Cinta Asteria

Cinta Asteria
Menghadapi Daniel


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


"Hendra, Aster kalian lagi sibuk gak ibu mau tanya soal perusahaan kalian kalo gak sibuk ?” tanya ibunya Aster dari luar kamar.


“Iya buk, gak sibuk kok barusan lihat rekaman CCTV kantor dan sudah menemukan pelakunya.” Jawab Hendra kecewa. Aster justru tersenyum geli melihat perubahan sikap Hendra yang Nampak kecewa, karena keinginannya terhenti karena panggilan ibu nya.


“Apa Aster bilang bang, sana temuin ibu dulu.” Ucap Aster berbisik sambil menahan tawa.


Hendra pun mau gak mau harus menghentikan aktifitasnya dan bangkit keluar kamar menemui ibu mertuanya…!!!


Hendra membuka pintu kamar dan berjalan  menemui ibu mertuanya, beberapa saat kemudian Aster mengikuti Hendra keluar kamar.


“Kalian yang sabar ya, ini adalah ujian bagi kalian sebagai pasangan suami istri yang baru. Ibu berharap masalah kalian segera bisa terpecahkan.” Ucap Ibunya Aster.


“Iya bu, mungkin ini juga ada unsur kesalahan Hendra yang kurang waspada. Sehingga timbul masalah yang demikian.” Jawab Hendra.


“Introspeksi itu memang baik, tapi jangan terlalu menyalahkan diri sendiri Hendra. Terus bagaimana perkembangannya sekarang ?” Tanya ibu mertua Hendra.


“Alhamdulillah, yang mengambil dokumen penting sudah ketahuan. Sehingga kita punya bukti untuk menjeratnya.” Ucap Hendra kemudian.


“Syukurlah, kalo ada kesulitan jangan sungkan hubungi bapak kamu. Kayaknya dia punya kenalan yang bisa membantu kakian, sewaktu masih masih di kedutaan dulu.” Kata ibunya Aster.


“Maksud ibu Om Haikuno, ahli hypnotis itu ?” tanya Aster pada ibunya.


“Iya, siapa tahu saja dia bisa membuat orang itu mengakui semua perbuatanya. Dan mengatakan motivasinya apa.” Jawab ibunya.


Aster hanya mengangguk, ada benarnya juga jika menggunakan cara hipnotis untuk membongkar kesalahan Daniel agar mengakui perbuatannya, batin Aster.


“Tapi, apakah om Haikuno mau datang ke sini untuk membantu ?” tanya Aster.


“Melihat hubungan dengan ayahmu yang sangat baik, kemungkinan dia mau. Bukankah kamu juga sangat dekat dengan dia ?” ucap ibunya Aster.


“Iya sih bu, tapi kan gak enak kalo merepotkan beliau.” Ucap Aster.


“Gak papa, dulu om Haikuno pernah bilang jika ingin main ke Indonesia tapi bingung mau ngapain kalo gak ada yang di tuju.” Jawab Ibunya Aster.


“Owh begitu, tapi bukankah om Haikuno juga sudah sering ke Indonesia bu ?” jawab Aster.


“Itu dulu sewaktu dia masih aktif di kedutaan juga, kan sekarang juga sudah pensiun seperti ayahmu.” Kata ibunya Aster.


“Saya rasa benar kata ibu Aster, sekaligus juga bisa mempertemukan bapak dengan teman lamanya. Kan bisa saling bernostalgia. Tapi beliau bisa berbicara bahasa Indonesia tidak bu ?” Tanya Hendra.


“Bisa, bahkan cukup lancar juga bicaranya.” Jawab ibunya Aster.


“Alhamdulillah, soalnya Hendra gak bisa sama sekali bu, masak hanya Aster nanti yang bicara dengan beliau kalo Hendra undang ke kantor. Kalo bahasa inggris Hendra masih bisa.” Ucap Hendra.


“Tidak usah kuatir, om Haikuno bisa bicara bahasa Indonesia kok.” Ucap ibunya Aster.


“Iya deh bu, Aster juga kangen sama om Haikuno. Beliau juga suka lagu lagu jawa yang katanya agak mirip lagu lagu Jepang.” Kata Aster.

__ADS_1


“Ya sudah, kalo begitu kalian istirahatlah persiapkan saja rencana mengundang om Haikuno secepatnya.” Ucap ibunya Aster sambil melangkah pergi meninggalkan Aster dan Hendra.


Hendra dan Aster pun segera kembali ke kamar mereka. Sambil membayangkan bagaimana cara nya mendesak Daniel, apakah memang harus menggunakan hipnotis agar mengakui semuanya. Hendra sibuk dengan lamunan tentang nasib perusahaan warisan orang tuanya tersebut.


Sesampai di kamar pun Hendra masih tampak merenung  memikirkan ucapan ibu mertuanya.


“Kenapa bang ? Kok kayaknya malah sedih begitu habis di panggil ibu tadi ?” tanya Aster.


“Bukan sedih, hanya jadi kepikiran bagaimana jika usaha kita gagal dan Daniel berhasil merebut perusahaan itu ?” ucap Hendra.


“Jangan berkecil hati lah bang, kita usaha semaksimal mungkin tunjukkan semangat abang jangan lemes begitu…!” ucap Aster.


“Abang gak lemes Aster, hanya saja sedikit kuatir karena sebentar lagi kita akan punya anak. tapi justru dihadapkan dengan masalah yang berat seperti ini.” ucap Hendra.


“Gak masalah bang, Aster juga sudah siap dengan apapun yang terjadi bang. Bahkan jika harus memulai karir dari nol sekalipun. Kita nikmati saja perjuangan hidup ini dengan senyum, agar perjuangan akan terasa lebih ringan.” Ucap Aster.


Hendra hanya mengangguk mendengar jawaban Aster yang begitu santai. Bahkan diluar dugaan Hendra Aster tidak mempermasalahkan jika harus memuai karir dari nol lagi. Hendra jadi berpikir jika terjadi sengketa panjang dan perusahaan terpaksa harus diliburkan sementara, bagaimana nasib karyawan dan semua yang menggantungkan rejeki dari kerja di situ.


Dengan harap harap cemas juga Hendra ingin segera menyelesaikan masalah yang terjadi di perusahan nya. Dan jiwa lelakinya sekarang harus benar benar siap menghadapi semua masalah  yang sedang dialami.


 “Jadi gak bang, katanya tadi lagi pingin ?” tanya Aster. Yang tahu jika suaminya sedang mengalami depresi berat karena permasalahan yang dihadapi. Sehingga sebagai istri Aster pun mencoba menenangkan suaminya agar bisa mengurangi beban pikirannya. Dan Hendra pun segera menyambut tawaran Aster karena memang tadi sudah meminta namun terhenti oleh panggilan ibu mertuanya.


Maka kedua suami istri itu pun kemudian segera melepaskan hasrat biologisnya. Aster yang tahu suaminya sedang banyak pikiran itupun mencoba memberikan layanan yang baik tidak terlalu peduli dengan dirinya sendiri. Sehingga Hendra pun terkulai lemas dan tertidur dengan pulas, setelah mencapai puncak hasratnya.


Aster tersenyum melihat  suaminya bisa beristirahat dengan pulas, karena esuknya harus kembali berhadapan dengan masalah masalah berat lagi. Dan tak lama kemudian Aster pun menyusul tidur dengan memeluk Hendra suaminya yang sudah tertidur lebih dahulu.


Sampai keesokan harinya mereka terbangun dan segera membersihkan diri sebelum subuh. dan setelah sarapan pagi bersama keluarga merekapun melanjutkan obrolan semalam dengan ibu mertuanya. Dan kali ini juga di ikuti oleh bapak mertua Hendra atau bapaknya Aster.


“Saya sepakat dengan ibu semalam, untuk mengundang om Haikuno. Sepertinya memang kita membutuhkan orang yang punya keahlian khusus dalam hal itu.” ucap Hendra membuka pembicaraan.


“Iya, ibu juga sudah berunding dengan bapak kamu semalam. Dan bapak kamu setuju untuk mengundang sahabatnya itu. biarlah itu jadi urusan bapak kamu soal mengundang sahabatnya.” Ucap ibunya Aster.


“Belum tahu kalo itu, kan bapak kamu juga belum menghubungi juga. Bagaimana nanti saja kalo soal itu.” jawab ibunya Aster.


“Tante Hamada kemungkinan gak ikut, karena anaknya sedang sakit.” Jawab bapaknya Aster.


“Owh begitu ya pak, gak papa deh sebenarnya Aster juga kangen sama mereka.” Ucap Aster.


“Gampang Aster, kalo masalah perusahaan sudah selesai kita jalan jalan ke sana sekaligus kita berlibur dan Syukuran nanti.” Ucap Hendra menghibur Aster.


“Beneran nih ? jangan hanya janji janji saja loh !” tantang Aster kepada Hendra.


“Iya, aku janji akan ajak kamu nostalgia di sana nanti.” Jawab Hendra.


“Pikirkan juga kandungan Aster, jangan sampai kalian lupa jika bakalan menjadi ayah dan ibu sebentar lagi.” Ucap Ibunya Aster.


“Iya bu, kami selalu menjaga kok.” Jawab Hendra.


“Jadi apa rencana kalian hari ini ?” Tanya bapaknya Aster.


“Kami akan panggil Daniel sebagai tersangka dan kami mengajak pengacara kami juga pak !” jawab Daniel.


“Tawarkan saja pada pelaku itu, mau kekeluargaan atau masuk ranah Hukum.” Kata bapaknya Aster menasehati Hendra.


“Iya pak, rencana kami memang seperti itu khusus untuk Daniel.” Jawab Hendra.


“Khusus untuk Daniel, maksutnya ada orang lain juga ?” tanya bapaknya Aster.


“Ya siapa tahu ada orang yang membantunya juga pak, atau ada orang luar yang terlibat juga.” Sahut Aster menimpali kalimat suaminya.

__ADS_1


“Owh begitu, gak papa buat jaga jaga saja.” Ucap Bapaknya Aster.


“Doakan saja pak, semoga tidak terjadi hal hal yang tidak kita inginkan.” Ucap Hendra kemudian.


“Aamiin… tapi jangan lupa pertahankan apa yang enjadi hak kamu. Mempertahankan hak dan kehormatan keluarga itu harus !” sabung bapaknya Aster.


Dan pagi itu sebelum Hendra dan Aster berangkat ke kantor untuk menemui dan menginterogasi Daniel, mendapatkan banyak wejangan dari bapak nya Aster. Serta mendapatkan support baik secara spiritual maupun juga support secara logika yang siap mengundang sahabatnya untuk membantu memecahkan masalah yang di hadapi Hendra dan Aster.


Segera Hendra dan Aster berangkat ke kantor jagan sampai keduluan Daniel yang sudah mendapatkan surat panggilan resmi menghadap Hendra.


Dan sesampai di perusahaan yang masih sepi karena masih diliburkan, Hendra dan Aster segera masuk kedalam perusahaan. Dan ternyata pengacara mereka sudah menunggu di ruang tamu perusahaan.


“Selamat pagi pak Hendra bu Aster…!” sapa pengacara itu memberi  hormat pada Hendra dan Aster.


“Pagi pak…! Maaf saya terlambat datang nih.” Ucap Hendra.


“Tidak pak, saya juga belum lima menit  berada di sini. Dan saya kaget mendengar adanya peristiwa tersebut  pak. Sungguh saya tidak dapat membayangkan itu semua bisa terjadi.” Ucap pengacara tersebut.


“Kami pun tidak menduga sama sekali pak, ternyata kesetiaan seseorang bisa luntur karena ***** dan ambisi duniawi.” Ucap Aster.


Tak lama kemudian Daniel pun datang juga bersama seorang wanita yang kemungkinan adalah pengacara yang dia sewa juga. Rupanya Daniel pun sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Sehingga lebih baik membawa pengacara sekalian dari pada kalah start dengan Hendra dan Aster.


Hendra dan Aster kaget melihat kedatangan Daniel yang sudah membawa pengacara itu. maksud hati mau berbicara secara kekeluargaan, tapi melihat Daniel sudah membawa pengacara membuat Hendra jadi murka. Seperti di tantang, maka Hendra pun berniat langsung mengadukan hal ini ke ranah hukum.


“Wah rupanya ada bapak pengacara keluarga pak Hendra disini, apakah ada hal yang penting sehingga sepagi ini sudah pada berkumpul ?” ucapan Daniel dengan penuh percaya diri seakan tidak merasa bersalah.


Hendra yang mendengar itu spontan ingin menampar Daniel, namun masih menyadari jika itu akan memberatkan dirinya sendiri. Sehingga hanya mampu membalas dengan ucapan juga.


“Tampaknya pak Daniel pun juga sudah siap dengan pengacaranya, kalo begitu langsung saja kita berangkat ke pengadilan sekarang…!!!” jawab Hendra tanpa basa basi lagi.


Sehingga semua yang mendengar menjadi kaget semua termasuk Aster, istri Hendra.


“Bang….???” Hanya itu ucapan Aster yang terucap saking kagetnya atas ucapan Hendra yang tidak mampu mengendalikan emosinya.


...Bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 

__ADS_1


__ADS_2