
🌷🌷🌷
Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Telpon pun sudah ditutup oleh Andi, namun Aster masih terdiam memikirkan ada apa sebenarnya.
“Aster, Andi kenapa kok kamu jadi murung begitu ?” Tanya Asih ikut sedih dan penasaran.
“Aku disuruh kesana besuk minggu ada pertemuan keluarga penting katanya, tapi Aster taya maslah apa Andi gak mau jawab malah menangis. Jadi Aster bingung juga ada masalah apa sampai segitunya.” Jawab Aster yang juga ikut sedih dan penasaran.
“Yuk kita berangkat kerja sekarang, biar cepat selesai dan kita besuk bisa berangkat ke Rumah Andi agak siangan gak terlalu sore.” Ajak Asih.
“Ok, kalo perlu besuk kita ijin kerja setengah hari mudah mudahan diijinkan.” Jawab Aster.
Nisa hanya mengikuti saja keinginan Aster dan Asih, sebagai anggota baru dirumah itu Nisa sangat berhati hati dalam menyesuaikan diri. Maklumlah karena orang tua Nisa sangat keras dalam mendidik Nisa dalam hal adab atau unggah ungguh dalam bahasa jawa. Dengan petuah jawa jawa Ajur ajer yang maksutnya beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda budaya dan tradisi harus bisa menyesuaikan diri. Tidak boleh memaksakan kehendak tanpa meninggalkan jati dirinya.
Mereka pun berangkat kerja pagi pagi dengan haraapan segera bisa menyelesaikan pekerjaan mereka terutama persiapan Aster untuk presentasi ke perusahaan sahabatnya Jessy. Meskipun masih beberapa hari dari waktu yang di jadwalkan. Dan Aster masih harus mencari partner untuk berangkat nanti, pinginya sih ajak Asih atau Nisa tapi jelas gak mungkin karena takut menimbulkan kecemburuan bagi yang lain. Dan bisa berakibat seperti Bram lagi.
Sebenarnya Aster merasakan keanehan di perusahaan itu, seakan ada sesuatu yang disembunyikan darinya oleh para pimpinan perusahaan. Namun Aster tidak terlalu menghiraukan karena dia Fokus pada job yang dia pikul.
Sesampai dikantor mereka sibuk denga jobnya masing masing, meskipun tetap berkoordinasi satu sama lainya. Aster pun sudah menghubungi Jessy bahwa dirinya yang akan menjadi Duta perusahaan dan akan mengunjungi Jessy sekaligus melakukan negosiasi bisnis nanti.
Jessy yang tidak menyangka bahwa Aster yang akan datang menyambut dengan gembira dan berencana untuk mempercepat jadwal agar segera bertemu dengan Aster. Namun Aster meminta agar sesuai jadwal saja, karena banyak yang harus dipersiapkan juga oleh Aster.
Hari itu Aster lebih banyak koordinasi dengan Jessy sahabatnya di jepang dulu, hal itu tidak membuat Aster ditegur karena yang dihubungi adalah owner perusahaan yang akan diajak kerja sama. Meskipun Aster ber jam jam telepon. Untuk melakukan loby awal.
Dari hal itu pulalah semua karyawan divisi marketing akhirnya benar benar memahami kenapa Aster yang ditunjuk oleh perusahaan. Meskipun cukup terlambat karena sudah ada yang harus di PHK dari kesalah pahaman yang timbul.
Akhirnya satu persatu bisa memahami Aster, bahkan sebagian berbesar hati meminta maaf pada Aster karena kemarin salah paham dan menuduh Aster yang tidak tidak.
Begitulah suasana bekerja dikantor Aster pasca kasusnya dengan Bram usai. Hari itu suasana kerja kembali seperti semula. Suasana kekeluargaan kembali tercipta dan saling peduli satu dengan lainya.
Hingga sampai saat jam pulang suasana kerja begitu damai, tidak ada ketegangan dan ancaman bagi Aster lagi. Singkat cerita Aster,Asih dan Nisa pulang kerumah dan dirumah sudah menunggu Astri bersama Dimas. Astri berakting minta tolong ke Aster untuk membantu Dimas agar bisa masuk kerja ditempatnya bekerja.
Setelah Aster mempersilahkan Astri dan Dimas masuk dan duduk diruang tamu.
“Owh jadi kamu yang bernama Dimas, pantas Astri begitu tergila gila sama kamu. Kamu ganteng begitu, hanya masalah waktu mungkin. Kalo saja aku yang ketemu kamu lebih dulu pasti aku juga akan mengejar kamu Dimas.” Goda Aster pada Dimas dan Astri.
“Enak aja kamu Aster, mana bisa begitu Astri aja harus rela menanti lama buat Dimas.” Balas Astri.
“Aah gak juga kok Aster, Dimas begini saja Cuma anak dusun yang gak punya pengalaman apapun.” Kata Dimas merendah.
“Kalo sudah pengalaman mana mungkin juga Astri mau sama kamu Dimas.” Seloroh Aster.
“”IIh Aster apaan sih, bercandanya kelewatan deh.” Kata Astri.
“Sori sori kan mumpung ada kesempatan buat bully kamu Astri wkakaka...” Jawab Aster sambil ngakak
“Begini Aster, Astri mau minta tolong sama Aster nih.” Kata Astri membuka pembicaraan serius.
__ADS_1
“Bilang aja sih, kayak ma sapa pakai basa basi segala sih ?” kata Aster.
“Aku mau minta tolong, Dimas kan kemarin ngajuin lamaran ke tempatmu bekerja. Tolong deh kamu bantu dia biar bisa keterima nanti. Sebenarnya…” kata Astri terpotong.
“Sebenarnya apa Astri ?” Tanya Aster penasaran.
“Sebenarnya termasuk bang Hendra juga mau melamar kerja disana. Juga Arya yang waktu itu ngira kamu adalah aku.” Kata Astri.
“Ya baguslah kalo kakakmu itu mau bekerja, tapi kira kira betah gak dia kerja. Secara dia kayak anak mami gitu, takutnya malah gak betah. Meski Aster juga gak bisa banyak bantu. Kan Aster juga masih baru disana belum punya pengaruh apapun. Tapi coba Aster usulkan besuk ke personalia deh.” Jawab Aster.
“Gak lah Aster, bang Hendra sekarang udah sadar kok gak manja lagi. Ini juga dalam perjalanan kesini bersama Arya.” Kata Astri.
“Haah Hendra dalam perjalanan kesini ? Gak mau bikin ribut kan dia Astri ? apakah sudah baikan juga dengan Dimas pacar kamu ?” Tanya Aster penasaran.
“Udah Aster, dan bang Hendra juga sekarang sudah berpikir dewasa mau bekerja untuk masa depanya kok.” Jawab Dimas.
“Sukurlah, jadi penasaran seperti apa kelakuan Hendra sekarang ini.” ucap Aster spontan.
Beberapa waktu kemudian muncul Hendra bersama Arya, yang datang dengan motor Hendra.
“Assalaamu’alaikum !” sapa Hendra.
“Wa’alaikummussalam. Tumben kamu bener Hendra, datang dengan ucapan salam dan sopan.” Seru Aster langsung menyerang Hendra.
Dalam hati Hendra sebel dengan perlakuan Aster tersebut namun dia ingat tujuan dia yang sudah diskenario Astri adiknya. Maka dia sabar sabarkan menghadapi Aster.
“Iya Aster, maafkan atas sikapku selama ini yang mungkin sering membuatmu marah.” Jawab Hendra.
Aster agak kaget dengan ucapan Hendra yang kalem tidak seperti biasanya, langsung membalas cacian Aster dengan kalimat yang serupa.
“Gak kok Hendra, maksut Aster gak hanya mungkin tapi memang selama ini kamu tu orangpaling nyebelin yang pernah aku temui.” Jawab Aster masih dengan nada ketus.
“Sukurlah kalo begitu meski Aster sih gak yakin kamu mampu berubah. Tapi setidaknya Aster menghargai usaha dan jerih payahmu.”  Jawab Aster tetap dengan ketus dan mencoba memancing emosi Hendra.
“Baiklah Aster, makasih atas penghargaanmu itu, dan Hendra akan buktikan kalo Hendra bener bener bisa berubah. Dan Hendra akan buktikan itu kamu percaya atau tidak hendra tetap akan berusaha.” Jawab Hendra mantap.
“Ya lumayan juga kata katamu, tinggal kita tunggu waktu saja apa kamu bisa buktiin atau sekedar bisa bicara manis saja.” Jawab Aster.kali ini dengan nada yang agak datar tidak dengan intonasi tinggi lagi seperti sebelumnya dan biasanya.
“Jadi gimana Aster mau membantu abangku dan lainya kan ?” Tanya Aster mengalihkan pembicaraan takut Hendra abangnya terpancing marah dengan Aster bisa kacau semuanya.
“Iya lah Astri, sebatas mengusahakan apa susahnya. Tapi Aster gak berani jamin ya, soalnya Aster kan masih baru saja bekerja disitu. Dan seandainya diterima disana pun Aster gak bisa mencarikan job khusus, biar management uang megatur job desc nya ya.” Kata Aster.
“Iya deh Aster, yang penting mereka bisa bekerja dulu. Arya pingin segera meminang pacarnya, dan Dimas pingin meminang Astri juga tentunya, ya Dimas.” Kata Astri sembari menyindir Aster.
“Terus kalo Hendra, apa juga mau meminang pacarnya juga ?” Tanya Aster.
“Gak tahu kalo itu Tanya sendiri saja sama orangnya, apa motivasinya bekerja juga mau meminang cewek atau gimana !” jawab Astri.
“Gak kok, hendra belum punya pacar justru siapa tahu nanti bisa bertemu jodoh ditempat kerja.” jawab Hendra.
“Owh jadi kamu belum punya pacar hendra ?” Tanya Aster sambil tertawa. Membuat yang lain Heran begitu tahu hendra belum punya pacar Aster justru tertawa.
“Kok malah tertawa sih Aster ?” Tanya Astri heran.
“Ya gak papa sih, maaf saja Aster pikir kalo dengan sikap Hendra yang kemarin siapa juga yang mau jadi pacar dia.” Gurau Aster.
“Kalo Aster sudah punya Pacar belum ?” Tanya Hendra setengah menyindir Aster.
__ADS_1
“Lah apa urusan kamu Hendra nanyain aku sudah punya pacar apa belum. Kamu tadi yang bilang belum punya pacar kan, bukan aku nanya kamu sudah punya pacar apa belum ?” jawab Astri sekenanya. Sebenarnya hanya karena Aster malu mengakui kalo dirinya juga belum punya pacar. Karena habis mengata ngatai Hendra yang belum punya pacar. Takut jika menjawab belum justru jadi boomerang bagi Aster.
Ya maaf Aster, bukan Hendra kepo kok. Lupain saja pertanyaan Hendra tadi.” Kata Hendra sambil menahan tawa.
Sialan nih Hendra, hampir saja Aster terjebak dengan pertanyaanya. Kalo saja kamu bukan abangnya Astri sku juga malas bicara denganmu Hendra, gerutu Aster dalam hati.
“Nah besuk kan hari sabtu, coba besuk aku sekalian ijin pulang setengah hari aku bilang ke personalia jika kalian adalah sahabatku yang ingin ikut bekerja diperusahaan. Aster gak bisa bantu lebih dari itu, hanya sampai disitu kemampuan Aster untuk membantu kalian.” Jawab Aster.
“Iya Aster, begitu juga sangat terimakasih kamu mau membantu kami. Semoga kamu makin sukses nati dalam bekerja.” Ucap Hendra. Aster terperanjat mendengar jawaban Hendra seperti itu.
“Apakah mungkin Hendra sekarang sudah berubah beneran sehingga tidak menunjukan wajah marah dan dendam seperti dulu lagi ketika diejek di depan temanya.” Kata Aster dalam hati.
Ada tanda besar dalam hati Aster,melihat perubahan besar pada diri Hendra yang tidak lagi pemarah dan mudah tersinggung.
“Ni orang habis makan apa bisa berubah sebegitu drastic.” Pikir Aster.
Tapi masa bodo lah, mungkin juga karena makin dewasa jai sekarang sifatnya sudah berubah total jadi anak baik. tapi baguslah, dari pada kayak dulu, meski wajahnya cukup ganteng tapi sikapnya nyebelin banget, terutama sama aku dan Astri dulu, batin Aster.
“Udah simpan saja ucapan makasih kamu, Aster begini karena Astri adikmu bukan karena kamu.” Sahut Aster.
“Ok kalo begitu aku pulang dulu, jadi besuk dibantu ya saat mereka datag keperusahaan Aster.” Kata Astri.
“Iya Astri, Aster akan usahakan swemampu Aster.” Jawab Aster.
Pulanglah rombongan Astri dan hendra dari rumah Aster, sepeninggal mereka Aster masih kepikiran sikap Hendra yag berubah Drastis. Perkataanya, sikapnya an pembawaanya sudah sangat jauh berunah dari sebelumnya.
“Aah kenapa Aster jadi mikirin si anak songong itu sih. Diiih amit amit deh,meski dia mau berubah sebaik apapun Aster tetep saja benci sama dia. Cuma gak enak saja sama Astri kalo mo cuekin dia, kata Aster dalam hatinya.
Sayang memang, Hendra tu sebenarnya ganteng tapi sangat nyebelin begitu. Coba saja kalo dia gak nyebelin gitu pasti asik ngobrol sama dia, batin Aster. Kemudian Aster sadar bahwa dia sangat membenci Hendra, akhirnya justru uring uringan sendiri karena barusan membayangkan Hendra.
“Diih amit amit kenapa juga Aster ngomong gitu sih tadi, ciih gak deh gak banget.” Teriak Aster sehingga membuat Asih dan Nisa mendatanginya.
“Ada apa Aster ?” Tanya Asih dan Nisa hampir bersamaan.
Membuat Aster kaget nyaris melompat dari kursi yang dia duduki….???
...bersambung...
Terimakasih atas semua bentuk suport yang diberikan.
Jangan sungkan untuk memberikan saran dan kritik yang membangun.
...Juga suport nya berupa...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...🙏🙏🙏...
...Terima kasih...
Â
__ADS_1
Â