Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video

Berkelana Di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video
BAB 55


__ADS_3

Berkelana di Bumi Lain Dengan Sistem Edit Video


Bab 55


Di Ruang Tamu Utama Villa Keluarga Bene, terlihat berkumpul banyak orang. Namun di kursi utama hanya ada dua orang, yakni Murdi Bene sang Tuan Rumah dari Keluarga Bene dan tentu saja tamu mereka Jhon Karabau yang menjadi pusat perhatian saat ini. Sementara itu para anak buah duduk di kursi lain yang sedikit lebih kecil dari kursi utama termasuk Tuan Muda Sorto Bene, namun tetap saja kursi yang sedikit lebih kecil tersebut adalah kualitas terbaik. Beberapa orang ada yang duduk di lantai karena kursi ternyata tidak mencukupi.


Ini adalah hari kedatangan sosok terkuat di Bumi Bagian Satu, maka hampir seluruh ahli beladiri Keluarga Bene yang berkumpul di Ruang Tamu Utama, jelas bahwa tempat itu sedikit sempit karena ada banyak manusia yang memuatinya. Beberapa Ahli beladiri bahkan ada yang berdiri di luar pintu ruangan dikarenakan sudah meluber bahkan sampai ke ruangan sebelah, sebab ahli beladiri Keluarga  bene ini memang banyak.  Akan halnya Jhon Karabau ia hanya memandang semua orang dengan wajah sangar. Meskipun begitu ia kelihatan senang karena ada banyak manusia yang mengerubunginya dengan menunduk hormat, sesuatu hal yang tentu saja tidak pernah terjadi di Bumi Bagian Empat tempatnya berasal.


Saat ini kelima murid Jhon karabau duduk di kursi berbeda sebaris dengan Kepala Keamanan Keluarga ini dan juga di sana ada Pujin Hento yang tangan kanannya terlihat dibalut oleh semacam kain kasa. Sampai sekarangpun Pujin Hento masih tetap merasakan denyutan rasa sakit di tangan kanannya itu. Dokter Ruang Kesehatan Keluarga ini sudah menyarankan agar Pujin Hento mengamputasi tangannya, namun Pujin Hento bersikeras menolaknya. 


“Yang Mulia Jhon Karabau hari ini, silahkan yang mulia menikmati hidangan yang telah kami sediakan dan tentunya minumannya adalah minuman kaleng kegemaran dari yang mulia.” Terdengar suara dari Murdi Bene yang penuh hormat.


“Tentu” Kata Jhon Karabau dengan gembira. Segera dibukanya minuman kaleng yang ada di atas meja di depannya. Dengan sumringah minuman kaleng yang mengandung alkohol itu segera diminumnya.


“Gluk, gluk, gluk" Dalam sekejap, minuman itu sudah habis direguk oleh Jhon Karabau.

__ADS_1


“Mari minum bersama!” Kata Jhon Karabau. Suaranya terdengar sangat berat, membuat orang-orang bergidik ngeri. Jhon Karabau membuka minuman kaleng lainnya, dan kembali mereguknya sampai habis. Orang-orang hanya melihat, karena minuman dan makanan hanya terdapat pada meja di hadapan mereka. Yang mana meja itu dikelilingi kursi Jhon Karabau dan Murdi Bene beserta anak ketiganya Sorto Bene, Kemudian kelima murid-murid Jhon Karabau termasuk di sana adalah Pujin Hento dan Kepala Keamanan Keluarga Bene. Orang-orang Keluarga Bene Lainnya termasuk Kerabat Dekat dan Kerabat Jauh serta banyak Ahli Beladiri, sama sekali tidak mendapat makanan dan minuman. Tentu saja mereka hanya bisa melihat Jhon Karabau dalam menikmati minuman. 


Kelima Murid Jhon Karabau segera membuka minuman dan ikut menikmati minum menemani guru mereka. Murdi Bene dan Sorto Bene juga ikut, demi untuk menghormati orang yang sangat menakutkan tersebut. Tapi Pujin Hento sama sekali tidak menyentuh sedikitpun minuman, walaupun ia sangat ingin.


“Untuk yang lainnya silahkan mampir di ruang makan  ya, setelah acara penyambutan ini” Murdi Bene paham akan orang-orangnya ini, ia sama sekali bukanlah majikan yang pelit. Meskipun memiliki pribadi yang antagonis. Namun terhadap orang sendiri ia cukup perhatian. Bukankah membuat senang orang sendiri, juga demi untuk memiliki ikatan yang kuat dari orang-orangnya tersebut.


Para ahli beladiri Keluarga Bene banyak yang bersorak dalam hati demi mendengar pengumuman dari Kepala Keluarga. Kapan lagi mereka mabuk-mabukkan dan berpesta pora  kalau bukan saat ini. saat dimana kekuatan absolut ada di tempat ini. bahkan jika seluruh ahli beladiri mabuk pun tidak masalah bagi keselamatan Keluarga Bene, dikarenakan adanya Jhon Karabau.


Namun banyak dari ahli tersebut yang tidak mengungkapkan rasa gembira mereka kehadapan publik. Dikarenakan saat ini ada tamu istimewa, mereka tidak mau dicap tidak tahu malu. 


“Ya silahkan pergi ke ruang makan dengan tertib” Murdi Bene menyambung kata-kata dari Jhon Karabau dengan senyuman. Namun dalam hati ia sedikit tidak senang. “yang tuan rumah kan saya kenapa dia yang bertindak seolah-olah sebagai tuan rumah” itu hanya kata-kata dalam hati yang disimpannya rapat-rapat. Tentu saja ia tidak mau mengungkapkan ketidak senangannya bahkan untuk menunjukkan sedikitpun pada raut wajahnya.


Kontan saja tempat itu bergemuruh oleh sorakkan para ahli beladiri, seperti dikomando mereka dengan tertib pergi ke ruang makan yang ada di sebelah ruang tamu ini.


Sesaat kemudian, ruangan yang tadinya sempit sekarang sudah kembali lapang dan lega. Karena yang ada di tempat itu tinggal beberapa orang. Yakni Jhon Karabau dan Murdi Bene serta murid-murid Jhon Karabau sendiri. Di sana juga ada Sorto Bene dan Pujin Hento kemudian juga ada Kepala Keamanan Keluarga Bene, serta beberapa orang Kerabat Dekat dari Keluarga dengan marga Bene. 

__ADS_1


Jhon Karabau menatap Pujin Hento dengan garang. Pujin Hento tampak tercekat tatkala gurunya menatapnya secara tiba-tiba.


“Coba ku lihat lengan mu” Kata Jhon Karabau. Pujin Hento segera berdiri sambil membungkukkan badan. Setelah itu memperlihatkan tanganya yang cedera kepada Jhon Karabau. Jhon Karabau melirik sekilas.


“Buka kainnya” Jhon Karabau kembali memerintah dengan suara yang sangat berat. mendengar itu Pujin Hento memercikkan keringat dingin. Namun ia tetap menuruti kemauan gurunya itu. Dengan perlahan dan menahan rasa sakit gulungan kain kasa yang membungkus tangannya segera dilepas.


Terlihatlah tangan kanan Pujin Hento yang remuk sampai sebatas siku. Bahkan jari-jari tangannya sudah tidak teratur susunannya dan terbalik-balik. Beberapa tulang yang pecah menyembul menembusi daging tangannya dan keadaan otot tangannya sudah rusak delapan puluh persen. Darah yang mengering masih menempel di tangan itu padahal sebelumnya sudah dibersihkan oleh tim Dokter di Ruang Kesehatan Keluarga Bene saat itu. Terlihat struktur tangan yang tidak lagi normal dan banyak kerutan di kulit serta ada lendir-lendir yang menempel sehingga melengkapi rasa jijik pada orang yang melihat.


Orang-orang yang ada di tempat itu terlihat mengeryit dan bergidik demi melihat keadaan tangan dari Pujin Hento. Hanya Jhon Karabau yang biasa saja melihat tangan tersebut.


“Hm.. tampaknya Hantu Penunggu Sumur itu, memang sosok yang tidak biasa.” Bergumam Jhon Karabau, namun bibirnya menyunggingkan sedikit senyum misterius. Pujin Hento menundukkan wajahnya tidak berani menatap Jhon Karabau.


“Gu.. Guru...” Pujin Hento ingin mengucapkan sesuatu. Ia ingin menceritakan secara utuh apa yang telah menimpa dirinya.


“Diam!, aku sudah tahu” Jhon Karabau langsung menyela ucapan dari muridnya, seakan-akan ia sudah mengerti apa yang telah terjadi. Pujin Hento hanya berani diam tidak dapat berkata-kata lagi. Sementara orang-orang di tempat itu hanya menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh Jhon Karabau selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2