-pikiran konyol yang bermain di otaknya.


“Oh iya, aku punya satu hadiah untuk mu” Gusmon melangkah keluar rumah papan itu.


“Hadiah..?” Hakmit bingung sesaat, namun ia mengikuti Gusmon dari belakang.

__ADS_1


“Sebaiknya kamu tunggu saja di sini” Gusmon terus melangkah menjauh dari halaman rumah Hakmit. Setelah agak jauh dari Hakmit, dan menghilang dari pandangannya. Gusmon segera membuka Ruang Dimensi berbentuk Supermarketnya.


__ADS_2